RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 23


__ADS_3

Duduk termenung berpikir keras membuat ekspresi wajah Rio berubah tegang. Tidak seperti Naufal yang hanya duduk santai di depan pintu ruangan tempat ia mengurung Winda dan Erni. Sesekali lelaki itu mendekatkan matanya ke lubang kecil pintu, memastikan keadaan kedua orang yang akan di jadikan bahan tebusan sebentar lagi.


“Kalau Yos udah sampai sebentar lagi, habisi saja dia supaya kita nggak repot-repot,” perintah Lukman.


“nggak... aku nggak setuju. Sebelum barang itu berada di tangan kita, kita nggak boleh macam-macam, jangan sampai Yos mencium bau kecurangan,” bantah Rio.


Terukir seutas senyum geli di bibir Lukman melihat reaksi tegang yang ditunjukkan Rio, “santai aja sobat, jangan terlalu tegang. Naufal dan Yandi udah kita singkirkan dengan mudah, apa lagi seorang Yos, lagian dia nggak akan berani macem-macam selagi bocah itu masih ada.”


Rio hanya menjeling sepintas wajah Lukman. Tak dapat dipungkiri, ada ras gemetar di hati Rio. Setelah bertahun-tahun tidak bertatap muka dengan Yos sebentar lagi ia akan bertemu kembali dengan saudara tiri yang dulu pernah dikhianatinya.


Suara gerbang besi dibuka dari luar otomatis membuat Lukman dan Rio mendekati jendela kaca, mereka menjegulkan kepala meninjau gerangan apakah yang membuat anak buahnya membuka pintu gerbang. Sebuah kendaraan roda empat dengan cahaya sorot lampu terang menyilaukan mata, berhenti di depan gerbang.


Seorang lelaki berbadan gemuk besar menghampiri begitu Yos bigitu keluar dari mobil van, mulut lelaki gemuk itu tiada hentinya mengunyah permen karet.


“Yos?” tanya lelaki itu.


Yos tak menjawab, kepalanya sedikit mengangguk. Tanpa meminta izin terlebih dahulu lelaki itu meraba seluruh badan Yos dari kaki hingga leher, memastikan Yos tidak membawa senjata atau sejenisnya, tidak ada yang ditemukan kecuali sebuah handphone.


“Matiin handphon tu dan titip di sini dulu,” perintah lelaki itu lagi.


Yos masih tak menanggapi, namun ia menuruti keinginan lelaki itu. Sambil mematikan handphone sudut matanya melirik suasana di sekitaran bangunan yang sudah terlihat tua itu. Di kejauhan samping kiri dan kanan bangunan terlihat setumpuk anak buah Lukman sedang asyik dibuai permainan domino. Ketua mereka cukup berhati-hati, tapi hampir semua anak buahnya lalai pikir Yos.


“Ikut aku,” perintah sopir yang tadi menjemput Yos.


Bagaikan kerbau dicucuk hidungnya, Yos mematuhi perintah demi menjaga keselamatan Erni dan juga Winda, namun sambil berjalan matanya berputar liar meninjau suasana sekitar. Yos dibawa ke sebuah gudang kosong yang terletak di belakang bangunan utama. Suara tepukan tangan menyapa telinga Yos saat ia melangkah memasuki pintu gudang.


“Hai... lihatlah siapa yang datang malam ini,” suara Lukman mengalihkan perhatian beberapa orang yang berada di dalam gudang itu.


“Yusri Hidayat, apa kabarmu sobat,” sapa Lukman dengan nada suara mengejek.


Beberapa pasang mata yang berada di tempat itu menatap sinis ke arah Yos, namun beberapa orang di antara mereka terlihat bingung seakan tidak percaya dengan kehadiran Yos.


“Tak ku sangka kamu sudi datang ke tempat kami yang kumuh ini,” kata Lukman lagi.


Yos menghempas napas kasar, ia terlihat bosan dengan omong kosong Lukman, “sudahlah... aku nggak ada waktu untuk bermain-main. Mana anak kecil itu?!” sergah Yos, kasar.


“Hai, hai, hai… sabar dulu kawan. Bagaimana kalau kita minum-minum dulu, jangan terlalu terburu-buru,” Lukman sengaja memancing emosi Yos agar lelaki itu tidak dapat berpikir dengan jernih.


“Sudah ku bilang, aku nggak ada waktu!” nada suara Yos masih terdengar melengking, kasar.

__ADS_1


Lukman menyadari segala kemampuan Yos Dalam bertarung dan juga ia mengetahui kecerdikan lelaki bernama Yusri Hidayat yang kini berada di hadapannya. Lukman sengaja memancing emosi Yos, karena menurut pemikiran Lukman, secerdik dan sepintar apapun seseorang pasti akan menjadi bodoh jika emosi sudah menguasai diri.


“Sebaiknya kita selesaiin aja urusan kita secepatnya, jangan terlalu bertele-tele,” suara Yos terdengar tajam. Sebenarnya ia sudah mulai mencium rencana Lukman.


Lukman menatap Yos lama, mencoba membaca pikiran Yos, namun gagal. Ia menghebuskan napas perlahan, “mana barang itu, aku mau liat?”


Yos membuka resleting tas yang sedari tadi bertengger di atas punggungnya, dari dalam tas itu ia mengeluarkan bungkusan plastik transparan yang terlihat berisi sebuah benda seperti bongkahan kristal. Yos kembali memasukkan benda yang menjadi rebutan para golongan brandal itu ke dalam tasnya.


Kepala Lukman memanggut-manggut melihat benda yang ditunjukkan oleh Yos, lelaki itu beralih memandang kerumunan anak buahnya, menatap wajah mereka satu-persatu tercari-cari sosok Rio, namun tak di temukannya, “kemana Rio?”


“Di belakang, bos!” jawab seorang anak buahnya, tegas.


“Panggil dia, suruh dia bawa bocah itu ke sini!” perintah Lukman dengan nada suara lantang sehingga Rio yang baru saja ingin memasuki gudang mendengarnya.


“Nggak usah, aku di sini,” sahut Rio.


Semua mata yang berada di tempat itu memandang ke arah empunya suara, kecuali Yos. Ia sangat mengenali pemilik suara yang merupakan adiknya sendiri. Sejenak Yos terlempar jauh pada ingatan saat-saat dulu sewaktu Rio belum terjerumus kedalam dunia hitam, dulu Rio adalah anak yang lugu. Dalam diam Yos merasa bersalah karena telah membuat Rio terjebak ke dalam ranah kejahatan.


Terukir seutas senyum sinis di bibir Lukman, “lihatlah, Yos... siapa yang datang, apakah kamu kenal dia?”


Sudut mata Yos sedikit menjeling ke arah Rio yang baru saja menapak masuk ke dalam gudang itu, di depannya berjalan seorang bocah kecil dan seorang gadis. Yos menghembus napas perlahan, berharap agar dirinya tetap tenang.


“Maafin aku, Yos... waktu itu aku terpaksa menyampaikan kabar kematianmu pada semua orang,” wajah Rio tertunduk, malu.


Dari bahasa, perkataan dan nada bicaranya Rio yang sekarang sungguh jauh berbeda dengan Rio yang dahulu selalu patuh pada Yos. Sebenarnya Yos sudah tidak berminat lagi membahas masalalunya, namun perasaan ingin tahu mengapa Rio sampai tega mengkhianatinya, membuatnya bertanya.


“Kenapa kamu sampai tega mengkhianati aku dan juga membohongi semua orang?” tanya Yos, malas.


“Aku ingin jadi diriku sendiri. Dulu aku selalu hidup di bawah bayang-bayangmu.!!” Suara Rio terdengar keras dan kasar.


Yos diam tak bergeming, sesaat pikirannya mengimbas masa lalu, sebenarnya tidak pernah merasa membayang-bayangi hidup siapapun seperti yang dikatakan oleh Rio, namun Yos memilih diam karena ia sudah tidak berminat mengingat masalalunya lagi. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan Erni.


*****


Enam orang anggota polisi berpakaian preman berkumpul di salah satu sudut lorong agak jauh dari sebuah bangunan yang terlihat sepi. Semangat membara berbakti pada negara terlihat jelas di raut wajah mereka. Sebenarnya AKP Anom tidak yakin akan bisa meringkus para gerombolan preman yang sangat ramai, memandangkan anggotanya sangatlah sedikit, hanya berjumlah enam orang termaksuk dirinya.


Sebelum mengeluarkan perintah, AKP Anom menatap arloji di pergelangan tangan kanannya, “2 menit lagi kita akan bergerak menuju sasaran. Jangan sampai ada yang bertindak gegabah, karena di sana ada 2 orang sandra. Periksa senjata kalian dan sekali lagi saya ingatkan, jangan sampai melepaskan tembakan kecualia kalian terpaksa!”


Semua anggota yang dipimpin oleh AKP Anom itu mengangguk patuh pada perintah sang pimpinan. Mereka terlihat sibuk mengotak atik senjata masing-masing, memastikan perlengkapan senjata berpungsi dengan baik.

__ADS_1


“Baiklah... jangan buang-buang waktu, ayo kita bergerak!” suara tegas AKP Anom membuat semangat semua anggotanya semakin membara.




Lukman terlihat tenang ketika berhadaan dengan Yos, karena ia tahu kini Yos sudah tidak dapat berbuat apa-apa selagi Erni dan Winda masih masih menjadi sanderanya. Tapi berbeda dengan Rio yang berdiri tegak di belakang Lukman, ia terlihat gelisah. Bukan hubungan tali persaudaraan yang membuat Rio menjadi gelisah, tapi ia bimbang melihat raut tenang yang terlihat pada raut wajah Yos. Menurut firasat Rio, saat ini Yos sedang merencanakan sesuatu. Mata Rio berputar liar memerhati keadaan sekeliling, tercari-cari barang kali ada sesuatu yang terlihat aneh, namun Rio tak menemukan keanehan.



“Ayo Yos, kita selesaikan urusan ini, lebih cepat lebih baik,” kata Lukman.



Yos menjuihkan bibirnya mendengar perkataan Lukman, “yah, aku setuju dengan pendapatmu... serahkan mereka berdua dan kamu akan mendapakan barang ini, mudah, kan?”



Lukman berpikir sejenak, mempertimbangkan keinginan Yos. Dalam pikiran Lukman, walaupun ia menyerahkan Erni dan Winda terlebih dahulu itu tidak akan menimbulkan masalah baginya, toh juga anak buahnya sudah berjejer di dalam dan di luar gudang, menunggu instruksi darinya.



Lukman mengulas sebuah senyum mengejek, “ya… bawalah mereka pergi Yos, mereka sudah nggak berguna lagi bagiku,” Lukman beralih memandang Erni dan Winda yang masih terdiam dan terlihat kebingungan, “kalian boleh pergi,” kata Lukman.



Mendengar Lukman memperbolehkannya pergi, Erni langsung berlari berhamburan ke pangkuan Yos. Gadis kecil itu mendekap Yos erat, tapi berbeda dengan Winda yang terlihat serba salah. Gadis itu terlihat malu, malu pada Yos, malu pada semua orang dan juga malu pada dirinya sendiri.



“*Sesudah ini, jadilah orang yang berguna. Jangan habiskan masa hidupmu yang singkat dengan perkara yang tidak berguna seperti ini*.”



“*Jangan menyalahkan Tuhan, mbak. Tuhan itu maha pintar, Dia nggak pernah menciptakan sesuatu yang tak berguna. Hari ini aku menjadi sampah yang tak berguna, tapi belum tentu dengan hari esok atau lusa. Nggak ada yang tau rahasia Tuhan*.”



Winda teringat perbincangannya dengan Yos, saat lelaki itu akan melangkah keluar dari rumah tahanan, dulu. Imbasan itu membuat rasamalunya terhadap Yos menjadi semakin menebal. Namun Winda menyadari, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melayani rasa malu. Winda terpaksa mengenepikan rasa malunya itu demi keselamatannya yang saat ini terancam.

__ADS_1


__ADS_2