RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 2


__ADS_3

Tidak ada momen paling indah selain saat-saat kebersamaan dengan keluarga kecilnya. Memandang seorang putrinya memakai seragam sekolah TK, sungguh suatu kebahagiaan bagi Naufal. Gadis kecil itu terlihat fokus menikmati sarapan paginya, sebelum berangkat ke sekolah.


"Berangkat sekolah ama papa ya, sayang?" suara halus Yanti membujuk putri kecilnya.


"Emangnya mama mau ke mana?" tanya Erni, si gadis kecil.


"Kan, mama mau masak dulu, terus ke klinik bentar. Ntar kalau kerjaan mama udah kelar, pasti mama jemput."


"Janji?" Erni menyodorkan jari kelingking kecilnya tepat di hadapan wajah Yanti.


Terukir sebuah senyuman di bibir Yanti. Ibu muda itu mengeluarkan jari kelingkingnya, jari kelingking ibu dan anak itu bertaut menjadi satu, mengikat janji.


"Daa, mama…" dari luar rumah Erni melambai-lambaikan tangan ke arah Yanti, ibunya.


Yanti ibu muda dari seorang anak, mempunyai sifat keibuan yang tinggi, penyayang adalah ciri khas seorang Darma Yanti, ia bekerja sebagai bidan di klinik desa. Begitu juga dengan Naufal, lelaki berusia 25 tahun itu seorang kepala rumah tangga yang penyabar dan penyayang dalam mendidik istri dan anaknya. Keluarga kecil itu terlihat bahagia walaupun hidup sederhana. Mereka tinggal di perumahan bersubsidi di wilayah pinggiran kota Mataram.


Sebenarnya menjadi tour leader para wisata asing yang bertandang menikmati keindahan pulau Lombok sudah cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga kecilnya, tapi Naufal terus dan terus berjuang walaupun ia mengetahui perjuangannya sudah berada pada garis yang salah.


Naufal menghentikan mobil Toyota Avanza yang ia kemudi, tidak jauh dari gerbang sekolah TK. Lelaki itu keluar, ia membuka pintu mobil untuk Erni. Terlihat gadis kecil itu bersalaman dan mencium pipi Naufal, sebelum berlari masuk ke halaman sekolah. Terukir senyum bahagia di bibir Naufal, melihat langkah kecil Erni berlari ke halaman sekolah. Naufal kembali masuk kedalam mobil, namun tidak langsung beranjak dari tempat itu, sekilas matanya melirik arloji di pergelangan tangan kiri. seorang lelaki paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam mobil tanpa dipersilakan, membuat Naufal membatalkan niatnya menyalakan sebatang rokok yang kini sudah bertengger di bibirnya.


"Maaf telat, bos," ucap lelaki itu.


Kepala Naufal sedikit mengangguk, "dengar dari informan aku, orang-orangnya Yadi ngeroyok orang kita di rutan Lombok tengah, apa benar?"


"Benar bos, tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain, Lombok tengah wilayah mereka. Kita harus patuh pada aturan mainnya," ujar lelaki berbadan kekar itu.


"Haha… haha… haha..." tawa Naufal meledak, lelaki itu tertawa terbahak-bahak, walaupun lawan bicaranya terlihat kebingungan, tapi Naufal meneruskan tawanya sebelum melanjutkan bicara, "peraturan.? Haha..haha… kamu bilang peraturan? Dony, Dony… jangan bikin aku bingung, peraturan apa sih yang kamu maksud?"


"Kita nggak bisa melanggar wilayah Lombok tengah, itu sudah peraturan sejak almarhum Jafar masih hidup," lelaki berbadan kekar yang dipanggil Dony itu mengingatkan.


Memang itulah peraturan yang sudah disepakati sejak almarhum Jafar, gembong narkoba dan kriminal itu sewaktu masih hidup, dulu. Sewaktu hidupnya Jafar menguasai peredaran narkoba di provinsi Nusa Tenggara Barat. Almarhum jafar sangat disegani, sehingga para bandar-bandar narkoba dan para ketua preman mematuhi apapun jenis perintah dari Jafar.


"Com on Dony, ini dunia hitam. Kita ini adalah jajaran manusia yang nggak pernah patuh pada peraturan, kita ini musuh negara yang nggak pernah mau patuh pada undang-undang, so jangan ngomong soal peraturan!" tegas Nauval.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, sekarang?" tanya Dony, tidak mengerti dengan jalan pikiran Naufal.


Sesaat Naufal terdiam, terdengar hembusan napas berat dari hidungnya. Naufal terlihat merogoh tas kecil yang selalu ia bawa, mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat.


"Ini, kamu kasi dulu ama orang kita yang di rutan Lombok tengah itu, bagaimanapun dia juga ada keluarga yang memerlukan biaya hidup."


Dony menyambut amplop dari tangan Naufal. Uluran amplop berisi uang itu mengakhiri topik pembicaraan mereka berdua.


*****


 Sebuah mobil dinas milik Lembaga Pemasyarakatan berhenti di depan gerbang utama rumah tahanan. Tiga orang petugas sipir berseragam hijau dan seorang lelaki dengan tangan diborgol keluar dari dalam mobil. Terlihat seorang dari petugas sipir itu memencet sebuah tombol kecil yang tertempel di dinding samping gerbang besi.


"Ada orang baru!!" teriak seorang narapidana dari dalam blok, seketika itu juga gerombolan narapidana menatap Yos dari seberang pagar besi.

__ADS_1


"Kesini… apa kasusnya orang baru itu, bawa orang baru itu kesini, biar aku hajar dia!!" teriak beberapa orang narapidana.


Memang begitulah kebiasaan warga binaan di rutan Praya Lombok tengah, penuh dengan gertakan dan teriakan kasar apabila ada tahanan yang baru masuk.


"Buka borgolnya dan bawa dia ke ruang sel," perintah pak Robi.


Yos harus dimasukan ke dalam sel selama seminggu sebelum dilepaskan untuk bisa mengikuti kegiatan harian seperti para warga binaan yang lain. Karena Yos Hidayat bukanlah golongan penjahat amatir, maka karutan sengaja mengambil langkah berjaga-jaga, mengurung Yos selama seminggu untuk mengenal pasti apakah Yos mempunyai musuh di rutan itu.


Dari jauh Winda menatap wajah Yos. Dalam penilaian Winda, ternyata Yos Hidayat yang dibicarakan oleh karutan tempo hari tidaklah menyeramkan seperti yang ia bayangkan, wajah itu terlihat tenang tak menghiraukan gertakan-gertakan dari para narapidana lain.


Bunyi pintu besi sel dibuka membangunkan Fendi dari tidur siangnya. Kepala lelaki itu dipenuhi perban, menutupi bekas luka tusukan.


"Ini ada teman baru, biar kamu nggak kesepian!" kata seorang petugas sipir.


"Halo sobat, selamat datang di hotel berbintang 5. Nama kamu siapa?" tanya Fendi, akrab.


Yos tidak menjawab pertanyaan Fendi, matanya sedikit menjeling wajah Fendi. Lelaki itu terlihat masih sangat muda untuk menjejakkan kaki di rutan, masih terlalu muda untuk menyandang gelar sebagai tahanan atau narapidana, pikir Yos.


"Nanyanya nanti aja ya, aku capek sekali, pengen tidur," jawab Yos, acuh.


Fendi mengukir senyum hambar, mendengar jawaban dari teman barunya.


Memang benar, seharian menempuh perjalanan jauh dengan keadaan tangan diborgol, sangat melelahkan. Kondisi ruangan sel yang sangat kecil membuat Yos mengambil keputusan untuk berbaring melepas lelah di samping pintu jeruji besi. Tanpa memperdulikan teriakan-teriakan narapidana lain. Yos merebahkan badan di atas lantai, berbaring tanpa bantal.


"Hei… hei..!! Anak baru, apa kasus elo?!"


"Baru datang, eh malah enak-enakan tidur, emangnya ini rumah bapak elo?!" suara pedas salah seorang narapidana yang berkerumunan dari depan jeruji besi.


Dengan lagak yang sangat malas, Yos Hidayat bangkit dari tidurnya, ia terduduk lesu kepalanya pusing, masih ingin istirahat.


"Uuuu… haaaaammmm…" mulut Yos terbuka lebar, menguap, "cepat sekali aku bangun. Apa jatah makan sore udah nyampe?"


Fendi hanya diam membatu di pojok ruangan, ia tak menjawab pertanyaan Yos. Kehadiran gerombolan preman penjara itu membuat lelaki itu bergidik ngeri. Gerombolan preman itulah yang mengeroyoknya tempo hari hingga kepalanya dibalut perban.


"Taunya makan melulu, ini makan," dari balik jeruji seorang paling berbadan besar, badannya penuh tato, menyodorkan sandal ke mulut Yos, namun belum sempat sandal itu menyentuh bibir Yos.


"Krek!!"


Seketika itu suasana rutan berubah ricuh, suara teriakan kesakitan seorang preman berbadan besar penuh tato memenuhi tiap sudut rumah tahanan.


Fendi yang tadinya terlihat sedikit ketakutan dengan kehadiran gerombolan preman itu, kini semakin bertambah ketakutan melihat tindakan sadis Yos Hidayat mematahkan tangan salah satu ketua preman penjara.


Bukan hanya Fendi, malah semua para narapidana dan tahanan merasa ngeri, melihat aksi sadis Yos.


Yang paling membuat mereka semua heran, setelah mematahkan tangan ketua preman penjara, malah Yos kembali merebahkan badan melanjutkan tidur siangnya, seakan tiada apapun yang terjadi, riak wajah Yos seakan tidak berdosa sedikitpun dengan tindakannya sebentar tadi.


                                  *****

__ADS_1


 Sebuah kendaraan sport roda dua berhenti di pinggir jalan, tepat di depan gerbang polres Praya Lombok tengah. Beberapa orang anggota polisi yang sedang bertugas sempat mengangkat tangan sebagai isyarat menyapa.


"Wei… lama nggak pernah liat elo, apa kabar?" tanya seorang anggota polisi lengkap berseragam dinas.


"Hei… Man, apa gue nggak salah liat nih?!" suara Lukman separuh berteriak, takjub. Lukman membetulkan letak kacamatanya yang agak melorot.


"Elo ngapain di sini?" tanya Herman, bibirnya masih mengukir senyum bahagia bertemu Lukman, sahabat lamanya.


"Gue mau jemput Winda," jawab Lukman sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal.


Lelaki yang mengenakan seragam polisi itu adalah teman lama Lukman sewaktu sekolah SMA, dulu. Dulu Lukman, Winda dan Herman sangat akrab, tapi semenjak lulus SMA Herman melanjutkan kuliah di Surabaya.


"Oh ya, emang Winda kerja di mana?!" tanya Herman, serius.


"Tu…" jari telunjuk Lukman lurus mengarah pintu gerbang rumah tahanan yang terletak di seberang jalan raya.


Letak polres dan rumah tahanan Lombok tengah hanya berjarak beberapa meter saja, jalan raya menjadi pemisah jarak antara polres dan rumah tahanan.


"Sorry ya, Luk… gue harus masuk dulu, pergantian waktu piket," Herman tersenyum sumbing.


Sebenarnya Herman masih ingin ngobrol panjang dengan Lukman, tapi lelaki itu segera melangkah masuk memenuhi tanggung jawab kerja.


"Oh ya, sip sobat, jumpa lagi," ucap Lukman, tatap matanya mengiringi langkah kepergian Herman yang sudah semakin menjauh.


"Hoi… senyam-senyum sendirian ada apaan sih, dapat nomer telpon polwan cantik ya?!" sergah Winda yang baru saja keluar dari dari gerbang besar, rumah tahanan.


Senyum Lukman mati serta-merta, "eh, nggak kok, cuman ketemu kawan lama,," jawab Lukman, salah tingkah.


"Ah, bohong," tukas Winda, memasang ekspresi wajah cemberut.


"Tenang aja sayang, ngapain aku harus tergoda dengan cewek lain kalau kamu yang cantik dan pengertian ini masih ada disisi aku. Oh ya bagaimana pekerjaan kamu hari ini, udah makin asyik kan?" Lukman mengalihkan topik pembicaraan.


Winda memandang wajah Lukman sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Winda sangat senang melihat tanda lahir di bawah kelopak mata Lukman. Tanda lahir berwarna coklat yang tergores kecil di bawah kelopak mata, membuat Lukman terlihat makin tampan.


"Asyik apanya, kemarin ngurusin orang keroyok-keroyokan ampe babak belur. Hari ini makin parah, narapidana yang baru aja ditransfer ke sini, malah bikin onar. Dari kemarin ngeliat orang beranteeeeeem terus, kapan hidup aku mau terasa damai," tutur Winda, meluahkan keluhan.


Sejak dulu, sewaktu Lukman masih bersetatus teman, segala keluh kesah yang mengganjal di hati, akan selalu ditumpahkan pada lelaki berkacamata itu. Hingga saat ini kebiasaan itu terus berlanjut, Lukman adalah seorang kekasih yang sedia mendengar setiap keluhan, lelaki itu bagaikan buku harian yang setiap harinya ditulis oleh tangan Winda.


Lukman selalu memberi semangat disaat Winda buntu dan Lukman-lah yang sebenarnya menyarankan Winda untuk mencoba nasib bekerja di rutan.


"Masa napi baru datang langsung bikin onar di tempat orang?!" tanya Lukman antara percaya dan tidak.


"Itulah yang bikin aku heran, malah napi baru itu nggak segan-segan matahin tangan ketua preman yang ngeroyok tahanan kemarin itu," tutur Winda bersungguh-sungguh.


Segala bentuk informasi yang disampaikan secara tidak sengaja oleh Winda akan segera sampai ke pengetahuan Naufal melalui Lukman, karena tanpa sepengetahuan Winda, Lukman bekerja pada Naufal. Atas dasar itulah Lukman menyarankan Winda untuk bekerja di rutan.


"Ah… nggak usah dipikirin, itu urusan mereka. Oh ya, ntar malam makan bareng di luar ya?" ajak Lukman.

__ADS_1


Terlihat kepala Winda mengangguk setuju, tapi pikirannya masih terbayang wajah lugu dan santai seorang Yos Hidayat. Memang benar apa yang dikatakan karutan tempo hari, Yos Hidayat sangatlah berbahaya, melukai orang hingga cacat seumur hidup bagaikan sesuatu yang sudah biasa dalam hidupnya, semua terlihat jelas dari raut wajahnya yang santai seakan tidak bersalah atas perbuatannya. Menurut penilaian Winda, Yos Hidayat bagaikan seekor harimau berwujud seekor kucing.


__ADS_2