
Sejak azan subuh berkumandang, Yos sudah mulai melakukan rutin hariannya, berolahraga. Walaupun tidak melakukan solat subuh, tapi memang sejak kecil lelaki itu tidak bisa terlelap tidur di awal pagi dan kesempatan itu ia selalu gunakan untuk meluruskan urat-urat yang kaku.
“Yadi Hermawan, ada kunjungan.!!”
Suara seruan seorang petugas sipir terdengar melalui pengeras suara, membuat aktivitas Yos terhenti. Tak berapa lama, seseorang lelaki berbadan tinggi lampai keluar dari ruangan nomor 12. Yos mengamati langkah orang itu, dari jauh sorot mata Yos meneliti tiap inci tubuh orang yang bernama Yadi itu, dari ujung rambut hingga ke ujung kaki tanpa berkedip, hingga Yadi menghilang dari pandangan mata.
“Itulah Yadi, orang yang Dony maksud kemarin tu. Dia bandar narkoba terbesar di Lombok tengah. Yadi juga satu-satunya orang yang berani nyelundupin narkoba ke rutan ini. Walaupun dia berada di sini, tapi anak buahnya banyak berkeliaran, bebas di luar sana,” tutur Fendi.
Semenjak Fendi dan Yos dibebaskan dari ruang sel, kemarin, Fendi meminta izin tinggal satu ruangan dengan Yos dengan alasan demi keselamatan. Setelah dipertimbangkan, maka Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) menerima alasan yang Fendi berikan. Dengan kondisi jumlah petugas sipir yang sedikit, tidak mungkin dapat mengawasi 100% pergerakan para warga binaan yang saat ini sudah mencapai jumlah sekitar hampir 400 orang narapidana dan tahanan.
“Minta tolong bikinin kopi,” pinta Yos.
Tanpa berkomentar sepatah katapun Fendi menuruti permintaan Yos, karena ia merasa berhutang budi terhadap teman barunya itu. Andai saja Yos Hidayat tidak bersamanya, mungkin saja Fendi sudah menjadi makanan para preman suruhan Yadi.
Segelas kopi yang dibikinkan oleh Fendi belumpun habis diminum, terlihat Yadi sudah keluar dari ruang kunjungan. Yos kembali memerhati lelaki itu dengan saksama, ia memfokuskan tatapan matanya pada sepasang sandal yang Yadi kenakan.
“Ini dia.!!” Batin Yos. Ia bangkit dari duduknya dan membongkar-bongkar isi tong sampah kecil yang terletak di depan ruangannya.
Tatap mata Fendi mengiringi langkah kaki Yos. Bermacam-macam pertanyaan yang kini bermain dalam pikirannya melihat langkah santai Yos mengarah ke ruangan nomor 12.
“Mana bos kalian?” tanya Yos pada dua orang lelaki yang berdiri di samping pintu ruang nomor 12.
“Bos nggak bisa diganggu, lagi ada kerjaan,” ke dua lelaki itu mengubah posisi berdirinya yang tadinya di samping pintu kini berdiri tepat di depan pintu tangannya memegang bahu Yos, menghalanginya masuk ke dalam ruangan.
Secepat kilat Yos mengeluarkan pisau dari balik lipatan bajunya. Pisau kecil yang diambil di dapur kemarin sewaktu meminta air panas itu berputar-putar di antara jari-jemari Yos Hidayat, melukai tangan kedua orang yang mencegatnya. Tanpa membuang waktu Yos menerobos masuk ke dalam ruangan, membuat Yadi dan beberapa orang penghuni ruangan yang sedang asyik menikmati asap sabu-sabu tercengang heran dengan kehadiran Yos yang tiba-tiba. Kedua orang yang berjaga di pintu tadi tidak mau menyerah, mereka berdua ikut masuk ke dalam ruangan, terlihat tangan kedua orang itu berlumuran darah.
“Ada apa ini, siapa kamu?!” tanya Yadi, kasar.
Yos tersenyum mengejek, matanya menjeling tangan Yadi yang saat ini menggenggam handphone. Sesekali ia menjeling orang-orang yang sudah mulai berkerumun di jendela ruangan, ingin tahu apa yang terjadi.
“Suruh orang-orang itu pergi, jangan berkerumunan di depan pintu. Kalau mereka berkerumun di situ nanti petugas curiga.!” Perintah Yadi.
Yadi tidak ingin ada petugas sipir mengetahui adanya keributan di ruangannya. Jika petugas sipir tahu, maka sudah tentu ruangan yang ia tempati sekarang ini akan digeledah dan jika ruangannya digeledah, berbagai macam barang-barang yang tercatat dalam artikel larangan akan ditemukan, lebih-lebih lagi saat ini Yadi menyembunyikan 1 ons sabu-sabu di dalam sandalnya.
“Aku tau apa yang kamu sembunyiin. Aku mau barang itu,” kata Yos.
“Eh… enak aja, siapa kamu sih…”
Belum sempat Yadi menghabiskan perkataannya, dengan gerakan yang sangat cepat Yos meninju kepala dan tulang rusuk Yadi.
Tidak dapat diragukan lagi, dalam hal seperti ini Yos sudah menjadi ahlinya.
Yadi terlihat tidak berdaya, kedua tangannya bersilang ke lehernya. Yos menarik tangan Yadi dari belakang. Yadi tidak dapat bergerak, Yos mengunci semua pergerakan badan lelaki itu.
Keributan tidak dapat dielakan lagi saat semua anak buah Yadi mulai mendekat, ingin menyerbu Yos. Melihat situasi seperti itu, Yos mulai menancapkan pisau kecil ke paha Yadi, membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
“Kalian mendekat, bos kalian mati!” gertak Yos, santai.
“Jangan mendekat, jangan mendekat… uuh… uh..” napas Yadi turun naik menahan sakitnya bekas pisau yang masih tertancap di pahanya.
Keadaan ruangan nomor 12 bagaikan kapal pecah, semua barang-barang bawaan penghuninya berhamburan, kesempatan itulah Yos gunakan untuk mengambil handphone milik Yadi.
Dari dalam ruangan Yos melihat segerombolan petugas sipir berlari laju menghampiri mereka yang tengah bersengketa.
“Semua jongkok, tangan di atas kepala!!!” seru seorang petugas sipir.
*****
“Kamu ini Win… udah dapat kerja bagus-bagus, masih mengeluh lagi. Tu, liatin kakak-kakak kamu, semua pada kawin muda! Belum dapetin cita-citanya keburu kawin, ujung-ujungnya kakak-kakak kamu, semua jadi petani!” komentar Bu Janah saat Winda menyampaikan keluh kesahnya sewaktu menjalankan tugas sebagai polsuspas.
“Jadi petani bukannya nggak bagus, yang penting halal. Tapi kalau ada kerjaan yang lebih bagus kenapa harus disia-siain. Lagian, bagaimana kamu mau jadi petani, liat ulat aja udah kayak orang gila,” sambung Bu Janah.
Kata-kata ibunya tadi pagi masih terngiang di telinga. Jari-jari lentik Winda mengelus lembut baju seragam dinasnya yang masih tergantung. Gadis itu menarik napas dalam, sebelum mengenakan pakaian dinas.
Baru saja selesai serah terima tugas pergantian shift, perut Winda sudah mulai terdengar menyanyikan lagu keroncong. Tadi sebelum berangkat dari rumah kontrakannya, Winda berencana akan makan siang di kantin samping rutan.
“Kamu belum makan?” tanya Hariadi yang kebetulan mendengar suara perut Winda menjerit, minta diisi.
Hariadi adalah senior Winda, tapi regu piket mereka berlainan.
“Belum. Tadi nggak sempat di rumah,” jawab Winda sambil menghadiahkan sebuah senyuman manis pada Hariadi.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, tu di ruang KPLP ada jatah makan siang gratis,” Hariadi membalas senyum Winda.
“Ah, masa sih?!”
“Benaran. Oh ya, aku cabut dulu ya,” Hariadi mengakhiri pembicaraan.
Winda mengantar langkah kaki Hariadi sampai menghilang dari pandangan mata. Setelah seharian bertugas, lelaki itu terlihat kelelahan.
“*Jatah makan siang gratis? Boleh juga nih*,” batin Winda.
Suara meja digebrak dari dalam ruangan KPLP membuat Winda memanjangkan lehernya, memastikan apa yang terjadi, namun kain tirai penutup jendela menghalangi pandangan mata, gadis itu berdiri di depan pintu tercengang heran melihat beberapa orang narapidana duduk berbaris di ruangan itu.
“*Oh, ini yang Hariadi maksud makan siang gratis*,” batin Winda.
“Siapa yang duluan memulai perkelahian?!!” sergah pak KPLP.
“Dia pak,” seorang narapidana menunjuk pada Yos, “dia datang ke kamar kami dan langsung menyerang.”
Winda memerhati seorang narapidana yang sedang bercakap-cakap menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh Pak KPLP. Dalam pikiran gadis itu bertanya-tanya, entah apa yang telah Yos lakukan lagi hingga membuat narapidana lain terluka hingga berdarah-darah.
Sorot mata Yos tajam menerkam mereka satu-persatu, “ah… preman cengeng, baru gitu aja udah mau ngelapor. Uh… payah kalian!”
“Kalau aku bikin laporan, emang kenapa, kamu takut? Sekarang berkelahi menggunakan otot sudah nggak jamannya lagi, siapa pintar dia menang!” Yadi yang sememangnya kesal, mulai membuka suara lantang.
Walaupun Yadi mengancam akan membawa perkara itu ke meja pengadilan, namun sedikitpun tidak terlihat riak wajah gentar pada wajah Yos, malah sebaliknya, lelaki itu mengukir seutas senyum mengejek. Senyum sinis di bibir Yos mengundang emosi di hati Winda yang sedari tadi hanya menjadi pemerhati.
“Laporin aja bos. Aku kena kasus penganiayaan dan kamu kena kasus narkoba. Negara kita ini sangat membenci pengedar narkoba loh….” Yos mengakhiri kata-katanya dengan senyum mengejek.
“Maksud kamu?!” tanya Yadi.
“Aku ada barang buktinya,” Yos beralih memandang Pak KPLP yang ketika ini menjadi penengah, “bagaimana Pak, apa perlu saya buktiin?”
Harapan Yadi ingin membawa permasalahan itu ke muka pengadilan kini gagal. Saat Yos mengatakan akan menyerahkan barang bukti, narkoba yang ia selundupkan sewaktu ia dikunjungi, tadi pagi. Melaporkan Yos ibarat menggantung diri sendiri.
“*Siapakah orang ini sebenarnya? Pemberani, cerdik dan licik*,” batin Yadi.
“Dulu, sebelum kamu datang ke sini, rutan ini aman damai, tapi semenjak kamu ada di sini, semua jadi huru-hara,” sela Winda, kesal dengan Yos.
__ADS_1
“Seharusnya mbak berterima kasih pada orang-orang kayak kami ini. Kalau nggak ada orang kayak kami ini, mbak nggak bakalan ada kerjaan, mungkin mbak jadi pengangguran,” kata Yos, nyeleneh.
“Plak!!!” sebuah tamparan telapak tangan lembut Winda menyapa pipi Yos.
“Dasar narapidana, sampah masyarakat. Ngomong seenaknya!!” bentak Winda, geram.
Semua mata yang berada di ruang KPLP menatap Winda, suasana hening seketika tidak ada seorangpun mengeluarkan suara.
“Winda Rusila!!!!” suara keras karutan terdengar bergema mengalihkan perhatian mereka semua.
“Ikut ke ruangan saya!!” terlihat kemarahan di raut wajah karutan.
“Habislah kamu mbak...” ejek Yos dengan suara pelan seakan berbisik.
\*\*\*\*\*
**Cukup** lama Yadi termenung memikirkan bisnisnya yang terganggu hanya karena ulah seorang Yos Hidayat.
Atas perintah Yadi , saat ini orang yang ia percayai sedang melakukan transaksi narkoba di luar sana. Walaupun Yadi berada di dalam penjara, namun lelaki itu memerintahkan beberapa orang yang ia percayai untuk terus menjalankan bisnisnya. Tapi Yadi harus menghubungi kurir yang ia perintahkan membawa barang pesanannya, jika handphone miliknya tidak dirampas oleh petugas sipir. Kericuhan sebentar tadi membuat petugas sipir menyita handphone miliknya.
Yadi menghempas napas kasar, “bangsat, ini semua gara-gara kamu!!!” Yadi berteriak sekuat hati.
“Bop, kamu pergi cari hp dan langsung hubungi Rio, suruh dia temui aku besok pagi!” perintah Yadi pada seorang pengikutnya.
“Tapi biasanya Rio tu nggak mau nerima panggilan dari nomor yang nggak dikenalnya,” jawab Bop.
“Goblok.! Sms dulu, baru kamu telepon!!” bentak Yadi, kasar.
Tanpa berkomentar, Bop segera melangkah mencari handphone, ingin menghubungi Rio. Tidak ada gunanya menyumbangkan buah pikiran pada Yadi disaat-saat seperti sekarang ini, lelaki itu terlalu emosional jika beban pikirannya sedang menumpuk.
Pak karutan menatap wajah Winda, lama, sebelum ia mulai membuka bicara. Tatapan Karutan membuat Winda salah tingkah, gadis itu sudah bersiap-siap menghadapi kemarahan dari pimpinannya.
“Kamu tau, sekarang ini kamu berada di mana?” tanya Pak Karutan setelah agak lama membungkam.
“Saya berada di penjara,” jawab Winda, ragu.
Pak Karutan merasa kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh Winda. Lelaki berumur 45 tahun itu membuang pandang ke arah luar jendela ruangan, menatap kendaraan yang melintas di atas jalan raya.
“Kamu salah besar. Kita berada di sini sebagai pembina... guru sekaligus sebagai orang tua. Misi kita mengayomi warga binaan, bukan malah menunjukkan sifat kekasaran. Mereka adalah orang-orang yang tersalah jalan, jadi mari kita didik, mari kita bina mereka agar kembali ke jalan yang benar,” Pak Karutan menarik napas panjang dan menghempasnya perlahan, “selama menjalankan tugas, didiklah mereka dengan lembut, bukan dengan kekerasan.”
“Siap Pak,” suara Winda terdengar pelan, menyadari akan kesalahan yang ia lakukan.
“Lambang pohon beringin di baju dinas kita ini, bermaksud pengayoman, ingat itu!”
Pak Karutan teringat sejarah lambang pohon beringin yang tertempel di lengan baju semua petugas sipir. Sejak tahun 1963, nama penjara diganti menjadi Lembaga Pemasyarakatan, berlambangkan pohon beringin yang berarti pengayoman.
“Oh ya, satu lagi. Ini hanya sekedar tugas, jangan terlalu berlebihan, apalagi dengan warga binaan bernama Yos itu. Ingatlah keluarga tercinta, jangan membuat mereka terancam,” Pak Karutan memberi peringatan pada Winda.
Winda tidak mengerti dengan maksud perkataan Karutan, yang terakhir. Gejolak rasa ingin tahu mendorongnya untuk bertanya, “apa maksud bapak?”
10 tahun yang lalu, seorang petugas sipir pernah bermasalah dengan Yusri Hidayat. Tidak lama setelah Yusri dibebaskan, petugas sipir itu menghilang tanpa jejak. Pihak kepolisian mencurigai hilangnya petugas sipir itu adalah perbuatan Yusri Hidayat, tapi pihak kepolisian tidak mempunyai bukti yang cukup untuk menjebloskan Yusri ke dalam penjara.
__ADS_1
Rasa kecut mulai menyapa hati Winda, setelah mendengarkan sedikit cerita tentang masa lalu seorang Yos Hidayat. Tapi yang membuat Winda merasa heran, setelah setumpuk kesalahan yang pernah lelaki itu lakukan di masa lalu, namun tidak terlihat sekelumitpun riak bersalah di raut wajahnya.