
Malam semakin pekat, menandakan usianya beranjak semakin tua. AKP Anom mendongakkan kepala melihat langit yang terbentang dihiasi bintang bertaburan menghiasi angkasa lepas. Memandang indah fenomena alam sedikit melepaskan tekanan beban tugas yang berat membebani. Sudut mata perwira polisi itu sedikit mengerling ke arah kiri saat sosok bayang salah seorang anggotanya terlihat menghampiri.
“Ada telpon untuk bapak.”
AKP Anom menyambut uluran handphon dari tangan anggotanya itu, perwira polisi itu terlihat bercakap-cakap dengan lawan bicaranya di ujung talian.
“Semua kembali pada posisi masing-masing. Tim bantuan sudah sampai di lokasi, tapi saya perintahkan mereka bergerak dengan hati-hati,” ujar AKP Anom.
Dengan jumlah pasukan tim bantuan yang kini sudahpun berada di lokasi, bisa saja AKP Anom meringkus gerombolan mafia itu, namun pihaknya harus bergerak dengan sangat berhati-hati, karena bukan hanya sekedar menangkap gerombolan mafia, tapi yang terpenting saat ini adalah menyelamatkan nyawa sandra terlebih dahulu, itu adalah tugas yang terpenting. Jika saja tim dari pihak kepolisian lalai sedikit saja, maka nyawa Winda, Darmayanti dan juga Erni akan sangat terancam.
Segaris rasa hampa menggumpal di hati Yos saat melihat Winda, Darmayanti dan Erni dibawa masuk kembali ke dalam bangunan. Ingin saja Yos menerjang ke tengah-tengah kelompok mafia itu, namun disaat seperti ini ia harus berpikir dengan jernih agar situasi tidak menjadi semakin keruh. Beberapa kali Yos menarik napas, mencoba menenangkan dirinya yang sudah mulai terbawa emosi. Yos mulai melangkah perlahan dari sebalik bayang pepohonan yang sudah sekian lama terpacak di halaman bangunan. Dengan kemampuan yang sudah cukup lama ia tidak pernah gunakan lagi, kini Yos coba menyelinap masuk ke dalam gudang. Kondisi gudang yang dipenuhi oleh tong drum dan juga barang-barang rongsokan memudahkan Yos untuk bergerak dengan cepat tanpa terlihat.
“Siapa yang ingin mati duluan!!” teriak Lukman saat melihat sekelompok anak buahnya menarik kasar tangan Winda dan Darmayanti, masuk ke dalam bangunan.
Seraut wajah Lukman yang biasanya senantiasa dihiasi senyum kini berubah garang. Sedikitpun tiada senyum yang menghiasi wajah lelaki itu, wajahnya terlihat tegang.
“kamu, kamu dan kamu,” Lukman menunjuk tiga orang anak buahnya, “Periksa setiap sudut bangunan ini dan jangan kembali tampa membawa penyusup yang melepaskan tembakan tadi itu!!” teriak Lukman lagi, mengeluarkan perintah pada tiga orang anak buahnya.
Pekerjaan yang tadinya ia anggap remeh dan di sepelekannya kini berubah menjadi rumit. Lukman tahu bahwa saat ini ada orang yang sedang mengintai pergerakannya, namun ia masih merasa aman selagi tiga orang sandera masih berada dalam kawalannya. Walau bagaimanapun posisinya kini benar-benar terancam, belum lagi terpikirkan Yos yang sudah terlepas, lelaki bernama Yos itu tidak akan pergi begitu saja, ia tahu Yos masih berada di sekitar bangunan. Saat ini pikiran Lukman benar-benar runsing.
“Aku tau kamu di sini… kalau kamu benar-benar jantan keluarlah, Yos. Selamatkan mereka ini, jangan jadi pengecut!!” teriak Lukman.
Rio yang sedari tadi hanya diam, kini berjalan menghampiri Darmayanti, dengan paksa lelaki itu merebut Yeni dari pelukan sang ibu. Rio ingin segera menyelesaikan urusan itu.
“Mama… mama…!!” Yeni meronta sekuat tenaga, namun tidak ada gunanya.
__ADS_1
“Lepaskan putriku, dia masih belum mengerti-apa!” sekuat tenaga, Darmayanti menyentap tangannya dari genggaman seorang anak buah Lukman, hingga tangannya terlepas.
Kakinya seakan bergerak sendiri melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Darmayanti berlari kencang mengikuti langkah Rio yang sudah berada jarak beberapa meter di depannya, ingin kembali merebut putrinya. Namun, Lukman menahannya, lelaki itu menggapai tangan Darmayanti dan sebuah tamparan keras singgah di pipi wanita itu.
Kerasnya tamparan tangan Lukman membuatnya jatuh tersungkur, namun Darmayanti belum menyerah. Naluri seorang ibu tidak akan membiarkan siapapun mengganggu anaknya, rasa takut yang sedari tadi menjadi penghuni hatinya kini hilang entah ke mana, melihat putrinya dibawa pergi oleh seorang penjahat.
Perlahan-lahan Darmayanti mencoba untuk bangkit berdiri, ia sudah tidak menghiraukan keselamatan dirinya sendiri.
Tajam tatap mata Lukman menatap Darmayanti yang belum bisa berdiri dengan sempurna. Dengan langkah santai, Lukman mendekati Darmayanti. Lukman mengeluarkan sebilah pisau kecil yang ia selalu selipkan di pinggangnya.
“Hadapkan wajah anak itu kesini, biar dia lihat kematian ibunya!” perintah Lukman pada Rio.
Lukman mencengkram pergelangan tangan Darmayanti supaya berdiri dengan sempurna. Pisau di dalam genggaman diayun tinggi.
Cukup lama Darmayanti menutup mata, namun ajal yang ia tunggu tak kunjung tiba, sampai satu suara gebrakan memaksanya untuk membuka mata.
Tepat pada waktunya. Yos datang tepat waktunya, lelaki itu terjun melompat dan berpaut pada seutas tali bagaikan tarzan dalam serial tv hollywood. Tendangan kaki Yos tepat terkena pada dada Lukman, membuat Lukman terpelanting cukup jauh.
Sesaat semua orang yang berada di tempat itu diam terperangah, melihat kehadiran Yos yang entah dari mana datangnya.
“Hai, yo… maaf semua. Aku datang terlambat,” Yos mengangkat telapak tangan sejajar alisnya selayaknya pasukan tentara yang sedang hormat pada komandannya.
Tergelitik rasa heran di hati Winda melihat sifat nyeleneh Yos. Disaat-saat genting seperti saat ini masih saja lelaki itu memiliki selera untuk bercanda. Bukan hanya Winda, semua anggota mafia yang belum mengenali Yos juga merasa heran, namun dari gaya bicaranya mereka tahu, Yos bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
Yos sedikit mengerling ke arah Darmayanti yang masih terduduk di atas lantai, ia seakan-akan tak peduli dengan wanita itu. Yos melangkah perlahan-lahan di tengah kerumunan kelompok mafia yang dipimpin oleh Lukman.
“aku tau kamu hebat Yos, tapi sekarang kehebatan itu sudah nggak ada gunanya. Lebih baik kamu nyerah aja, jika tidak….. bocah itu akan mati di hadapanmu,” gertak Lukman yang baru saja bangkit berdiri.
“Menyerah… hmm.. ya, ya, ya,” Yos memanggut sambil jarinya menggaruk pelan dagunya yang tidak gatal, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu, “yah, rencanaku juga begitu. Aku datang ke sini untuk menyerah. Lihatlah’ aku datang tak membawa snjata apapun. aku sudah ada di hadapan kalian, nah sekarang lepaskan mereka bertiga,” pinta Yos, santai.
Percaya dengan omongan Yos, Lukman menapak mendekati dengan sebilah pisau kecil di tangannya. Lukman meraba pipinya beka goresan pisaunya sendiri sewaktu ia bertarung dengan Yos beberapa waktu yang lalu dan sekaranglah saatnya ia akan membalas perbuatan Yos itu.
“Kamu tau ini bekas apa, Yos?” tanya Lukman menunjukkan bekas goresan Luka di pipinya.
“Mungkin aku terlalu sibuk, jadi nggak sempat liat berita di tv, jadi aku nggak tau bekas apaan di pipimu itu,” Yos masih tetap nyeleneh, membuat hati Lukman makin panas mendidih.
Lukman menghentikan langkah tepat di belakang Yos, ia menempelkan punggung pisau itu di pipi Yos. Sebelum ia menyayat wajah Yos Lukman ingin bermain-main terlebih dahulu.
“Aku akan tunjukan padamu sedikit rasa sakit,” bisik Lukman di telinga Yos.
“Waw, benarkah?” jawab Yos.
Selesai menjawab kata-kata ancaman Lukman, Yos melakukan satu gerakan cepat. Ia menggenggam erat tangan Lukman yang menggenggam gagang pisau, dengan gerakan yang sangat cepat, Yos merentangkan lengan kirinya pada lengan bawah tangan Lukman, gerakan itu membuat Yos berubah posisi ke belakang Lukman sekaligus runcingnya ujung pisau berbalik arah, tepat leher Lukman.
Melihat tindakan tak terduga yang dilakukan oleh Yos, membuat semua anggota mafia itu menjadi berubah siaga, siap menyerang Yos kapan saja. Namun mereka semua tidak dapat berbuat apa-apa, sedikit saja Yos menekan genggaman tangan Lukman, maka sebilah pisau yang berada dalam genggaman Lukman akan menembus batang lehernya sendiri. Kini pimpinan mereka menjadi tawanan Yos.
__ADS_1
Tak terlihat riak panik pada wajah Rio, dengan gaya santai ia mengeluarkan sepucuk senjata api andalannya, laras pistol teracung lurus pada Yos, sekali petik saja maka sebutir peluru buta siap akan menembus kepala Yos, saudaranya sendiri.