
Desa Perina Lombok Tengah 7 tahun yang lalu
Jarum jam baru saja beranjak menunjukkan angka 9 malam, namun suasana sebuah rumah kecil di dusun terpencil terlihat sangatlah sunyi. Langkah kaki Yusri menapak perlahan mendekati pintu sebuah rumah. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, lelaki itu memandang seorang wanita tua yang sudah mencecah umur 70-han tahun. Perasaan sayu menyapa hati kecil Yusri, melihat keadaan wanita tua itu tertidur memeluk lutut di atas sehelai kain sajadah masih lengkap mengenakan mukenah. Wanita tua itu tertidur di atas sajadah setelah selesai menunaikan kewajiban solat isya.
Suara sebuah kendaraan roda 2 berhenti di pinggir jalan kecil depan rumah mengalihkan perhatian Yusri, lelaki itu sedikit bersembunyi di samping rumah, memerhatikan sosok tubuh tinggi pemilik kendaraan roda 2 itu.
“Kamu mau ke mana?” tanya Yusri, berbisik.
Rio menatap Yusri, lama sebelum menjawab pertanyaan kakaknya. Lelaki yang di panggil Rio itu sedikit terkejut dengan kemunculan Yusri secara tiba-tiba, bagaikan hantu, “kak… kapan kakak datang...?!”
“Tap.” Secepat kilat Yusri menutup mulut Rio agar tidak mengganggu tidur neneknya.
Yusri meluruskan jari telunjuk di bibirnya memberi isyarat diam kepada Rio, adiknya, “Ssstt… diam. Nenek lagi tidur. Kamu mau ke mana nih?”
Yusri Hidayat dan Rio Riadi, mereka kakak beradik, namun berlainan ayah. Umur mereka berdua terpaut 5 tahun. Walaupun bersaudara tiri, namun sejak kecil mereka berdua terlihat sangatlah akrab. Tapi semenjak Yusri berkecimpung dalam dunia kriminal mereka jarang bertemu, karena Yusri harus tinggal berjauhan dengan keluarga.
“Emak nyuruh aku nganterin ini, buat nenek,” Rio menunjukkan satu bungkusan plastik besar yang berisi nasi dan lauk, “eh kak, ada yang aku mau omongin sama kakak,” Rio menggantung bungkusan plastik yang berada di tangannya pada paku yang terpacak di tiang luar rumah.
Yusri memandang wajah Rio, sekilas. Ia mengikuti langkah kaki adiknya agak menjauh dari rumah, agar pembicaraan mereka berdua tidak mengganggu tidur neneknya.
“Kamu mau ngomong apaan... duit? Kalau masalah duit, nggak usah terlalu serius amatlah, gampang,” terka Yusri.
“Sebenarnya udah beberapa bulan ini aku tunggu kakak pulang. Masuk bulan ini berarti udah 5 bulan aku tunggu kakak,” wajah Rio berubah serius.
Semenjak menjadi orang kepercayaan Jafar, Yusri sangat jarang pulang menjenguk neneknya, kadang 5 bulan sekali, kadang juga 9 bulan sekali.
“Santai aja, nggak usah terlalu serius,” Yusri menyalakan sebatang rokok dan mengulurkan bungkusan rokok itu pada Rio, “rokok?”
Rio menyambut bungkusan rokok dan sebuah korek api dari tangan Yusri, “aku pingin kerja ikut kakak.”
Pernyataan keinginan Rio sebentar tadi membuat Yusri terdiam. Tak pernah terbayangkan dalam benak lelaki itu, adiknya menyimpan keinginan untuk mengikuti jejaknya ke dalam dunia hitam. Tidak, itu tidak boleh terjadi, cukup dirinya saja yang sudah terlanjur terjerumus ke dalam dunia kriminal.
“Udah, udah nggak usah ngomongin kerja. Lebih baik kamu lanjutin dulu sekolah kamu tu, nanti kalau kamu udah lulus, aku bantu kamu cari kerjaan.”
Riak wajah Rio berubah lesu, tidak bersemangat, “ayah sering sakit-sakitan, tapi walaupun dia sering sakit, dia tetap juga memaksa dirinya untuk bekerja. Minggu yang lalu emak mengatakan dia mau pergi bekerja ke luar negeri jadi TKW ke Taiwan, tapi ayah nggak ngizinin. Sekarang tiap hari mereka bertengkar. Uang, uang dan uang, nggak ada permasalahan lain yang bikin mereka bertengkar selain uang,” tutur Rio, sedih.
Uang adalah hal yang paling utama dalam hidup Bu Ani. Tapi setiap kali Yusri ingin memberinya uang ia selalu menolak. Menurut Bu Ani uang pemberian dari Yusri adalah uang haram, karena pekerjaan Yusri sudah bukan rahasia lagi di khalayak umum masyarakat desa Perina. Bukan hanya Bu Ani, tapi Bu Rohana neneknya Yusri juga tidak pernah mau menerima uang pemberian dari Yusri, cucunya.
“Carilah kerjaan sambilan untuk bantu-bantu mereka. Pulang sekolah, kamu pergilah kerja,” usul Yusri.
“Kakak kan tau sendiri susahnya dapat kerjaan di Lombok ini. Ikut ayah kerja di penggilingan padi, uangnya nggak seberapa dibanding tenaga yang terkuras. Apapun yang terjadi, aku ingin kerja ikut kakak!” Rio berkeras.
“Terus sekolahmu?” tanya Yusri.
“Berhenti,” jawab Rio, singkat.
“Yang aku kerjakan bukan perkara main-main. Taruhannya nyawa,” kata Yusri, serius.
“Aku... tetap...akan... ikut..!” Rio mengucapkan 4 potong perkataannya dengan panjang dan perlahan.
__ADS_1
Melihat sifat keras kepala adiknya, Yusri meraba-raba pinggangnya, mengeluarkan sepucuk senjata api berjenis Revolver. Yusri mengeluarkan semua isi peluru dari senjata api itu dan hanya mengambil sebutir peluru saja. Sebutir peluru itu dimasukkan kembali ke dalam blok silinder Revolver itu, kemudian lelaki itu memutar-mutar beberapa kali blok silinder senjata api itu, mengacak isi peluru. Yusri menghadapkan laras pistol ke arah kepalanya.
“Tak… tak… tak…!” 3 kali terdengar suara pelatuk pistol mengetuk-ngetuk ruang kamar peluru, tapi ruang kamar peluru itu kosong.
Rio terdiam lama, melihat aksi nekat Yusri. Andai saja pelatuk pistol itu dapat mengetuk peluru, sudah pasti kini Yusri hanya tinggal nama.
“Pekerjaanku, taruhannya nyawa!” tegas Yusri.
Sungguh Rio merasa kecut membayangkan pekerjaan Yusri, di luar sana. Tapi kesulitan biaya hidup orang tuanya dan juga keinginan yang menggunung mengalahkan semua rasa takut yang tadinya bersemayam di hati. Rio merentas sepucuk senjata api itu dari tangan Yusri, ia meniru apa yang Yusri lakukan sebentar tadi.
Tanpa menunggu aba-aba, Rio menarik pemicu pistol, “tak… tak...tak...tak…!”
Dengan gerakan cepat Yusri mengalihkan moncong pistol mengarah ke atas karena ia tau, blok silinder senjata api miliknya itu hanya mempunyai 8 ruang peluru. Yusri menarik pemicu 3 kali dan Rio menariknya 4 kali, berarti tarikan pemicu yang terakhir akan menghancurkan kepala adiknya. Seketika suara ledakan amunisi peluru bergema memecah kesunyian malam.
Terdengar suara ******* napas Yusri, “sudahlah, aku mau keluar cari udara segar,” tangannya merogoh isi tas kecil yang ia sandang, “ini… tolong kasi nenek uang belanja, tapi jangan kasih tau dia, uang ini dari aku. Bilang aja, uang hasil kerja kamu.”
Sorot mata Rio memandang hampa selembar potonya ketika bersama Yusri, dulu. 7 tahun sudah berlalu, tapi ingatan saat-saat bersama Yusri masih segar melekat dalam ingatan Rio.
Rio menyalakan sebuah korek api, selembar foto yang berada di tangannya terbakar dan menjadi debu.
Suara nada isyarat sebuah handphon menarik perhatian Rio. Sebuah pesan ringkas dari nomor yang ia tidak kenali, tapi isi pesan ringkas yang tertulis atas nama Yadi berhasil menarik minatnya untuk segera menghubungi nomor yang ia sendiri tidak kenali itu.
“Hallo bos…”
Cukup lama Rio berbicara dengan Yadi melalui panggilan telepon, sesekali terlihat kepala Rio memanggut-manggut, mengerti dan siap menjalankan perintah yang disampaikan.
*****
“Selamat pagi mbak,” ucap Yos.
Winda hanya memanggut kepala sebagai balasan ucapan Yos, “kayaknya kamu lebih senang di dalam penjara, ketimbang hidup bebas di luar sana,” sinis Winda.
Tanpa dipersilahkan, Yos duduk di atas bangku kayu berhadapan dengan Winda, lelaki itu tidak menanggapi perkataan Winda sebentar tadi tangannya lincah menandatangani tiap lembar surat pembebasannya.
“Seperti apakah ekspresi wajah lelaki ini saat dia marah?” pertanyaan Winda dalam hati.
Setiap penghuni penjara biasanya identik dengan sifat pemarah, tapi tidak dengan lelaki yang satu ini, apapun yang dihadapi raut wajahnya tidak pernah terlihat berubah.
“Sesudah ini.... jadilah orang yang berguna, jangan habiskan masa hidupmu yang singkat dengan perkara tidak berguna seperti ini,” nasehat Winda.
Yos mengukir seutas senyuman ikhlas, “jangan menyalahkan Tuhan, mbak. Tuhan itu maha pintar, Dia nggak pernah menciptakan sesuatu yang tak berguna. Hari ini aku menjadi sampah yang nggak berguna, tapi belum tentu dengan hari esok atau lusa. Nggak ada orang tau rahasia Tuhan.”
Baru kali ini Winda melihat sebuah senyum tulus di bibir Yos Hidayat. Seakan-akan Winda tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan dengar sebentar tadi, gadis itu sangat mengakui kebenaran perkataan Yos, sebentar tadi.
Sejenak, Yos memejamkan mata, lelaki itu terlihat menarik napas menghirup segarnya udara di luar gerbang besi.
__ADS_1
Perhatian Yos terganggu saat sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di hadapannya. Pintu depan samping kiri mobil itu dibuka dari dalam oleh sang pengemudi.
Kepala Yos sedikit menunduk, melihat wajah pengemudi.
“Masuklah. Kita pergi cari udara segar,” pinta Dony, dari dalam mobil.
Tanpa menunggu lama, Yos masuk ke dalam mobil, “ini... barang yang kamu minta kemarin tu. Sekarang mana uang aku?”
Yos menyerahkan sim card yang ia ambil dari handphone milik Yadi. Entah apa yang Naufal dan Dony rencanakan terhadap Yadi, Yos tidak ingin tahu, yang penting ia menerima uang bayaran dari Dony atas usahanya merampas sim card itu.
Dony memasukkan sim card itu ke dalam saku bajunya, lelaki itu mengulurkan sebuah bungkusan plastik hitam sebagai bayaran kepada Yos, “hitung dulu.”
“Nggak usah. Saling percaya aja,” jawab Yos.
Mobil yang mereka naiki bergerak ke arah selatan. Yos tidak tertarik dengan tawaran Dony untuk bersenang-senang menikmati hari kebebasan. Ia lebih memilih mencari rumah kontrakan yang sesuai untuk ia tinggali sementara waktu.
\*\*\*\*\*
**Cukup** banyak pesan masuk saat Naufal memasang sim card milik Yadi. Inilah yang Naufal inginkan, segala rahasia yang Yadi simpan dengan baik, sekarang sudahpun berada dalam genggaman Naufal.
Pesan singkat yang terakhir dari salah seorang gembong narkoba wilayah kota Batam. Gembong narkoba itu akan mengirim anak buahnya melakukan transaksi dengan Yadi pada suatu tempat yang sudah ditetapkan di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Naufal mengeluarkan selembar kertas, lelaki itu terlihat menggambar-gambar dan menulis nama-nama beberapa orang di atas selembar kertas itu.
“Mereka akan melakukan transaksi di sini,” Naufal menunjuk gambar dan nama pedesaan kecil yang sudah di gambar pada selembar kertas itu, “barang itu bernilai 5 milyar. Nilai barang nggak penting, aku nggak mau liat barang milik Yadi beredar lagi,” tegas Naufal pada Dony, orang kepercayaannya.
“Oh iya satu lagi. Rampas barang saja, jangan sampai ada korban agar polisi tidak ikut campur dalam urusan ini!”
__ADS_1
Dony diam memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan, yang ada dalam kepalanya saat ini adalah Yos. Hanya Yos yang bisa menjalankan pekerjaan yang diinginkan oleh Naufal.