
Kota Praya Lombok Tengah Jam 11:00 pm
Puluhan orang berwajah sangar menyambut kedatangan Rio dengan penuh semangat, di sebuah gudang kosong yang dulunya digunakan sebagai tempat penggiling padi oleh warga setempat. Dari cara mereka memperlakukan Rio, terlihat jelas betapa pentingnya lelaki itu di tengah-tengah kalangan mereka. Mereka semua sangat segan dan menaruh hormat terhadap Rio.
“Kalian semua udah tau kenapa aku panggil ke sini?!” tanya Rio.
“Ya, kami sudah tau. Tapi apa nggak sebaiknya kita cari jalan penyelesaian secara baik-baik aja?” kata salah seorang dari mereka.
Sebenarnya dulu mereka semua adalah pengikut Yos, tapi mereka menjadi pengikut Rio semenjak Yos dikabarkan tewas, terlibat baku tembak dengan polisi negara tetangga, Malaysia.
“Tiap bulan, Yadi nggak pernah telat ngebayar gaji kita semua. Kita termasuk beruntung, masih bisa bergantung pada Yadi. Jika bisnis yang Dijalankan sekarang ini hancur, maka sudah jelas-jelas kita akan menjadi preman pasar. Sekarang persiapkan perlengkapan kalian dan kita bergerak sekarang!” suara Rio lantang bergema memenuhi tiap sudut gudang.
Getaran handphone di dalam kantong celananya mengalihkan perhatian Rio, ia merogoh kantong depan celana mencari handphone yang masih bergetar memanjang, menandakan panggilan masuk. Sekilas tatap mata Rio memandang nama yang tertera di layar handphone yang sudah berada dalam genggaman tangannya.
“Hallo…”
Terlihat Rio diam, menyimak kata-kata seseorang yang sedang berbicara tanpa henti dari talian sebelah sana.
“Okey, okey. Kita bagi tugas. Kamu bereskan dia secepat mungkin, dia adalah kunci permasalahan kita, sekarang ini. Kalau sampai dia buka mulut, tamat riwayat kita,” suara Rio seakan berbisik, tidak ingin pembicaraannya diketahui orang lain.
Kemarin Rio dan Yadi sudah merundingkan kejadian tempo hari yang menyebabkan kerugian senilai 5 milyar karena ulah anak buah Naufal. Dan malam ini Yadi memerintahkan Rio untuk mengerahkan anak buahnya untuk menyerang arena perjudian malam milik Naufal sebagai tindak balasan dari Yadi.
*****
Beberapa hari tidak menghubungi keluarga, rekan-rekan kerja dan juga kekasih tercinta membuat Winda lupa akan waktu yang diberikan oleh Yos.
Yos memberinya waktu hanya 1 jam untuk menghubungi keluarga, tapi malah gadis itu menghubungi kekasihnya, itulah yang membuat api kemarahan Yos menyala, panas membakar jiwa.
“Aku ijinin kamu hubungi keluargamu, bukan pacarmu atau teman kerjamu!!” sergah Yos.
Secepat kilat Yos merampas handphone yang melekat di telinga Winda saat ia mengetahui gadis itu bukan berbicara dengan keluarganya.
“Aku cuman menghubungi rekan-rekan kerja… juga ingin tau kabar pacarku, nggak lebih dari itu kok, lagian handphone itu milikku!!” jawab Winda keras tak ingin mengalah.
“Kamu tau sendiri, saat ini nyawamu terancam. Disaat-saat kayak sekarang ini, nggak ada orang yang bisa dipercaya!” bentak Yos.
Semenjak Winda mengenal Yos, baru kali inilah gadis itu menyaksikan raut wajah Yos ketika marah, “apa kamu bilang..? Nggak ada orang yang bisa dipercaya? Excuse me… aku lebih percaya ama pacarku ketimbang percaya ama kamu. Pacarku dari keluarga baik-baik, tapi kamu… apakah kamu orang baik-baik…? Sudahlah jangan terlalu berlebihan.”
Sungguh Winda merasa keberatan saat Yos mengatakan, ‘tidak ada orang yang boleh dipercayai’. Winda merasa, martabat Lukman direndahkan. Gadis itu tidak terima jika martabat calon imamnya direndahkan oleh seorang residivis.
__ADS_1
“Aku memang bukan orang baik,” suara Yos terdengar pelan. Ia mengulurkan kembali handphone milik Winda yang tadinya dirampas dari tangan gadis itu, “ini, ambillah. Hubungi aja siapapun yang kamu ingin hubungi Aku nggak ada hak untuk ngelarang kamu.”
Winda menatap ragu, handphone yang diulurkan kepadanya. Yos meletakkan handphone di atas meja, tepat di hadapan Winda, ketika gadis itu tidak menyambut uluran dari Yos.
Yos melangkah keluar dari rumah, meninggalkan Winda yang terlihat kebingungan.
Jika Yos pergi meninggalkan Winda, lantas pada siapa gadis itu akan meminta perlindungan seandainya lelaki bertopeng itu tiba-tiba saja datang disaat Yos tidak berada disampingnya. Berbagai macam andaian dan bayangan ngeri melintas dalam pikiran Winda, namun segera ditepisnya jauh-jauh.
“Daripada aku diam di sini, mending aku telepon Lukman aja, suruh jemput aku,” batin Winda.
Winda menghampiri pintu yang masih terbuka lebar, ia memanjangkan lehernya terjenguk-jenguk ke kiri dan kanan mencari sosok Yos di luar rumah, namun tak ditemukan. Jari-jari tangan gadis itu lincah mencari nama Lukman di contacts list handphone.
Beberapa kali Winda menekan nama Lukman di touchscreen handphonenya, namun hampa. Saat ini nomor telepon Lukman tidak aktif.
Winda menghempas napas kasar, membuang segumpal rasa hampa yang kini mulai terasa di dalam dada.
Dari luar jendela rumah, sepasang mata memerhati gerak-gerik Winda tanpa gadis itu sadari. Tatapan sepasang mata tajam menerkam, menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.
Jika Winda mati di rumah yang disewa oleh Yos, maka Yos-lah yang akan menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Terukir sebuah senyum sinis di sebalik topeng.
Cuaca malam yang agak mendung menandakan akan turun hujan, membuat udara di dalam ruang tengah rumah, terasa membahana. Winda beranjak dari tempat duduknya menuju pintu utama, ingin mencari udara segar. Kening Winda terlihat berkerut memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan, pergi meninggalkan rumah itu atau tetap tinggal sementara waktu?
“Tap!!”
Sesaat, Winda tidak tahu apa yang sedang terjadi. Terasa sebuah telapak tangan membekap mulutnya dengan kuat dan kasar. Ia meronta semaunya, namun upayanya melepaskan diri, gagal. Karena sememangnya kodrat seorang wanita lebih lemah dibanding pria.
“Ssstt..!” orang tak dikenal itu meluruskan jari telunjuknya di depan bibir, topeng.
“Aku nggak akan nyakiti kamu, asal kamu jawab pertanyaanku dengan jujur,” bisik lelaki itu dengan suara yang sengaja di tekan.
Hanya anggukan kepala sebagai isyarat setuju dengan permintaan lelaki itu, karena tangan lelaki itu masih membekap mulut Winda dengan kasar.
Perlahan lelaki itu melepaskan telapak tangannya dari mulut Winda. Pisau sepanjang 30 sentimeter melintang di leher gadis itu. Jika Winda tidak menjawab pertanyaan yang diajukan dengan jujur atau bertindak di luar dugaan, maka pisau itu siap akan merenggut nyawanya.
“Dimana barang itu disimpan?”
“Barang… barang apaan, aku nggak tau?” jawab Winda, tak mengerti.
“Jangan pura-pura bodoh!” lelaki itu sedikit menekan pisau yang berada di leher Winda.
__ADS_1
Lehernya terasa perih, ada sedikit cairan merah meleleh membasahi baju membuat Winda gelagapan, “okey, okey, akan aku kasi tau.”
Mendengarkan perkataan Winda, lelaki itu kembali merenggangkan pisau tajam mengkilat miliknya. Ia menunggu gadis itu untuk melanjutkan bicaranya.
Baru saja Winda akan membuka mulut untuk berbicara, sebuah hantaman keras tepat sasaran pada pangkal lengan lelaki bertopeng itu, membuat pisau dalam genggamannya jatuh terpelanting.
Belum sempat lelaki bertopeng itu menoleh, namun tulang pelipisnya terkena hantaman kedua hingga tubuhnya terpelanting ke belakang.
Winda menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari cengkeraman lelaki misterius itu. Gadis itu berlari menghampiri Yos. Kulit leher yang sedikit tergores oleh pisau milik lelaki tak dikenal itu, tidak dihiraukan lagi. Melihat sosok Yos yang baru saja datang, seakan melihat sinar harapan untuk terus tetap hidup.
Tanpa memandang Winda, Yos mengulurkan sehelai kain saputangan, “ini, lap luka di leher kamu itu.”
Langkah kaki Yos menapak perlahan mendekati lelaki bertopeng yang sudah menggenggam erat pisau mengkilapnya, bersiap-siap ingin menyerang. Dengan langkah tenang, Yos semakin mendekati lelaki itu, tangannya bersilang di belakang punggung.
Terlihat kepala Yos memanggut-manggut, ia mengukir sebuah senyum, “keliatannya kamu ini masih muda, aku suka dengan ambisimu yang tinggi. Tapi sayang sekali kamu terlalu ceroboh.”
Tanpa bicara, lelaki bertopeng itu menyerang Yos. 2 bilah pisau dilibas dan ditusuk-tusuk dengan gerakan cepat dan seimbang, terlihat lelaki itu sudah terbiasa memainkan pisaunya, namun Yos bukanlah lawan yang seimbang untuk lelaki misterius itu.
Tapak kaki Yos tidak beranjak sedikitpun, tangannya masih bersilang di belakang punggung, hanya gerakan tubuh yang di gunakan untuk mengelak dari libasan dan tikaman pisau yang terus-menerus, tiada hentinya.
Satu tendangan yang Yos hadiahkan, singgah di pangkal leher lelaki bertopeng itu, hingga membuatnya tersungkur ke belakang. Lelaki bertopeng itu menggeleng-gelengkan kepala, menghilangkan rasa pusing akibat tendangan lawannya. Ia belum menyerah, dipaksakan tubuhnya bangkit dan kembali menyerang, namun sebilah pisau kecil berbentuk cakar harimau berputar-putar laju di jari telunjuk Yos. Tanpa berpikir panjang, pisau kerambit terlihat berputar bagaikan roda di jari Yos, dengan cepat mencari sasaran.
“Ting… ting..!!”
Pisau kerambit milik Yos menggores pergelangan tangan lawannya, membuat pisau dalam genggaman lelaki bertopeng itu jatuh berdenting di atas lantai. Curahan darah mulai terlihat mengalir, menetes dari jari sang lelaki misterius, namun tekadnya tidak putus begitu saja. Dengan hanya menggunakan sebelah tangan ia kembali menyerang Yos.
Sekali lagi, Yos mematahkan serangan lelaki itu, kali ini topeng yang menjadi ciri khasnya terbelah 2 oleh tajamnya pisau kerambit milik Yos. Namun lelaki yang tak dikenal itu dengan cepat memegang topeng yang sudah terbelah itu agar wajahnya tidak bebas, terlihat.
Lelaki bertopeng itu merasa, Yos bukanlah lawannya. Di sebalik topeng yang ia pegang karena sudah terbelah oleh pisau milik Yos, matanya liar berputar meninjau jalan meloloskan diri. Jika ia tidak menghindar dari Yos, maka bukan saja identitasnya yang akan diketahui, akan tetapi nyawa dan impian besar yang sedang ia kejar akan terkubur bersama jasadnya.
Kaca jendela pecah berderai. Jendela kaca di sudut ruangan adalah satu-satunya pilihan jalan untuk melepaskan diri. Lelaki bertopeng itu lebih rela mendobrak jendela yang dalam keadaan tertutup daripada harus bertahan dalam pertarungan yang tidak seimbang dengan Yos.
Sebenarnya Yos cukup berselera untuk mengejar lelaki itu, ingin mengorek informasi darinya, namun mengingat keadaan Winda yang sedikit cedera membuat Yos membatalkan niatnya. Ia berdiri tepat di depan Winda, gadis itu duduk memeluk lutut, trauma dengan kejadian sebentar tadi.
Sorot mata Yos menatap Winda, lama. Rasa marahnya terhadap gadis itu karena tidak mematuhi perintah untuk tidak menghubungi siapapun selain keluarga, hilang begitu saja, terhapus oleh rasa prihatin melihat kondisi Winda saat ini.
Yos mengulurkan tangan, “bangunlah. Biar aku obati luka di lehermu.”
Winda menyambut uluran tangan Yos, namun lidahnya masih terasa kaku untuk berbicara. Terdetik jua rasa bersalah di hatinya, karena telah menyusahkan Yos.
__ADS_1