RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 3


__ADS_3

Rutan Praya Lombok Tengah 10 tahun yang lalu


Suara gesekan pintu besi dibuka berdesing memekakkan pendengaran telinga. Setelah hampir seminggu meringkuk dalam sel kecil seorang tahanan berumur 19 tahun akhirnya dikeluarkan dari kamar sel, ia dibiarkan bebas bergaul dengan para warga binaan yang lain dengan catatan harus berkelakuan baik.


Baru saja para petugas sipir yang membuka pintu tadi menghilang dari pandangan mata, sudah terlihat seorang narapidana berbadan tinggi besar datang menghampiri tahanan yang berusia remaja itu.


“Tap,” narapidana berbadan tinggi besar itu mencengkeram kuat pergelangan tangan tahanan muda itu.


“Ikut aku!” perintah narapidana itu, menarik kasar tangan tahanan muda yang baru saja di lepaskan dari kamar sel kecil bagaikan lubang tikus.


Melihat dari cara ia diperlakukan dengan kasar, tahanan muda itu sudah merasa ada sesuatu yang kurang baik akan menimpa dirinya sebentar lagi, tapi ia enggan mengeluarkan suara untuk bertanya. Apapun yang terjadi ia sudah siap menghadapi.


Sudut mata tahanan muda itu mengerling ke atas pintu sebuah kamar besar, tertera angka 12 di atas pintu kamar.


“Masuk, di dalam ada orang nunggu kamu,” perintah narapidana berbadan besar itu.


Baru saja setapak kaki melangkah masuk ke dalam ruangan berkapasitas 10 orang narapidana itu, suara tepukkan tangan seseorang terdengar menyapa telinga. Tatap mata tahanan muda itu memelas, curiga.


“Lihatlah… preman kecil kita sudah datang!!” seru seseorang yang terlihat paling tua di antara semua penghuni ruangan nomor 12.


“Kamu masuk ke kamar orang main nyelonong aja, beri salam!!” sergah seorang penghuni ruangan itu.


Walaupun berusia masih sangat muda, tapi warga binaan yang masih berstatus tahan itu terlihat tenang dengan sergahan kasar dari seorang yang terlihat sangar, ia masih tidak bergeming enggan mematuhi perintah warga binaan berstatus narapidana itu.


“Nama saya Jafar, siapa nama kamu?” tanya seorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Jafar itu.


“Yusri… Yusri Hidayat,” jawab tahanan muda itu, acuh.


Yusri masih merasa curiga memikirkan, tujuan ia dibawa ke ruangan para pengedar narkoba itu. Sudut mata Yusri menjeling ke kiri dan kanan sudut ruangan, terlihat para penghuni sibuk membakar kaca kecil dengan korek api yang sudah di setting apinya, terlihat juga beberapa orang penikmat narkoba jenis sabu-sabu menghembuskan asap kenikmatan.


“Aaaah… asap dewa…!” suara mereka terdengar pelan, takut tertangkap basah oleh para petugas sipir.


“Kamu suka itu,” tanya Jafar.


“Nggak. Persetan dengan semua itu,” desis Yusri.


“Nah… perkataan ini yang aku mau dengar,” gumam Jafar.


Sungguh Jafar merasa tertarik pada Yusri, lelaki paruh baya itu melihat sebuah ambisi yang sangat tinggi pada sinar mata seorang Yusri Hidayat.


Masih ada satu pertanyaan besar yang akan Jafar ajukan pada Yusri, namun lelaki paruh baya itu tidak ingin terburu-buru.


“Biarkan aku bicara berdua dengan preman kecil ini!” perintah Jafar menarik perhatian semua penghuni ruangan, terlihat mereka saling bertukar-tukar pandangan sebelum satu-persatu mereka meninggalkan ruangan.


“Mereka semua penjahat amatir. Merampok, mencuri tanpa perhitungan hanya untuk dapetin harga sepaket sabu,” tutur Jafar, tatap mata Jafar dan Yusri mengiringi langkah kepergian mereka semua, “dan kamu mampir ke rumah tahanan ini atas dasar apa?” tanya Jafar, pada titik pertanyaan yang paling besar.


Yusri diam tak langsung menjawab, suara napas halus berhembus dari lubang hidungnya, “waktu masih kecil, dulu. Aku bercita-cita ingin jadi tentara, tapi kedua orang tuaku lebih menginginkan aku menjadi seorang perampok.”


Terlihat beberapa garis kerutan di dahi Jafar mendengar jawaban Yusri. Menurutnya pengakuan Yusri tidak masuk akal. Tidak ada orang tua yang menginginkan putra-putrinya berjalan pada garis langkah yang salah.

__ADS_1


“Haha… aku juga ada anak, tapi nggak pernah menginginkan anakku itu mengikuti jejakku, jadi pengedar narkoba.”


“Banyak perkara yang belum kamu tau. Ok sudah, makasih udah mau ngobrol dengan aku,” Yos bangkit dari duduknya, ingin beranjak meninggalkan ruangan itu.


“Tunggu…!” suara Jafar bagaikan remot kontrol yang membuat langkah kaki Yusri terhenti seketika, “aku bisa membuatmu hidup serba berkecukupan, itupun kalau kamu mau.”


Kata-kata Jafar sebentar tadi berhasil membuat Yusri kembali membalikkan badan, cukup lama mereka beradu tatapan. Tak lama kemudian mereka berdua tertawa keras, penuh makna.


Ruangan nomor 12 yang terlihat dari ruang sel membuat ingatan Yos terlempar jauh mengenang masa lalu. Terdengar lelaki itu menarik napas berat, menarik perhatian Fendi.


Fendi menelusuri arah pandang Yos, “itu kamarnya Yadi, pengedar narkoba paling besar di Lombok tengah... semua preman Lombok tengah di bawah perintah Yadi.”


Yos merasa tertarik dengan cerita Fendi, tapi ia masih diam membatu, entah apa yang ada dalam pikirannya sekarang ini.


“Kepala kamu kenapa diperban?” tanya Yos, tatap matanya masih lurus memandang ruangan nomor 12.


“Terus-terang aku kena kasus narkoba. Aku kurir pengedar dari Lombok barat. Pengedar Lombok barat nggak boleh masuk jual bahan ke Lombok tengah, tapi aku cuman orang suruhan yang diupah,” tutur Fendi, bersemangat.


Terukir senyum sinis di bibir Yos. Tepat dugaannya, permasalahan mereka berkisar antara peredaran narkoba yang sememangnya sudah sering kali menjadi permasalahan sejak dulu.


“Kapan kita akan dikeluarin dari sel ini?” tanya Yos.


“Kita..?” ada tanda tanya yang bermain dalam pikiran Fendi, “kalau aku nggak bakalan dikeluarin. Kalo kamu sih, mungkin besok,” terka Fendi.


“Kamu mau uang?” Yos mengajukan pertanyaan konyolnya.


*****


Wajah istri dan anaknya yang sudah tertidur pulas begitu polos. Naufal memandang lama wajah kedua orang yang menjadi tiang semangatnya untuk terus berjuang, wajah itu memberi kesejukan di hati Naufal.


Disaat berada di samping keluarga, sebisa mungkin Naufal membuang jauh masalah pekerjaan atau apapun yang bersangkutan di dunia luar, dari dalam pikirannya. Ketika berada di rumah, ia memfokuskan perhatian sepenuhnya untuk keluarga, namun berbeda dengan malam ini, lelaki itu terlihat gelisah.


Naufal bangkit dari pembaringannya, ia membakar sebatang rokok sebelum beranjak dari tempat tidur.




Dari luar bangunan sudah terdengar suara berisik, musik yang dimainkan di sebuah klub malam. Naufal sengaja memilih klub malam sebagai tempat untuk bertemu karena sesekali ia juga ingin menjamah sebotol minuman kegemarannya, whisky.



“Minum bos?” tanya Dony.



“Yeah.”


__ADS_1


Tidak perlu menunggu perintah, Dony sudah tau minuman kegemaran bosnya itu. Terlihat Dony memanggil beberapa orang bar tender untuk meramaikan suasana, tapi Naufal mencegah.



Naufal duduk di atas sofa panjang, bersilang kaki,” nggak usah pakai bar tender, ada yang harus aku omongin.”



Mendengar perintah dari bosnya, Dony kembali duduk, dua orang wanita sexy menghampiri tempat duduk mereka.



“Kalian pergi dulu, ntar aku panggil,” perintah Dony, ia menuang whisky ke dalam gelas kecil yang berada di hadapan Naufal.



“Aku berencana mau ngehandle Lombok tengah,” Naufal mulai membuka bicara.



Raut wajah Dony terlihat bingung dengan pernyataan keinginan Naufal, perdagangan narkoba di Lombok tengah berada di bawah perintah Yadi, tidak mungkin Yadi akan tinggal diam jika anak buah Naufal memasuki wilayah Lombok tengah.



“Kayaknya itu sulit bos. Walaupun kita sanggup ngebayar semua preman di Mataram untuk mengerubut wilayah Lombok tengah, tapi Yadi pasti akan pertahannin wilayahnya. Nah... ini nanti udah jelas akan memicu keributan dan para pihak polisi udah tentu nggak bakalan tinggal diam... apabila polisi ikut campur dalam urusan kita ini, bos tau sendiri kan, kita ini pengedar. Udahlah bos, nggak usah mikir terlalu jauh, kita nikmati saja apa yang ada,” Dony menyampaikan instingnya.



Mendengar buah pikiran yang Dony sampaikan, Naufal masih tetap terlihat tenang, ia meneguk segelas whisky di hadapannya. Terburu-buru Dony mengisi kembali gelas Naufal yang sudah kosong.



“Kamu kenal Yusri Hidayat?” tanya Naufal, tidak ingin membuang waktu, melayani insting yang Dony sodorkan.



Kepala Dony memanggut-manggut pelan, memberi isyarat bahwa ia mengenali nama Yusri Hidayat, “aku akui, walaupun orang-orang yang kita bayar udah banyak dan berani, tapi sampai saat ini emang sih belum ada yang secerdik, selicik dan seberani Yusri, tapi nggak ada gunanya kita harapin orang yang uda jadi penghuni neraka jahanam.”



Terukir seutas senyum puas di bibir Naufal, lelaki itu duduk bersilang kaki bersandar santai di atas sofa, ia menghembuskan asap rokok ke wajah Dony.



“Yusri Hidayat masih hidup. Sekarang dia berada di rutan kota Praya Lombok tengah. Besok siang, aku mau kamu pergi ke rutan Lombok tengah, temui dan tawari dia kerjaan.!” Perintah Naufal.



Sekali lagi kepala Dony mengangguk, sekarang ia mengerti dengan rencana Naufal, ingin menguasai peredaran bisnis narkoba di Lombok tengah. Dengan meluasnya pembangunan seperti hotel-hotel taraf berbintang, sirkuit di Mandalika Lombok tengah, maka para wisatawan akan berdatangan ke tempat itu dan di situlah keuntungan tinggi bisnis narkoba di Lombok tengah. Tidak diragukan lagi, dalam diam Dony mengagumi kecerdikan Naufal.

__ADS_1


__ADS_2