
Tidak ada yang mengejutkan. Semua terasa biasa-biasa saja saat Yos menerima kabar tentang kejadian yang menimpa Winda, malah lelaki itu lebih merasa prihatin terhadap kondisi Herman saat ini, dibanding Winda. Sesekali sudut mata Yos menjeling ke arah Erni yang kini sudah terlelap di pangkuannya. Walaupun tak lama saling mengenal, tapi entah kenapa ia merasa akrab dan dekat sekali dengan gadis kecil itu.
Sekali lagi sudut mata Yos menjeling ke arah Darmayanti, ibu muda itu terlihat gelisah sejak menerima kabar dari AKP Anom, sore tadi. Sebenarnya Yos tidak terlalu peduli dengan apa yang menimpa Herman dan Winda saat ini, hanya sekedar simpati biasa saja yang ia rasakan, tidak lebih. Dan seharusnya Yos sudah pergi meninggalkan kantor polisi itu karena masih ada sesuatu yang harus ia selesaikan, namun sebentar tadi ia menerima panggilan telepon dari AKP Anom, perwira polisi itu memintanya untuk menunggu di kantor, ada perkara penting yang harus dibicarakan.
“Hari ini malang menimpa Winda dan juga Pak Herman, besok giliran aku dan Erni,” desis Darmayanti. Wanita itu meraup wajahnya, ia terlihat tertekan dan ketakutan.
Yos tidak bergeming, namun ia takkan membiarkan perkataan Darmayanti benar-benar terjadi. Yos tidak peduli dengan nasib buruk yang menimpa siapapun, namun sungguh ia tidak akan tinggal diam jika Erni sampai disakiti.
Suara pintu klinik dibuka dari luar membuat Darmayanti dan Yos menoleh ke arah yang sama, wajah AKP Anom terlihat dari sebalik daun pintu, wajah itu terlihat lesu tak bersemangat.
Darmayanti bangkit berdiri melihat kedatangan AKP Anom, “bagaimana keadaannya, pak?”
AKP Anom menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan ibu muda itu, ”buruk... Herman belum sadarkan diri, dia mengalami pendarahan serius,” jawab AKP Anom. Perwira polisi itu beralih memandang Yos, lama, “Yos... saya harus bicara denganmu sebentar.”
“Yah, kita bicara di sini aja, kebetulan ada yang perlu saya sampaiin juga.”
AKP Anom kembali memandang Yos lama, coba menerka isi pikirannya. Lelaki itu terlihat bagaikan tiada gairah, “orang ini bukan penjahat amatir, dia sudah memperhitungkan setiap tindakannya,” tutur AKP Anom.
Suasana hati yang masih dirundung duka atas kepergian neneknya membuat Yos kurang berminat membicarakan soal kasus kejahatan yang menjadi tanggungjawab AKP Anom saat ini, namun keadaan yang sudah semakin genting membuat Yos harus membicarakannya jua. Dalam pikiran Yos, saat ini biarlah Winda dan herman menjadi korban, tapi ia tidak ingin Erni menjadi korban yang selanjutnya, karena bagaimanapun juga anak itu berada dalam daftar agenda para mafia itu.
“Ya... kayaknya memang begitulah,” singkat Yos, kurang berminat.
“Maksud kamu?!” tanya AKP Anom penuh semangat.
Yos dan Darmayanti saling bertukar-tukar pandangan. Tatap mata mereka berdua bertemu, seakan sepakat untuk menceritakan pada AKP Anom tentang kejadian yang mereka bertiga saksikan di tapak pekuburan, tadi.
*****
Badannya terasa melayang bagaikan berada di atas awan, ia merasakan sakit kepala yang teramat sangat. Winda coba membuka kedua kelopak mata, namun terasa amatlah berat. Dalam keadaan mata terpejam Winda coba mengingat-ingat apa yang telah terjadi, sedikit demi sedikit bayangan sebelum ia pingsan melintas di alam pikirannya.
Tiba-tiba mata Winda terbuka lebar, “Herman...!!”
Saat matanya terbuka lebar, Winda semakin heran kebingungan melihat wajah Lukman terpampang di hadapannya. Dengan sekuat tenaga Winda mencoba untuk bangkit, namun Lukman mencegahnya. Keadaan fisiknya yang terasa sangat lemah memaksa Winda untuk menuruti jua keinginan Lukman untuk tidak bangun dulu. Winda kembali merebahkan badan di atas bangku kayu.
“Istirahatlah dulu,” saran Lukman.
Winda memijit-mijit kepala yang terasa sangat pusing, bola matanya berputar menatap setiap sudut ruangan yang sangat asing dalam pandangan matanya. Bangunan kosong yang terlihat sudah lama ditinggalkan.
__ADS_1
“Luk, apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Winda, suaranya terdengar parau.
Belum sempat Lukman menjawab pertanyaan Winda, suara pintu dibuka dari luar mengalihkan perhatian mereka berdua. Seorang lelaki berbadan tinggi lampai menerobos masuk tanpa dipersilakan.
“Bagaimana tidurmu sayang, apakan kamu mimpi indah?” tanya lelaki itu.
Wajah lelaki yang baru saja memasuki ruangan itu tidak asing bagi Winda, sepertinya ia pernah bertemu, tapi di mana?. Winda mengerahkan pikirannya, mengingat-ingat di mana ia pernah bertatap muka dengan lelaki itu. Winda beralih menatap tajam wajah Lukman.
“Apa ini semua Luk?” tanya Winda yang masih belum mengerti.
Sudut mata Winda menjeling tajam ke wajah lelaki itu untuk yang kesekian kalinya, yah.. itu dia, Winda sudah mendapatkan ingatannya tentang lelaki itu, nama lelaki itu adalah Rio, lelaki itulah yang terlibat perkelahian sewaktu Winda menyaksikan pembunuhan Hendrik beberapa waktu lalu.
Lukman terlihat serba salah dengan pertanyaan Winda, tapi sepandai apapun lukman merahasiakan pekerjaannya yang sebenar, namun lambat laun Winda tetap akan tau juga.
“Kamu mau aku yang bicara Luk?” tanya Rio singkat.
Lukman bangkit berdiri, ia menghela napas panjang memikirkan dari mana harus memulai. Lukman meraba-raba sesuatu dari dalam jaket tebal yang ia kenakan, mengeluarkan sebuah topeng yang sangat Winda kenali, topeng itu sudah terbelah dua sewaktu perkelahianya dengan Yos dimalam itu.
Winda terlihat sangat terkejut melihat topeng yang Lukman ulurkan kepadanya, selama ini topeng itu selalu menjadi mimpi buruk di dalam tidurnya, bahkan nasib buruk yang menimpanya akhir-akhir ini selalu ada kaitannya dengan topeng yang kini berada di tangan Lukman, lelaki yang selama ini Winda sayangi.
“Ini... ini berarti...?!” suara Winda terputus-putus, tak mampu menerima kenyataan, seorang calon suami yang sangat ia kagumi ternyata adalah seorang mafia yang bersembunyi di balik topeng dewa.
“Cukup.! Jangan ngomong lagi Luk, anggap saja kita nggak pernah kenal.!” Sergah Winda. Meskipun masih merasa pusing, namu Winda kuatkan tubuhnya untuk berdiri, ingin segera meninggalkan tempat itu karena sudah tak sudi melihat wajah Lukman.
Ayunan langkah kaki yang baru saja setapak melangkah kini terpaku saat Rio menutup pintu ruangan, tidak mengizinkan Winda untuk pergi begitu saja. Winda beralih memandang Lukman, berharap agar dibiarkan pergi, namun Lukman hanya diam tak bergeming.
“Kamu boleh pergi dan kembali hidup dengan tenang setelah menjawab pertanyaanku dengan jujur. Kamu ada liat sesuatu sebelum kamu melihat pembunuhan, waktu itu? Ingat... jawab dengan jujur!” suara Rio terdengar tajam seakan mengancam.
Winda hanya mengangguk meng iyakan pertanyaan Rio, ia sudah mengerti apa yang lelaki itu maksud. Disaat nyawanya terancam seperti sekarang ini gadis itu lebih memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
Rio menapak mendekati Winda, lelaki itu mendekatkan wajahnya berjarak hanya beberapa inci dari wajah Winda, jari telunjuk lelaki itu mencuit dagu Winda membuat gadis itu sedikit mendongak agar Rio dapat membaca pikiran Winda dari tatap matanya, “di mana barang itu disembunyiin?”
Suara Rio terdengar lembut seakan berbisik menyapa telinga Winda, tapi suara itu membuat winda sangat ketakutan. Winda terdiam beberapa saat, sudut matanya mengerling ke arah Lukman yang duduk santai di atas bangku kayu menjadi pemerhati. Wajah lelaki itu terlihat sangat dingin, seakan Winda tak percaya lelaki yang kini duduk manis dengan seraut wajah dingin dan kejam itu adalah Lukman.
“Aku nggak tau. Yos udah ngambil barang itu,” jawab Winda.
Sorot tajam mata Rio beralih memandang Lukman, tatap mata mereka berdua bertemu, seakan berbicara dan saling memahami melalui tatapan mata.
__ADS_1
“Yos, Yos, Yos... aaargh... kenapa kamu selalu menjadi penghalang...!” teriak Rio.
Mendengar nama Yos membuat Rio berteriak histeris dan tanpa sadar ia menendang bangku kayu hingga hancur sebagai lampiasan amarah yang bergejolak. Napas Rio turun naik memikirkan barang yang ia cari kini sudahpun berada di tangan Yos, akan sangat sulit bagi Rio merebut barang itu jika harus berhadapan langsung dengan seorang Yos Hidayat.
*****
Seakan tidak percaya melihat keadaan Yadi yang kini bagaikan sudah tidak terurus, sosok seorang lelaki yang dulunya elegan walaupun menjadi penghuni penjara, kini berubah sebaliknya menjadi seorang yang terlihat daif dengan penampilan compang-campingnya. Dari jauh Yos memandang langkah kaki Yadi datang menghampirinya. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Yadi, pikir Yos.
“Hei, aku mau bertemu Yadi, bukan kamu,” kata Yos seolah-olah tidak mengenali Yadi yang kini sudahpun berdiri tegak di hadapannya.
IPTU Hasyim yang ikut menemani Yos berkunjung ke rumah tahanan hanya diam mendengar perkataan Yos pada Yadi yang seakan-akan mengejek.
Kening Yadi terangkat sebelah mendengar nada ejekan dari Yos, “langsung aja nggak usah basa basi. Ada perlu apa kamu datang cari aku?” tanya Yadi, sinis.
“Tunggu...” Yos terdiam, ia memandang Yadi dari ujung kaki hingga ke ujung rambut kemudian tawanya meledak dengan suara yang dibuat-buat, membuat yadi terlihat semakin jengkel, “hua haha... apa yang terjadi padamu sobat, sejak kapan kamu berubah jadi gembel?”
“Kalau kamu datang hanya untuk mengejek, lebih baik kamu pulang, Yos,” desis Yadi.
Yos menghabiskan sisa tawanya, “jangan marah sobat. Ayo kita duduk dulu.”
Tanpa bicara mereka bertiga berjalan beriringan, mecari tempat duduk yang nyaman untuk bicara. Yadi sengaja mengambil tempat duduk paling pojok di ruang kunjungan itu agar pembicaraannya tidak didengar oleh para pengunjung lain.
“Apa yang terjadi padamu sobat?” belumpun duduk dengan sempurna, Yos sudahpun mengajukan pertanyaan.
“Rio menghianatiku,” jawab Yadi, ia terdiam sejenak menghempas napas sebelum melanjutkan ceritanya, “aku sudah nggak punya apa-apa,” tatap mata Yadi tertuju pada IPTU Hasyim.
Mengerti dengan tatapan Yadi, Yos segera memperkenalkan IPTU Hasyim, “oh iya aku lupa. Kenalin, ini teman saya IPTU Hasyim.”
IPTU Hasyim sedikit menganggukkan kepala, ketika diperkenalkan. Sebenarnya dia sendiri yang meminta bantuan kepada Yos untuk mencari informasi kepada Yadi tentang keberadaan Rio, namun setelah mendengar pengakuan Yadi yang telah di khianati oleh orang kepercayaannya itu, mungkin akan sulit untuk mencari Rio.
“Kami bisa bantu kamu, itupun kalau kamu mau,” IPTU Hasyim mengajukan tawaran menarik pada Yadi.
“Apakah kalian ada permasalahan dengan si bangsat Rio?” tanya Yadi.
“Yah, begitulah,” singkat IPTU Hasyim.
“Aku nggak tau di mana keberadaan si bangsat Rio skarang ini, lagipun nggak ada orang yang bisa nembantu kecuali Yos,” Yadi menatap tajam wajah Yos, “barang itu ada pada kamu Yos... aku yakin mereka hanya menginginkan barang itu.”
__ADS_1
IPTU Hasyim memandang Yos, meminta penjelasan dengan maksud kata-kata Yadi sebentar tadi, namun Yos pura-pura tidak tahu karena tidak ingin membahas perkara itu, tidak ada siapapun yang boleh tahu bahwa narkoba yang diincar oleh gerobolan mafia itu sebenarnya berada pada padanya.