
Suara pintu ruangan yang di buka dengan agak kasar mengalihkan perhatian semua tahan yang berada di dalam ruang sel beberapa pasang mata menatap Yos tajam, namun ia tak menghiraukannya.
“aku datang mencarimu sayang,” gumam Yos.
Tanpa membuang waktu Yos berlari cepat mendekati tahanan yang masih terhitung baru masuk semalam kedalam ruang sel itu, mereka masih belum mengetahui kehidupan di balik jeruji besi. Terlihat jelas dari riak wajah mereka rik ketakutan yang kini menghantui. Sebuah tendangan keras kaki kiri Yos mendarat di tengkuk seorang tahan baru itu sehingga membuatnya jatuh tersungkur dan seketika itu juga suasana ricuh terjadi.
4 orang kawan preman yang mengeroyok Yos tadi malam tidak terima melihat seorang kawannya diserang tanpa bicara oleh Yos. Walaupun bukan berstatus keluarga tapi persahabatan yang terjalin sekian lama membuat mereka terasa bagaikan lebih dari sekar saudara. Tanpa menunggu arahan dari siapapun mereka berempat menyerang Yos secara bersamaan, namun yos terlihat begitu cepat mengelak, menepis dan memukul balik satu persatu lawannya dengan mudah.
Melihat keadaan yang sudah huru-hara, seorang petugas yang berjaga sudah mulai terlihat panik, petugas itu terlihat memilah-milih anak konci ingin segera membuka pintu sel, namun AKP Anom melarangnya.
“tahan.! Biakan mereka berkelahi,” seru AKP Anom.
Petugas Tahti itu terlihat bingung dengan perintah yang ia terima dari atasannya sebentar tadi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung dengan perintah dari atasannya, sebentar tadi.
Raut wajah AKP Anom memerhatikan tindakan Yos dengan seksama ia masih merasa ragu, apakah mungkin rencana itu akan berhasil.
Tak berapa lama beradu otot kelima lawannya sudahpun tumbang tak berdaya. Yos memerhatikan satu persatu wajah-wajah preman yang tak pernah liat sewaktu dahul ketika ia masih di bawah perintah Jafar.
“apakah kalian orang baru?” tanya Yos, dengan nada sinis.
Serentak kepala mereka mengangguk, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Yos. Tepat dugaannya, mereka pasti orang-orang yang baru mengenali dunia hitam, kalau tidak mereka takkan seceroboh itu untuk menyerang Yos yang sudah sememangnya terkenal dengan kekejamannya.
“apakah kalian mempunyai keluarga?”
Sekali lagi mereka terlihat mengangguk, lidah mereka sudah tak dapat berkata-kata karena menahan sakit akibat pertarungan sebentar, tadi.
“apakah kalian sayang dengan keluarga kalian?”
”tentu saja kami sayang mereka,” jawab seorang dari mereka berempat.
“kalau kalian benar-benar sayang mereka pada mereka, jawab pertanyaanku dengan jujur. Siapa yang nyuruh kalian menyerang aku?”
Mereka berlima saling bertukar-tukar tatapan, mendengar pertanyaan yang terpacul dari bibir Yos.
*****
Yos termenung terlempar jauh mengimbas masa lalu saat-saat bersama Rio sewaktu adiknya itu masih sekolah, dulu. Andai saja dulu Yos tidak mengizinkan Rio ikut terjun kedalam kancah dunia hitam sudah tentu adiknya itu tidak akan tersesat jalan sampai sejauh ini. Rasa bersalah terhadap Rani, almarhum istrinya yang tewas 5 tahun lalu sudahpun amat besar menghantui hati, kini ditambah lagi dengan rasa bersalahnya terhadap Rio, adiknya.
“kamu kenal dengan Rio yang dimaksud orang itu?” tanya AKP Anom.
__ADS_1
Kedatangan AKP Anom dan Winda memasuki ruang isolasi membuat lamunan di dalam pikiran Yos terbang berkecai, “bukan sekedar kenal, tapi saya sangat mengenali Rio Riadi. Dia itu adik tiri saya.”
Seakan tidak percaya mendengar pengakuan dari Yos, AKP Anom menarik napas dalam, “kalau memang Rio itu adikmu, lalu kenapa dia menyuruh orang untuk melukaimu?”
“entahlah, mungkin dia takut aku mengambil alih posisi kedudukannya,” jawab Yos, acuh.
Suara daun pintu yang diketuk perlahan mengalihkan perhatian mereka bertiga. Seorang lelaki tua dan seorang lelaki muda memasuki ruangan yang mereka gunakan sebagai tempat untuk berdiskusi. Sudut mata Yos mengerling kedua lelaki yang baru saja memasuki ruangan itu, lelaki tua itulah yang tempo hari menyamar menjadi seorang tahanan. Namun sebenarnya Yos sudah mengetahuinya semenjak baru bertemu.
Berbeda dengan Winda, gadis itu terlihat kagum dengan apa yang ia saksikan saat ini. Seorang polisi muda yang mendampingi lelaki tua itu adalah teman sekolah Lukman, sejenak tatap mata mereka berdua bertemu. Sekian lama tak pernah bertatap muka dan kini mereka bertemu di kantor polisi dengan status yang berbeda membuat mereka berdua seakan tidak percaya.
“Win... kamu ngapain di sini?” tanya Herman.
Baru saja Winda akan membuka mulut ingin menjawab pertanyaan Herman, namun perhatiannya teralih pada beberapa lembar poto yang dibawa oleh lelaki tua itu. Lelaki tua itu menyerahkan beberapa lembar poto wajah Rio ke tangan AKP Anom. Perwira polisi itu menatap poto wajah Rio dengan seksama.
“hmm... tampan juga. Sebenarnya saya sudah lama mendengar nama Rio ini, tapi baru kali ini dia akan berhadapan dengan kita,” ketus AKP Anom.
Tatap mata Winda tak lepas dari selembar poto yang berada di tangan AKP Anom, otaknya berputar cepat memikirkan di mana ia pernah bertemu dengan lelaki itu, wajah lelaki yang berada dalam poto itu tak asing lagi dari pandangan matanya.
“apakah ini Rio Riadi?” AKP Anom meletakkan selembar poto itu di atas meja, tepat di hadapan Yos.
Yos hanya diam, ia menatap selembar poto itu lalu kembali membuang pandang ke arah lain, ia terlihat tak berminat membicarakan seorang Rio, tapi berbeda dengan Winda, gadis itu melangkah beberapa tapak mendekati meja, tangannya menggapai selembar poto yang tergeletak di atas meja itu, memerhatikan dengan seksama.
“saya nggak kenal, tapi saya pernah melihatnya... waktu itu dia juga diserang oleh lelaki bertopeng yang ingin membunuh saya itu,” tutur Winda.
Terlihat kepala AKP Anom memanggut-manggut, “bagaimana menurutmu Yos?”
Yos hanya sedikit mengangkat bahunya sebagi isyarat ia tidak tahu, lelaki itu tidak pokus dengan pembicaraan mereka mengenai Rio. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya, namun Yos tidak ingin membicarakannya saat ini.
*****
Rio masih terlihat tenang saat mendengar kabar yang kurang menggembirakan dari dua orang anak buahnya. Menurutnya penjara ataupun mati mengenaskan adalah lumrah bagi siapa saja yang berani menjejakkan kaki ke dalam dunia hitam.
“sekarang apa yang harus kita lakukan, bos?” tanya seorang dari anak buahnya.
Terukir seutas senyum sinis di bibir Rio mendengar pertanyaan bodoh dari seorang anak buahnya, “penjara ataupun mati adalah resiko bagi orang-arang seperti kita ini, jadi kalian jangan terlalu heran... yang bodoh akan masuk penjara... dan kita nggak boleh pokus pada orang yang sudah terlanjur ketangkap.Biarin mereka di sana, toh di sana polisi juga nggak akan biarin mereka kelaparan kok.”
Sebenarnya Rio tak peduli Yos hidup atau mati, yang penting baginya adalah asalkan Yos tidak menjadi batu penghalang dalam rencana yang harus Rio jalankan, “apa kalian yakin Yos juga ditangkap polisi?” tanya Rio meminta kepastian.
“ya kami yakin,” jawab seorang dari anak buah Rio itu.
__ADS_1
“bagus... ini berarti Yos sudah nggak akan bisa melindungi gadis itu lagi. Kalian semua menyebar ke semua penjuru kota dan juga cari di setiap pelosok desa, habisi siapa saja yang berani melindungi gadis itu,” perintah Rio bersemangat.
Sudah sering Rio mendapat tugas yang lebih berat dibanding saat ini, tapi entah kenapa kali ini ia merasa kesulitan. Sungguh Rio tak menyangka, tugas yang ia anggap remeh ternyata membuatnya kesulitan.
*****
Suasana di kota Praya Lombok tenganh tak sepadat dan sesesak kota Mataram. Walaupun hari sudah beranjak mendekati senja, namun suasana jalan raya juga tak terlalu ramai seperti di Kota Mataram.
Dari kejauhan Yos memerhatikan sebuah kendaraan roda empat merangkak perlahan sambil menyalakan lampu isyarat, menandakan si pengemudi akan menghentikan kendaraannya di pinggir jalan. Yos memasang masker menutupi mulut dan hidungnya sebelum menapak menghampiri kendaraan roda 4 yang kini sudah pun terparkir di pinggir jalan.
AKP Anom dan IPU Hasyim keluar dari dalam mobil saat melihat sosok Yos menghampiri kendaraan mereka. AKP Anom terlihat tak sabar mendengar informasi yang akan disampaikan oleh Yos, namun perwira polisi itu juga terlihat keheranan melihat penampilan Yos mengenakan masker sehingga ia sendiri kesulitan mengenali wajah Yos dari kejauhan.
Yos membuka masker yang menutupi separuh wajahnya sebelum ia mulai berbicara, “sekarang ini anak buah Rio berkeliaran di setiap sudut kota dan juga hampir di setiap pelosok desa hanya untuk mencari Winda. Saya nggak mau mereka mengenali wajah saya.”
Penjelasan Yos memecahkan pertanyaan yang bermain di dalam pikiran AKP Anom sebentar tadi, “tenang saja Yos... sekuat apapun usaha mereka mencari Winda, mereka tetap nggak akan menemukan Winda, keselamatan gadis itu sudah terjamin,” jelas AKP Anom dengan penuh rasa percaya diri.
Yos menghela napas panjang mendengar jawaban dari seorang perwira polisi itu, sebenarnya tujuan utamanya menghubungi AKP Anom adalah ingin menyampaikan buah pikirannya yang ia simpan dari kemarin.
“dari kemarin kita terlalu asyik membicarakan Rio... perhatian kita tertumpu sepenuhnya pada Rio, tapi saya yakin, sebenarnya Rio bukanlah tujuan utama kita,” kata Yos.
Mata AKP Anom memelas memandang Yos, ia masih belum mengerti maksud perkataan Yos, “maksud kamu?”
“apakah saat ini kita memburu segerombol preman bayaran... ataukah kita sedang berusaha memecahkan kasus pembunuhan?” Yos tak menjawab pertanyaan AKP Anom, tapi malah mengajukan lagi sebuah pertanyaan yang terdengar cukup sederhana.
AKP Anom menghempas napas kasar, “saya rasa hal itu nggak perlu di pertanyakan lagi, karena kamu sudah tau jawabannya.”
“beberapa hari yang lalu polisi menangkap saya atas dugaan penculikan. Saya diduga menculik Winda. Menurut penjelasan Winda, setelah saya ditangkap dia numpang tinggal di rumah sewa pacarnya, nah sekarang saya mau tanya... siapa yang memasukan berkas laporan penculikan itu?” Yos mengimbas kejdian beberapa hari yang lalu.
“pelapor atas nama Lukman, pacar winda sendiri,” jawab AKP Anom singkat.
“lalu kenapa si Lukman ini nggak memberi keterangan pada pihak polisi setelah dia menemukan Winda...? Saya belum pernah bertemu dengan Lukman, tapi terusterang saya sangat curiga padanya,” tutur Yos menyampaikan teorinya.
IPTU Hasyim yang sedari tadi hanya menjadi pendengar terlihat memanggut-manggut, “masuk akal juga.”
“saya sarankan, komandan agar mencari tau catatan latar belakang Lukman, saya ingin melihatnya,” pinta Yos.
“baik, besok siang kamu datang ke kantor, kita bicarakan semua di sana. IPTU Hasyim segera cari catan latar belakang Lukman,” printah AKP Anom.
Pembicaraan mereka berakhir sampai di situ. Terlihat mereka bertiga pergi meninggalkan tempat itu. Mereka melangkah ke arah yang berlawanan arah, namun akan bertemu kembali besok siang, untuk menyusun rencana selanjutnya.
__ADS_1