
Duduk, berdiri, berkeluh-kesah dan juga saling bertukar-tukar pandangan di dalam ruangan yang sempit adalah rutin harian yang harus di jalani oleh setiap tahanan yang masih dalam proses pemeriksaan polisi. Situasi seperti ini sangatlah membosankan bagi tahanan yang belum pernah menjalani hukuman pidana. Tapi walau bagaimanapun setiap tahanan harus menjalani proses pemeriksaan di sel polisi sebelum kasus mereka diserahkan dan di pindahkan ke rumah tahanan.
"Skak.!!!"
Otomatis suara Yos menarik perhatian semua penghuni sel tahanan. Mereka bertatapan sesama sendiri melihat tingkah konyol Yos, bermain catur sendirian.
Kening Yos terangkat sebelah saat seorang lelaki berumur setengah abad duduk bersila di hadapannya, tanpa dipersilakan.
"Belum bisa dikatakan bermain jika hanya memainkan anak catur sendirian tanpa ada lawan di hadapanmu."
Yos tidak menanggapi komentar lelaki tua itu. Tatap matanya masih tertuju pada beberapa jenis anak catur.
"Bagaimana kamu akan tau batas kemampuanmu, kalau kamu hanya bertarung dengan dirimu sendiri," lelaki tua itu menarik papan catur, menantang Yos untuk beradu pikiran.
Tidak seperti para tahanan yang lain, lelaki setengah abad itu terlihat tenang bagaikan sudah terbiasa menghadapi situasi keterpurukan kehidupan di balik jeruji besi.
Yos menjeling sepintas wajah orang tua yang berbicara di hadapannya. Dari tutur bahasanya orang tua itu cukup berpengalaman dalam menjalani hidup. Diam-diam Yos memerhati lelaki pertengahan abad itu.
"aku nggak pernah tau ukuran kemampuanku… kadang aku mampu melakukan sesuatu di luar pemikiranku sendiri," kata Yos, jujur.
Walaupun baru saling mengenal, tapi terlihat mereka berdua sudah mulai rancak berbicara. Mereka sudah mulai akrab.
"Keliatannya kamu sudah biasa masuk penjara," terka lelaki tua itu.
Terukir senyum sinis di bibir Yos, mendengar terkaan tepat lawan bicaranya.
Sepintas lelaki tua itu menjeling tajam wajah Yos yang sedang merenung tajam, memikirkan arah permainan caturnya. Ia tidak ingin dikalahkan oleh lelaki tua itu.
"Kalau kamu udah sering masuk penjara, pasti kamu sudah sering kehilangan orang yang kamu sayangi," tangan lelaki tua itu menggeser letak knight milik Yos di atas papan catur, menandakan knight milik Yos itu sudah tewas.
Yos menghempas napas karena satu prsonil caturnya sudah berkurang, "semenjak kecil, aku udah sering kehilangan orang yang aku sayangi… kedua orang tuaku. Justru karena itulah aku berada berada di sini, terus berjalan di garis hitam, walaupun aku tau garis itu menuju jalan yang salah."
"Oh maaf… kedua orang tuamu sudah meninggal?"
"Mereka masih hidup, tapi seakan-akan sudah mati. Ah… aku bicara apa ini… lupakan saja," Yos mengalihkan pembicaraan saat ia tersadar pembicaraannya menuju hal pribadinya.
Lelaki pertengahan abad itu menjeling wajah wajah Yos, entah untuk yang keberapa kalinya. Ia mencuri-curi pandang, memerhati setiap inci wajah Yos.
"oh ya… kamu di sini karena kasus apa?"
Lelaki setengah abad itu mengajukan pertanyaan lazim yang selalu saja ditanyakan oleh para tahanan dan juga narapidana. Sebenarnya Yos cukup jengkel mendengar pertanyaan semacam itu karena menurutnya, pertanyaan seperti itu terkesan selalu ingin tahu masalah orang lain. Tapi karena lelaki yang baru ia kenal itu lebih tua darinya Yos menjawab jua pertanyaan membosankan itu dengan jawaban jujur.
"Aku dituduh menculik orang," jawab Yos.
Dahi lelaki setengah abad itu terlihat berkerut, "tapi apa benar kamu melakukannya?"
"Nggak," singkat Yos.
Terlihat lelaki setengah abad itu memanggut-manggut, mengerti. Tatap matanya tertumpu pada papan catur, memerhati anak catur yang sedang mereka berdua mainkan. Dalam diam lelaki setengah abad itu percaya bahwa Yos benar-benar tidak melakukan penculikan itu. Menurut pengalamannya, bisa saja setiap tersangka membohongi pihak polisi ketika menjalani penyidikan, tapi setiap tersangka akan menjawab dengan jujur setiap pertanyaan dari teman-teman yang bersetatus sama dengan mereka.
"Skak.!" lelaki tua itu tersenyum puas.
__ADS_1
*****
Batu, dinding dan juga apapun benda mati lain seakan bagaikan bisa berbicara menyampaikan kabar kepada Rio. Baru saja tadi pagi Winda menghilang diculik, namun berita itu sudah sampai di telinga Rio.
Yos yang dianggap sebagai batu penghalan dalam segala rencananya sudahpn di tangkap polisi, namun kini timbul permasalahan baru.
"Siapa lagi yang menginginkan gadis itu," gumam Rio.
Terasa kepalanya sakit bagaikan akan pecah memikirkan permasalahan Winda yang tiba-tiba diculik oleh sekelompok orang yang tidak dikenal, belum lagi terpikirkan rencana Yadi yang ingin segera menamatkan riwayat hidup Yos.
Sebenarya Rio sudah bosan menjalankan segala macam perintah Yadi karena memang Yadi sudah tidak memiliki apa-apa, malah saat ini sebenarnya Yadi sedang dililit hutang yang sangat besar. Karena mempunyai tujuan yang sama yaitu menyingkirkan Yos, menjadi alasan bagi Rio untuk masih mematuhi perintah Yadi.
"Tali pinggang dan satu buah handphone."
Seorang petugas tahti meletakkan seutas tali pinggang dan juga sebuah handphone milik Yos di atas meja. Karena kekurangan barang bukti, pihak kepolisian tidak bisa menahan Yos lebih lama lagi di dalam sel tahanan.
Terlihat wajah AKP Anom merah padam menahan kesal di dalam hati. Perwira polisi itu menapak beberapa langkah mendekati Yos yang sedang sibuk memasang tali pinggangnya.
"Aku tau kamu pelakunya, tapi nggak apa-apa… hari ini kamu bisa keluar bebas dari sini, tapi belum tentu besok atau lusa. Begitu kami dapat barang bukti, kamu akan aku seret kemeja pengadilan," suara AKP Anom pelan, tapi ia sengaja menekan kalimatnya.
Yos melangkah keluar dari ruang sel tahanan sabil bersiul kecil tanpa menghiraukan perwira polisi itu. Sebenarnya hatinya kesal kepada Winda, seharusnya gadis itu datang ke kantor polisi memberi keterangan bahwa sebenarnya dirinya tidak diculik agar Yos tidak ditahan oleh pihak polisi. Air susu dibalas air tuba, pikir lelaki itu. Tapi sebentar lagi kekesalan itu akan segera terbayar lunas oleh informasi yang sudah diberikan oleh Winda tentang letak narkoba yang disembunyikan oleh kurir dari kota Batam itu sebelum tewas terbunuh, dulu. Yos mengayuh langkah kaki meninggalkan kantor polisi tanpa menoleh ke belakang. Ia berencana untuk segera mencari jambatan di pinggir kota yang dimaksud oleh Winda.
AKP Anom menapak masuk ke dalam ruangan berkaca hitam yang terletak di samping ruang sel tahanan. Di sana seorang lelaki setengah abad yang bermain catur dengan Yos tadi pagi menunggu kedatangan AKP Anom. Lelaki setengah abad itu mengenakan baju kaos putih dengan celana pendek dan seorang lagi lelaki berumur 28 tahun lengkap dengan seragam dinas polisi, berdiri tegak di samping lelaki tua itu. Dari dalam ruangan, tatap mata mereka bertiga memerhati langkah Yos yang sudah semakin menjauh.
"Menurut pirasatku, dia ada sangkut pautnya dengan kasus pembunuhan Naufal. IPTU Hasyim… ikuti dan awasi setiap pergerakan lelaki itu!" perintah AKP Anom.
"Siap kerjakan!!" jawab lelaki setengah abad itu, tegas.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
**Lima** tahun menghilang dari pulau Lombok membuat Yos merasa asing di kota kelahirannya sendiri. Pembangunan yang cukup pesat membuat pemandangan di kota itu sangat jauh berbeda dengan kota Mataram 5 tahun yang lalu. Yos memperlahannkan ayunan langkah kaki saat ia menyadari dirinya kini sudah berada di depan sebuah taman yang terletak di tengah-tengah kota Mataram. Sambil berjalan perlahan, matanya liar mencari warung makan yang sesuai dengan seleranya. Beberapa hari di dalam sel tahanan polisi membuat Yos rindu dengan aroma masakan luar. Bagaimana tidak, di dalam sel semua para tahanan diberi makanan apa adanya.
Yos menghentikan langkah kakinya di hadapan rumah makan depan taman, ia duduk di atas bangku panjang yang terletak di pinggir jalan raya. Terlihat tangangan Yos melambai memanggil pelayan rumah makan.
Dari kejauhan terlihat Yos bercakap-cakap dengan pelayan rumah makan, sebelum pelayan itu berlalu pergi.
Tatap mata Yos menyapu setiap sudut taman. Masih seperti 5 tahun yang lalu, tidak banyak yang berubah. Yang membuat taman itu terlihat berubah adalah, semakin banyaknya warung dan toko-toko yang di bangun di sekelilingnya. Dulu di taman itulah Yos dan Rani selalu menghabiskan waktu sore, menyaksikan indahnya penomena matahari tenggelam di ufuk barat. Terdengar Yos menghempas napas kasar, mengenang saat-saat bersama almarhummah istri yang semasa hidupnya dulu tidak pernah ia cintai.
"Pesanannya, mas."
Suara halus lelaki muda pelayan rumah makan mengejutkan Yos dari lamunan, "oh iya, makasih mas."
Yos menyambut napan berisi semangkuk bakso dan segelas air putih dari tangan pelayan rumah makan. Baru saja napan itu berpindah tangan namun, sebuah tendangan keras yang entah dari arah mana datangnya terkena pada napan itu. Napan yang sudahpun berpindah tangan itu melayang dan semua makanan di dalamnya tumpah berhamburan di atas jalan. Dari raut wajahnya, terlihat pelayan rumah makan itu terkejut kebingungan dengan kehadiran beberapa orang preman jalanan, gerombolan preman itu membentuk pormasi mengelilingi Yos. Sebenarnya Yos juga merasa heran dengan tindakan para gerombolan preman itu, namun ia segera menyembunyikan riak terkejutnya. Terlihat Yos menarik napas, sudut matanya mengerling sekelilingnya, beberapa orang terlihat terjenguk-jenguk dari kejauhan ingin mengetahui apa gerangan yang terjadi, namun tak seorangpun yang berani mendekat.
"Apakah kita pernah bertemu," Yos mengukir seutas senyum, coba bercanda, namun tak seorangpun dari mereka yang menanggapi.
"Bagaimana kalau berantemnya nanti aja, aku lapar," sekali lagi tak seorangpun menaggapi gurauan Yos.
Seorang dari anggota gerombolan itu mengeluarkan pisau lipat dari kantong celananya, tanpa merasa segan ia menusukkan pisaunya ke arah punggung Yos, namun Yos bergerak lebih cepat dan melibas hidung seorang preman itu dengan tinjunya. Darah mulai terlihat mengalir perlahan dari kedua lubang hidung preman itu. Melihat kawanan mereka terluka, serentak gerombolan itu mengeluarkan senjata yang sama, pisau lipat kecil. Mereka menyerang Yos secara bersamaan.
Tidak memiliki senjata untuk mempertahankan diri membuat Yos harus mundur perlahan sambil menghindar dari pukulan dan tikaman para gerombolan itu. Andai saja Yos tidak terbiasa menghadapi situasi seperti itu, maka sudah pasti tubuhnya sudah menjadi bangkai tak bernyawa.
Satu persatu kawanan preman jalanan itu mulai jatuh tersungkur menerima pukulan dan tendangan yang dipersembahkan oleh Yos. Namun Yos juga terluka di bagian keningnya terkena goresan tajamnya pisau lipat.
Suara ledakan amunisi menyudahi perkelahian jalanan yang terlihat sangat tidak adil itu. Beberapa orang anggota polisi keluar dari perut kendaraan roda empat.
"Letakkan tangan kalian di atas kepala!!!" seru seorang anggota polisi menggunakan alat pengeras suara.
__ADS_1