RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 18


__ADS_3

Sudah berbagai macam ikhtiar telahpun Lukman lakukan untuk menemukan keberadaan Winda, mulai dari mencari di berbagai macam tempat yang biasa Winda kunjungi, mencarinya di rumah kedua orang tuanya hingga menanyakannya pada setiap sahabat kerabat Winda yang Lukman kenali, namun semua usahanya hanya berbuah kekecewaan. Lukman tidak punya banyak waktu, apapun yang terjadi ia harus segera menemukan Winda. Setelah beberapa waktu lalu Yos menculik pacarnya, kini entah siapa lagi yang menginginkan Winda. Rasa takut kehilangan sesuatu yang amatlah berharga mendorong langkah kaki Lukman hingga sampai di depan pintu gerbang besi rumah tahanan, tempat Winda bekerja. Lukman bertekad untuk menanyakan Winda pada pimpinan rumah tahanan.


Beberapa kali Lukman menghela napas panjang sebelum menekan tombol kecil yang tertempel pada tembok, tepat di samping gerbang besi. Tak perlu menunggu lama, baru saja sekali Lukman menekan tombol bel, terlihat wajah seorang petugas sipir yang bertugas di bagian portir menjengukkan kepalanya melalu lubang kecil di samping gerbang besar.


“Selamat pagi. Ada yang bisa kami bantu, pak?” tanya petugas sipir itu, ramah.


“Mmm... saya mau bertemu dengan karutan,” jawab Lukman menyampaikan tujuan kedatangannya.


“Apakah sudah ada temu janji?” tanya petugas sipir itu lagi.


“Kami belum ada janjian,” singkat Lukman.


“Baiklah, tunggu sebentar. Siapa nama bapak?”


“Lukman... Lukman Hamidi,” jawab Lukman, ragu.


Terlihat petugas sipir itu memanggut-manggut sebelum kembali menutup lubang kecil di samping gerbang besar.


Entah sudah berapa kali Lukman menghela napas panjangnya, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjejakkan kaki di penjara ataupun di rumah tahanan, walau hanya ingin bertemu dengan pimpinan rumah tahanan itu.


Tak berapa lama menunggu di depan gerbang, petugas sipir itu kembali dan membuka lebar pintu gerbang besi, mempersilakan Lukman masuk.


“Pak karutan menuggumu di ruangannya,” kata petugas sipir itu, memberi tahu.


“Makasih,” ucap Lukman, ia melangkah masuk dengan penuh keraguan.


Dari jauh Lukman mencuri-curi pandang ke arah para penghuni rutan yang terlihat berkeliaran di depan ruangan mereka masing-masing. Walaupun dulu Winda sering menceritakan suasana di dalam rumah tahan, namun tak pernah terbayang dalam benak Lukman untuk menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan di balik jeruji besi dengan sebenarnya. Rumah tahan kecil berkapasitas 90 orang itu kini harus didiami oleh sekitar 300 orang narapidana dan juga tahanan karena semua lembaga permasyarakatan di Indonesia mengalami masalah yang sama yaitu over kapasitas.


Sepintas sudut mata Lukman menjeling ke pintu ruangan yang terletak di deretan yang paling terakhir, di atas pintu ruangan itu terpampang tulisan ‘R.KARUTAN’. Perlahan buku jari Lukman mengetuk daun pintu ruang kerja pimpinan rumah tahanan.

__ADS_1


“Masuk...”


Dengan perasaan ragu bercampur baur, Lukman menguak daun pintu saat ia mendengar suara seorang lelaki mempersilakannya masuk, “selamat pagi, pak.”


“Ya, pagi. Silahkan duduk,” Pak karutan mempersilakan Lukman untuk duduk, namun sorot mata lelaki berumur 40 tahun itu masih tertumpu pada tumpukan kertas di atas meja yang harus ia tandatangani. Pak karutan menutup lembar kertas kerjanya ia beralih memandang Lukman yang sudahpun duduk di hadapannya, “ada yang bisa saya bantu, pak?’


“Hem... hem...” terdengar Lukman berdehem beberapa kali sebelum memulai bicara, “seharusnya saya nggak datang kesini, tapi saya terpaksa demi menyampaikan amanah.”


“Amanah dari siapa, pak... oh ya, nama bapak ini siapa ya?” tanya Pak karutan yang sudah mulai terlihat serius.


“Nama saya Lukman, pak. Saya datang ke sini mewakili keluarga Winda Rusila... saya membawa pesan dari ibunya Winda. Kemarin ibunya masuk rumah sakit dan beliau menyuruh Winda datang menjenguk walaupun hanya sebentar,” tutur Lukman, bersungguh-sungguh.


Pak karutan tidak lekas menanggapi cerita yang disampaikan oleh Lukman, lelaki paruh baya itu terlihat berpikir sejenak sebelum memberitahu perkara yang sebenarnya, “sayapun tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Winda Rusila, saya juga nggak tau di mana keberadaannya sekarang. Sudah beberapa minggu dia tak pernah masuk kerja, tanpa keterangan apapun... seharusnya pihak kami sudah menon aktifkan Winda Rusila untuk menjalankan tugas. Tapi nggak apa-apa, memandangkan orang tuanya yang menyuruhmu ke sini, nanti saya akan coba mencari tau di mana keberadaan gadis itu sekarang dan saya akan menyampaikan pesan ini.”


“Sebelumnya saya ucapkan terimakasih karena sudi repot membantu kami,” ucap Lukman. Walaupun Pak karutan mengaku tidak tahu di mana keberadaan Winda saat ini, namu hati Lukman sedikit tenang mendengar perkataan pimpinan rumah tahanan itu yang akan coba membantu mencari tahu keberadaan Winda. “Baiklah kalau begitu saya pamit dulu, pak,” Lukman bangkit berdiri, berjabat tangan dengan sang pimpinan kandang harimau, sebelum melangkah pergi.


Pak karutan mengekori langkah Lukman hingga sosok lelaki itu hilang di sebalik daun pintu ruangan, tangan Pak karutan bersedekap, ia menyandarkan punggungnya di atas kursi, lelaki paruh baya itu termenung sejenak entah apa yang ia pikirkan sebelum ia menggapai gagang telepon yang bertengger di atas meja kerjanya.


*****


Tiada pagi yang indah jika tidak diawali dengan secangkir kopi pekat, itulah kebiasaan AKP Anom sejak beranjak dewasa yang tak bisa ia lepaskan. Meskipun dokter telah melarangnya minum kopi terlalu berlebihan karena penyakit maag yang ia derita, namun lelaki paruh baya itu tak menghiraukan kata-kata saran dari dokter, baginya hari tidak akan cerah tanpa ada secangkir kopi.


AKP Anom melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya sambil bersiul kecil dengan secangkir kopi tertatang di tangan kirinya. Sepintas sudut matanya menjeling lembaran kertas yang sudah berada di atas meja kerjanya, sesaat langkah kakinya terhenti ia menggapai lembaran kertas itu, matanya lincah membaca baris-baris huruf yang berderet.


“IPTU Hasyim menang profesional dan cepat dalam bekerja,” batin AKP Anom, kagum. Bagaimana tidak... baru saja kemaren sore ia memerintahkan IPTU Haysim untuk mencari keterangan data latar belakang Lukman dan kini lelaki pertengahan abad yang bertugas di bagian inteligen itu sudahpun menyelesaikan tugasnya dengan cergas. Walaupun lebih tua dari AKP Anom, namun pangkat IPTU Hasyim di bawah AKP Anom, tapi bagaimanapun juga AKP Anom selalu menaruh rasa hormat kepada IPTU Hasyim, mungkin karena setiap tugas yang dibebankan kepadanya selalu saja diselesaikan dengan sangat cepat, itulah kelebihan IPTU Hasyim dalam menjalankan tugas.


Suara nada dering handphone di atas meja mengambil perhatian perwira polisi itu, ia menatap sepintas nama yang tertera di layar handphonenya, “hallo... ya, masuk saja. Saya ada di ruangan.”


Tak berapa lama menunggu, terlihat Yos menjegulkan kepala di bibir pintu, meninjau penghuni ruangan, “maaf telat,” ucap Yos sambil membuka masker penutup mulut dan hidungnya.

__ADS_1


“Sayapun baru sampai juga... duduklah,” AKP Anom mempersilakan Yos duduk, tangannya mendorong bungkusan rokok dan korek api ke hadapan Yos, menawarkan rokok, “nih, catatan yang kamu minta kemarin,” perwira polisi itu menggoyang-goyangkan lembaran kertas yang ia genggam.


Yos mengambil tempat duduk di hadapan AKP Anom, tangannya menggapai bungkusan rokok dan menyalakannya sebelum memulai pembicaraan serius yang akan memakan waktu cukup lama.


“Lukman Hamidi lelaki berumur 24 tahun berasal dari keluarga yang bisa dikatakan mampu, dia bekerja sebagai tour guide dan sejauh ini tidak ada catatan kriminal yang kami temukan pada lelaki ini. Hmm... mungkin kecurigaanmu terhadap lelaki ini terlalu berlebihan, Yos.”


Yos hanya diam tak menanggapi AKP Anom, ia menyedot sebatang rokok yang masih menyala di celah jepitan jarinya. Secara teori, kecurigaan Yos terhadap Lukman bisa saja dikatakan terlalu berlebihan, tapi menurut firasat Yos, ada yang aneh dengan lelaki itu. Cukup lama Yos terdiam, entah apa yang berada dalam pikirannya saat ini.


“Tour guide... ya, tour guide ada sangkut pautnya dengan tour leader,” desis Yos seakan berbisik, namun suaranya masih bisa di dengar oleh lawan bicaranya.


“Maksud kamu?” susul AKP Anom.


“Kalau memang Lukman bekerja sebagai tour guide ini berarti kasus pembunuhan Naufal ada kaitannya dengan kematian kurir narkoba yang di bunuh di Lombok Tengah beberapa waktu lalu. “Menurut saya, kematian kurir narkoba, Naufal dan juga percobaan pembunuhan terhadap Winda Rusila adalah pelaku yang sama,” sorot mata Yos tajam menatap AKP Anom, seakan-akan ia begitu yakin dengan teorinya.


Sejak menangani kasus kematian Naufal, perwira polisi itu tidak pernah terpikir bahwa kasus yang ia tangani kini adalah kasus pembunuhan berantai, hingga kini saat Yos menyampaikan teori yang mengarah kepada pembunuhan berantai AKP Anom masih belum yakin. Menurut AKP Anom, teori yang disampaikan Yos sebentar tadi sangatlah lemah tidak memiliki dasar yang kuat.


“Kenapa kamu bisa seyakin itu, sedangkan Lukman tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal... dia bersih.”


“Bagaimana dengan Naufal?”


“Ya, Naufal juga tidak memiliki catatan kriminal,” jawab AKP Anom.


Terukir sebuah senyum puas di bibir Yos mendengar jawaban dari perwira polisi itu. Menurut Yos, jawaban AKP Anom 100% salah, ini menandakan teori perwira polisi itu meleset. Yos menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajah AKP Anom, “narkoba yang di bawa oleh kurir itu sebenarnya milik Yadi, bukan milik Rio. Dan almarhum Naufal... membayar saya untuk merampas narkoba milik Yadi itu, tapi... sebelum saya merampas barang itu, ada orang lain yang mendahului saya.”


AKP Anom terdiam cukup lama mendengar cerita dari Yos. Cerita yang barusan ia dengar dari Yos memang sama dengan keterangan yang ia dapat dari Winda, “kalau memang Lukman adalah pelaku kasus pembunuhan itu, lalu apa tujuannya?”


“Nah... itu, saya juga belum begitu tau. Yang saya tau Yadi dan almarhum Naufal memang bersengketa masalah wilayah. Tapi untuk saat ini kita lupain dulu Yadi, Rio dan juga konco-konconya, persetan dengan mereka. Sekarang saya mau tau, apakan kantornya Lukman berdekatan dengan kantornya almarhum Naufal?”


Perkataan Yos memang ada benarnya juga, AKP Anom mula mengerti dengan jalan pemikiran lelaki yang kini berada di hadapannya, ia segera membuka laci meja kerjanya, mencari kertas laporan tentang data-data diri almarhum Naufal, ia ingin mencocokkannya dengan catatan data diri Lukman. Raut wajah AKP Anom mendadak berubah, ia menatap kertas yang ada pada kedua tangannya silih berganti, ya... tepat sekali, seperti dugaan Yos, almarhum Naufal dan Lukman bekerja di tempat yang sama. Tanpa disadari AKP Anom mengukir seutas senyum puas, harus diakui ia merasa puas dengan kerja sama yang diberikan oleh Yos.

__ADS_1


__ADS_2