
Dunia hitam memang selalu penuh dengan tanda tanya. Terkadang Yos sendiri tak mengerti mengapa ia sanggup bekerja sama dengan pihak polisi sedangkan sejak kematian istrinya ia sudah menunjukkan sikap bermusuhan dengan polisi. Beberapa kali Yos menggeleng-gelengkan kepala tak mengerti dengan apa yang dilakukannya sekarang ini. Entah benar atau salah yang ia lakukan sekarang ini ia pun tak tahu yang terpenting baginya adalah bayaran yang akan ia dapatkan dari AKP Anom setelah pekerjaannya selesai nanti.
Yos melebarkan langkah kaki ingin segera meninggalkan areal kantor polisi, ia harus segera pergi mengambil narkoba yang disembunyikan oleh Hendrik. Itu adalah imbalan yang akan ia dapatkan karena sudah menyelamatkan Winda. Langkah kaki yang tadinya laju kini berubah perlahan saat Yos melintas di depan klinik, dari jauh ia memerhati seorang gadis kecil duduk termenung sendirian, wajah gadis kecil itu terlihat murung.
Langkah kaki Yos terhenti tepat di hadapan gadis kecil itu, ia berjongkok melihat raut murung di wajah si gadis kecil, “hai... kok duduk sendirian?”
Sepintas gadis kecil itu menatap Yos kemudian kembali membuang pandang ke arah jalan raya tanpa menanggapi Yos.
“Hmm... jadi cewek tu harus ramah, nggak boleh sombong,” goda Yos.
“Iiih... om ni, siapa yang sombong sih,” Erni menepuk kasar lengan Yos.
Terukir senyum di bibir Yos melihat Erni sudah mulai menunjukkan sikap ramahnya, “kalau nggak sombong, trus apa dong namanya?”
“Bukannya sombong om... cuman Erni lagi kangen sama papa. Dulu waktu papa masih ada, Erni selalu diajak jalan-jalan, tapi semenjak papa nggak ada, Erni tinggal di sini terus, nggak pernah-kemana,” tutur Erni, polos dengan wajah tertunduk.
“Apakah kamu mau jalan-jalan dengan om?” tanya Yos.
Erni mengangkat wajahnya, menatap Yos, terukir senyum melebar di bibir gadis kecil nan polos itu, “mau, mau... Erni mau, om,” jawab Erni, kepalanya mengangguk cepat.
“Ok, tapi sebelum itu ada syaratnya.”
“Apa syaratnya, om?” tak dapat disembunyikan lagi riak bahagia dari wajah Erni.
“Kamu harus minta izin sama mama dulu,” Yos mengucapkan persyaratan yang harus Erni penuhi.
Riak wajah Erni yang tadinya sudah terlihat ceria kini murung kembali. Ia tahu, mamanya sudah tentu tidak akan mengizinkannya keluar dari lingkungan markas polisi. Jangankan pergi jalan-jalan, keluar dari tembok kantor polisi itupun Darmayanti tidak mengizinkan.
“Mama pasti nggak akan ngizinin,” suara Erni terdengar lemah, putus harapan.
“Ait... belum dicoba kok udah nyerah. Ayo dong pergi coba dulu,” Yos membalikkan tubuh Erni menghadap bangunan klinik, menyuruhnya masuk menemui ibunya.
Baru saja setapak Erni melangkah, sorot matanya sudah melihat sosok tubuh ibunya berdiri tegak terpacak di bibir pintu klinik, cepat-cepat Erni menundukkan wajahnya karena ia tahu mamanya pasti akan meluahkan kemarahan jika mendengar permintaannya.
Sebenarnya Darmayanti sudah mengetahui keinginan putrinya, karena sedari tadi ia mendengarkan perbincangannya dengan Yos. Mendengar luahan perasaan Erni kepada Yos mengundang rasa sedih yang teramat sangat di hati seorang ibu muda itu. Walaupun bukan berstatus tahanan, namun pada hakikatnya Darmayanti dan Erni terkurung tanpa kebebasan dan gadis seumuran Erni tidak seharusnya tinggal di tempat seperti yang sekarang ini mereka huni, sungguh Darmayanti merasa bersalah terhadap putri kesayangannya.
“Mama... boleh nggak Erni pergi jalan-jalan dengan om Yos?” dengan nada suara terbata-bata dan ragu Erni menyampaikan juga permintaannya kepada sang ibu.
Darmayanti menghela napas panjang, “boleh, tapi ada syaratnya.”
__ADS_1
Erni menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “aduh... syarat lagi...” gerutu Erni dengan suara hampir tak terdengar.
“Apa sayang?”
“Apa syaratnya, ma?”
“Syaratnya mama harus ikut.”
“Hah... mama ikut...beneran, mah..??!” mulut Erni terbuka lebar seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar, sebentar tadi.
Semenjak kepergian suaminya menghadap Ilahi, baru kali inilah raut wajah Erni terlihat kembali ceria. Darmayanti memandang wajah putrinya, lama. Sungguh sederhana permintaan Erni, Darmayanti akan sangat merasa bersalah jika tidak dapat memenuhi permintaan putrinya.
Darmayanti beralih memandang Yos, ia menapak menghampiri lelaki itu, “kamu harus minta izin dulu pada Pak Anom.”
Kepala Yos memanggut-manggut beberapa kali, mengerti dengan maksud ibu muda itu. Yos membalikkan badannya ingin menemui AKP Anom di ruang kerjanya.
*****
5 hari berada dalam penjagaan polisi terasa bagaikan waktu yang sangat lama. Semua aktivitas rutin hariannya menjadi terbatas, tidak boleh keluar dari kawasan Polda tanpa dikawal, bahkan handpone yang selalu digunakan untuk menghubungi sanak saudarapun juga tidak diperbolehkan, semua di atasnamakan untuk keselamatan. Sejak kecil Winda tidak pernah terpikir akan terlibat masalah yang sedemikian rupa, karena sejatinya ia selalu menjaga sikap dan pergaulan agar tidak terlibat masalah dengan pihak polisi.
“BRIPDA Herman Jayadi, kamu pergi kawal Winda Rusila pulang kerumahnya sebentar, jenguk orang tuanya yang sedang sakit!” printah AKP Anom tadi sebelum berangkat.
Sepintas Herman menatap Winda dan kembali fokus ke arah jalan, mengemudi mobil, “sabar ya Win,” hanya itu kata Herman ketika mendengar hempasan napas berat dari hidung Winda.
Winda tak bergeming, tatap matanya masih terarah ke luar kaca mobil, “bagaimana Pak Anom bisa tau kalu ibu aku sakit ya, Man?”
“Tadi pagi Pak Karutan yang nelpon, ngasi tau,” jawab Herman.
“Ooo...” hanya itu yang terpacul dari bibir Winda saat mendengar Herman menyebut nama karutan.
Sebelum Winda dibawa oleh pihak kepolisian, AKP Anom terlebih dahulu meminta izin pada karutan. AKP Anom merencanakan agar seolah-olah winda diculik untuk mengelabui pihak yang sangat menginginkan nyawa gadis itu.
“Kalau nggak salah di depan tu ada simpang, kan?” tanya Herman, ia masih ingat-ingat lupa jalan ke rumah Winda. Dulu sewaktu masih sekolah bersama Lukman, Herman pernah ikut ke rumah Winda.
“Iya. Simpang 4 di depan tu belok ke kanan.”
Mobil yang mereka kendarai mulai terlihat memperlahankan kecepatan, Herman memutar setir mobil ke arah kanan dan mobilpun masuk menelusuri sebuah jalan tanah berdebu tak beraspal.
*****
__ADS_1
Melihat keceriaan yang di tunjukan Erni mengundang rasa yang aneh di hati Yos. Sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahagia, ya... bahagia yang kini Yos rasakan saat ia mampu membuat seorang gadis kecil tertawa riang. Dari bangku taman, Yos termenung jauh memandang Erni lari berjingkrat-jingkrat mengejar ibunya mengelilingi pancuran air di tengah-tengah taman.
“apakah semudah ini membahagiakan seseorang?” cetuk hati kecil Yos, bertanya pada dirinya sendiri.
Sejak menginjak usia remaja, Yos mulai bergelumang dengan dosa, bangga dengan setiap kejahatan yang ia lakukan. Walaupun selalu mampu memiliki apa yang ia inginkan, hidup selalu lebih dari cukup, namun hidupnya jauh dari kata-kata bahagia seperti yang ia rasakan saat ini. Apakah ini yang dinamakan ikhlas, apakah ikhlas tidak bermodalkan uang, jika iya... lantas mengapa ia belum bisa mengikhlaskan kematian istrinya yang sudah lama pergi meninggalkannya, mengapa rasa bersalah terhadap dirinya sendiri selalu saja datang menghantui hidupnya. Yos berperang dengan dirinya sendiri.
Langkah Darmayanti yang datang ke arahnya membuat lamunan Yos terbang berkecai, ibu muda itu duduk di sebelah Yos. Baru kali ini juga Yos melihat senyum di bibir Darmayanti, sama seperti putrinya, hari ini mereka terlihat ceria.
“Aapakah kamu suka anak-anak?” tanya Darmayanti, tatap matanya lurus mengawasi Erni yang masih bermain di kejauhan, sana.
Yos tak menjawab, kepalanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Darmayanti, sorot mata lelaki itu memandang ke arah yang sama dengan darmayanti, memerhati Erni.
“Oooh... berarti kamu taklah sejahat yang aku bayangin,” canda Darmayanti.
“ait..! siapa bilang aku jahat? Aku ni orang baik.”
“Yah... walaupun orang-orang pada bilang Yos tu mafia, tapi tenang aja, aku percaya, kok. Kamu tu orang baik,” kata Darmayanti, nyeleneh. Tatap mata Darmayanti beralih memandang wajah Yos, “hari itu aku melihatmu di acara pemakaman almarhum suamiku... apakah sebelumnya kalian saling mengenal?”
Terdengar Yos menghembuskan napas kasar, ia bangkit dari duduknya dan menapak perlahan meluruskan urat yang terasa agak pegal, “yah... begitulah. Dia pernah membayar aku untuk melakukan satu pekerjaan, tapi kami belum pernah bertemu.”
Darmayanti ikut bangkit dan berjalan mengekori langkah kaki Yos, “pasti kamu dibayar untuk ngelakuin pekerjaan kriminal.”
Yos tertawa kecil mendengar nada suara Darmayanti yang agak kasar, “aku nggak mau jadi orang munafik, kriminal sudah menjadi pekerjaanku... aku nggak mungkin nolak kalu aku dibayar dengan upah tinggi.”
Sanggup bekerja pada siapa saja yang yang bisa membayarnya, pengakuan Yos sebentar tadi membuat darmayanti termenung sejenak, “kalau saja aku memepunyai uang aku pasti membayarmu,” gumam Darmayanti, tapi masih bisa ditangkap oleh pendengaran telinga Yos.
Yos menghentikan langkah kakinya, beberapa kali ia membalas lambaian tangan Erni yang sedang asyik bermain di tengah-tengah taman, “apakah kamu menyimpan dendam pada pembunuh suamimu?”
“Siapapun pasti akan merasa sangat kehilangan apabila di tinggal pergi oleh suaminya, apalagi kematian suamiku bisa dikatakan nggak wajar... tapi untuk nyimpan dendam, aku rasa nggaklah. Tapi kalau pembunuh suamiku mati ataupun ditangkap paling tidak hidup kami bisa aman dan tenang, nggak seperti sekarang ini,” tutur Darmayanti, seakan-akan meminta simpati.
Yos terdiam lama mendengar kata-kata Darmayanti. Seorang istri tidak menyimpan dendam pada pembunuh suaminya, kata-kata itu agak aneh di telinga Yos, “suamimu terbunuh dan kamu bilang enggak menyimpan dendam?” dahi Yos berkerut heran.
Darmayanti menghela napas yang sangat panjang, bagaikan menghempas semua keluhan yang menyumbat di dalam dada, “bicara so’al dendam nggak akan pernah ada kesudahannya. Sebelum aku memilih almarhum Naufal sebagai pendamping hidup, aku sudah tau apa resiko yang harus aku hadapi suatu hari nanti dan inilah resiko yang harus aku tanggung.”
“Apakah sebelum ini kamu sudah tau apa pekerjaan almarhum?” tanya Yos.
“Bekerja sebagai tour leader hanya untuk mengelabui padangan masyarakat di sekitar dan juga pihak polisi, tapi sejak kami belum menikah, aku sudah tau siapa Naufal yang sebenarnya.” Tutur Darmayanti, jujur.
Yos menjuihkan bibirnya, mengerti dengan apa yang ibu muda itu katakan. Kedatangan Erni berlari menghampiri mengalihkan perhatian mereka berdua, mereka tidak ingin membicarakan tentang pembunuhan Naufal di hadapan Erni. Erni terlihat sudah semakin pulih dari traumanya, gadis kecil itu langsung naik ke pundak Yos, mereka berdua sudah terlihat sangat akrab.
__ADS_1