
Tekad yang sudah bulat sebentar tadi, kini berubah menjadi keraguan melihat wajah polos Winda yang sedang tertidur pulas di atas sofa ruang tamu.
Yos menggapai remot kontrol, menutup televisi yang saat itu masih menayangkan iklan sampo.
“Kalau gadis itu udah buka mulut, habisi saja dia. Bagaimanapun dia adalah saksi utama kejadian malam itu.”
Kata-kata Dony masih terngiang di telinga Yos. Informasi yang dibutuhkan sudahpun didapatkan. Jika Winda tidak segera disingkirkan, maka bisa jadi suatu hari nanti gadis itu akan membahayakan kedudukannya, Yos tidak ingin itu terjadi.
Yos mengeluarkan pisau sepanjang 30 sentimeter dari sarungnya, ia melangkah mendekati Winda yang sudah terlelap dibuai mimpi. Yos menghentikan langkah kakinya jarak 1 meter dari Winda, ia kembali memandang wajah Winda, lama. Memandang wajah seorang gadis yang sebentar lagi akan ia bunuh membuat lelaki itu teringat pada masa lalu yang berusaha dilupakannya.
*****
Negeri Sembilan Malaysia 5 tahun yang lalu
Suara ledakan amunisi senjata api memecah keheningan malam. Tiga orang kawanan perampok terus berlari meredah semak belukar hutan. Beberapa orang anggota Polis Diraja Malaysia terus mengikuti jejak langkah mereka bertiga.
Sebuah tembakan jarak jauh yang dilepaskan oleh Polis Diraja Malaysia tepat mengenai sasaran. Seorang dari kawanan perampok itu terkena tembakan, namun masih bisa melarikan diri. Sesekali terdengar suara tembakan yang dilepaskan oleh kawanan perampok itu sebagai tindak balas.
Yusri menghentikan ayunan langkah kakinya, ia kembali beberapa tapak ke belakang, segera menggapai tangan Rani yang jatuh tersungkur, terkena hantaman peluru tak bermata.
Rani memaut tangan Yusri, kuat. Ia kembali mengayun langkah, berlari semakin menjauh dari kejaran sekumpulan polisi.
“Kita berpisah di sini!” perintah Yusri pada Rio ketika sudah menemukan lorong kecil di sebuah kebun sawit.
“Kamu ke sana,” Yusri menunjuk ke arah sebelah kanan, “aku dan Rani ke arah kiri.”
Di dalam kegelapan malam, samar-samar Rio melihat Rani bersandar lemah di bawah sebatang pohon. Rio mendekatkan wajahnya ke telinga Yusri, “dia kenapa?” tanya Rio dengan suara pelan.
“Dia terkena tembakan. Ayo.!! kita harus bergerak cepat, sebelum Polis menangkap kita!” seru Yusri.
Kepala Rio menggeleng beberapa kali, tidak setuju dengan gagasan kakaknya, “nggak kak.! Selama ini, susah senang kita bertiga selalu bersama. Sekarang aku nggak mau ninggalin kalian berdua. Kalau kita harus mati… biar kita mati bersama!”
Perlahan Yusri melepaskan genggaman tangan Rani, ia bangkit berdiri melangkah beberapa tapak menghampiri Rio. Sebuah tamparan singgah di pipi Adiknya itu, membuat Rio terlihat kebingungan mengapa Yusri menamparnya.
“Sebelum aku masuk ke dalam dunia hitam ini, aku udah tau resiko yang harus aku tanggung. Semua orang akan mati, tapi aku nggak mau mati konyol!” suara Yusri terdengar pelan, tapi cukup jelas. Ia melepaskan tas yang berada di punggungnya, tas itu diserahkan pada Rio, “kita harus bergerak cepat! Bawa barang ini dan kita ketemu besok di pelabuhan Malaka,” perintah Yusri.
Rio menyambut tas berisi beberapa jenis narkoba bernilai puluhan miliar yang mereka rampas dari seorang gembong narkoba di negara tetangga itu. Rio menatap tajam wajah Yusri kemudian beralih memandang Rani yang tersandar, lemah di bawah sepohon kayu.
__ADS_1
“Kalau aku nggak sampai di pelabuhan besok sore, jangan tunggu aku. Kamu pulang ikut perahu nelayan, kasi mereka upah lebih. Ingat, serahkan barang ini pada Jafar!” perintah Yusri.
Kepala Rio mengangguk perlahan. Sebenarnya ia ragu dengan keputusan kakaknya untuk berpencar, tapi bagaimanapun juga berpencar lebih baik daripada harus bersama di saat genting seperti saat ini.
“Cepat pergi!!!” sergah Yusri, kasar.
Suara keras Yusri seakan bagaikan sengatan listrik mengejutkan Rio dari tidurnya. Tanpa berpikir lagi Rio meninggalkan Yusri dan Rani, mungkin Yusri mempunyai rencana lain untuk menyelamatkan Rani, pikir Rio.
Setelah memastikan Rio pergi membawa barang yang di inginkan Jafar, Yusri beralih pada Rani, ia membantu Rani untuk bangkit berdiri namun wanita itu menolak.
“Aku masih bisa. Ayo kita pergi, mereka pasti udah makin dekat,” kata Rani, bersemangat.
Yusri tidak dapat berkata apapun, ia memandang langkah Rani, memastikan wanita itu masih dalam keadaan baik-baik saja, “apa kamu masih okey?”
Rani memandang Yusri, sepintas, “ya, aku masih okey. Ayo kita bergerak, jangan buang waktu!”
Mereka berdua bergegas, mempercepat ayunan langkah kaki. Tangan Yusri menggenggam erat tapak tangan Rani seakan tak mau kehilangan istrinya. Walaupun pernikahan mereka bukan didasari cinta, tapi entah mengapa, melihat kondisi istrinya Yusri merasa bimbang, takut untuk kehilangan.
Yusri dan Rani berlari semakin laju membelah pekat malam, saat menyadari kumpulan Polis Diraja Malaysia semakin mendekat. Suara deru napas meredah semak belukar menjadi saksi lelah yang dirasakan.
Erat pautan tangan Rani menggenggam telapak tangan Yusri kini mulai terasa longgar. Yusri terus menarik tangan Rani walau tangan itu sudah mulai terasa berat ketika ditarik, hingga akhirnya tubuh Rani tersungkur.
Yusri menatap Rani sepintas, wajah itu terlihat pucat karena terlalu banyak mengeluarkan darah, “jangan ngomong yang nggak-ngak, kamu akan selamat.”
Keringat dingin yang membasahi tak dihiraukan. Yusri membuka cadar penutup wajahnya, mengikat bekas hantaman peluru di pinggan Rani. Betis wanita itu basah dengan darah, ketika itulah Yusri menyadari Rani terlalu banyak mengeluarkan darah, namun Yusri tidak mau berputus asa, ia coba mengangkat tubuh Rani, namun wanita itu berkeras tidak ingin melanjutkan perjalanan.
“Nggak usah Yus. Selamatkan dirimu, jangan pikirin aku!” sergah Rani. Wanita itu kembali duduk, penglihatannya sudah mulai kabur. Sejenak wajah Rani tertunduk, entah apa yang ia pikirkan.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, Yusri terdiam mematung, tajam tatap matanya memandang Rani yang kini terduduk dengan wajah tertunduk, menahan sakit.
Rani kembali mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu, “mereka udah dekat, pergilah Yus. Selamatkan dirimu,” rintih, Rani.
Segumpal napas berat berhembus dari hidung Yusri. Walaupun ia tak mencintai Rani, namun sungguh ia merasa bersalah harus meninggalkan seorang istri sendirian menunggu ajal datang menjemput.
“Aku ada satu permintaan Yus...”
Yusri memandang sayu wajah istrinya, “katakanlah apa permintaanmu, aku pasti akan lakukan.”
__ADS_1
“Walaupun kamu nggak pernah bisa mencintai aku, tapi aku mohon ciumlah aku untuk yang terakhir kalinya. Aku akan mati bahagia sebagai istrimu,” pinta Rani.
Yusri mendekatkan wajahnya mengecup kedua belah pipi, bibir dan kening istrinya. Hatinya terasa hancur remuk berkecai melihat kondisi Rani. Sungguh ia menyesal tidak pernah ingin mencoba untuk mencintai Rani selama ini. Kini Yusri tahu ketulusan hati Rani.
“Pergi… cepat pergi dan jangan pandang ke belakang lagi!” pinta Rani dengan suara separuh berteriak.
Tapak kaki Yusri mundur beberapa langkah ke belakang, tatap matanya memandang lekat setiap inci wajah Rani. Pelupuk matanya terasa hangat, setitik air jernih melintas di pipi Yusri.
Yusri membalikkan tubuhnya, melangkah meninggalkan Rani.
Yusri terus melangkah di tengah kegelapan malam membawa hati yang terasa bagaikan disayat-sayat rasa kepiluan hingga suara ledakan senjata api menghentikan langkah kakinya.
Maesarani adalah istri Yusri Hidayat. Meskipun lebih tua 3 tahun dari Yusri, namun Rani terlihat lebih muda dibanding Yusri, suaminya. Dan walaupun Rani berjenis kelamin perempuan, namun ia adalah preman bayaran yang profesional. Bahkan banyak perkara terkait dunia hitam yang Yusri pelajari dari Rani dan wanita itulah yang merawat Yusri selama 6 bulan sewaktu lelaki itu terbaring tidak berdaya ketika mengalami luka tembak, dulu.
Waktu itu Yusri sangat merasa terhutang budi pada Rani, hingga pada suatu hari Rani menginginkan perkawinan.
Walaupun tidak ada cinta di hati Yusri, tapi atas dasar rasa terhutang budi lelaki itu menuruti jua keinginan Rani untuk tinggal satu atap dalam ikatan pernikahan.
“Apakah kamu ingin membunuhku Yos?” suara Winda terdengar serak.
Pertanyaan Winda menyadarkan Yos dari ingatan masa lalu yang sangat menyesakkan dada.
Hanyut terbawa rasa bersalah terhadap almarhumah sang istri membuat Yos tidak menyadari sedari tadi Winda terbangun dan memerhatikannya dengan sebilah pisau mengkilat di dalam genggaman.
“Ting.!!”
Suara dentingan pisau terjatuh ke lantai menghiasi sunyinya ruangan. Sorot mata Winda menatap Yos yang kini terlihat bagaikan orang menyesali sesuatu, lelaki itu berdiri di samping jendela membelakangi Winda, matanya terpejam.
“Aku nggak tau apa salahku, tapi kalau memang nyawaku yang kamu inginkan, ayo Yos. Lakukan!”
Entah dari mana Winda mendapat keberanian untuk berkata seperti itu, ia-pun tak mengerti. Namun di hati kecilnya, Winda percaya bahwa sebenarnya lelaki yang berada di hadapannya kini tidak sejahat dan sekejam yang diceritakan orang-orang.
Cukup lama Winda memerhati lelaki di hadapannya itu, ia coba membaca pikiran Yos, mengapa lelaki itu berniat untuk membunuhnya.
Winda melangkah menghampiri Yos, ia berdiri jarak beberapa tapak di belakang lelaki itu, “nggak jadi kamu membunuhku?”
Yos membuka matanya, ia menjeling sinis ke arah Winda, “aku nggak mau ada yang merasa kehilangan.”
__ADS_1
Teringat masa lalu membuat hatinya kacau. Yos melangkah dari ruangan itu meninggalkan Winda yang masih berdiri kebingungan.
Yusri Hidayat, seorang mafia kelas kakap, banyak sekali lembaran catatan kejahatannya yang sudah tercatat di pembukuan pihak kepolisian, tapi entah kenapa disaat nyawanya terancam Winda lebih merasa aman bila berada di dekat seseorang yang bergelar mafia berstatus residivis. Winda berpikir keras, tak mengerti dengan dirinya sendiri.