RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 10


__ADS_3

Arena perjudian malam yang tidak memiliki izin dari pemerintah daerah setempat memang cukup membimbangkan, tapi bukan itu penyebab kebimbangan yang melanda hatinya saat ini. Entah mengapa Dony merasa hatinya gelisah tak menentu, ia berdiri tegak di depan gerbang, tangan kanannya menyelak lengan baju kemeja yang menutupi arloji di pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir pukul 1 dini hari. Dony menghirup, dalam, dinginnya udara pagi. Anak matanya menjeling suasana jalan raya kota Mataram yang tak pernah sepi tanpa pernah mengenal lelah.


Di kejauhan sana, Dony memandang gerombolan orang berjalan berduyun-duyun dengan langkah sombong, menghampirinya.


Mungkinkah ini yang mengusik hati sedari tadi? Tanya Dony, dalam hati.


“Siapkan senjata kalian!!” teriak Dony pada semua anak buahnya yang dibayar oleh Naufal untuk menjaga arena perjudian itu, “siapkan senjata, tapi jangan sampai ada yang keluar dari dalam tembok!!”


Beberapa orang yang tadinya sedang asyik bermain domino, kini terlihat sibuk mempersiapkan diri begitu mendengarkan suara lantang Dony, mengeluarkan perintah.


Batang kayu, besi dan parang sudah siap berada dalam genggaman. Mereka semua berdiri di pekarangan bangunan besar, terlihat sudah siap untuk menyambut tamu yang dimaksud oleh Dony.


Walaupun jumlah komplotan yang dipimpin oleh Dony jauh lebih sedikit, tapi mereka semua terlihat bersemangat, bagaikan pasukan berani mati.


“Kita sambut tamu kita dengan jamuan yang istimewa!” teriak Dony disambut teriakan para komplotannya dari dalam pekarangan.


Dony terlihat tenang menunggu gerombolan yang diketuai oleh Rio, gerombolan itu terlihat semakin mendekatinya. Beberapa tahun kebelakangan ini, nama Rio Riadi semakin populer di kalangan para preman. Dari yang Dony ketahui, nama Rio terkenal sadis dalam beberapa aksi kejahatan. Rio terkenal pintar dan licik, namun Dony tetap tenang begitu Rio dan orang-orangnya berhenti di hadapannya.


“Waaah… tak disangka, malam ini aku kedatangan tamu terhormat, tapi tempat kami sudah tutup, brow,” Dony hanya sekedar berbasa-basi, walaupun sudah tahu maksud kedatangan Rio.


“Kami datang kesini bukan untuk bermain judi, lagian judi dilarang agama... haram hukumnya,” jawab Rio, nyeleneh.


“Mana Naufal, kami datang mau bertemu Naufal?!!” suara keras seorang dari gerombolan yang dipimpin oleh Rio.


Terukir sebuah senyum tipis di bibir Dony, “masuklah dulu, biar aku panggilkan.”


Dony membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam pekarangan bangunan diikuti oleh Rio dan para pengikutnya. Pintu gerbang ditutup rapat dan saat itulah, semua anak buah Dony yang tadinya bersembunyi kini berhamburan keluar menampakkan wajahnya, mengepung Rio dan anak buahnya.


Kedua gerombolan mafia yang sedang berseteru itu memang sama-sama pemberani, namun terlihat bagaikan beberapa ekor semut ingin menyerbu kumpulan sang gajah. Perkumpulan yang diketuai Rio jauh lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan anak buah Dony yang hanya jumlahnya bisa dihitung dengan jari.


Dari dulu, Dony sering mendengar cerita tentang Rio, namun baru sekarang ia menyaksikan sendiri kecakapan Rio dalam bertarung.


Dari jauh Dony memerhati tamu yang tak diundang itu merobohkan anak buahnya satu persatu. Lebih-lebih lagi Rio, ia terlihat begitu gesit dan bernafsu untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya.


Entah sudah berapa orang anak buah Dony yang roboh terkena libasan cepat pisau kerambit milik Rio.


Keadaan sudah semakin genting. Melihat anak buahnya sudah semakin berkurang, Dony mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat itu melalui pintu yang terletak di belakang bangunan. Dony tidak ingin berjudi mempertaruhkan nyawa di arena judi miliknya, ia tidak ingin tewas di kandang sendiri. Lagi pula Naufal masih membutuhkannya, pikir Dony.

__ADS_1


*****


Semangkuk bubur kacang hijau yang dihidangkan hanya dipandang dengan tatapan kosong. Pikiran Winda melayang membayangkan kejadian tadi malam, meninggalkan rasa takut yang amat mendalam. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan seseorang lelaki bertopeng menggenggam belati bagaikan menari-nari di pelupuk mata, membuat pikiran Winda tidak bisa terlelap sepanjang malam.


“Kalau hanya dipandang, kamu nggak bakalan kenyang, “kata Yos yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia mengambil tempat duduk berhadapan dengan Winda, “sarapanlah sedikit, sebelum kita berangkat.”


Yos menatap wajah Winda, mencoba menerka apa yang kini berada dalam pikiran gadis itu.


Sejak tadi malam Yos mendesak Winda agar memberi tahu letak barang yang disembunyikan oleh Hendrik sebelum lelaki itu tewas terbunuh, namun Winda masih diam membungkam. Melindungi seseorang tanpa ada sesuatu imbalan adalah perkara konyol, Yos tidak mau mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang belum pasti.


“Seharusnya kamu bahagia akan ketemu keluargamu. Nggak ada gunanya aku melindungi kamu jika orang yang dilindungi nggak mempercayaiku,” Yos bangkit dari duduknya, ia sudah kehilangan mood berbicara dengan Winda.


“Kalian semua sama aja, mementingkan diri sendiri. Uang, uang dan uang, itu aja yang ada dalam otak kalian. Apa kamu pernah berpikir, berapa banyak anak bangsa kita yang hancur karena narkoba?!” suara Winda keras memenuhi segenap ruangan.


Mendengar suara Winda yang bernada tinggi, Yos menghentikan langkah kakinya, ia membalikkan badan menghadap gadis itu, sorot mata Yos tajam menerkam.


“Jangan samakan aku dengan orang-orang itu,” Yos berkata pelan.


“Kenapa? Apakah kamu keberatan disamakan dengan penjahat… inilah kenyataannya, kalian semua menginginkan barang haram itu. Kalian semua penjahat!!” suara Winda masih terdengar keras, melepas kekesalan di dalam hati.


Yos mendengus kasar, namun terukir seutas senyum sinis di bibirnya, “tanpa kamu mengatakan aku ini penjahatpun, aku sudah tau. Tapi aku heran, kenapa kamu minta perlindungan pada seorang penjahat???” kepala Yos menggeleng-geleng perlahan, “sungguh munafik dirimu,” Yos menekan perkataan munafik dengan suara yang sengaja dialunkan bagaikan sebuah lirik lagu sebelum melanjutkan langkah meninggalkan Winda yang tercengang di ruang tengah.


Bahaya yang sedang mengintai nyawanya membuat Winda tidak ingin pulang ke desa, ia merasa seseorang sedang memerhati setiap pergerakannya. Jika Yos mengantarnya ke desa, maka sudah pasti dirinya akan mati mengenaskan di hadapan kedua orang tuanya. Tidak, itu tidak boleh terjadi!. Jika Winda tidak menginginkan itu semua terjadi, maka untuk sementara waktu ia harus tetap bersama Yos, tapi bagaimana dengan permintaan Yos yang ingin tahu tentang keberadaan narkoba perusak bangsa yang Hendrik simpan itu? Haruskah Winda menunjukkan dimana tempat Hendrik menyimpan barang itu? Winda bermonolog dengan dirinya sendiri.


Tak berapa lama bersiap-siap, Yos keluar dari dalam kamarnya, bersiul dan memasang kancing baju kemejanya sambil berjalan menghampiri Winda yang masih di kedudukannya sedari tadi.


Sudut mata Winda menjeling sosok Yos sepintas. Lelaki itu masih bisa bersiul-siul gembira walaupun Winda tetap membantah permintaannya untuk memberitahu sesuatu yang sangat ia ingin tahu. Terdetik rasa heran di hati Winda, melihat sifat Yos.


“Apakah lelaki ini nggak memiliki rasa rugi sedikitpun?” batin Winda. Ia menghembus napas kasar, “apakah barang itu sangat penting, bagimu?” tanya Winda dengan nada suara yang sudah terdengar mulai lunak.


Kening Yos berkerut mendengar pertanyaan Winda. Satu pertanyaan yang sangat bagus. Yos kembali duduk berhadapan dengan Winda, lelaki itu menatap wajah gadis berwajah bundar itu.


*****


Garis polisi terbentang mengelilingi seputaran rumah. Beberapa orang anggota tim INAFIS dan penyidik terlihat sibuk memeriksa mayat korban pembunuhan.


“korban bernama Naufal Adriansyah, bekerja sebagai tour leader. Menurut perkiraan, kejadian berlaku sekitar pukul 2:00 dini hari. Penyebab kematian karena kehabisan darah,” lapor seorang anggota INAFIS pada AKP Anom.

__ADS_1


AKP I Wayan Anom adalah seorang perwira polisi kelahiran pulau Bali yang bertugas di pulau Lombok. Ia memikul tanggung jawab menyelidiki kasus pembunuhan itu.


AKP Anom menyelak kain yang digunakan untuk menutup mayat Naufal yang masih terbaring di atas lantai, berlumuran darah. AKP Anom menatap bekas tusukan yang terdapat di beberapa bagian tubuh Naufal.


“Kami menemukan putri korban yang masih berumur 5 tahun bersembunyi di dalam lemari pakaian itu,” seorang anggota polisi berpangkat IPTU menyampaikan laporan.


“Ke mana istri korban?” tanya AKP Anom.


“Kami sudah membawa anak dan istri korban ke kantor, kemungkinan si pelaku akan mengincar nyawa mereka karena hanya merekalah yang menyaksikan kejadian,” jawab IPTU Hasyim.


Terlihat AKP Anom memanggut-manggut, mengerti dengan penjelasan yang disampaikan bawahannya itu, “okey, cari dan bawa barang bukti ke kantor!” tegas AKP Anom.


AKP Anom membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat kejadian, lelaki berumur 42 tahun itu terlihat berpikir keras, ingin memecahkan kasus yang kini menjadi tanggung jawabnya.


*****


Mendengar kabar kematian Naufal, entah mengapa Dony jadi tidak bisa berpikir jernih, ia kehilangan pertimbangan. Tanpa membuang waktu, Dony mengerahkan semua pengikutnya untuk berangkat menyerang Rio dan juga semua komplotannya.


Menurut perkiraan Dony, kematian Naufal pasti perbuatan Rio, karena tadi malam Rio datang mengobrak-abrik arena judi hanya karena ingin mencari seorang Naufal.


Namun usaha Dony untuk membalas dendam hanyalah berbuah kegagalan, sebelum Dony menyerang tempat kediaman Rio, Rio terlebih dahulu mempersiapkan segala sesuatunya hingga mengakibatkan hampir semua pengikut Dony dibekuk pihak kepolisian, karena telah dianggap membuat kerusuhan.


“Semua sudah berakhir. Naufal udah nggak ada lagi, udah nggak ada yang bisa diharapkan lagi. Kita sudah hancur!” tutur Dony, putus asa.


Yos hanya bisa menjadi pendengar luahan perasaan yang Dony rasakan ketika ini. Yos tidak ingin ikut campur terlalu jauh ke dalam permasalahan menyangkut bisnis narkoba. Bisa saja Naufal mengelabui orang-orang, tapi tidak dengan Yos.


Bekerja sebagai tour leader dan juga arena perjudian malam di kota Mataram, hanyalah sebagai alat untuk memanipulasi bisnis mereka yang sebenarnya, sebagai penyuplai narkoba di kota Mataram.


“Yang sudah terjadi, biarkanlah. Sekarang aku udah tau tempat barang milik Yadi itu disembunyikan. Sebenarnya barang itu bernilai lebih dari 5 milyar. Kamu kasih aku separuh dari harga barang itu dulu dan kamu bisa jual barang itu sebagai modal awalmu,” saran Yos.


Dony meneguk minuman whisky yang sudah terisi di dalam gelas kecil, “saat ini, aku nggak cukup uang untuk ngebayar kamu. Bagaimana kalau aku jual dulu barang itu, setelah itu, hasil pembayaran kita bagi dua?”


“Aku nggak tau dan juga aku nggak mau tau permasalahan kalian semua, jangan libatkan aku ke dalam dunia narkoba. Ada uang baru aku serahkan barang itu,” jawab Yos, ia bangkit dari duduknya ingin meninggalkan tempat itu.


“Oh ya, kalu gadis itu udah buka mulut, habisi saja dia. Bagaimanapun dia saksi utama kejadian malam itu,” perintah Dony.


Yos melanjutkan langkah kakinya setelah Dony menghabiskan kata perintahnya. Riak wajah Yos datar, tak menunjukkan minat, namun kata-kata Dony sebentar tadi memang ada benarnya juga.

__ADS_1


Barang milik Yadi sudah lenyap, kini hanya Yos dan Winda yang mengetahui letak barang itu disembunyikan, sedangkan Naufal sudahpun tewas terbunuh. Saat ini tidak ada penyuplai narkoba di seluruh Provinsi Nusa Tenggara Barat, sedangkan permintaan dari pengguna narkoba sangatlah tinggi. Dony terdiam lama, otaknya berputar memikirkan cara merebut barang haram itu dari tangan Yos.


__ADS_2