RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 20


__ADS_3

Ada yang aneh... tidak seperti apa yang Winda pikirkan tentang kedua orang tuanya. Mereka berdua terlihat bingung melihat raut wajah Winda ketika keluar dari dalam perut mobil, wajah Winda terlihat cemas. Ia menggapai tangan kedua orang tuanya dan menyalami tangan tua itu, gadis itu menatap wajah ayah dan ibunya silih berganti.


“Emak... ayah... sehat-sehat aja, kan?” tanya Winda heran melihat kedua orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja tanpa sembarang keluhan kesehatan seperti yang dikatakan AKP Anom.


Bukan hanya Winda, tapi Bu Janah dan juga Pak Sulton, merasa kebingungan dengan pertanyaan putrinya sebentar tadi. Kedua orang tua yang sudahpun mencapai usia senja itu merasa aneh melihat ekspresi bimbang berlebihan yang terlihat pada wajah putri bungsunya.


“Kami ya... sehat-sehat aja, tapi kamu tu yang sakit, kalang kabut kayak orang kesurupan,” cerca Pak Sulton. Lelaki itu memanjangkan leher meninjau sosok lelaki yang tegak berdiri di halaman rumah.


“Iya, kamu ni Win... ajak dulu kek temannya masuk,” sela Bu Janah.


Mendengar protes dari ibunya, spontan Winda menoleh ke belakang. Bertemu dengan kedua orang tuanya yang dikabarkan sakit membuat Winda terlupa pada Herman. Terukir senyum kelat di bibir Winda saat melihat Herman tegak berdiri di halaman rumah. Lelaki itu terlihat tampan memakai seragam polisinya.


“Oh ya, sini Man aku kenalin ama orang tuaku. Mak... ayah, ini Pak Herman, teman Winda. Dulu Herman ini pernah ke sini sama Lukman, tapi semenjak dia udah bergelar BAPAK, Pak Herman ini nggak pernah datang kesini lagi,” sambil bercanda Winda memperkenalkan Herman pada kedua orang tuanya.


Herman sedikit membungkuk menyalami, mencium tangan kedua orang tua Winda. Tatap mata Herman mencuri pandang ke arah Winda begitu tatap mata mereka bertemu Herman medelik membuat gadis itu tertawa kecil. Tercuit rasa geli di hati Herman mendengar canda Winda.


“Ooo... temannya Lukman ya, udah pernah ke sini? Skarang udah jadi polisi, tampan lagi,” puji Pak Sulton.


Herman hanya bisa tersenyum kelat mendengar pujian dari Pak Sulton, sedangkan Winda mengukir senyum nakal sambil mengernyitkan keningnya beberapa kali seperti monyet melihat pisang. Gadis itu merasa geli melihat Herman yang kini salah tingkah dengan pujian yang dihadiahkan oleh ayahnya.


‘Oh ya, Lukman kemana ya, lama nggak pernah keliatan, tumben-tumbenya kamu pulang nggak ditemani Lukman, Win,” sela Bu Janah yang baru saja datang dari dapur membawa napan berisi cangkir kopi dan teh.


Sesaat Winda dan Herman saling bertatap mata, seolah-olah saling bertanya jawaban apa yang seharusnya diberikan untuk pertanyaan Bu Janah.


“Lukman, emmm... Lukman masih kerja, mak. Ya, Lukman masih kerja,” jawab Winda serba salah.


Winda tidak ingin kedua orang tuanya sampai mengetahui masalah yang saat ini ia hadapi. Dan Herman juga sangat paham dengan maksud tatapan mata Winda sebentar tadi untuk mengajaknya bekerja sama dalam menjalankan kebohongan demi kebaikan. Winda terpaksa berbohong karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya menjadi cemas, mereka berdua pasti tidak akan tenang andai saja mereka berdua mengetahui permasalahan yang kini menimpa putri bungsunya.


*****


Entah berapa banyak photo yang diambil oleh Darmayanti sewaktu di taman, tadi. Photo momen saat Erni riang gembira bermain bersama teman barunya, Yos. Darmayanti mengambil photo-photo itu secara diam-diam dan ibu muda itu mengabadikan semu momen kebahagiaan putrinya ke dunia maya, Darmayanti mengunggah semua photo itu ke beranda facebook yang ia buat atas nama Erni.


Sebenarnya Yos sangat tidak setuju dengan tindakan darmayanti, namun ia hanya diam tidak ingin merusak kegembiraan ibu dan anak yang baru saja terlihat pada wajah mereka. Yos memelas mata saat ia melihat sosok seseorang yang ia kenal melintas di beranda halaman sosial beranda facebook milik Erni, wajah lelaki itu berubah serius ia mendekatkan wajahnya menatap layar smartphone yang berada di dalam genggaman Darmayanti.


“Boleh aku liat sebentar?” pinta Yos.


Darmayanti menatap wajah Yos, heran melihat ekspresi wajah lelaki itu yang berubah serius. Kepala Darmayanti mengangguk, tangannya mengulurkan smartphone miliknya ke tangan Yos tanpa bicara sepatah katapun.


Di beranda facebook itu terlihat photo seorang gadis remaja dengan raut wajah sedih sedang mencium kening seorang wanita tua, mata wanita tua itu tertutup rapat dan di atas photo itu tertulis ‘selamat jalan... do’aku menyertaimu’.


Tubuh Yos terhenyak di atas bangku kayu, wajahnya terlihat putus asa, sorot matanya tidak lepas dari layar smartphone yang berada dalam genggamannya.


“Ada apa om, kok oom sedih gitu?” tanya Erni dengan suara pelan.


“Siapa dia, Yos?” Darmayanti juga ikut bertanya.


“Gadis itu adalah adikku... dan wanita tua yang meninggal itu adalah nenekku. Dia yang merawat aku sewaktu aku kecil, dulu,” tutur Yos, suaranya terdengar bergetar.


Darmayanti diam tak bergeming mendengar cerita Yos, matanya menatap wajah-wajah yang terpampang di media sosial itu. Ibu muda itu melihat tanggal dan waktu update status dari sang pemilik akun, “hari ini tanggal 2 Yos, status ini di up date beberapa jam yang yang lalu, ini berarti kamu masih ada waktu untuk melihat almarhum nenekmu untuk yang terakhir kalinya.”

__ADS_1


Terukir sebuah senyum paksaan di bibir Yos, kepalanya menggeleng lemah mendengar saran dari Darmayanti, “aku nggak boleh datang... aku sudah terbuang dari keluarga itu,” suara Yos terdengar pelan, tak bersemangat.


“Hmm masih ada waktu... ayo ikut aku!” Darmayanti menarik lembut tangan Yos dan Erni dan keduanya hanya menurut walaupun mereka terlihat bingung.




Sebuah kendaraan roda empat peninggalan almarhum Naufal yang dikemudi Darmayanti menepi agak jauh dari deretan kendaraan yang terparkir di piggir sebuah jalan kecil. Jalan yang sememangnya agak kecil bertambah semakin sempit karena banyaknya kendaraan orang yang menghadiri acara pemakaman.



Mobil berhenti dan terparkir namun mereka masih diam tak bergerak keluar membuat Erni merasa kebingungan, “ayo om, kita pergi ke sana!”



“Nggak sayang, kita dari sini aja,’ kata Darmayanti menjelaskan.



Dari sebalik kaca mobil yang hitam, Yos memandang sayu keranda nenek yang pernah merawatnya sewaktu dahulu. Wanita tua itu juga sempat mengisi kasih sayang seorang ibu dan ayah yang tidak pernah Yos dapatkan dari kedua orang tuanya. Bagi Yos, wanita tua yang kini sudahpun menjadi almarhumah itu adalah ibu sekaligus ayahnya.


Teriakan kecil Erni membuat ingatan Yos tentang neneknya terbang berhamburan, Yos memerhatikan gadis kecil yang tiba-tiba bertingkah aneh itu. Erni menyembunyikan wajahnya ke dalam dekapan Yos. Tubuh gadis kecil itu terasa menggigil, ketakutan.




“Orang itu, om...” takut-takut Erni sedikit meninjau beberapa orang lelaki yang berjalan ke arah mobil mereka. Erni meletakkan jari telunjuknya di bawah pelupuk matanya, “orang itu yang memukul papa. Orang yang ada hitamnya di sini tu,” Erni menunjukkan sebuah tanda lahir di bawah pelupuk mata salah seorang dari lelaki itu.



Acara pemakaman belumpun selesai, namun Rio dan beberapa orang temannya sudah pun bergerak inggin meninggalkan tempat, mereka semua masuk kedalam perut mobil yang terparkir di sebelah mobil avanza berwarna silver milik Darmayanti.



\*\*\*\*\*



**Walaupun** hanya sebentar namun pertemuan dengan kedua orang tuanya terasa sangat bermakna. Melepas rasa rindu beberapa waktu tidak bertemu dan juga menghilangkan rasa bimbang atas kabar tidak baik yang diberikan oleh AKP Anom. Walaupun merasa tertipu dengan kabar dari AKP Anom, namun Winda sangat berterimakasih karena dengan itu ia dapat juga diberi izin menjenguk orang tuanya.



Herman memperlahankan kecepatan mobil saat akan melintasi sebuah pasar tradisional, pasar tradisional itu terlihat ramai hingga mengakibatkan sedikit kemacetan jalan raya. Mobil yang sememangnya sudah merangkak perlahan kini berhenti di belakang sebuah truk. Jalan itu macet hingga beberapa meter ke hadapan. Winda menatap wajah Herman saat mendengar hembusan napas kasar dari hidung lelaki itu. Dari garis wajahnya, Herman terlihat tertekan dengan kondisi jalan raya.



“Santai ajalah Man, hitung-hitung kita jalan-jalan sorelah,” kata Winda sedikit menghibur.

__ADS_1



Herman tak menjawab, hanya anggukkan kepala sebagai isyarat mengiyakan perkataan Winda, lelaki itu sudah bisa menarik napas, lega karena sedikit lagi akan terlepas dari sesaknya lautan kendaraan. Perlahan kaki Herman mulai menginjak pedal gas membuat kendaraan roda empat yang ia kemudi bergerak semakin laju. Namu segera Herman kembali memperlahankan kecepatan saat mobil itu terasa goyang, lelaki itu menyalakan lampu isyarat dan segera menepi, menghentikan kendaraan roda empat itu di pinggir jalan.



“Ada apa Man?” tanya Winda.



“Entah, akupun nggak tau. Tunggu, aku cek bentar.”



Pintu mobil dibanting agak kasar mencerminkan suasana hati saat ini. Herman menatap lama ban belakang mobilnya, “sial, bocor,” gumam Herman, matanya liar meninjau barang kali ada bengkel di sekitaran tempat itu karena ia tidak memiliki ban cadangan.



“Knapa Man?” sekali lagi Winda mengajukan pertanyaan yang sama.



“Ban bocor nih,” jawab Herman, otaknya berputar cepat memikirkan langkah apa yang seharusnya saat seperti sekarang ini. “Apa ada bengkel di dekat-dekat sini?”



Melihat Herman yang kini terlihat kebingungan membuat Winda terpaksa keluar dari dalam mobil, “di sini banyak bengkel tapi bengkel motor semua,” jawab Winda.



Herman sangat menyadari sepenuhnya, disaat-saat seperti sekarang ini ia harus waspada, namun situasi di sepanjang pinggiran jalan yang agak ramai membuatnya merasa lebih tenang, karena jika terjadi sesuatu padanya dan juga Winda pasti warga setempat tidak akan tinggal diam saja. Herman melangkah ke pintu depan mobil ingin mencari handphonenya di letakkan di dalam mobil, ia harus menghubungi timnya di kantor, lelaki itu berniat ingin meminta bantuan.



“Herman..!!!” teriak Winda, nyaring.



“Duar...!!!!”



Sebuah kendaraan roda empat yang datang dari arah yang sama, melaju dengan kecepatan tinggi, menghantam tubuh Herman dari arah belakang membuat Herman terpelanting beberapa meter ke depan. Tubuh Herman lemas terkapar di atas jalan raya, berlumuran darah.


Suasana berubah riuh, terlihat orang ramai mulai berkerumunan membantu mengangkat tubuh herman yang sudah lemas tidak sadarkan diri.



Bagaikan tidak percaya dengan apa yang ia saksikan sebentar tadi, Winda mundur beberapa tapak kebelakang tidak mempedulikan kerumunan orang ramai yang membantu, gadis itu terlihat sangat terkejut. Tanpa Winda sadari sebuah tangan memegang saputangan yang sudah dibubuhi obat bius membekap mulut Winda dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2