RESIDIVIS

RESIDIVIS
BAB 12


__ADS_3

Cuaca mendung di sore hari semendung hati Darmayanti. Ibu muda dari seorang anak itu terlihat memeluk erat tubuh putri kecilnya, menahan tangis mengiringi kepergian sang suami tercinta.


Acara pemakaman jenazah Naufal berjalan sederhana di sebuah tapak perkuburan Islam Lombok Barat. Hanya beberapa orang para hadirin dan seorang tokoh agama saja yang ikut mengantar jenazah Naufal, menemui sang pencipta.


Sambil mengaminkan do’a yang dibacakan oleh pemuka agama, seseorang berbadan tegap mengenakan jaket hitam, menjeling mengawasi Yos yang baru saja sampai menghadiri acara pemakaman itu.


Dari jauh lelaki berbadan tegap itu mengawasi setiap pergerakan Yos, sesekali lelaki itu terlihat mengetik-ngetik pesan ringkas di layar handphonenya.


Yos mengambil tempat duduk paling pojok, di atas rerumputan, ia menundukkan wajah, tangannya menengadah mengaminkan do’a yang masih dibacakan. Sesekali anak mata Yos menjeling sosok seorang wanita muda memeluk seorang gadis kecil di pangkuannya. Mata gadis itu terlihat sembab, mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan air mata mengiringi kedukaan yang kini sedang melanda hatinya.


Ditinggal pergi oleh orang yang disayang memang bukanlah sesuatu pilihan, namun bagaimanapun, manusia tidak akan pernah bisa melawan kehendak yang maha kuasa.


Yos kembali menundukkan kepala, bibirnya terlihat berkomat-kamit menyumbangkan surah Alfatihah untuk almarhum Naufal.


“Pak Yusri Hidayat?”


Yos mengangkat wajahnya ketika terdengar seseorang memanggil sepotong nama lamanya yang ingin ia lupakan. 4 orang lelaki berbadan tegap berdiri di hadapan Yos menggenggam selembar kertas.


“Ya…” jawab Yos, ragu.


Seorang dari lelaki itu menunjukkan lencana kepolisian pada Yos, “kami membawa surat perintah penangkapan. Bapak ditahan atas dugaan penculikan,” anggota polisi berpangkat perwira itu beralih pada bawahannya, “AIPTU, borgol dia!”


Berbagai macam andaian dan pertanyaan di dalam benak Yos, namun ia hanya diam, menyerahkan kedua tangannya ketika seorang anggota polisi berpangkat AIPTU memborgol tangannya. Ia tak menghiraukan beberapa pasang mata yang berada di tempat itu menatapnya, heran. Apapun permasalahannya, akan menjadi jelas sebentar lagi di kantor polisi.


Dari jauh sorot mata Dony menatap Yos dibawa masuk ke dalam kendaraan roda 4 oleh 4 orang anggota polisi.


Raut wajah Dony terlihat kebingungan, tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Siapakah yang menjadi penghianat, apa mungkin Yos yang membunuh Naufal? Jika memang Yos yang melakukannya, apakah tujuan yang sebenarnya.


Sebelumnya Dony sangat mempercayai Yos, tapi kini, hatinya sudah mulai berbelah bagi.


Dony memaksa otaknya berpikir keras, ingin tahu siapakah pembunuh bosnya yang sebenarnya.


*****


Wajah Yadi menunjukkan ekspresi heran melihat pengunjung yang datang menjenguknya. Dari kemarin, entah sudah berapa kali Yadi coba menghubungi Rio, ada perkara yang ingin dibicarakan. Namun orang yang diharapkan tidak kunjung datang, malah Dony yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya kini datang menjenguk.


“Mimpi apa aku semalam, kedatangan tamu terhormat, orang kanan Naufal,” kata Yadi dengan nada suara mengejek.


Dony tidak menanggapi perkataan Yadi. Maksud kedatangan Dony bukan untuk saling mengejek, akan tetapi ada perkara yang lebih penting dibanding harus saling menyakiti perasaan.


“Boleh bicara sebentar?” tanya Dony, serius.


Melihat riak wajah serius Dony, Yadi menatap lelaki itu lama, sebelum Yadi memberi isyarat agar Dony masuk ke ruang kunjungan rumah tahanan.


“Aku nggak habis pikir, kamu akan bertindak sejauh ini,” setelah agak lama terdiam, Dony mulai membuka bicara.

__ADS_1


Yadi menatap Dony sepintas, sebenarnya ia tidak berminat membahas tentang persengketaan dengan Naufal, “kalian pantas mendapatkannya. Kalian sendiri yang memulai.”


“Jadi benar dugaanku?!” tanya Dony, seakan tidak percaya.


“Maksud kamu?” Yadi menghempas napas, kesal, “ah… sudahlah, lebih baik kamu pergi dan kerjakan apa yang semestinya kamu kerjakan, sebelum Naufal memecatmu.”


Terlihat beberapa garis kerutan di dahi Dony, mendengar perkataan Yadi. Tergelitik di hatinya ingin bertanya, “apakah kamu nggak tau?”


Yadi menadahkan kedua belah telapak tangan dan mengerakkan bahunya, “aku nggak tau dan juga nggak berminat untuk mengetahui urusan kalian. Oh ya, titip salam buat Naufal, katakan padanya, kembaliin barang aku dan anak buahku nggak akan ganggu kalian lagi.”


Yadi bangkit dari duduknya ingin beranjak dari ruang kunjungan, namun ia kembali ke posisi duduknya saat tangan Dony menggapai lengannya, ia menatap Dony dengan seribu tanda tanya.


“Naufal udah nggak ada. 2 hari yang lalu dia tewas terbunuh. Inilah yang ingin aku bicarakan denganmu,” tutur Dony, separuh berbisik.


Yadi Seakan tidak percaya dengan kabar yang baru saja didengar. Jika memang Naufal sudah mati, seharusnya Rio-lah yang menyampaikan kabar tentang tewasnya Naufal, bukan Dony.


“Naufal tewas??” gumam Yadi, seakan tidak percaya.


“Ya. Malam itu, Rio dan pengikutnya datang menemuiku, nanyain Naufal. Mereka mengobrak-abrik arena judi di tempatku. Mereka nggak menemukan Naufal di tempat itu dan…” Dony terdiam sesaat, “dan paginya Naufal tewas terbunuh.”


“Memang benar. Malam itu aku yang nyuruh Rio mencari Naufal, tapi tujuannya hanya untuk nanyain barang milikku yang kalian rampas... bukan untuk membunuh Naufal,” ungkap Yadi, serius.


Cukup lama mereka berdua terdiam, masing-masing terbawa arus lamunan imbasan kejadian-kejadian beberapa hari yang lalu, “semenjak Jafar pergi, memang kita terlalu sering berselisih, tapi nggak pernah terlintas dalam pikiranku untuk membunuh Naufal,” Yadi kembali bersuara setelah agak lama terdiam.


“Terus terang, Naufal berencana untuk merampas barangmu itu. Aku membayar Yos untuk menjalankan rencana Naufal, tapi Yos nggak sempat melakukannya, ada orang lain yang mendahuluinya,” papar Dony, apa adanya.


“Ya,” singkat Dony.


“Siapa lagi anak buahmu yang tau rencana itu?” Yadi semakin ingin tahu.


“Nggak ada. Hanya kami bertiga yang tau.”


Yadi kembali terdiam membayangkan sosok-sosok orang yang pantas dicurigai. Yadi mengerahkan semua kemampuan berpikirnya.


“Aku yakin pasti ada penghianat... entah mungkin itu Yos. Tapi bisa jadi penghianat itu dari kalangan anak buahmu sendiri,” tukas Dony.


“Aku setuju dengan pendapatmu, tapi aku yakin penghianat itu adalah Yos. Sebenarnya dari dulu, sejak almarhum Jafar masih hidup, aku sudah sering mendengar nama Yusri yang sangat licik, namun beberapa minggu yang lalu aku dapat bertatap muka langsung dengannya. Dia nggak peduli apa dan juga siapa, dia siap bekerja pada siapapun yang membayarnya dengan bayaran yang lebih tinggi. Bermain dengannya berarti berani bermain api,” tutur Yadi, jari-jari tangan Yadi meraba pahanya bekas pisau yang ditusuk oleh Yos.


Tatapan mereka berdua bertaut. Otak mereka berputar memikirkan langkah yang harus diambil.


Walaupun Yadi dan Dony mengira Yos sebagai penyebab perselisihan yang kini terjadi, tapi semua sudah terlanjur, yang ada dalam pikiran mereka berdua kini adalah bagaimana cara untuk membalas semua perbuatan Yos.


“Tinggal berapa orang anak buahmu yang masih tersisa?” tanya Yadi setelah agak lama terdiam.


“Tinggal 10 orang. Sebagian besar anak buahku sudah di tangkap polisi,” tutur Dony.

__ADS_1


Yadi kembali terdiam beberapa saat, terlihat ia berpikir keras, “kumpulkan mereka semua. Nanti aku akan kirim orang-orangku untuk membantumu. Kita kubur Yos hidup-hidup.”


*****


Dari balik kaca ruangan, tajam tatap mata AKP Anom memerhati tingkah laku Yos yang sengaja dibiarkan sendirian di dalam ruang isolasi.


Tak lama kemudian AKP Anom membuka pintu ruangan. Lelaki paruh baya itu duduk di atas kursi kayu berhadapan dengan Yos.


“Rokok,” AKP Anom meletakkan sebungkus rokok dan sebuah korek api di atas meja, tepat di hadapan Yos.


Yos tak menanggapi tawaran rokok dari AKP Anom, tatap mata Yos lurus enggan untuk berkata-kata. Sebenarnya ia masih belum mengerti mengapa ia dibawa ke kantor polisi.


“Saya mau bertanya, cukup kamu jawab iya atau tidak,” AKP Anom mulai berbicara, kedua tapak tangannya dirapatkan di atas meja, badannya sedikit membungkuk, menampakkan lelaki itu sudah mulai serius.


“Kamu tau, kenapa anggota saya membawa kamu ke sini?” tanya AKP Anom.


“Nggak,” jawab Yos, singkat.


Dengan agak kasar AKP Anom menghempas beberapa lembar photo wajah Winda di atas meja, “kamu kenal gadis ini?”


Sudut maya Yos menjeling, mencuri pandang ke arah photo yang dimaksud AKP Anom, “ya, saya kenal.”


Riak wajah Yos masih terlihat acuh, tak berminat dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh AKP Anom.


“Beberapa hari yang lalu kami menerima laporan bahwa gadis ini diculik. Dan menurut informasi dari inteligen kami... kamu pernah dilihat bersama gadis ini. Kalau kamu mengaku secara jujur saya akan bantu kamu di pengadilan nanti, supaya hukuman kamu diringankan.”


“Hup… ha… ha… pengadilan yang mana, bapak bicara apa ini, saya nggak ngerti? Gadis itu sendiri yang datang pada saya, meminta perlindungan,” tawa Yos meledak mendengar gertakkan AKP Anom. Sudah terlalu sering Yos mendengarkan gertakan-gertakan sejak pertama Kali berhadapan dengan polisi. Gertakkan AKP Anom membuatnya tidak dapat menahan tawa, hatinya terasa geli.


“gbrak.!!”


Tawa Yos sebentar tadi mengundang emosi di hati AKP Anom. Merasa diremehkan membuat perwira polisi itu tanpa sadar menggebrak meja, melepaskan amarah.


AKP Anom mendekatkan wajahnya ke wajah Yos, jarak beberapa inci, “semua data-data rekor kejahatan yang kamu sudah perbuat di dalam maupun di luar negeri sudah berada dalam kantongku! Jadi nggak mungkin gadis itu datang menemui kamu meminta perlindungan dari seorang penjahat kayak kamu, lagian perlindungan semacam apa yang kamu bisa berikan, huh?!” suara AKP Anom pelan, tapi sengaja ditekan.


“Kalaupun benar saya yang menculik gadis itu, apakah bapak mempunyai bukti?” Yos meniru gaya lawan bicaranya.


AKP Anom kembali menjauhkan wajahnya dari wajah Yos, sorot matanya masih menatap lelaki bergelar residivis itu. Dalam diam perwira polisi itu merasa kagum dengan riak tenang wajah Yos.


AKP Anom menyalakan sebatang rokok, kepalanya memanggut-manggut pelan, lelaki paruh baya itu menghembuskan asap rokoknya ke wajah Yos. Pikiran AKP Anom kacau mengingat anggotanya belum mempunyai bukti yang kuat untuk menjebloskan Yos ke dalam penjara.


AKP Anom bangkit dari duduknya, ingin beranjak pergi dari hadapan Yos, “baiklah, akan ku cari bukti secepatnya. Aku juga nggak sabar ingin ngeliat kamu masuk penjara.!”


Usai mengakhiri kata-katanya, perwira polisi itu melangkah keluar meninggalkan ruangan. Saat ini AKP Anom berpikir cara mendapatkan barang bukti yang kuat. Tadi pagi, AKP Anom mengerahkan anggotanya untuk menggeledah rumah kontrak Yos, mencari Winda ataupun apa saja yang bisa dijadikan bahan bukti, namun hampa. Tidak ada apapun yang didapatkan di rumah kontrakan itu.


“Paling bagus bapak menemukan gadis itu dan tanya langsung padanya, siapa yang menculiknya!!”

__ADS_1


Dari pintu ruangan, AKP Anom mendengar suara Yos separuh berteriak bagaikan mengejek, namun AKP Anom tidak menghiraukannya ia melangkah meninggalkan Yos dengan hati yang membengkak, jengkel.


__ADS_2