RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 27


__ADS_3

Sesaat suasana berubah menjadi tegang. Semua orang yang berada dalam ruangan gudang tidak dapat bicara sepatah katapun, melihat tindakan tidak terduga yang dilakukan oleh Yos. Semua mulut anak buah Lukman seakan terkunci, namun pergerakan mereka berubah siaga. Kaki mereka menapak perlahan dengan pisau terhunus di tangan, mengintai kesempatan untuk menerkam Yos.


Walaupun berada di tengah-tengah kepungan singa, namun Yos tidak terlihat panik. Ia sedikit menarik tangan Lukman ke belakang dan secara otomatis ujung pisau sedikit menancap, menggores kulit lehernya hingga Lukman sedikit meraung kesakitan. Darah segar mulai membasahi baju Lukman.


“Sssssp… cup...cup.. diam nak, aku ada tawaran menarik untuk dipertimbangkan. Suruh tikus-tikus ini menjauh, atau nyawamu berakhir sampai di sini,” perintah Yos, berbisik dengan suara pelan di telinga Lukman.


“Menjauh.! kalian semua menjauh, cepat.!!!!” rasa sakit dan takut mendengar ancaman dari Yos membuat Lukman tanpa berpikir panjang memerintahkan semua anak buahnya agar segera menjauh.


“Kalian berdua keluar dari tempat ini, cepat!!” sergah Yos pada Darmayanti dan Winda.


Semua anggota mafia itu hanya mampu memandang kedua wanita itu berlalu pergi dengan rasa hampa.


Yos mengulum senyuman puas, Lukman bagaikan sebuah remot yang bisa mengontrol sebuah tv dari jarak jauh, selagi Lukman masih berada di bawah ancamannya, Yos bisa memerintahkan golongan mafia itu semaunya.


“Anak pintar…. satu lagi. Suruh anak buahmu lepasin bocah itu,” pinta Yos.


Kali ini Lukman tidak lekas menjawab, ia terdiam berpikir sejenak sebelum menjawab, “nggak. Aku nggak akan lepasin bocah itu.”


Belum sempat Lukman mengabiskan kata-katanya, Yos kembali menarik lengan Lukman kebelakang dan sekali lagi ujung pisau kembali menancap di batang leher Lukman, tapi kali ini pisau itu menancap lebih dalam, menimbulkan rasa sakit yang lebih ketara.


“Lepasin. Lepasin bocah itu, cepat..!!” teriak Lukman.


Dan segaris kecewa yang terlihat di raut wajah Rio mendengar perintah Lukman. Rio tidak langsung menuruti perintah Lukman, malah ia menekan picu senjata api yang sedari tadi teracung, siap mencari mangsa.




Langkah kaki Darmayanti yang sedari tadi terlihat berat melangkah meninggalkan putrinya, kini terhenti tepat di depan gerbang bangunan. Kakinya terasa sangat berat untuk digerakkan saat mendengar suara letusan yang amat kuat, memecah keheningan malam.



Winda yang berjalan laju jarak beberapa meter di depan Darmayanti, ikut menghentikan langkah saat ia merasa teman barunya itu tidak berada di belakangnya. Wajah Winda menoleh kebelakang, melihat Darmayanti. Wanita itu terlihat bingung, berdiri tegak tepat depan gerbang besar.

__ADS_1



“Ayo cepat kita pergi dari sini.!” Winda mundur beberapa ke belakang, menggapai dan menarik kasar tangan Darmayanti, namun wanita itu enggan mengikuti Winda malah ia memilih berbalik arah, ingin kembali masuk ke dalam sarang para mafia.



“Nggak… Aku nggak akan pergi tanpa putriku.!



Darmayanti menyentap kasar tangannya dari genggaman Winda. Wanita itu mulai berlari kecil ingin memasuki gudang, namun sebaik saja ia melangkahi pintu gerbang, beberapa orang lelaki keluar dari sebalik pohon kecil yang berada di pekarangan. Darmayanti menghentikan langkahnya, ia mundur beberapa tapak ke belakang, saat lelaki itu menghampirinya. Bulatnya tekad Darmayanti sebentar tadi, kini lenyap entah kemana melihat sosok mengerikan beberapa orang lelaki berbadan tinggi besar berjalan menghampirinya dari balik kegelapan malam.


\*\*\*\*\*



Semua orang yang berada di dalam ruang itu hanya terdiam tidak dapat berkata sepatahpun dengan mulut ternganga dan mata melotot, mereka tidak percaya dan juga tidak mengerti dengan tindakan Rio sebentar tadi, seribu tanda tanya bermain di dalam benak mereka semua, namun tak seorangpun yang berani bertanya secara langsung.




Rio seakan mengetahui apa yang mereka semua pikirkan saat ini, tanpa ditanya ia berkata, “kalau sudah terlanjur melangkah aku nggak akan mundur dan aku nggak membutuhkan orang lemah seperti Lukman yang merengek minta ampun saat telinganya dijewer sedikit saja.”



Kata-kata Rio sebentar tadi seakan menghapus tanda tanya yang bermain dalam benak mereka semua, kini mereka paham mengapa Rio melepaskan tembakan pada Lukman. Rio memang mewarisi watak nekad dan berani Yos, yah... bagaimana tidak, dulu Yos lah yang menggembleng Rio yang berasal dari anak muda polos hingga menjadi mafia yang nekat, cerdas dan licik, sanggup mengorbankan apa saja demi kepentingan pribadinya.



Rio menyerahkan Erni pada seorang anggotanya, dua bersaudara itu bertemu, “ayo kita selesaikan semua ini, Yos.”


__ADS_1


Rio menapakkan kaki, melangkah mendekati Yos. Ia melemparkan senjata api yang berada di tangannya ke salah satu sudut ruangan itu.


Ada beberapa garis kerutan yang terlihat di dahi Yos, bingung melihat tindakan Rio membuang senjatanya.



“Kita bertarung satu lawan satu, secara adil. Kalau kamu bisa mengalahkan aku sampai titik darah penghabisan, maka nyawa bocah itu akan selamat. Tapi sebaliknya, kalau kamu kalah, maka bocah itu akan mengalami nasib yang sama denganmu,” ujar Rio dengan raut wajah membara.



Yos hanya diam membatu. Pernyataan Rio sebentar tadi menyapu pertanyaan yang bermain di benaknya. Saat ini Yos benar-benar bingung menentukan pilihan, sangat mustahil jika ia harus bertarung hingga titik darah penghabisan dengan saudaranya sendiri, tapi jika ia tidak menjawab tantangan Rio lantas bagaimana dengan Erni? Tidak mungkin Yos membiarkan gadis kecil yang tak berdosa itu mati begitu saja oleh dendam dan amarah Rio terhadapnya.



“Tapi kenapa… kenapa aku harus bertarung melawanmu, bukankah apa yang kamu inginkan sudahpun kamu dapatkan?!” tanya Yos, kasar.



Narkoba yang diperebutkan menjadi tujuan awalnya telahpun diketepikan. Rio melupakan tujuan awalnya demi amarahnya terhadap Yos. Dulu sewaktu almarhum Jafar masih hidup, orang yang pertama terjun ke medan bahaya adalah Rio, namun selalu saja Yos yang selalu mendapat uang penghargaan. Walaupun Yos membagi uang penghargaan dari almarhum Jafar, tapi tetap saja bagi Rio itu tidak adil. Segala macam jenis pujian dan sanjungan hanyalah untuk Yos, padahal Yos hanya diam berdiri di sebalik perjuangan Rio, hal inilah yang membuat api amarah dalam diri Rio menyala, membakar sejak dulu. Itulah alasan mengapa Rio menjebak Yos hingga tertangkap dan meringkuk bertahun-tahun lamanya di dalam penjara negara tetangga Malaysia.



“Jangan buang-buang waktu, kita mulai saja,” desis Rio, langsung melayangkan sebuah tendangan ke arah Yos.



Yos yang dalam keadaan belum bersedia, cukup kualahan dan tidak dapat mengelak dari tendangan Rio, namun ia masih dapat menahan tendangan itu dengan kedua belah lengannya hingga Yos mundur beberapa tapak ke belakang karena kerasnya tendangan itu.



Belumpun sempat Yos berdiri dengan sempurna, tendangan kaki panjang Rio menyusul dengan bertubi-tubi, namun Yos masih bisa mengelak dan berkelit meski ia terlihat sedikit kualahan menerima serangan yang tiada henti, bagaikan sebuah mesin jahit.


__ADS_1


Mendekam di dalam penjara terlalu lama membuat gaya bertarung Yos agak kaku, Rio dapat merasakan kekakuan Yos, ini adalah suatu kesempatan bagai Rio. Mata Rio bersinar bagaikan berapi-api sangat bernafsu untuk melenyapkan saudaranya sendiri, karena bagi Rio, Yos adalah satu-satunya batu penghalang dalam segala pekerjaan yang sekarang ia jalankan.


__ADS_2