RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 14


__ADS_3

Yos masih bisa tidur dengan nyenyak di dalam sel tahanan polisi walaupun hanya berbantalkan lengan, karena perkara seperti itu sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya.


Dua orang anggota polisi yang bertugas di bagian Tahti (tahanan dan barang bukti) hanya menjeling sepintas sekujur tubuh Yos Hidayat yang masih telentang, tidur.


Seawal pagi, sebaik azan subuh terdengar berkumandang, semua tahanan diwajibkan bangun untuk mandi, bersiap-siap untuk solat berjamaah bersama tahanan yang lain. Jika tahan beragama non muslim, maka ia akan diperintahkan untuk beribadah menurut agama masing-masing. Begitulah peraturan untuk para tahanan yang diterapkan di Polda Nusa Tenggara Barat sejak dahulu. Peraturan seperti itu bertujuan untuk mendidik karakter keras para pengkriminal supaya mengingat Tuhannya. Namun berbeda dengan Yos, ia tidak pernah mau patuh pada arahan. Jika sesiapapun mengganggu tidurnya, maka lelaki itu tidak segan-segan bertindak di luar batas pemikiran.


“Pagi pak,” sapa seorang wanita pada dua orang petugas polisi yang sedang berjaga. Wanita itu membawa sebatang penyapu.


“Ya. Pagi,” sahut kedua anggota polisi itu.


Meskipun baru saja duduk di kursi kayunya, kedua anggota polisi itu bangkit kembali, menyadari maksud kedatangan wanita itu. Kedua mereka terlihat ikut sibuk memindahkan kursi dan meja sebelum disapu. Suara dencitan kursi dan meja kayu yang ditarik di atas lantai sedikitpun tidak mengganggu tidur Yos.


“Kamu istri almarhum Naufal, ya?” tanya seorang anggota polisi itu.


Sejenak wanita itu menghentikan aktivitasnya, “iya pak. Kata Pak Anom, kami di sini hanya dalam langkah penjagaan, beliau nggak mau perkara buruk terjadi pada kami,” tutur wanita itu.


“Oooh… begitu ya… nama saya Herman, nama kamu siapa?” anggota polisi itu memperkenalkan diri.


Herman memang terlihat ramah, berbeda dengan seorang lagi rekan kerjanya yang hanya duduk membaca koran yang sememangnya sudah terletak di atas meja.


“Ya pak, saya udah tau, nama bapak Herman Jayadi. Nama saya Darmayanti.”


Herman terlihat keheranan mendengar pernyataan Darmayanti yang mengaku sudah mengetahui namanya, “dari mana kamu tau nama saya, apakah kita udah bertemu sebelumnya?”


Darmayanti mengulas senyum tipis, matanya memberi isyarat ke arah tag name yang terpampang pada baju dinas Herman.


Herman menepuk dahi, “oh iya juga ya! Ha...ha… saya memang begitu, nggak bisa liat wanita cantik,” canda Herman.


“Man, aku ke warung bentar ya, mau cari sarapan,” kata rekan kerja Herman yang sedari sibuk dengan korannya.


Herman terlihat lebih muda dibanding rekan kerjanya itu. Jika dilihat sepintas, umur Herman dan Darmayanti terlihat sebaya.


“Eh… aku titip nasi bungkus 2,” Herman merogoh kantong celananya dan mengulurkan selembar uang pada rekannya.


Darmayanti melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sebentar tadi. Ia merasa kurang nyaman berada di tempat itu berdua dengan seorang lelaki, walaupun di tempat itu ada beberapa orang tahanan.


“Kamu udah sarapan?” tanya Herman.


“Belum. Saya baru liat bapak di sini, bapak baru tugas di sini ya?” Darmayanti menjawab sekaligus bertanya.


Dari balik jeruji besi, Herman meninjau para tahanan yang sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hanya ada seorang dari tahanan yang masih tidur terlena dibuai mimpi di pagi hari. Tahanan itu tidur tengkurap di samping pintu, ruang utama sel tahanan.

__ADS_1


“Iya. Sebelumnya saya tugas di polres Lombok Tengah. Ini hari pertama saya tugas di sini.”


Darmayanti tidak menanggapi Herman saat anak matanya melihat sosok Erni, putri kecilnya berjalan menghampiri. Anak itu masih terlihat riang bermain dengan bola pingpong di tangan kirinya. Beberapa kali Erni memantul-mantulkan bola pingpong ke lantai sambil berlari menuju pelukan ibunya.


“Mmmuah… putri mama udah bangun rupanya,” sebuah kecupan sayang singgah di pipi lembut Erni.


Gadis kecil itu memeluk erat tubuh Darmayanti, ia terlihat cemberut di dalam dekapan ibunya. Terdengar suara isakan Erni membuat Darmayanti merenggangkan pelukannya.


“Lo… masih pagi kok, putri mama udah sedih,” Darmayanti mengukir sebuah senyum paksaan.


“Mama… papa ke mana, kok belum jemput kita? Erni pingin pulang,” tanya Erni, polos.


Herman yang sedari tadi menjadi pemerhati merasa simpati menyaksikan seorang gadis kecil yang polos, kehilangan seorang ayah yang seharusnya selalu berada di sampingnya.


Pertanyaan polos dari seorang gadis kecil yang masih belum memahami kerasnya hidup membuat hati Darmayanti nanar, tapi ibu muda itu mengulas sebuah senyum hampa. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kedukaan yang kini melanda. Darmayanti tidak ingin terlihat sedih di hadapan putrinya.


“Papa kan pergi ke luar daerah, sayang. Nanti kalau papa pulang bawain oleh-oleh, Erni juga udah bisa masuk sekolah lagi, kalau papa pulang, nanti,” terasa sesak di dalam dada Darmayanti saat menghadiahkan sebuah jawaban kebohongan untuk putrinya, namun terpaksa Darmayanti lakukan.


Serta-merta Erni terlonjak gembira mendengar kebohongan yang ia belum mengerti dari seorang ibu. Gadis kecil itu melompat-lompat riang, “ye… ye, Erni sekolah lagi… ye… ye, main sama teman-teman lagi.”


Mendengar kabar dari ibu, tak lama lagi sang ayah akan datang menjemput membuat Erni riang gembira, berlari-lari di sekitaran depan sel tahanan.


Herman tersenyum kecil, melihat keceriaan dari seorang gadis kecil berumur 5 tahun itu. Lain halnya dengan Darmayanti yang terlihat gelisah. Walaupun hari ini ia lepas dari pertanyaan putrinya yang menyayat hati, tapi entah sampai kapan ia akan membohongi gadis kecil yang belum mengerti apa-apa itu.


Untuk sementara waktu Darmayanti dan putrinya dititip di rumah salah seorang anggota polwan, namun selama beberapa hari ia tinggal di Polda, hampir semua waktunya di habiskan di klinik bayangkara, karena memang Darmayanti yang sudah ber-notabene seorang bidan, maka AKP Anom memintanya untuk membantu di klinik.


“Erni ayo sayang, mandi dulu!” seru Darmayanti.


Alangkah terkejutnya Darmayanti saat melihat putrinya, duduk di depan pintu sel tahanan. Erni terlihat menarik-narik lengan baju seorang tahanan yang masih asyik tidur terbuai mimpi.


“Om… om…” dari balik pintu jeruji, Erni menggerak-gerakkan lengan seorang tahanan agar terbangun dari mimpi.


Terdengar suara napas tahanan itu mendengus kasar, ia membalikkan tubuhnya membelakangi Erni, namun gadis kecil itu masih juga menarik lengan baju tahanan itu dengan semakin keras.


Darmayanti sangat bimbang melihat putrinya mengganggu tidur seorang tahanan. Ia takut putrinya dicelakai. Baru saja Darmayanti ingin menghentikan Erni, namun Herman menghalanginya.


“Biarin aja. Masa jam segini masih tidur?” ketus Herman.


“Tapi nanti…”


Belum sempat Darmayanti menghabiskan kata-katanya, Herman memotong pembicaraan, “tenang aja, dia nggak akan berani bertindak macam-macam. Ini kantor polisi, bukannya tempat untuk tidur-tiduran.”

__ADS_1


“Ooom… tolong ambilin bola tu!!!” teriak Erni, hilang kesabaran.


Sebelah mata tahanan itu terbuka, tangannya menggapai bola kecil kemudian diulurkan pada Erni, namun baru saja Erni akan menyambut uluran, tahanan itu menarik kembali uluran tangannya.


“Eit… nanti dulu,” kata tahanan.


Kening Erni terangkat sebelah, ia menghadiahkan tatapan curiga pada si tahanan, “apa sih om?”


“Kamu sudah ganggu tidur om,” tahanan itu coba menakut-nakuti Erni, namun tidak terlihat riak takut sedikitpun pada wajah gadis kecil itu.


Dari agak jauh Darmayanti dan Herman hanya memerhati gerak-gerik Erni dan tahanan itu.


“Ok terus sekarang om mau apa?” sergah Erni.


“Om mau tau nama kamu. Boleh kita kenalan?”


Erni menapak mendekati pintu sel tahanan, gadis kecil itu mengulurkan tangan kanannya, “nama saya Erni. Om, kenapa om bisa berada di sana? Mending keluar, kita main di luar.”


Terukir senyum geli di bibir Yos mendengar celoteh polos seorang gadis kecil.


“Ayo sayang mandi dulu,” Darmayanti mengalihkan perhatian mereka berdua.


“Nanti kita main lagi ya, om,”


Yos hanya mengangguk sambil memandang langkah ibu dan anak itu yang semakin menjauh, tatapannya kosong entah apa yang ia pikirkan saat ini.


*****


Entah apa yang akan di katakan oleh pimpinan rutan, sebentar lagi saat melihat kedatangan Winda. Setelah seminggu tiba-tiba menghilang tanpa ada kejelasan terlebih dahulu, pasti akan membuat karutan bertanya panjang dan lebar. Malah bisa saja Winda di non aktifkan bekerja. Winda menarik napas panjang, ia sudah siap menerima kemurkaan dari pimpinannya.


Laju langkah kaki Winda berubah perlahan saat berpapasan dengan seorang wanita, pedagang jamu keliling. Keadaan lorong yang agak sempit membuat pejalan kaki yang menggunakan jalan itu harus memperlahan kelajuan langkah kaki saat berpapasan. Winda sengaja melewati lorong itu, karena lorong gang itulah satu-satunya jalan pintas menuju rumah tahanan. Tatap mata Winda dan pedagang jamu keliling itu bertemu sebelum mereka bertukar senyuman.


“Jamu mbak?” tanya wanita itu.


Sekali lagi Winda menyunggingkan senyuman, “nggak mbak, terima kasih.”


Winda kembali mengayuh langkah laju, ia harus segera sampai di rumah tahanan sebelum Lukman menemukannya. Lukman belum mengizinkannya keluar rumah sebelum keadaan benar-benar aman, namun tadi sebelum Lukman bangun, Winda keluar dari rumah secara diam-diam. Lagi pula sampai kapan ia harus terus dan terus bersembunyi bagaikan seorang buronan.


Dari kejauhan Lukman memerhatikan gerak-gerik Winda. Tadi, sewaktu Winda keluar dari rumah, Lukman hanya berpura-pura tidur, ia ingin mengawasi pergerakan Winda. Lukman harus tahu, dengan siapa saja Winda berhubungan selama dua minggu belakangan ini. Tak dapat dipungkiri lagi, jauh di lubuk hatinya tersirat segaris rasa curiga.


Lukman memelas mata, memandang Winda. Terlihat langkah gadis itu terhenti saat dua orang lelaki bertubuh tinggi memaksa Winda masuk ke dalam sebuah mobil yang sememangnya sudah terparkir di pinggir jalan, ujung gang. Dari gaya berpakaiannya, kedua lelaki itu terlihat seperti preman jalanan. Lukman mulai berlari kecil mengejar mobil yang membawa Winda pergi menjauh entah ke mana, namun Lukman tak mampu berbuat apa-apa ia hanya bisa memandang kendaraan roda empat itu berlalu pergi.

__ADS_1


Pikiran Lukman berkecamuk, berbagai macam andaian bermain di dalam otaknya, “siapakah orang-orang ini, apakah ada orang kedua yang menginginkan nyawa Winda?”


Pertanyaan demi pertanyaan melintas dalam pikiran Lukman. Terlihat lelaki itu merogoh kasar saku baju kemejanya mencari handphone, menghubungi seseorang. Tak seperti biasanya, wajah lugu Lukman kini terlihat serius dan sangar, berbicara melalui handphone. Beberapa kali lelaki itu menghempas napas kasar sebelum masuk ke dalam sebuah mobil taxi yang berhenti tepat di hadapannya.


__ADS_2