RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 24


__ADS_3

Cukup lama Darmayanti duduk diam membatu memperhatikan gerak-gerik beberapa kelompok orang yang tak dikenalinya. Dari tadi ia bisa duduk diam disalah satu sudut gudang tanpa ada seorangpun yang mengetahui keberadaannya. Hingga pada saatnya nasib baik yang tadinya berpihak pada Darmayanti kini berbalik meninggalkannya.


Alangkah terkejutnya darmayanti saat ia menyadari seseorang lelaki berdiri tegak di belakangnya, memerhati setiap gerak-geriknya sedari tadi. Lelaki itu berdiri tegak di sebalik remang biasan cahaya lampu, dengan sorot mata tajam menerkam bagaikan harimau mengintai mangsanya.


Terkejut dengan kehadiran lelaki itu, tanpa sadar Darmayanti mundur beberapa tapak ke belakang hingga tubuhnya tersandar pada dinding bangunan. Perlahan lelaki itu menapak langkah mendekati Darmayanti yang sudah terlihat pucat, putus asa.


“Apakah kamu baik-baik aja?” tanya Yos pada Erni, namun gadis kecil itu hanya diam, tak menjawab.


Walaupun pertanyaan Yos tidak menemukan jawaban, namun gemetar tubuh kecil Erni yang berada dalam dekapannya sudah mampu menjadi jawaban sebuah pertanyaan yang Yos lontarkan sebentar tadi.


Yos menghempas napas berat. Tidak seharusnya gadis kecil seusia Erni ikut terlibat dalam rumitnya dunia hitam.


“Ok Yos, sekarang permintaanmu sudah aku berikan dan sekarang giliranku. Serahkan barang itu, kalau barang yang kamu bawa itu asli dan nggak kurang maka, kalian boleh pergi dengan aman dan selamat,” suara sinis Lukman menarik perhatian Yos.


Yos menjeling wajah Lukman sepintas, setelah menyerahkan tas yang dibawanya ia harus segera meninggalkan tempat itu, tapi cukup sulit untuk Yos melepaskan diri karena anak buah Lukman yang terhitung ramai memenuhi gudang itu. Andai saja tidak ada Erni dan Winda yang menjadi beban, sudah pasti dengan mudah Yos akan bisa melepaskan diri dari kepungan para kelompok mafia itu.


Yos mengerahkan pikirannya memikirkan cara agar bisa keluar dari tempat itu dengan membawa Erni dan Winda dalam keadaan selamat.


Seorang lelaki berwajah dingin menapak masuk dengan langkah terburu-buru menghampiri Lukman, lelaki itu terlihat berbisik-bisik di telinga Lukman.


Yos menggunakan waktu yang sedikit itu untuk berpikir lebih keras lagi, namun di hati kecil Yos merasa bimbang kalau saja Lukman merencanakan sesuatu. Sekali lagi sudut mata Yos menjeling, mencuri pandang ke arah Lukman dan lelaki yang baru saja memasuki ruangan itu, terlihat lelaki itu keluar dan tak lama kemudian lelaki itu masuk lagi, tapi kali ini ia bersama seorang wanita. Tak dapat disembunyikan lagi raut terkejut yang terlihat pada wajah Yos melihat Darmayanti diseret masuk oleh lelaki itu.


“Santai aja, Yos… nggak usah terlalu serius,” kata Lukman yang menyadari perubahan raut wajah Yos.


Bukan hanya Yos yang terkejut dengan kehadiran Darmayanti, Winda juga merasakan hal yang sama, lebih-lebih lagi Erni, gadis kecil itu meronta dari dekapan Yos sebaik ia melihat ibunya, namun Yos mendekap gadis kecil itu dengan erat


“Mama…!!” Erni meronta semaki kuat dalam dekapan Yos.


“Apakah ini bagian dari rencanamu, Yos?!!” tanya Lukman, tegas.


Yos hanya diam tak lekas menjawab, belum lagi terpikirkan jalan keluar yang menghimpit otaknya, kini masalah baru sudahpun menjelma menambah beban di atas pundak Yos.


“Aku nggak pernah merencanakan apapun. Aku cuma ingin menjemput mereka berdua,” Yos menatap Winda dan Erni sebagai isyarat, “dan kamu mendapat barang yang kamu inginkan ini sebagai gantinya… hanya itu, nggak ada rencana apapun,” Yos coba meyakinkan.

__ADS_1


“Sebelum ini mungkin kita belum pernah bertemu, tapi aku sudah tau sifat dan kelicikanmu!” sergah Lukman. Sesaat Lukman saling bertatap mata dengan Rio sebelum ia melanjutkan bicara, “tapi nggak apa-apa, aku tetap akan biarkan kalian pergi. Sebelum kalian pergi, serahkan barang itu,” pinta Lukman.


Yos menyadari tatap mata Lukman dan Rio, sebentar tadi. Tatap mata yang memiliki makna, namun sulit untuk ditafsirkan, “tujuanku datang memang untuk menyerahkan barang ini sekaligus membawa mereka pulang,” Yos melemparkan tas yang sedari tadi ia bawa ke atas lantai.


Selayaknya seorang ketua, Lukman enggan bergerak sendiri. Ia memberikan isyarat agar anak buahnya memeriksa isi tas yang sudahpun tergeletak jarak beberapa meter di hadapannya.


Tanpa berlengah lagi, seorang anak buah Lukman berjalan dengan langkah sigap menghampiri tas yang tadinya dicampakkan oleh Yos. Terlihat lelaki itu meraba-raba isi tas kemudian mengacungkan jempol ke arah Lukman.


Lukman memanggut-manggut, terukir seutas senyum puas di bibirnya. Walaupun Yos sudah memenuhi segala keinginannya, tapi Lukman harus melenyapkan Winda dan Erni, karena mereka berdua adalah saksi dari kasus pembunuhan yang telah Lukman lakukan.


“Lepaskan wanita itu.!” perintah Lukman.


Seorang anak buah Lukman melepaskan Darmayanti. Darmayanti menatap wajah-wajah berandal yang kini berada di hadapannya, satu persatu sebelum ia berlalu pergi dari hadapan mereka.


“Pergilah, sebelum aku berubah pikiran!” suara Lukman terdengar tajam mengancam.


Rasa ngeri menyapa hati Darmayanti mendengar suara Lukman, ibu muda itu bergegas dari hadapan Lukman. Jika putri tercintanya sudah selamat, untuk apalagi melayani gerombolan mafia.


“Mama…” Erni meronta di pangkuan Yos, berpindah ke pelukan ibunya.


“Erni nggak apa-apa, mama… tapi Erni takut, Erni pingin pulang,” Erni merengek ingin segera pergi dari tempat itu.


“Ya sudah, sudah… kalian cepat pergi dari tempat ini, mumpung aku lagi berbaik hati,” suara Lukman menyadarkan Darmayanti bahwa saat ini ia berada di tempat yang tidak seharusnya.


“Ayo kita pergi dari sini,” suara Yos seakan berbisik, tapi cukup jelas terdengar di telinga darmayanti, Erni dan juga Winda.


Sebaik Yos, Darmayanti, Erni dan Winda membalikkan badan, memasang langkah ingin beranjak meninggalkan tempat yang cukup berbahaya itu, Lukman dan Rio mulai saling bertatap mata, tatap mata yang memiliki arti, namun hanya mereka berdua yang mengerti makna dari sorot mata yang seakan berbicara.


Terlihat Rio meraba-raba jaket tebal yang ia kenakan, mengeluarkan sepucuk pistol lengkap dengan peredam suara. Senjata api itu ia serahkan pada seorang lelaki berbadan gempal yang sedari tadi berdiri tegak di sampingnya. tanpa bicara sepatah katapun, Rio berbalik ingin meninggalkan tempat itu karena tidak sanggup melihat Yos tewas mengenaskan di hadapannya. Walaupun terhitung dalam golongan penjahat yang tidak mempunyai belas kasihan, tapi walau bagaimanapun Yos tetap saudaranya yang pernah menyumbang jasa sewaktu Rio masih kecil, dulu.


Tangan seorang anak buah Lukman mulai mengangkat sepucuk pistol yang tadinya diberikan oleh Rio, mulai membidik ke arah sasaran, wajah lelaki itu bagaikan seseorang yang tidak memiliki hati.


Sesaat bayangan masa-masa kecil bersama Yos sewaktu bermain hujan-hujanan di tengah sawah, melintas di alam pikiran Rio. Tidak dapat dipungkiri lagi naluri persaudaraan masih tebal bergumpal di dalam hati Rio, namun kepentingan pribadinya telah membutakan segalanya.

__ADS_1


“Selamat tinggal, bang,” gumam Rio sambil berjalan menapak langkah ingin keluar dari dalam gudang melalui pintu belakang.


Spontan Yos membalikkan badan saat ia mendengar suara seseorang terjatuh di belakangnya. Yos sedikit tersentak saat ia melihat sosok tubuh tergeletak tak bernyawa di atas lantai. Dengan gerakan replek Yos diikuti Darmayanti, Yeni dan Winda mencari tempat untuk berlindung karena suasana sudah berubah panik.


Lelaki yang tadinya ditugaskan untuk menembak Yos, tergeletak di atas lantai, tubuh itu sudah tak bernyawa. Terlihat bekas hantaman peluru di dahinya.


“Siapa yang melepaskan tembakan?” itulah pertanyaan yang bermain di dalam pikiran Yos.


Bukan hanya Yos, malah semua orang yang yang berada di dalam gudang itu memendam pertanyaan yang sama, namun menyelamatkan diri lebih penting dari sekedar sebuah tanda tanya, mereka semua mendongakkan kepala meninjau-ninjau dari mana datang arah peluru yang baru saja membuat seorang anggota mereka merenggang nyawa


*****


Sebutir peluru yang dimuntahkan dari senjata api laras panjang milik AKP Anom, mendarat tepat menerobos kepala targetnya hingga sasaran jatuh terkulai tak bernyawa lagi.


AKP Anom memecah anggotanya menjadi 3 kelompok. Masing-masing kelompok dilengkapi dengan senjata api laras panjang berkaliber tinggi. Ketiga-tiga tim bersembunyi di atas atap bangunan bersebelahan dengan gudang yang digunakan Lukman sebagai markasnya.


“Jangan lepaskan tembakan kecuali terpaksa,” bisik AKP Anom pada microfhon kecil yang terletak di samping pipinya.


Keadaan di dalam gudang yang cukup besar itu sudah mulai tak terkawal, namun semua tim yang dipimpin oleh AKP Anom kembali mengambil posisi. Dari sebalik tempat persebunyiannya mereka kembali membidikkan senjata ke arah target.


 


Merasa ditipu membuat api kemarahan dalam dada Lukman bagaikan meluap-luap, namun api kemarahan itu hanya membakar dirinya sendiri, karena tidak bisa melepaskan amarah itu kepada Yos.


“Yos..! aku tau kamu masih di sini, keluarlah… barangkali aku masih bisa maafin kamu..!” teriak Lukman.


Banyaknya tong drum dan juga barang-barang tak terpakai yang berada di dalam gudang membuat Lukman kesulitan untuk menemukan Yos yang kini bersembunyi entah di mana. Tapi Lukman yakin bahwa Yos masih berada di sekitaran tempat itu.


“Cari dan temukan mereka, cepat.!!!” teriak Lukman pada anak buahnya.


Mendengar perintah langsung dari sang ketua, semua anggota mafia itu langsung bergerak meninjau-ninjau setiap sudut bangunan, mencari Yos. Rata-rata di antara mereka terlihat bergerak dengan sangat berhati-hati, karena mereka sudah tahu, Yos bukanlah sembarangan orang yang bisa menyerah dengan begitu saja.


Dari jauh seorang anggota mafia itu melihat sebuah ujung sepatu yang berukuran kecil, ia sangat yakin, itu adalah kaki anak kecil yang bersembunyi di balik sebuah tong drum itu. Lelaki itu mendekati tong drum dengan moncong pistol teracung ke depan yang siap memuntahkan peluru buta.

__ADS_1


Aliran darah terasa beredar semakin laju, membuat jantung berdetak semakin kencang. Darmayanti, Erni dan Winda merasakan hal yang sama, ketakutan yang teramat sangat. Keberadaan Yos di samping mereka tidak mengurangi rasa takut mereka saat mereka bertiga melihat seorang lelaki memegang senjata api mulai mendekati tempat persembunyian yang mereka diami saat ini.


__ADS_2