RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 4


__ADS_3

Setelah 2 jam mengikuti kegiatan keagamaan, para warga binaan diizinkan menerima kunjungan dari sanak saudara dan sahabat kerabatnya selama 3 jam. Terdengar suara seorang petugas memanggil para warga binaan yang menerima kunjungan melalui pengeras suara.


“Kamu nggak ada kunjungan?” tanya Fendi.


“Nggak,” singkat Yos.


“Hai mbak, saya minta air hangat!” Yos menyodorkan sebuah botol air kepada Winda yang kebetulan melintas di depan ruang sel.


“Tunggu, saya panggilkan komandan jaga bentar,” jawab Winda.


Gadis berwajah bundar itu melangkah tanpa menghiraukan Yos. Ia tidak berani membantu para warga binaan yang bermasalah tanpa seizin komandan jaga yang bertugas.


“Udah nyusahin masyarakat, di sinipuuuun masih bisa nyusahin orang lagi, dasar narapidana!” gerutu Winda dalam hati.


Melihat ekspresi ragu bercampur takut di wajah Winda, Yos mengukir senyuman, sebuah senyuman penuh arti. Diam-diam lelaki itu sedang menyusun sebuah rencana.


Tak lama kemudian dari ruang sel, Yos melihat seorang petugas sipir datang menghampiri membawa setumpuk anak kunci.


“Hari ini kalian berdua boleh keluar, tapi sebelum itu kalian ada kunjungan,” kata Pak Roby.


“Kunjungan dari siapa? Saya nggak ada keluarga,” Yos masih belum percaya dengan apa yang ia dengar dari Pak Roby.


“Yusri Hidayat, walaupun kamu menyembunyikan identitas asli mu, tapi saya tetap akan tau. Di rutan ini, segala data-data tentang kamu, masih tersimpan rapi. Sekarang pergi dan temui tamu kamu itu.!” Perintah Pak Roby.


Fendi sedikit tersentak mendengar Pak Roby menyebut nama Yusri Hidayat, tapi cepat-cepat ia menyingkirkan ekspresi terkejutnya. Selama ini Fendi sering mendengar nama Yusri Hidayat disebut-sebut di kalangan dunia hitam, nama Yusri Hidayat bagaikan sudah menjadi legenda dalam dunia kejahatan di provinsi Nusa Tenggara Barat.


“Tunggu bentar, saya minta air panas, saya pingin minum kopi,” sambil mengukir senyum sumbing, Yos menyodorkan sebuah botol kecil pada Pak Roby.


Sudah hampir 10 tahun Pak Roby menjalankan amanah negara sebagai petugas sipir dan sudah 5 tahun ia menjabat sebagai kamtib, belum pernah ada seorangpun warga binaan yang berani meminta tolong untuk hal sepele seperti mengambil air di dapur. Sungguh aneh narapidana yang satu ini, pikir Pak Roby.


“Kamu punya kaki dan tangan. Pergi ambil sendiri dan buruan ke ruang kunjungan. Oh ya, barang-barang kalian, tinggal aja di situ dulu, ntar kalau jam kunjungan udah selesai baru saya bagi kalian kamar!” perintah Pak Roby.


Yos beralih menatap Fendi yang sedari tadi hanya menjadi pemerhati, bagikan patung tugu peringatan pahlawan, “kamu pergi aja dulu, bentar lagi aku nyusul.”


Yos melangkah ke dapur rutan menatang sebuah botol kecil dan sehelai kain kecil. Setelah 10 tahun berlalu, tidak banyak yang berubah. Tepat sekali dugaan Yos. Peralatan memasak, parang, pisau terletak di mana-mana.


“Bos... boleh minta air panas, dikit?” pinta Yos pada seorang pekerja dapur yang saat itu sedang sibuk, mencuci beras untuk makan siang.


“Ambil sendiri. Di periuk besar tu...”


Dari kejauhan, pekerja dapur yang juga dari kalangan narapidana itu menunjukkan letak periuk besar yang berisi air panas.


Yos Hidayat mengukir senyum puas. Apa yang sebenarnya ia cari telahpun didapatkannya. Terdengar Yos bernyanyi kecil sambil melangkah ke ruang kunjungan, menemui tamu yang tidak pernah ia undang.


*****


Walaupun disebabkan Dony, peroses persidangan Fendi menjadi terhambat, namun Fendi masih bisa menyambut kedatangan bosnya itu dengan sebuah senyuman.

__ADS_1


Meskipun berkali-kali dipaksa mengakui pemilik narkoba yang ia antar hari itu, namun hingga hari ini Fendi masih tetap enggan mengakui, Dony lah pemilik narkoba itu yang sebenarnya, karena alasan itulah persidangan Fendi masih terhambat hingga hari ini.


“Bagaimana kabar kamu Fen?” tanya Dony.


Terukir senyum di bibir Fendi. Lelaki berusia muda itu tidak pernah mengharapkan kunjungan dari Dony, asalkan Dony tetap menepati janji. Selama Fendi berada di dalam penjara atau rutan, Dony akan selalu memenuhi kebutuhan keluarganya Fendi, itulah perjanjian yang mereka buat secara lisan sewaktu Fendi baru memulai pekerjaan nekat itu.


“Kemarin-kemarin sih, kabar aku nggak baik, nih buktinya,” Fendi menunjukkan salah satu bekas jahitan luka di dagunya akibat dikeroyok, “tapi sekarang semua udah okey.”


Dony mengulum sebuah senyuman mengingat kesetiaan Fendi dalam menjaga rahasia, “sorry ya Fen, dari kemarin-kemarin nggak sempat jenguk kamu, terlalu sibuk.”


“Nggak apa-apa. Oh ya, bagaimana kabar ibu ama adik aku di rumah?”


Dony cukup mengerti maksud Fendi dengan pertanyaannya sebentar tadi, “kamu tenang aja, mereka berdua nggak bakalan kekurangan apapun, aku jamin! Kemarin Naufal nitipin uang untuk kamu, tapi aku udah ngasi uang tu ke ibu kamu.”


Kedatangan Yos menutup topik pembicaraan mereka, serentak mereka berdua memandang lelaki berwajah lugu itu. Terlihat Yos tercari-cari siapakah orang yang datang menjenguknya. Fendi bangkit dari duduknya, menghampiri Yos yang masih berdiri tercengang di depan pintu masuk ruang kunjungan.


“Bos aku mau ketemu sama kamu,” bisik Fendi di telinga Yos.


“Bos kamu?” tanya Yos, ragu.


Fendi mengangguk, pelan. Ia mengajak Yos menemui Dony yang masih menunggu di ujung ruangan.


“Kenalin, ini Dony, bos aku,” kata Fendi.


Yos hanya mengangguk, kurang berminat. Menurutnya, kedatangan tamu disaat seperti sekarang ini bukanlah waktu yang tepat, masih ada perkara yang ia ingin lakukan dan waktu sangat terbatas.


“Oh iya, maaf lupa. Fen, kamu pergi beli rokok bentar,” perintah Dony, ia mengeluarkan selembar uang kertas.


“Marlboro,” ucap Yos sebelum Fendi menghilang dari pandangan.


Sudah sekian tahun Dony bergelut dalam dunia hitam, namun baru kali ini ia bertemu langsung dengan Yusri Hidayat yang kini mengubah namanya menjadi Yos Hidayat. Walaupun terlihat tenang, lugu dan nyeleneh, tapi menurut penilaian Dony secara pribadi, Yusri Hidayat adalah sosok yang sangat misterius.


“Aku sering dengar nama kamu, tapi baru kali ini kita ketemu,” Dony mulai membuka bicara.


“Oh ya. Kamu kenal aku?” tanya Yos.


“Yah, begitulah.”


“Rokoknya. Ini aku beliin minuman sekalian,” Fendi membawa 3 botol minuman dingin, ia mengulurkan uang kembalian sisa belanja, tapi Dony menolak.


“Simpan aja buat belanja kamu,” kata Dony, ia beralih menatap wajah Yos, “bos aku minta bantuan sama kamu!”


“Minta bantuan?” gumam Yos, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bingung dengan tamu yang kini berada di hadapannya, belum terlalu jauh saling mengenal sudah meminta bantuan. Lantas bantuan apa yang tamu ini perlukan? Pikir Yos.


“Siapa bos kamu, berapa dia berani bayar aku?!” tanya Yos.


“Naufal!” singkat Dony.

__ADS_1


Dony mengukir sebuah senyum penuh makna, mendengar Yos mulai mempertanyakan bayaran. Itu menandakan kedatangannya untuk meminta bantuan tidaklah sia-sia.


*****


Sehari tak menjejakkan kaki di rumah tahanan terasa bagaikan bebas terlepas dari lubang gua. Kemarin Winda mendapat giliran shift jaga malam dan hari ini ia masih dalam hitungan lepas piket. Kesempatan itu Winda gunakan untuk pulang ke desa menjenguk kedua orang tuanya.


“Assalamualaikum,” ucap Winda dan Lukman serentak, namun tiada jawaban.


“Assalamualaikum… mak, ayah…?” dari depan rumah Winda terjenguk-jenguk mencari sosok ayah dan ibunya.


“Mungkin mereka lagi di sawah,” terka Lukman.


Lukman memang sudah tahu pasti aktivitas sehari-hari kedua orang tua Winda, apalagi disaat-saat seperti sekarang ini, padi di sawah sudah terlihat menguning, menunggu hari untuk dipanen. Kedua orang tua Winda pasti berada di sawah.


“Tunggu bentar, aku ke belakang, liatin mereka,” pinta Winda.


Dugaan Lukman memang tepat. Dari belakang rumah Winda sudah melihat sosok ayah dan ibunya di tengah-tengah hamparan sawah.


Lahan seluas 2 hektar yang terbentang di belakang rumahnya dikelola oleh kedua orang tua Winda. Hasil dari lahan itulah kedua orang tua Winda membiayai 7 orang anak-anaknya, mulai dari kecil hingga semua biaya persekolahan. Winda terlahir 7 orang bersaudara, 6 orang perempuan seorang lelaki dan Winda adalah anak bungsu.


Semilir angin berhembus pelan dari pantai selatan, lembut mengusap wajah bundar milik Winda Rusila. Winda memejamkan mata. Ia menarik napas, panjang, menikmati suasana pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota dan sesaknya rumah tahanan yang penuh dengan berbagai macam problematik.


“Coba liat mereka berdua tu,” Kata Lukman yang baru saja datang.


Winda menyipitkan mata, memfokuskan tatapan ke arah ayah dan ibunya yang terlihat asyik memetik daun singkong. Menurut Winda, tidak ada yang aneh.


“Kenapa dengan mereka?” tanya Winda, belum mengerti.


“Biarpun udah berusia lanjut, tapi masih tetap keliatan romantis,” Lukman mengukir senyuman.


“Itulah yang dinamakan bahagia sampai ke anak cucu,” tegas Winda, “maaak!!!!” suara Winda, nyaring memanggil ibunya, kedua tangan gadis itu melambai-lambai beberapa kali agar sang ibu dapat melihatnya.


“Kapan kalian datang?” tanya bu Janah yang baru saja sampai di hadapan Winda dan Lukman. Kedua anak muda itupun terlihat bersalaman, mencium tangan tua Bu Janah.


“Baru aja, mak. Ayah kok masih di sana, mak?”


Bu Janah tidak langsung menjawab pertanyaan Winda, tangannya mengusap keringat yang meleleh membasahi wajah akibat disengat panasnya matahari.


“Ayah kamu masih ngambil daun singkong tu, buat makanan kambing nanti malam. Ni coba kamu tolongin emak milih daun singkong ni, ambil sedikit pucuknya yang muda, bentar lagi kita bikin sayur,” Bu Janah menyodorkan setumpuk daun singkong yang barusan diambil dari pematang sawah.


Tangan Winda lincah memetik pucuk singkong yang sememangnya sudah berada di hadapannya. Mata gadis itu memandang wajah ibunya, sesekali Winda memandang ayahnya yang terlihat di kejauhan, sana. Kedua orang tuanya sudahpun mencapai usia 60-han. Walaupun usia mereka berdua sudah senja, tapi semangat mereka tidak pernah surut untuk tetap bekerja. Perjuangan kedua orang tuanya memupuk semangat Winda untuk terus bekerja, walau terkadang ia merasa bosan bekerja sebagai petugas sipir.


“Maaaaak..!!! O mak..! O mak..! O mak..!” tubuh Winda menggelinjang, geli, wajah gadis itu pucat pasi.


“Kamu kenapa sayang?” tanya Lukman, mengguncang-guncang bahu Winda.


“Alaaah paling dia tu liat ulat... yang namanya daun singkong diambil dari sawah, memanglah banyak ulat!” jelas Bu Janah.

__ADS_1


Secara tidak sengaja, tangan Winda terpegang ulat di daun singkong. Winda memang fobia melihat ulat, apalagi memegangnya. Takut ulat termasuk salah satu penyebab gadis itu tidak mau untuk menjadi seorang petani.


__ADS_2