
Klinik bayangkara polda Nusa Tenggara Barat selalu saja sepi, karena klinik itu hanya digunakan untuk kepentingan pihak kepolisian saja, tapi berbeda dengan malam ini, 6 orang lelaki berbadan tinggi besar terbaring berlumuran darah di atas ranjang dan Yos juga termasuklah dalam hitungan. Terlihat 4 orang anggota polisi juga mengawal mereka yang sedang diobati, luka akibat perkelahian yang belum diketahui apa penyebabnya.
Seorang bidan membersihkan luka di pipi kiri Yos. Luka bekas goresan pisau itu tidaklah terlalu dalam, namun darah segar masih mengalir dari bekas luka itu.
"Lukanya hanya sedikit, nggak perlu di jahit… cuma bekas goresan doang kok," Darmayanti menenangkan hati Yos, namun lelaki itu diam tak menjawab, tubuhnya terlihat lemas.
Kening Darmayanti terlihat berkerut heran melihat tubuh Yos yang kini terbaring lemas. Hanya sekedar luka gores, bahkan lukanya tidak perlu dijahit, tapi kenapa tubuh lelaki ini lemas bagaikan terkena pisau beracun. Tapi bagaimanapun juga, andaian itu bisa saja terjadi. Dalam dunia mafia tidak ada yang tidak mungkin, mereka selalu bertindak di luar akal sehat, pikir Darmayanti. Bimbang sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi mendorong langkah Darmayanti untuk menemui salah seorang anggota polisi yang mengawal di ruangan itu, ingin mempertanyakan pisau yang menyebabkan pipi pasiennya terluka.
Kedua mata yang tadinya terpejam kini terbuka sebelah, mengintai sosok Darmayanti. Terlihat ibu muda itu sedang bercakap-cakap dengan seorang anggota polisi. Yos bangkit perlahan dari atas ranjang pasien, tatap matanya tajam menerkam 5 orang lelaki yang juga terbaring di atas ranjang pasien. Tadi Yos berpura-pura lemas, ia sengaja mencari sedikit kesempatan untuk bertindak. Disaat semua petugas polisi itu lengah kini tiba saatnya Yos bergerak. Perlahan Yos menggapai gunting yang tadinya digunakan oleh bidan memotong kain kasa ketika membersihkan luka. Dengan gerak cepat beberapa langkah panjang ia sudahpun sampai di samping ranjang salah satu preman jalanan yang tadi melukai pipinya.
Kelima kawanan preman itu saling bertatapan, heran. Baru saja salah seorang dari kawanan preman itu akan membuka mulut ingin bertanya, namun sebilah gunting kecil sudah tertancap di pahanya. Suara raungan kesakitan preman itu menyadarkan keempat anggota polisi itu dari kelalaiannya sebentar tadi, mereka semua segera berlari menghampiri perkelahian yang kembali terjadi.
"Op…! tetap di tempat.! jangan ada yang bergerak selangkahpun. Kalau tidak… bajingan ini akan mati," gertak Yos. Bukan sekedar gertakan, malah ia tidak akan segan-segan melaksanakan perkataannya.
Semua anggota polisi dan juga keempat kawanan preman itu otomatis terpaku pada tempatnya melihat sebilah gunting tertancap di paha dan sebilah pisau kecil yang tadinya dipergunakan sebagai alat medis kini sudah terhunus pada batang leher seorang preman yang sudah tidak berdaya.
"preman pasar.! siapa yang suruh kamu serang aku?" tanya Yos.
"Argg…" preman itu tidak menjawab, ia hanya bisa mengerang menahan sakit yang tidak terperi.
"Kalau orang bertanya jawa..! jangan diam pura-pura bodoh!" bentak Yos sambil menggoyang gunting yang tertancap pada paha lawannya.
Preman itu kembali meraung keras saat Yos menggerak-gerakkan gunting pada pahanya. Semua mereka yang berada di tempat itu tidak pernah terpikir, Yos akan bertindak di luar kendali. Sinar mata lelaki itu tajam bagaikan seekor harimau yang sedang mengintai seekor rusa.
Perhatian Yos teralih saat lengan kirinya terasa pedih. Terlihat sebatang jarum penyuntik kecil yang entah dari mana datang nya tiba-tiba menancap di lengan kirinya. sesaat ia memandang lengan kirinya sebelum jatuh dan pingsan.
Dari sebalik pintu AKP Anom muncul diikuti beberapa orang anggota timnya, dialah yang melepaskan tembakan bius yang menyebabkan Yos pingsan.
"Angkat dia, bawa ke ruang isolasi dan yang lain masukkan ke dalam sel," perintah AKP Anom.
*****
Sekujur tubuh kekar Yos masih terlentang di atas bangku kayu, sesekali AKP Anom menjeling arloji di pergelangan tangannya. Menurut perkiraannya tak lama lagi Yos akan sadar dari pingsan, karena obat bius yang ia tembakkan ke tubuh Yos tadi bereaksi dalam jangka waktu 30 menit.
__ADS_1
Tepat dugaannya, jari-jari Yos sudah mulai terlihat bergerak-gerak, perlahan.
Perlahan Yos membuka kelopak mata, namun terangnya cahaya lampu yang terpasang memaksanya kembali menutup mata. Tubuhnya terasa remuk, terasa bagaikan baru terbangun dari tidur yang sangat panjang. Ia berusaha mengerahkan pikiran mengingat perkara yang telah terjadi sebelum ia tertidur.
"bagaimana perasaan kamu?"
Yos menjeling wajah AKP Anom, sepintas sebelum kembali menutup mata. tubuhnya terasa berputar akibat obat bius sebentar tadi.
"Kamu mempunyai banyak sekali musuh… keliatannya kamu dalam bahaya," ungkap AKP Anom.
Tergelitik rasa geli di hati Yos mendengar perkataan perwira polisi itu, seumur hidupnya ia tak pernah merasa hidupnya terancam. Yos bangkit duduk tegak di atas bangku kayu, tangannya memijit-mijit tengkuk yang masih terasa pegal.
"Ini semua kesalahan polisi, nggak mampu menjaga keamanan," jawab Yos, suaranya terdengar serak.
"Saya hampir nggak percaya… seorang mafia kelas kakap bisa dikeroyok. Kalau saya di posisi kamu, lebih baik saya bunuh diri saja," AKP Anom mencibir.
Yos bangkit berdiri ia menggapai kotak rokok milik AKP Anom yang terletak di atas meja dan langsung menyalakan sebatang rokok itu, "saya tau siapa di balik semua ini dan juga saya tau apa yang harus saya lakukan."
"Hmm… kamu pasti butuh bantuan saya," AKP Anom coba menerka.
Tatap mata Yos memelas memandang perwira polisi yang kini duduk santai di hadapannya, tatapan Yos penuh dengan kecurigaan, "maksud komandan?"
"Saya yakin kita memiliki tujuan yang sama. Bagaimana kalau kita bekerja sama?"
Tawa Yos meledak mendengar tawaran AKP Anom untuk bekerja sama, "haha… haha… bagaimana bisa seorang perwira polisi mengajak seorang penculik seperti saya ini untuk bekerja sama. Lagian tujuan kita nggak akan pernah sama."
AKP Anom bangkit dari duduknya, terdengar ia menghempas napas kasar, "beberapa minggu yang lalu kami menerima laporan tentang kematian seseorang yang diyakini kurir narkoba… jarak beberapa hari kami menerima laporan tentang kematian Naufal. Saya yakin, kematian kedua orang ini ada kaitannya."
Kening Yos terlihat berkerut, "trus… apa kaitaya dengan saya?"
AKP Anom termenung jauh melihat seorang anak kecil bermain di halaman klinik. Dari sebalik kaca hitam ruang isolasi memandang dengan tatapan iba.
"Jika benar dugaan saya, berarti secara tidak sengaja kamu sudah berada di dalam ranah kasus ini," AKP Anom menyampaikan instingnya. Tatap mata perwira polisi itu masih tertumpu pada seorang gadis kecil di kejauhan sana.
__ADS_1
Terdengar Yos menghempas napas, "apakah komandan seyakin itu?"
AKP Anom beralih menjeling wajah Yos sepintas sebelum keluar dari ruangan meninggalkan Yos. Tak berapa lama AKP Anom masuk ke dalam ruangan bersama seorang gadis. Ada riak terkejut yang terlihat pada wajah Yos saat melihat gadis yang datang bersama AKP Anom, namun cepat-cepat ia menyembunyikan riak terkejutnya.
"Kamu kenal gadis ini?" tanya AKP Anom.
Yos memandang Winda sepintas kemudian membuang pandang ke arah luar ruangan, "huh, gadis tak kenang jasa," desis Yos.
Wajah Winda hanya bisa tertunduk malu mendengar perkataan sinis Yos.
"Menurut pengakuannya memang kamulah yang menyelamatkannya dan kami sengaja menahannya di sini sebagai langkah penjagaan karena nyawanya terancam," tutur AKP Anom.
Yos terdiam mencerna perkataan perwira polisi itu. Sebenarnya, ingin saja ia melangkah pergi dari ruangan itu karena dirinya merasa sudah tidak mempunyai kepentingan dengan perwira polisi ataupun gadis itu.
"Bagaimana dengan tawaran saya, apakah kamu siap bekerja sama dengan kami?" tanya AKP Anom.
Yos diam membisu tak menjawab pertanyaan perwira polisi itu, tatap matanya masih lurus memandang seorang gadis kecil yang sedang asyik bermain dengan ibunya di kejauhan sana. Mereka bertiga terdiam lama terbawa lamunan masing-masing.
AKP Anom menelusuri arah pandang Yos, "anak itu putri almarhum Naufal. Malang sekali nasib anak itu, akan tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah," suara AKP Anom memecah keheningan.
"Saya sadar, walaupun kami dapat menyeret pelaku pembunuh ayahnya tetap tidak akan mengembalikan kebahagiannya. Tapi paling tidak… anak itu mendapatkan keadilan," sambung AKP Anom.
Suasana kembali hening tanpa suara. Yos tak bergeming, ia berpikir keras mengingat masa kecilnya. Walaupun kedua orang tuanya masih hidup sampai saat ini, namun Yos merasa mereka sudahpun tiada di dunia, ia sangat mengetahui rasanya hidup tanpa orang tua.
"Anak kecil itu satu-satunya saksi mata yang melihat pelaku pembunuhan itu. Saat ini nyawa anak dan ibu itu terancam dan kami mengambil keputusan untuk menahannya di sini sebagai langkah penjagaan. Kalau kamu nggak mau kerja sama dengan kami kamu boleh pergi," AKP Anom membolehkan Yos pergi.
Harapannya untuk bekerja sama dengan Yos sudah punah, jika saja lelaki itu mau membantu pihak kepolisian, maka sudah pasti kasus pembunuhan yang ditangani oleh AKP Anom tidak serumit yang dibayangkan.
"Kalau saya bersedia membantu, siapakah yang akan membayar saya?" tanya Yos, datar.
"Soal bayaran bagi saya tak ada masalah, saya sendiri yang akan bayar kamu demi keadilan," jawab AKP Anom.
Ada riak bahagia yang terlihat pada wajah perwira polisi itu, ia tahu bahwa Yos sudah siap membantunya memecahkan kasus pembunuhan yang sangat rumit dan banyak menguras pikirannya.
__ADS_1