RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 13


__ADS_3

Hampir seminggu memeras keringat mencari sang kekasih yang tiba-tiba menghilang, akhirnya usaha Lukman berbuah keberhasilan. Kemarin Lukman menemukan Winda di sebuah tapak perkuburan Islam Lombok Barat. Lukman berusaha menenangkan Winda yang saat itu terlihat ketakutan hingga akhirnya Winda bersedia tinggal di kediaman Lukman untuk sementara waktu.


Lukman meletakkan mie instan yang baru saja ia rebus untuk Winda, “Sarapanlah dulu baru kamu ceritain apa sebenarnya yang terjadi.”


Sebenarnya Winda tak berselera untuk sarapan pagi, namun demi menjaga perasaan Lukman ia menjamah jua mie instan buatan kekasihnya itu.


Diam-diam Lukman menatap wajah Winda, lama. Memerhati setiap inci tubuh gadis itu. Ada yang aneh dari kekasihnya itu. Dari kemarin Lukman membujuk Winda agar menceritakan duduk persoalan yang sebenarnya terjadi, namun Winda tidak menceritakan secara terperinci. Dari raut wajahnya, Winda seperti menyembunyikan sesuatu.


“Kok, bisa-bisanya Yos culik kamu, apa sih maunya lelaki itu?!” tukas Lukman. Sebenarnya pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri, tapi telinga Winda dapat mendengarnya.


Sudut mata Winda menjeling tajam, “sebenarnya Yos nggak menculik aku... malah aku merasa terhutang budi pada lelaki itu.”


Tergelitik rasa geli di hati Lukman, tidak dapat ditahan lagi, tawa Lukman meledak mendengar pernyataan Winda, sebentar tadi, “berhutang budi? Haha… haha… haha… Winda, Winda… kamu ini ada-ada aja. Seorang penjahat nggak pernah memiliki budi, apalagi memperhutangkan budi pada orang lain. Seekor singa tetaplah seekor singa... nggak mungkin seekor singa tiba-tiba berubah menjadi seekor kucing rumahan yang jinak,” kata Lukman sambil tertawa terbahak-bahak. Namun tawa lelaki itu tiba-tiba mati, bola matanya berputar seperti sedang memikirkan sesuatu, “atau mungkin lelaki itu ada tujuan tertentu?” terka Lukman, curiga.


Winda berhenti menyendok mie instan di dalam mangkuk, matanya memelas menatap Lukman. Gadis itu tidak senang dengan kecurigaan Lukman terhadapnya.


“Apa maksud kamu?!”


“Aku nggak percaya kalau seorang penjahat kayak Yos tiba-tiba berubah jadi seorang dewa penolong, kecuali kamu ngasi dia imbalan,” Lukman terdiam menghempas napas sebelum melanjutkan bicara, “maaf Win, sebagai pacar kamu… wajarlah kalau aku curiga.”


Lirih suara Lukman menggugah simpati di hati Winda. Hampir seminggu bersama Yos tanpa ada kejelasan membuat perasaan Lukman terganggu. Sebagai seorang kekasih, Lukman berhak cemburu.


“Bisa saja kita mempercayai seseorang tanpa harus mencintainya, tapi kita nggak bisa mencintai seseorang tanpa harus mempercayainya. Mencintai seseorang sepenuh hati tanpa ada rasa percaya sama aja ngebohongin diri sendiri,” suara Lukman terdengar pelan. Lelaki itu membuang pandang ke arah halaman rumah. Terlihat dari sinar matanya, lelaki itu memendam segumpal kecewa.


Perkataan Lukman sebentar tadi bagaikan tamparan di pipi Winda, namun bagaimanapun gadis itu mengakui kebenaran kata-kata kekasihnya yang kini terlihat kecewa.


Winda menggapai tangan Lukman, tatap mata mereka bertemu. Terukir seutas senyum manis di bibir Winda. Demi menjaga hubungannya dengan Lukman, Winda harus menceritakan semua yang terjadi agar tidak ada rahasia di antara mereka.


*****


Pantai Melaka Malaysia 5 tahun yang lalu


Angin laut berhembus lembut bersenandung merdu mengiringi halus ombak pantai yang datang menerpa deretan perahu nelayan yang ditambat di tepian pantai. Hangat mentari senja memancarkan cahaya jingga sedikit menenangkan sekeping hati yang saat ini diamuk resah.


Di bawah sepohon kayu, Rio duduk memeluk lutut. Rasa bimbang terhadap keselamatan Yusri semakin menjadi-jadi. Wajah Rio terlihat putus asa. Tak dapat dipungkiri lagi, andai-andaian buruk yang menimpa Yusri saat ini sudah beberapa kali menerjang pikirannya.


“Kalau aku nggak sampai di pelabuhan besok sore, jangan tunggu aku. Kamu pulang ikut perahu nelayan, kasi mereka upah lebih. Ingat, serahkan barang ini pada Jafar,” kata perintah Yusri tadi malam masih terngiang di telinga Rio.


Sebuah keluhan napas berat terhempas. Rio melepaskan tas yang sejak tadi malam bertengger di punggungnya. Ia menghempas tas besar berisi narkoba itu di atas tanah. Sorot mata Rio menatap tas yang diperjuangkannya hingga mengorbankan nyawa Rani dan mungkin juga nyawa Yusri, kakaknya.


“Apa yang harus aku lakukan,” batin Rio.


Tatap mata Rio beralih ke arah seorang nelayan yang sedang asyik mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk menangkap ikan, sebentar lagi. Rio cukup mengenali lelaki tua berumur 50 tahun itu. 4 hari yang lalu Yusri, Rani dan Rio menumpangi perahu milik lelaki setengah abad itu, memasuki semenanjung Malaysia. Rio bergegas memasang langkah menghampiri orang tua itu.


“Selamat sore. Bapak masih ingat saya?” tanya Rio tanpa basa-basi.


Lelaki pertengahan abad itu menatap Rio dari ujung rambut hingga ujung kaki. Terlihat lelaki itu berpikir keras mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan Rio.

__ADS_1


“Nama saya Rio, pak. Adiknya Yusri,” Rio memperkenalkan dirinya, membantu pak tua mendapat ingatan yang mungkin terlupa.


Mendengar Rio menyebut nama Yusri, pak tua mengangkat jari telunjuknya. Terukir seutas senyuman di bibirnya, “oooh… iye, iye… pak cik ingat dah. Ape hal ni, Yusri mane?”


Pak tua itu terjenguk-jenguk melihat sosok Yusri dan istrinya, namun tak jua terlihat. Menurut firasat pak tua itu, pasti ada sesuatu yang tidak beres menimpa Yusri, semua terlihat jelas dari pakaian Rio yang acak-acakan dan juga ada bekas lumpur mengotori pakaiannya.


Walaupun sedikit berbeda bahasa, namun Rio masih bisa mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Sungguh Rio tidak tahu jawaban apa yang seharusnya diberikan pada orang tua itu.


“Gini je… pak cik tak nak tau ape keje korang kat sini. Awak nak ikut ke seberang ke?” tanya orang tua itu, mengakhiri kebingungan yang Rio rasakan.


“Iya pak cik. Saya mau ikut nyebrang,” jawab Rio agak kaku.


“Ha… awak boleh ikut, tapi kalau ade ape-ape di jalan nanti, awak yang kene tanggung jawab, tau… pak cik tak tau ape-ape… macam mane?”


Mendengar persyaratan dari orang tua itu, kepala Rio mengangguk cepat, “iya, iya pak cik saya setuju,” Rio bagaikan mendapat harapan untuk hidup setelah mendengarkan syarat mudah dari sang nelayan tua.


Dari atas perahu kayu, Rio memandang pesisir pantai yang terlihat semakin menjauh. Hatinya lega, kedua tangan Rio memeluk tas ranselnya. Isi tas itu yang akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik.




**Kota Mataram Pulau Lombok Indonesia**




Rio memicingkan mata saat melihat samar-samar sosok seseorang berbadan tinggi besar di ujung lorong kecil dan sempit itu. Langkah kaki Rio yang tadinya lambat kini semakin cepat, tak sabar ingin menyampaikan berita buruk yang telah menimpa Yusri kepada Jafar.



“Kamu mau cari siapa?!” tanya lelaki berbadan tinggi besar itu. Karena Rio masih terhitung sebagai orang baru di dalam dunia mafia, maka tak banyak anggota mafia lain yang mengenalinya.



“Aku mau cari bos,” jawab Rio, singkat.



“Saat ini bos lagi istirahat. Kamu datang besok aja.”



“Bilang pada bos, aku Rio adik Yusri.”


__ADS_1


Mendengar nama Yusri, lelaki berbadan tinggi itu menatap Rio dengan tatapan menyelidik, “tunggu di sini!”



Tak lama menunggu, lelaki itu keluar dari pintu gerbang kecil rumah Jafar. Lelaki itu tidak berbicara sepatah katapun, hanya isyarat kepala yang ia berikan sebagai isyarat mempersilakan Rio masuk menemui Jafar.



Jafar terdiam cukup lama, tubuhnya terhenyak di atas sova, mendengar kabar buruk kematian Yusri. Walaupun Jafar tahu penjara dan kematian secara mengenaskan adalah resiko yang harus diterima oleh setiap penjahat, namun tidak dapat dipungkiri ia merasa kehilangan atas kematian Yusri. Walaupun licik, tapi Yusri sangat bisa dipercayai. Tidak mudah mendapatkan orang yang cerdik dan pemberani seperti Yusri.



“Apakah Yusri nggak ada menitipkan apa-apa?” tanya Jafar, suaranya terdengar serak.



“Saya nggak sempat merebut tas yang Yusri bawa, bos. Saat itu dia sudah dikepung dan langsung ditembak,” wajah Rio tertunduk.



Jafar menarik napas, dalam. Lelaki pertengahan abad itu melangkah masuk ke dalam kamar, namun tak berapa lama ia keluar membawa bungkusan plastik hitam di tangannya, bungkusan itu ia letakkan di meja tepat di hadapan Rio.



Rio menatap bungkusan plastik hitam itu dengan penuh tanda tanya, “apa ini bos?”



Jafar menghempas napas berat, “dulu Yusri pernah menceritakan tentang neneknya padaku. Uang itu tanda penghargaanku pada Yusri. Berikan uang itu pada neneknya, uang itu pasti cukup untuk biaya hidup neneknya Yusri.”



Rio duduk santai di atas kursi empuk di sebuah bangunan kosong yang ia buat sebagai pangkalan rahasianya. Ia menyandarkan punggung, kakinya di naikkan ke atas meja. Imbasan kenangan tentang kelicikannya 5 tahun yang lalu kembali menyapa pikirannya.


Rio sanggup membohongi Yusri, kakak tirinya dan juga Jafar, bosnya, demi kepentingan dirinya sendiri.


Rio teringat akan kata-kata Yusri sewaktu dahulu.



“*Kalau kamu ingin menjadi orang yang disayangi, baik dan berguna bagi masyarakat, maka kamu harus belajar ikhlas. Tapi kalau kamu ingin menjadi orang yang ditakuti dan disegani, maka kamu harus melakukan segala cara demi kepentinganmu sendiri, jangan pernah pikirkan perkara halal atau haram. Jika kamu melakukan kejahatan jangan tanggung-tanggung*.”



Rio mengamalkan kata-kata Yusri waktu dahulu hingga ke saat ini. Kata-kata itulah yang juga sebagai pemicu Rio membohongi Yusri dan Jafar. Bagi Rio, di dunia ini tidak ada yang bisa membantu kecuali uang.


__ADS_1


Seutas senyuman sinis terukir di bibir Rio. Rencananya berjalan dengan lancar. Yusri yang selalu menjadi batu penghalang sejak akhir-akhir ini, telahpun ditangkap polisi. Kini tidak ada lagi yang dapat melindungi Winda. Rio harus segera memaksa gadis itu untuk membuka mulut, memberitahu tempat letak narkoba yang Hendrik sembunyikan sebelum tewas terbunuh.


__ADS_2