
Rasa kecewa yang amat mendalam membuat Winda terlihat sangat terpukul, seorang lelaki yang ia sayangi, yang selalu dibangga-banggakan selama ini ternyata adalah seorang mafia. Memutuskan hubungan bukanlah suatu perkara yang sulit, tapi apa kata keluarganya suatu saat nanti, bagaimana Winda akan menjelaskan semuanya pada teman-temannya, setelah menggembar-gemborkan di media sosial tentang hubungan mereka yang harmonis dan tak lama lagi akan menjadi pasangan suami istri, kini putus begitu saja di tengah jalan. Rasa kasih dan sayang yang dulunya winda miliki untuk Lukman kini berubah menjadi benci yang tak dapat tergambarkan besarnya.
Dari luar ruangan Rio mengintip pergerakan Winda melalui lubang kecil di samping pintu kayu, gadis itu terlihat diam terduduk memeluk lutut di sudut ruangan, “aku rasa pekerjaan kita akan semakin sulit kalau memang barang itu sudah berada di tangan Yos,” ungkap Rio.
Lukman hanya diam tak langsung menanggapi Rio, lelaki itu terlihat sedang berpikir keras. Memang tak terlintas dalam pikiran Lukman untuk beradu otot dengan Yos karena ia sudah tahu kemampuan Yos dalam bertarung, ia harus mencari di manakah sisi lemah Yos.
“Sekarang anak dan isti almarhum Naufal berada di Polda, mereka dalam penjagaan pihak kepolisian. Cari cara agar kita bisa mendapatkan anak itu, ini adalah satu-satunya jalan yang kita harus tempuh kalu memang barang itu berada pada Yos,” kata Lukman.
Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tak mengerti dengan jalan pikiran Lukman, “Kemarin kamu nyuruh aku culik gadis tak berguna itu, sekarang kamu mau agar aku menculik seorang bocah..? aduh... kita ini menginginkan narkoba yang akan membuat kita kaya, kita ini kumpulan pengedar, bukannya penculik,” bantah Rio.
“Kita hanya akan membuang-buang waktu jika kita harus beradu otot dengan Yos, dia terlalu tangguh... jadi jalan satu-satunya adalah culik orang yang dia sayangi, kita tukar bocah itu dengan barang itu, jadi hemat tenaga dan juga waktu,” Lukman menjelaskan maksudnya pada Rio.
Rio memandang Lukman dengan tatapan tajam, kepalanya memanggut-manggut beberapa kali, paham dengan maksud Lukman, “bagaimana dengan gadis tak berguna itu, apa nggak sebaiknya kita selesain saja? Bagaimanapun di tetap membahayakan posisi kita, dia saksi mata dalam kasus pembunuhan itu,” Rio menyodorkan sarannya pada bos barunya, Lukman.
Lukman bangkit berdiri mendekatkan matanya pada lubang kecil samping pintu, meninjau keadaan Winda kemudian beralih pada Rio, “kita akan menyingkirkannya, tapi tunggu waktu yang tepat. Permainan belum berakhir, mungkin barangkali kita masih membutuhkannya, kalu barang itu sudah di tangan kita, barulah kita habisi gadis itu.”
Walau bagaimanapun juga, Rio merasa kagum dengan kelicikan Lukman, rela mengorbankan kekasihnya demi menebus keinginannya sendiri. Selama ini Rio menyangka Yos adalah manusia yang paling kejam dan licik, tapi hari ini Rio menemukan seseorang yang lebih licik daripada Yos.
*****
AKP Anom, IPTU Hasyim dan juga Yos hanya diam tanpa bicara, masing-masing hanyut terbawa arus lamunan. Tidak memiliki petunjuk tentang keberadaan Rio dan Lukman membuat kedua anggota polisi itu terlihat tertekan. Namun tidak dengan Yos, ia masih terlihat santai walaupun Winda sudah menjadi sandra kedua mafia itu. Memang Yos sudah mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan oleh Lukman dan Rio, namun Yos bertekad tidak akan melepaskan narkoba senilai 5 milyar yang sudahpun berada di dalam genggamannya hanya karena nyawa seorang Winda Rusila.
Suara pintu diketuk bertalu-talu tanpa henti membuat mereka bertiga kembali dari alam lamunan ke dinia nyata. Terdengar AKP Anom meringis sebelum mendekati pintu, ingin memastikan siapa pengetuk pintu yang tidak sopan di luar sana.
“Tolong saya pak, putri saya hilang... putri saya hilang!!” Darmayanti meraung histeris, ia menggoyang-goyangkan lengan AKP Anom membuat perwira polisi itu terlihat kebingungan.
Seketika Yos tersentak dengan pernyataan ibu muda itu, namun sebisa mungkin ia menyembunyikan riak terkejut yang terlihat pada wajahnya. Yos memilih diam melihat tindakan yang akan diambil oleh anggota polisi, ia tidak ingin mendahului tugas para anggota polisi.
“Tenang dulu, kita cari di sekitar sini dulu,” kata AKP Anom, meredakan kepanikan yang melanda hati Darmayanti. AKP Anom beralih pada IPTU Hasyim, “IPTU, tolong perintahkan beberapa orang anggota untuk mencari anak itu di sekitaran sini.”
IPTU Hasyim mengangguk patuh pada perintah atasannya, namun belumpun sempat kaki melangkah, suara ponsel milik Yos berdering keras menandakan panggilan masuk. Suara nada dering ponsel itu membuat langkah IPU Hasyim masih tetap terpaku, enggan melangkah.
Tatap mata Yos memerhati layar ponselnya, tak langsung menjawab hingga nada panggilan ponsel itu berakhir, namun jarak beberapa detik ponsel itu kembali berdering, kali ini Yos nenekapkan ponselnya di telinga namun ia tak berbicara, Yos menunggu lawan bicaranya dari talian di sebelah sana mulai membuka bicara.
__ADS_1
“Aku nggak nyangka kalau anak almarhum Naufal manis sekali...”
Suara dari ujung talian terdengar halus namun menikam sampai ke dasar hati, Yos masih diam mendengar perkataan lawan bicaranya hatinya mulai panas menggelegak, namun sebisa mungkin ia bersikap tenang.
“Saya mau pulang, om... tolong lepasin saya,” terdengar Erni menangis tersedu.
Telinga Darmayanti cukup mengenali empunya suara yang mencuat dari speaker ponsel milik Yos, ibu muda itu meronta ingin berlari menghampiri Yos, namun AKP Anom menahannya. Perwira polisi itu mendekatkan jari telunjuk di bibirnya memberi isyarat agar Darmayanti diam.
Rahang Yos terkatup rapat, pipinya sedikit mengembung menahan emosi, sebisa mungkin ia bersikap tenang, “apa yang kalian mau?’
Terdengar suara tawa kecil dari ujung talian, “aku tau barang itu ada padamu, Yos. Jadi bagai mana kalau kita bikin pertukaran saja, yaaaa kita barte-bsrter gitu laaah?”
AKP Anom, IPTU Hasyim dan Yos saling bertatapan, sebenarnya kedua perwira polisi itu tidak tahu tentang keberadaan narkoba yang sebenarnya berada pada Yos dan kini mereka sudahpun mengetahui tujuan sebenarnya para penculik itu.
“Dimana kita akan bertemu?!” tanya Yos, kasar.
“Kita bertemu di Lombok Tengah, nanti aku tentukan lokasinya. Tepat jam 9 malam, nanti... aku akan meneleponmu.”
“Tenang saja, Yos. Selagi kamu mematuhi arahanku, mereka berdua akan selamat, tapi bila ada seorang saja polisi yang mengikutimu berarti kamu sendiri yang membunuh mereka berdua. Ingat... jangan sampai kamu berbuat kesalahan, Yos... nyawa mereka berdua bergantung padamu.”
Yos terhenyak saat talian diputuskan. Bukan jumlah narkoba yang berada padanya yang ia pentingkan, tapi ia bimbang dengan keselamatan Erni, teman kecilnya. Saat ini yang paling penting dalam hidupnya adalah Erni, Yos akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan gadis kecil itu. Yos memutar badan ingin pergi meninggalkan ruangan itu ia harus mempersiapkan barang yang diinginkan para penculik itu, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Darmayanti, lelaki itu berdiri mendengar kat-kata ibu muda itu tanpa menoleh ke belakang.
“Aku mohon selamatkan putriku, Yos. Hanya dia yang tersisa dalam hidupku,” kata Darmayanti dalam tangisan.
Yos kembali mengayunkan langkah kakinya, tanpa menanggapi sebaris kata-kata permohonan dari seorang ibu yang sedang dilanda keresahan, Yos harus bergerak cepat karena ia tau saat ini ia tidak berhadapan dengan penjahat amatir.
AKP Anom dan IPTU Hasyim memandang langkah Yos berlalu pergi hingga lelaki itu hilang dari pandangan mata kasar. Kedua perwira polisi itu saling bertatapan setelah Yos sudah tidak terlihat lagi.
“Dia memiliki narkoba yang cukup banyak, kenapa kita nggak tangkap saja dia,” saran IPTU Hasyim.
“Itu akan kita pikirkan nanti. Jika kita tangkap dia sekarang maka kasus pembunuhan dan penculikan yang kita tangani nggak akan bisa terpecahkan. Sekarang perintahkan tim kita untuk mengikutinya, saya juga akan bersiap-siap,” kata AKP Anom, ia langsung bergerak meninggalkan ruangan itu.
*****
__ADS_1
Cukup lama Darmayanti coba membujuk AKP Anom agar diizinkan ikut dalam operasi yang akan dilakukan sebentar lagi, namun perwira polisi itu tetap tidak mengizinkan karena sememangnya itu sangat berbahaya. Walaupun tak dibenarkan ikut, namun Darmayanti tetap memaksakan keinginannya. Selesai bersiap-siap, Darmayanti menijau-ninjau kemana arah perginya dua buah mobil sewa yang masing-masing dikemudi oleh para anggota polisi. Mereka sengaja menggunakan mobil sewa agar tidak dikenali oleh gerombolan mafia yang kini menjadi target operasi mereka. Dari jauh Darmayanti terlihat melambai-lambaikan tangan, memanggil seorang tukang ojek yang sedang menunggu penumpang, di pinggir jalan.
Tukang ojek mengulurkan sebuah helm pada Darmayanti, “kemana, mbak?”
“Ikuti mobil itu, tapi jangan terlalu dekat jaraknya,” perintah Darmayanti yang sudah berada di atas kendaraan roda dua milik tukang ojek.
Melihat wanita itu terburu-buru membuat tukang ojek itu enggan berkomentar. Tanpa bicara sepatah katapun. Si tukang ojek menarik tali gas kendaraan, mematuhi perintah penumpangnya.
Yos melepaskan tas ransel yang sedari tadi bertengger di punggungnya, ia duduk di depan sebuah bangunan minimarket yang masih sibuk dengan pengunjung yang berdatangan diawal malam. Yos membuka sebuah minuman kaleng yang tadi dibelinya di mini market itu, seteguk minuman kaleng menemaninya menanti panggilan telephon dari Lukman. Tatap mata Yos memandang tas ransel yang ia letakkan di hadapannya dengan tatapan hampa. Gerombolan penjahat yang dipimpin oleh Naufal sanggup melakukan apa saja demi mendapatkan isi tas ransel itu, Yos sendiri cukup kesulitan untuk mendapatkan barang itu dan kini setelah narkoba itu berada dalam genggamannya, lantas kenapa ia ingin melepaskannya hanya demi seorang bocah kecil yang ia baru kenal. Yos mengulas senyum hambar, ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Getaran handphone di dalam saku baju kemejanya membuatnya sedikit tersentak. Segera Yos menjawab panggilan telephon dari nomor yang tidak dikenalinya itu, “Ya?”
“Anak pintar... apakah kamu melihat mobil van berwarna putih yang berhenti di pos ronda itu?” suara Lukman terdengar santai.
Bola mata Yos berputar liar mencari mobil yang dimaksud oleh Lukman, “aku melihatnya.”
“Masuk ke dalam mobil itu, mereka akan membawamu ke sini, dan kita akan teransaksi. Ingat yos, jangan buat kesalahan... kami mengawasi setiap pergerakanmu.!” gertak Lukman.
Bagaikan kerbau dicucuk hidungnya, Yos hanya bisa menuruti perintah Lukman. Sambil melangkah menghampiri mobil yang di maksud oleh Lukman, Yos tidak bisa berhenti memikirkan Erni. Bisa saja Lukman dan para komplotannya bermain curang, pikir Yos. Sejenak Yos menghentikan langkah kakinya, ia meraba-raba isi tas ranselnya sebelum kembali mengayunkan langkah masuk kedalam sebuah mobil van yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
__ADS_1