
Sejak dulu Yos dikenal sangat tidak suka bermain judi dengan uang, namun senang berjudi mempertaruhkan nyawa. Jika sedang bernasib baik, Yos akan memenangkan perjudian dengan imbalan yang sangat banyak, tapi sebaliknya, jika nasib baik tidak menyebelahinya maka ia harus siap menanggung segala kemungkinan buruk yang akan menimpanya. Pintu penjara dan juga bahkan lubang kubur selalu terbuka untuk mafia besar seperti Yos, semua itu adalah resiko yang harus ditanggung oleh setiap mafia yang kalah dalam perjudian nasib. Jika selama ini Yos mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan imbalan yang cukup besar itu sangatlah wajar, tapi berbeda dengan saat ini. Bertaruh nyawa, bermusuhan dengan sesama mafia demi membela nasib orang-orang yang baru ia kenali, bahkan tak terlihat imbalan sedikitpun yang menunggu di ujung perjuangannya.
Untuk apa ia berjuang saat ini, Yos pun tak mengerti. Sepintas tatap matanya tertuju ke arah pintu pintu gudang yang kini terbuka lebar, pintu itu hanya berjarak beberapa meter saja dari persembunyiannya.
“Boleh pinjam sepatumu sebentar?” bisik Yos pada Erni.
Erni tak lekas menjawab, gadis kecil itu hanya menatap Yos, ia terlihat bingung dengan permintaan Yos.
Yos tak menunggu jawaban dari Erni, perlahan lelaki itu melepaskan sepatu dari kaki kecil Erni. Bukan hanya Erni, tapi Darmayanti dan juga Winda terlihat kebingungan melihat tindakan Yos yang sedang menggerak-gerakkan sepatu Erni, bagaikan bermain dengan seekor kucing.
“Kalau aku bilang lari, kalian cepat lari keluar lewat pintu itu,” bisik Yos kepada Darmayanti dan Winda, sambil memberi isyarat mata ke arah pintu gudang yang terbuka lebar.
Winda dan Darmayanti tidak menjawab, tatap mata mereka tertuju pada seorang lelaki yang kini terlihat berjalan berhati-hati mendekati tempat persembunyian mereka, karena melihat sepatu kecil Eni. Lelaki itu semakin mendekat, dekat, dekat dan secepat kilat Yos melompat memegang senjata api yang berada di tangan lelaki itu. Yos menyelipkan satu jarinya di belakang pemicu pistol, membuat lelaki itu tidak bisa menekan picu pistol.
“Lari!!” perintah Yos.
Replek langkah kaki Darmayanti dan juga Winda bergerak cepat, berlari meninggalkan tempat yang tadinya digunakan sebagai tempat persembunyian, sedangkan Erni hanya diam diam di dalam dekapan ibunya yang sedang berlari kencang.
Sebenarnya sebisa mungkin Yos coba mengelak dari pertarungan, namun demi menyelamatkan Erni, Darmayanti, Winda dan juga dirinya sendiri kini ia harus bertarung juga. Jika diukur secara fisik, maka dengan mudah Yos akan dikalahkan oleh lawannya. Beberapa kali lawannya melepaskan tendangan, namun Yos tetap bisa menepis tendangan lawannya. dalam keadaan menahan serangan kaki lawannya, Yos berusaha tetap memaut pistol yang berada pada tangan lelaki itu.
“Bagaimana pak, apakah perlu saya melepaskan tembakan?” suara salah satu dari anggota tim AKP Anom terdengar dari lubang microfhone.
“Tahan dulu, biarkan saja mereka berdua beradu otot. Fokus lindungi wanita itu!” perintah AKP Anom.
Menurut perkiraan AKP Anom, Yos pasti bisa memenangkan pertarungannya. Sekarang hal terpenting yang harus ia lakukan adalah melindungi Winda, Darmayanti dan juga Erni.
Entah sudah berapa banyak serangan yang dilepaskan oleh lawannya, namun Yos tetap saja bisa menepis serangan itu. Pertarungan harus diakhiri, pikir Yos, jika tidak maka tenaganya akan habis terkuras oleh satu lawan sedangkan tenaganya masih sangat dibutuhkan oleh Erni, Darmayanti dan Winda.
Sekarang semua pergerakan serangan lawannya telah ia kunci. Kedua kaki Yos membelit di pinggang lawannya, Yos memutar sambil menarik tangan lawannya ke belakang, sedikit tarikan lagi tangan lawannya akan patah.
__ADS_1
Walaupun semua pergerakan tubuhnya sudah terkunci hingga membuatnya sulit untuk bernapas, namun lelaki yang menjadi lawan Yos itu belum putus asa untuk memenangkan pertarungan. Secara diam-diam ia mengeluarkan sebilah pisau dari celah pahanya menggunakan tangan kiri yang masih dapat bebas digerakkan. Sekuat tenaga lelaki itu mengayunkan pisau kecil di tangan kirinya, ingin menancapkannya ke perut Yos. Namun Yos sememangnya lihai dalam pertarungan, secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan lawannya kemudian sedikit mendorong tangan musuhnya hingga pisau meleset dari sasaran. Bukan perut Yos yang terkena tikaman, tapi malah paha lelaki itu sendiri.
Suara jerit kesakitan mulai keluar dari mulut lelaki itu. Rasa sakit yang menjalar sampai ke urat-urat kepala membuatnya tanpa sadar melepaskan pistol yang sedari tadi mereka perebutkan.
Walaupun begitu Yos tetap menancapkan pisau kecil itu berulang ke paha lelaki itu. Kini ia dapat menarik nafas, lega. Senjata api yang mengancam nyawanya sudah berada di tangannya, pertarungan sudah ia kuasai. Sesaat Yos memandang lawannya yang lemas tak berdaya terkapar di lantai.
“Ok kawan… aku sudah selesai. Aku pergi dulu, selamat menikmati,” ucap Yos, nyeleneh sambil berlalu pergi. Ia harus segera mencari Erni Darmayanti dan Winda sebelum kelompok Lukman menemukannya.
\*\*\*\*\*
Gudang itu terlihat sepi bagaikan tak berpenghuni. Kening AKP Anom sedikit berkerut melihat persekitaran yang tiba-tiba saja hening. Perwira polisi itu bangkit berdiri dari posisi tiarap, lehernya memanjang terjenguk-jenguk melihat sekeliling gudang, namun semua sudut hening dan sunyi.
“Semua anggota tim bergerak, ubah posisi.!” perintah AKP Anom.
“Apa tidak sebaiknya kita meminta bantuan ke markas?” suara salah seorang anggota tim, menyarankan.
AKP Anom terdiam sejenak, tidak lekas menjawab. Melihat jumlah gerombolan mafia yang terhitung sangat ramai membuatnya harus mempertimbangkan saran dari anggota timnya.
__ADS_1
Leher Winda dan Darmayanti terlihat memanjang, terjenguk-jenguk meninjau jalan keluar dari pekarangan gudang. Di depan bangunan sebuah pintu gerbang besar berdiri tegak namun mereka bertiga masih merasa takut untuk melangkah mendekati gerbang.
Suasana di sekeliling sudah terlihat tenang, barangkali semua gerombolan mafia itu sudah tidak memperdulikannya, karena mereka sudahpun mendapatkan barang yang menjadi incaran mereka semua, pikir Winda. Winda menarik napas, dalam.
“Ayo kita harus segera pergi dari tempat ini,” Winda membantu Darmayanti berdiri.
Erni semakin memeluk erat tubuh ibunya, gadis kecil itu hanya diam dalam dekapan sang ibu.
Winda dan Darmayanti berlari kecil mendekati gerbang, meninggalkan bangunan besar, gudang. Mereka bagaikan terlepas dari lubang maut yang sangat mengerikan.
Laju langkah kaki Winda dan Darmayanti tiba-tiba saja terhenti saat pintu gerbang yang tadinya terbuka lebar tiba-tiba saja tertutup. Mereka berdiri terpaku tanpa suara, kini mereka dikelilingi oleh beberapa orang anggota mafia berwajah sangar yang entah dari mana datangnya.
“Bawa mereka masuk!” perintah Rio, garang.
Winda dan Darmayanti hanya diam pasrah saat tangan kasar para anggota mafia itu mencengkram pergelangan tangannya. mereka bertiga dibawa masuk kembali kedalam gudang.
Lukman dan Rio tidak akan membiarkan ketiga-tiga wanita itu meloloskan diri begitu saja, karena mereka bertiga adalah saksi mata kejahatan yang ia lakukan. Jika mereka bertiga lolos, maka itu akan berakibat buruk bagi Lukman dan semua komplotannya.
__ADS_1
Saat Winda, Darmayanti dan Erni meloloskan diri, Rio sengaja tidak mengejarnya, malah ia memerintahkan semua anak buahnya untuk bersembunyi di depan gerbang, gudang. Suasana sepi sunyi sebentar tadi adalah trik Rio untuk kembali menangkap tawanan nya yang lolos dari cengkeraman.