
Seperti biasa, suasana di ruang kunjungan rutan Praya selalu saja padat dipenuhi para pengunjung yang datang menjenguk keluarga masing-masing.
Cukup lama Yadi terdiam tanpa kata melihat batang leher Rio yang kini dihiasi cervical collar. Sebenarnya Yadi sudah tahu maksud kedatangan Rio menjenguknya ke rumah tahan untuk menyampaikan kabar buruk yang menimpa semalam.
“Bagaimana keadaan kamu?” tanya Yadi, basa-basi.
“Buruk,” singkat Rio. Tatapannya lurus ke depan karena penyangga yang memenuhi leher membatasi pergerakannya. Dokter yang merawat Rio terpaksa memasang penyangga di bagian leher, karena kecederaan pada leher lelaki itu cukup serius.
Kemarin, setelah sadar dari pingsan, Rio menghubungi seseorang meminta bantuan agar segera dijemput pulang. Meski disarankan untuk mengobati lehernya ke rumah sakit, namun Rio bersikeras tidak ingin menginjakkan kaki ke klinik ataupun rumah sakit, ia lebih memilih untuk dirawat secara pribadi.
“Bagaimana ini semua bisa terjadi?” desis Yadi dengan suara pelan.
“Seharusnya aku yang nanya kayak gitu,” Rio menekan suaranya.
Mereka berdua terdiam sesaat, suara bising para pengunjung lain tak dihiraukan lagi. Rio dan Yadi mengandai-andaikan sesuatu yang membuat keadaan semalam menjadi keruh.
“Nilai barang yang dibawa Hendrik kemarin cukup besar, apa mungkin kita dirampok?” Yadi meminta pendapat Rio.
“Transaksi ini sangatlah rahasia, tapi itu bisa aja terjadi kalau ada pengkhianat dari orang-orang kita,” jawab Rio, acuh.
Seingat Yadi, tidak ada siapapun yang mengetahui tentang transaksi narkoba yang dijalankan kemarin sore, termasuklah anak buahnya sendiri. Yadi tidak mengizinkan mereka mengetahui sesuatu yang bersifat rahasia. Sekali lagi mereka berdua terdiam, terlihat jari telunjuk Yadi mengetuk-ngetuk dagu, berpikir keras mencari akar permasalahan. Tak lama kemudian terdengar hembusan napas berat dari hidung lelaki pemarah itu, ia sudah dapat menyimpulkan awal permasalahan.
“Aku yakin, ini semua ulah Naufal.! Minggu lalu, Yos membuat keributan hingga handphone aku disita oleh petugas. Kemarin aku minta tolong pada petugas, mau ambil nomor keluarga aku di sim card tapi sim card itu udah nggak ada. Menurut firasatku, Yos yang ngambil sim card itu,” tutur Yadi.
“Terus…?” Rio mengangkat wajahnya, berminat dengan cerita yang disampaikan oleh Yadi.
“Naufal sudah bekerja sama dengan Yos. Semua rahasia aku ada pada sim card itu!”
Tatap mata Yadi dan Rio bertemu, mereka berdua berpikir ke arah yang sama. Mereka terdiam, namun dari tatapan mata, Yadi sudah mengeluarkan suatu perintah pada Rio. Rio sendiri sudah mengerti maksud tatap mata Yadi.
*****
Suara jerit, pekik dari segala penjuru memekakkan telinga adalah ciri khas arena perjudian. Terlihat seorang penjudi, berdiri mengibas-gibas uang kertas, mencari lawan untuk bertaruh, suaranya lantang berteriak menampakkan sebatang urat melintang di lehernya.
Sejak kecil Winda sering mendengar perkataan arena judi sabung ayam, namun baru kali inilah ia menapakkan kakinya di tempat seperti itu. Kepala gadis itu menengok ke kiri dan kanan. Baginya tempat dan suasana seperti itu sangatlah asing.
“Kamu tunggu di sini bentar,” pinta Yos.
Winda tak menghiraukan Yos, tatapan mata gadis itu tidak lepas dari 2 orang yang saat ini berada di dalam arena, masing-masing memegang seekor ayam jantan. Arena itu cukup rapi, dikelilingi pagar selayaknya ring tinju besi.
“Dari dulu, aku sering dengar nama kamu. Aku kira kamu orang yang profesional seperti yang dikatakan orang-orang, tapi perkiraanku salah,” Dony memulai bicara dengan perkataan berbau sindiran.
Itulah tujuan Yos mendatangi tempat perjudian malam, karena Dony memintanya datang ke tempat milik Naufal yang dikelola oleh Dony itu.
“Boleh aku duduk?” tanya Yos.
Dony memberikan isyarat tangan, mempersilahkan Yos duduk, “Naufal nggak ingin kita membunuh kurir Batam itu, tapi kenapa kamu bergerak di luar rencana yang sudah kita sepakati?” nada suara Dony, santai tapi tegas.
“Ada orang lain yang membunuhnya. Apakah ada orang selain kita berdua yang tau rencana ini?” tanya Yos.
Tatap mata Dony memelas, memandang wajah Yos, “maksud kamu, bukan kamu yang membunuh kurir itu?”
“Ya. Bahkan orang itu juga membantai anak buah Yadi. Aku nggak tau siapa orang itu, aku juga nggak tau tujuannya, tapi yang pasti gadis itu menjadi saksi, bukan aku yang membunuhnya,” dari jauh Yos menunjuk Winda yang sedang memerhati tingkah laku para penggemar judi yang sedang asyik mepertaruhkan uang rupiah.
Dony memanggut-manggut, pikirannya terkuras berandai-andai siapa dan apa tujuan orang tidak dikenal yang diceritakan Yos.
“Barang yang dibawa kurir itu diambil, tapi menurut informasi yang aku terima, barang yang di bawa lari itu palsu, sekarang Yadi dililit hutang sebanyak 5 milyar. Yadi harus membayar barang itu, karena memang itu pesanan Yadi,” tutur Dony, tangannya menggapai sebotol bir yang sememangnya sudah berada di atas meja, Dony menuangkan minuman itu untuk Yos, “apa mungkin kurir itu nyembunyiin barang yang asli?” tanya Dony.
“Aku rasa, iya. Apapun, gadis itu pasti tau,” Yos menyampaikan instingnya.
“Kalau gitu, gunakan pendekatan halus pada gadis itu. Pelan-pelan korek informasi mengenai barang yang disembunyiin oleh kurir itu. Kalau barang itu udah kita temukan, jangan kasi tau Naufal, kita bagi dua barang dan habisi gadis itu untuk menghilangkan jejak,” perintah Dony.
Tawa Yos dan Dony pecah, mengakhiri pembicaraan. Yos bangkit berdiri ia menghabiskan minuman yang sudah berada di dalam gelas kaca, sebelum beranjak dari hadapan Dony.
__ADS_1
Winda menoleh cepat saat Yos mencuit bahunya, “ayo, kita keluar cari makan. Aku lapar,” kata Yos.
Tanpa bicara Winda mengekori langkah Yos, “kamu nggak masang taruhan dulu?”
“Nggak, aku nggak senang main judi,” jawab Yos.
Permainan judi, wanita dan minuman keras sudah menjadi rutin harian kehidupan preman, tapi berbeda dengan Yos. Pengakuan Yos sebentar tadi terdengar aneh di telinga Winda.
“Nggak percaya ah! Mana ada preman gak senang main judi,” tukas Winda.
Yos menghentikan langkah kaki di samping warung kecil, pinggir jalan raya, ia duduk di tengah hamparan rumput hijau yang tumbuh menghiasi sepanjang pinggiran jalan raya.
“Nasi goreng dua!!” teriak Yos dari luar warung. Yos beralih memandang wajah bundar milik Winda, “aku bukan preman, kalaupun orang menyebut-nyebut aku ini seorang preman, maka akulah seorang preman yang ber-iman,” canda Yos.
“Iman dari hongkong,” gumam Winda, tapi suaranya masih bisa terdengar, pelan.
“Nasinya mas…” terdengar seseorang memanggil dari dalam warung makan.
Terlihat seorang lelaki paruh baya menatang 2 piring nasi goreng, menghampiri Yos dan Winda, “kenapa nggak makan di dalam aja mas, biar lebih nyaman?” tanya lelaki paruh baya itu.
“Mau cari udara segar,” singkat Yos, ia menyambut piring berisi nasi goreng dan 2 buah air gelas dari tangan lelaki paruh baya itu. Yos beralih memandang Winda, “silakan dimakan, jangan sungkan-sungkan. Anggap aja rumah sendiri.”
Sesekali Winda mencuri-curi pandang ke arah Yos, lelaki pemilik wajah tenang bagaikan tanpa dosa itu terlihat lahap menyuap nasi hidangan makan malamnya.
“Hus… hus… hus… main jauh-jauh sana…” samar-samar terdengar suara pemilik warung mengusir seorang anak kecil yang terlihat tegak berdiri tepat di depan pintu warung makan membuat Yos menghentikan aktivitas makan malamnya.
“Hai bocah, kemari kamu!” panggil Yos, kasar.
Anak lelaki seumuran 9 tahun itu berjalan pelan menghampiri Yos, “ya om?”
“Kenapa orang itu ngusir kamu?” tanya Yos.
“Saya mau beli nasi, tapi uang saya nggak cukup,” suara anak kecil itu pelan, ia menunjukkan uang logam yang berada dalam genggamannya.
__ADS_1
Terukir seutas senyum tulus di bibir Yos, mendengar pengakuan anak kecil berpenampilan compang-camping itu, “kamu mau pesan berapa bungkus?”
“3 bungkus, om.”
Yos memandang anak kecil itu dari bawah sampai atas, “badanmu kecil, tapi kok kuat sekali makan!”
Winda yang sedari tadi hanya menjadi pendengar, mengukir senyum kecil, mendengar komentar yang terpacul dari bibir Yos.
“Nggg… nggak, om. Satu untuk ibu, satu untuk saya dan satunya lagi untuk adik saya, kami ber-3, om,” anak itu menjelaskan.
Kepala Yos memanggut-manggut pelan, mengerti dengan penjelasan lawan bicaranya, “ooooh… ya sudah pergi ke dalam dan suruh orang itu bikinin, entar om yang bayar.”
“Benaran om… makasih banyak ya, om?!”
Melakukan kebaikan adalah tuntutan bagi semua agama dan kepercayaan, tapi berbeda dengan para golongan mafia, preman dan sejenisnya, mereka sangat identik dengan sifat jahatnya, namun berbeda dengan kenyataan yang Winda saksikan sekarang ini. Yos yang dikatakan seorang preman, penjahat kelas berat ternyata masih mempunyai belas kasihan. Tidak dapat disangkal rasa takjub yang menyapa hati Winda.
“Kamu tau…? Dulu… waktu aku masih kecil, aku selalu bercita-cita menjadi seorang yang berguna bagi bangsa dan negara, tapi... perjalanan hidup selalu saja tak terduga. Waktu aku mulai menginjak umur belasan tahun, malah aku menjadi sampah negara,” terdengar hembusan napas kasar dari hidung Yos, “masa kecilku yang awalnya bahagia, hancur gara-gara ayah yang waktu itu menjadi budak judi.”
Ingatan pahit masa kecil kembali melintas di pikirannya membuat Yos terdiam beberapa saat, air ludah yang di telan membasahi tenggorokan terasa kelat, setiap kali lelaki itu mengenang masa-masa kecilnya.
Baru kali ini Winda melihat ekspresi wajah serius seorang Yos Hidayat, “nggak baik nyalahin orang tua, bagaimanapun mereka tetap orang tua kamu,” nasihat Winda.
Sekali lagi Yos menghempas napas, tatap matanya datar, “sejak kecil orang tuaku nggak pernah mendidik aku, bahkan sekolah SD saja aku nggak sempat tamat, padahal waktu itu aku hanya anak satu-satunya. Sejak umur 15 tahun aku mulai masuk penjara. Awalnya tempat itu sangat menyakitkan, tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa menyesuaikan diri. Di dalam penjaralah aku dididik dengan sebenar-benarnya. Andai saja aku nggak pernah masuk penjara, udah pasti aku ini jadi orang bodoh. Di dalam penjaralah aku menemukan ketenangan. Bagiku, penjara bagaikan rumahku sendiri,” tutur Yos.
Winda terdiam tanpa kata seakan ia tidak percaya mendengar pengakuan Yos, sebentar tadi. Tak dapat dibayangkan oleh Winda, pahitnya kehidupan sewaktu dulu yang pernah dilalui lelaki itu.
“Ini handphone kamu, hubungi orang tuamu. Kasi tau mereka, kamu baik-baik aja. Kamu beruntung ada kedua orang tua,” Yos mengulurkan handphone milik Winda yang ia sita kemarin.
Dari kemarin, Yos tidak mengizinkan Winda membawa, bahkan menyentuh handphone jika ingin selamat dari ancaman yang kini mengintai nyawanya, namun kini Yos menyerahkan handphone milik Winda agar gadis itu bisa menghubungi keluarganya.
“Ingat.! Telepon keluargamu saja, jangan sesekali menghubungi orang lain selain keluargamu!”
Kepala Winda mengangguk cepat, mendengar peringatan keras dari Yos. Terlihat lelaki itu bangkit, beranjak dari hadapan Winda, ingin membayar makanan pada pemilik warung.
__ADS_1