
6 Agustus adalah tanggal yang sangat istimewa bagi Winda. Dari tadi malam ia terpikir-pikir, hadiah apakah yang akan dibeli untuk kejutan hari ulang tahun orang yang kini cukup berarti dalam hidupnya.
Hampir setengah hari berjalan keliling seputaran shopping kompleks tapi hanya sebuah arloji yang ia beli.
“Apalagi yang kalian tunggu? Kalau sudah cocok, mending nikah aja,” kata ayahnya tempo hari sewaktu Lukman ikut pulang ke desa, masih terngiang di telinga Winda.
Kedua orang tua Winda sudah sangat setuju jika putri bungsunya akan membangun rumah tangga bersama Lukman, begitu juga dengan kedua orang tua Lukman.
Di pulau Lombok, kebanyakan gadis desa menikah di usia muda, tapi tidak dengan Winda. Menurut pemikiran Winda, usia 21 tahun belum cukup matang untuk membangun sebuah hubungan suci, pernikahan. Lagi pula gadis itu masih ingin menikmati bebasnya usia muda.
Winda mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecilnya, sudut matanya mengerling sekilas jam digital pada layar ponsel itu sebelum mencari nama Lukman di daftar contacts dan menekan tanda call.
“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi,” terdengar suara lembut operator.
Dari tadi siang Winda coba menghubungi Lukman, namun yang terdengar hanyalah suara operator. Barangkali Lukman masih kerja pikir Winda. Bukan sekali ataupun dua kali, Winda berhadapan dengan situasi seperti ini. Tapi sudah sering kali handphone Lukman tidak aktif saat ia menelepon, namun gadis itu mengerti. Jam kerja Lukman sebagai juru bahasa wisata asing tidak pernah menentu.
Winda menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, tangannya melambai-lambai, “ojek!”
“Ke mana mbak?”
“Kampung jawa,” kata Winda sambil menyambut helm dari tangan tukang ojek.
Kendaraan roda dua tukang ojek itu bergerak perlahan di atas bahu jalan raya. Winda terpikir pada si tukang ojek sekitar umuran 40-han itu, walaupun hampir mencapai umur setengah abad, namun semangat juang mencari rezeki untuk anak dan istri masih tinggi. Andai saja seluruh penghuni penjara berpikiran seperti tukang ojek ini, pasti dunia akan terasa aman damai, pikir Winda.
“Mbak orang jawa, ya?” tanya si tukang ojek.
“Nggaklah, emang kenapa?” jawaban sekaligus pertanyaan Winda.
“Kan, mbak mau ke kampung jawa,” canda si tukang ojek.
Seutas senyum merekah di bibir Winda, mendengar gurauan si tukang ojek, namun senyum gadis itu mati serta-serta merta mendengar sebuah letupan keras. Keadaan sedikit panik saat kendaraan roda dua yang mereka gunakan goyang, hampir saja hilang keseimbangan. Seketika itu juga tukang ojek menghentikan laju kendaraan miliknya.
“Waduh, ban belakang pecah, mbak!”
“Waduh, masih jauh lagi nih,” balas Winda.
“Gini aja mbak, tunggu saya bentar di sini. Saya pergi ke bengkel depan tu, ganti ban. Atau mbak naik angkot aja,” saran si tukang ojek.
Kepala Winda menengok ke kiri dan kanan, melihat jalan yang agak sepi, gadis itu tahu bahwa tidak ada angkutan umum yang akan melintasi jalan itu, karena jalan itu termasuk pinggiran kota Praya, “kayaknya sih, nggak ada angkot yang lewat sini.”
“Mbak tunggu dah bentar ya?” pinta tukang ojek itu.
“Sip, sip,” jawab Winda, tangannya mengibas-ngibas rerumputan di pinggir jalan sebelum duduk di bawah sepohon kayu, menunggu si tukang ojek.
Indahnya sinar matahari senja menebar warna jingga di langit, mengurangi rasa bosan menunggu. Dari bawah sepohon kayu, Winda memandang beberapa orang petani di tengah sawah, berjalan pulang ingin melepas lelah. Dari dalam tas kecil, Winda mengeluarkan smartphone miliknya, mengambil poto.
Perhatian Winda teralih pada sebuah mobil sport berwarna hitam yang baru saja berhenti di pinggir jalan tepat di persimpangan jalan, agak jauh dari posisi duduk Winda. Terlihat seorang lelaki berpakaian rapi keluar dari dalam mobil. Tangan lelaki itu menenteng 2 bungkusan plastik hitam. Terlihat aneh, seorang lelaki berpakaian rapi masuk ke dalam semak pinggir sawah. Tak lama kemudian lelaki itu keluar dari dalam semak, hanya membawa sebungkus plastik. Beberapa kali ia mengambil foto lelaki itu sebelum sebuah kendaraan roda dua berhenti tepat di belakang mobil sport.
“Mas, boleh pinjam koreknya?” tanya Rio, sebatang rokok sudahpun bertengger di bibirnya.
Lelaki itu mengeluarkan korek api dari dalam kantong celananya, ia mengulurkannya pada Rio.
Rio menatap sekilas korek api yang diulurkan oleh lelaki yang kini berada di hadapannya, tertulis huruf ‘G000’ di atas korek api yang diulurkan. Kepala Rio memanggut-manggut melihat korek api itu.
“Saya Rio orang suruhan Yadi,” Rio mengulurkan tangan, memperkenalkan diri setelah melihat kode yang tertera di atas korek api.
‘G000’ adalah sebuah kode jual beli narkoba lintas provinsi antara Yadi dan Gilang, gembong narkoba di wilayah Batam.
“Saya Hendrik anak buah Gilang,” lelaki yang memperkenalkan diri dengan nama Hendrik itu menjabat tangan Rio.
__ADS_1
“Wah, jalan dari kota Batam sampai ke pulau Lombok pasti capek ya?”
Terukir senyum hambar di bibir Hendrik, “ayo kita selesaikan urusan kita, lebih cepat lebih baik.”
Hendrik tidak ingin mengulur waktu, ia ingin segera menyelesaikan transaksi secepatnya agar terlepas dari tanggung jawabnya sebagai kurir. Lagi pula 4 hari di tengah perjalanan darat dan laut dari kota Batam hingga sampai di pulau Lombok, amatlah melelahkan. Jika urusannya sudah selesai Hendrik berniat ingin mencari hotel tempat peristirahatan, karena tubuhnya sudah sangat terasa layu.
“Oh, ayo kita masuk,” Rio menginjak *kick starter* motor sport miliknya, mengajak Hendrik masuk ke pekarangan sebuah bangunan kosong.
“Apa tempat ini aman?” tanya Hendrik, meninjau-ninjau sekitaran bangunan besar itu.
“Sangat aman. Saya jamin. Bangunan ini milik bos saya,” tutur Rio.
Terlihat Hendrik memanggut-manggut, yakin dengan perkataan Rio.
Memang benar, bangunan besar yang sudah lama terbiar kosong tak berpenghuni terletak di pinggir kota itu adalah milik Yadi. Dulu, bangunan itu beroperasi sebagai ruko, sebelum Yadi terjerat kasus ke ranah hukum. Bangunan besar itu tidak terurus setelah Yadi meringkuk di dalam penjara.
“Ok, ok… apakah uangnya udah ditransfer?” tanya Hendrik.
“Saya mau liat barang dulu sebelum uang ditransfer,” jawab Rio.
“Apakah kamu belum percaya? Bukan sehari atau 2 hari Gilang dan Yadi menjalankan bisnis, cuman kita aja yang baru kali ini bertemu.”
Baru saja Rio ingin menghubungi Yadi, memberi tahu tentang pertemuannya dengan Hendrik berjalan lancar, tiba-tiba seorang lelaki berbadan kurus tinggi mengenakan topeng, membawa sebatang tongkat, keluar dari sudut bangunan. Dengan langkah percaya diri lelaki bertopeng itu berlari mendekati Rio dan Hendrik yang masih berdiri tercengang, heran dengan kehadiran seseorang yang tak diundangnya.
Baru saja Rio akan membuka mulut, ingin bertanya pada lelaki itu, sebuah pukulan keras tongkat mendarat di tengkuknya membuat Rio jatuh tersungkur tak sadarkan diri.
Sekali lagi lelaki tak dikenal itu mengayunkan tongkat dalam genggamannya ke arah Hendrik, tapi Hendrik juga bukan orang sembarangan, dengan gerakan cepat kedua tangan Hendrik menangkap ujung tongkat.
Dari balik topeng, lelaki tidak dikenal itu mengukir sebuah senyum sinis, senjata yang terlihat seperti sebatang tongkat kayu itu sebenarnya adalah sebilah pedang. Lelaki bertopeng itu tidak kalah cepatnya, ia menarik pedang hingga terlepas dari sarungnya dan langsung menancapkan ujung pedang ke dada dan perut Hendrik.
Meskipun Hendrik sudah lemas tak bernyawa, lelaki bertopeng itu terus menancapkan pedangnya ke tubuh Hendrik.
Suara ranting kayu yang diinjak di luar bangunan menghentikan aksi sadis lelaki bertopeng itu, ia menjenguk kan kepala memastikan sumber suara. Terlambat!!. Dari dalam bangunan anak mata lelaki itu menangkap sosok seorang gadis berlari ketakutan di kejauhan, pintu gerbang.
\*\*\*\*\*
**Hari** yang tadinya senja kini mulai semakin gelap. Perasaan takut berlebihan membuat Winda berlari tanpa arah tujuan hingga lelah menghentikan laju langkah kakinya di sebuah empangan luas di pinggiran kota Praya. Cukup lama gadis itu terduduk memeluk lutut di pinggir empang. Keringat dingin membasahi wajah, sekujur tubuhnya bergidik ngeri mengimbas kembali apa yang baru saja disaksikan oleh mata kepalanya.
Tiba-tiba bola mata Winda berputar liar menatap keadaan sekeliling yang sudah mulai sepi, terasa saat ini seseorang sedang memperhatikan dirinya.
Detak jantung Winda mulai berdegup kencang, anak mata gadis itu menangkap sosok seseorang mengenakan helm duduk di atas kendaraan roda 2, tidak terlalu jauh dari jaraknya. Orang itu terlihat santai menatap layar ponsel yang sememangnya berada di genggaman tangannya. Beberapa kali Winda mencoba, mencuri pandang ke arah wajah orang itu, namun helm yang dikenakan menghalangi keinginan gadis yang sedang dikuasai perasaan takut itu.
“*Kayaknya orang ini, orang baik-baik. Mungkin aku aja yang terlalu takut*,” batin Winda.
__ADS_1
Winda kembali membuang pandang ke arah tepian empang yang digunakan para petani untuk menampung air di musim kemarau.
Jantung yang tadinya berdegup kencang kini terasa terhenti, wajah bundar gadis itu mulai terlihat pucat saat sosok lelaki berbadan kurus tinggi mengenakan topeng, keluar dari sebalik pohon kayu di kejauhan sana. Lelaki bertopeng itu melangkah laju ke arah Winda membuat gadis itu panik bergegas bangun dari duduknya, mencari tempat keramaian, namun sekitaran tempat itu sudahpun sepi.
Suasana seperti sekarang inilah yang lelaki bertopeng itu tunggu. Dari tadi ia hanya duduk di balik sepohon kayu menunggu waktu yang tepat untuk menghabisi nyawa Winda. Gadis itu tidak boleh hidup, karena hanya Winda yang mengetahui rahasia pembunuhan itu.
Dengan langkah lebar lelaki itu mengejar Winda, sebilah pisau kecil dilibas-libas beberapa kali hingga gadis itu tersandar pada pagar pembatas empangan.
“Lepaskan aku, aku mohon lepaskan aku…” pinta Winda, merintih.
Lelaki bertopeng yang tidak dikenali itu tidak menghiraukan rintihan ketakutan Winda, ia mengangkat pisau kecilnya tinggi, saat Winda terduduk pasrah di hadapannya.
“*Selamat tinggal sayang*,” batin lelaki itu.
Lelaki bertopeng itu mengayunkan pisau kecil yang berada di tangan kirinya, ingin segera mengakhiri nyawa Winda, namun sebuah hantaman benda keras mengenai kepalanya hingga ia jatuh tersungkur ke belakang.
Seakan tidak percaya dengan apa yang ia saksikan di hadapannya kini. Winda menatap tajam wajah Yos, ternyata lelaki yang mengenakan helm duduk di atas kendaraan roda 2 tadi itu adalah Yos. Langkah kaki Yos mendekati lelaki bertopeng yang kini mengerang kesakitan.
Yos mengayun helm yang kini berada di tangannya ke arah kepala lelaki itu, namun secepat kilat lelaki tak dikenal itu bangkit melarikan diri.
Yos beralih menghampiri Winda yang terduduk ketakutan, lelaki itu mengulurkan tangan membantu Winda bangkit, “bangunlah.”
Winda menatap wajah Yos lama, dengan perasaan ragu gadis itu menyambut jua uluran bantuan lelaki yang selama ini menimbulkan rasa takut di hatinya.
“Ayo, aku anterin kamu pulang.”
“Nggak, nggak… untuk waktu ini aku nggak mau pulang,” jawab Winda, dengan seraut wajah yang masih ketakutan.
Walaupun selama ini sepotong nama Yos selalu membuatnya takut, tapi entah mengapa hari ini kehadiran Yos sangatlah ia butuhkan, berada di samping lelaki itu membuatnya merasa aman dan selamat.
Dahi Yos berkerut bingung mendengar jawaban Winda sebentar tadi, “kalau kamu nggak pulang, terus kamu mau ke mana?”
“Boleh nggak, untuk sementara waktu aku ikut kamu?” pinta Winda, ragu.
Terukir senyum sinis di bibir Yos, “kamu mau ikut aku ke mana? Mending aku antar kamu pulang.”
“Terserah kamu mau bawa aku ke mana. Pokoknya aku ikut kamu, titik.” Winda sudah mulai merasa akrab dengan Yos.
“Aku mau ke pelaminan, kamu mau ikut?” canda Yos.
__ADS_1
Winda tidak menjawab, ia berpikir untuk sementara waktu ini hanya Yos yang bisa menyelamatkannya. Lelaki tidak dikenal itu pati tidak akan berhenti di sini untuk mengincarnya.