Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Kehilangan Memang Sakit


__ADS_3

Kehilangan memang sakit. Terlebih untuk sesuatu yang tidak akan tergantikan oleh apa pun.


---


Hari ini Rana shift dua. Baru juga tiba di toko, ia sudah menerima laporan bahwa Helen tidak masuk. Padahal seharusnya ia shift pagi. Rana mendesah pelan. Ia sudah tahu masalah yang sedang dihadapi rekan kerjanya itu, tapi bingung bagaimana cara menolongnya. Rana takut salah bertindak yang ujung-ujungnya akan membahayakan dirinya sendiri.


Rana ke belakang untuk bersiap-siap dan mencoba menghubungi Helen. Gadis berhijab biru langit itu menunggu dengan sabar, tapi teleponnya tidak diangkat. Rana meletakkan ponselnya, lalu merapikan penampilannya di depan cermin. Mengingat Helen tidak masuk, beberapa pekerjaan pasti terbengkalai. Ia harus segera mengambil alih sebelum semakin menumpuk dan bikin pusing.


Sebelum keluar, Rana ingin mencoba menghubungi Helen sekali lagi. Tapi saat akan mengetuk nomor Helen di layar, panggilan Helen malah masuk menggetarkan ponselnya. Rana buru-buru mengangkatnya.


"Halo, Hel ...."


Helen langsung terisak di seberang sana. Sekadar membalas sapaan Rana pun tidak sanggup. Selama sekian detik begitu saja. Rana sabar menunggu sampai Helen tenang.


"Aku kabur, Ran." Usai mengucapkan kalimat itu dengan susah payah, Helen kembali terisak.


"Kabur?" Rana jadi sangat khawatir.


"Sekarang aku udah di jalan menuju Toraja. Ayah semakin menjadi-jadi, ia nyaris memperkosaku, Ran."


"Astagfirullah ...." Rana membekap mulutnya. Air matanya menetes begitu saja.


"Tolong sampaikan permintaan maafku ke Pak Bian, aku keluar dengan cara seperti ini. Padahal beliau sudah berbaik hati mempekerjakanku selama ini."


"Nanti pasti aku sampaikan. Kamu tidak usah khawatir soal itu, Pak Bian pasti ngerti."


"Aku juga mau minta maaf sama kamu, selama ini sering ngerepotin."


"Nggak, kok. Aku senang bisa kenal sama kamu. Lebih baik sekarang kamu tenangin diri dan fokus sama apa yang akan kamu jalani selanjutnya. Soal keputusanmu meninggalkan ayah tirimu itu, udah tepat banget, kok. Masih bangus nggak dilaporin ke polisi," gerutu Rana saking jengkelnya.


"Ya udah, nanti aku kabari lagi. Makasih, ya, Ran."


"Iya, sama-sama."


Sambungan telepon terputus. Beberapa jenak Rana masih mematung di posisi semula. Ia sangat prihatin dengan kemalangan Helen.


"Kok, mukanya tegang gitu, ada apa?" Suara Bian membuyarkan lamunan Rana.


"Eh, Bapak." Rana bangkit dari duduknya.


"Ada apa?" tanya Bian sekali lagi sambil memperhatikan mimik wajah Rana yang tampak aneh.

__ADS_1


"Barusan Helen nelpon, Pak. Dia kabur dari ayah tirinya. Sekarang dia sedang di jalan menuju Toraja. Artinya, mulai hari ini dia tidak bisa lagi kerja di sini. Tadi dia nitip permintaan maaf ke Bapak."


Bian langsung memijit pelipisnya. Artinya, ia harus segera merekrut pegawai baru agar operasional toko tetap berjalan lancar seperti biasanya. Masalahnya, menemukan orang yang tepat bukan perkara mudah.


Rana melirik paper bag yang ditenteng Bian di tangan kanan. Di salah satu sisinya terdapat logo brand pakaian pria ternama. Sepertinya Pak Bos akan ada acara penting, dan ia baru saja belanja pakaian, begitu pemikiran Rana. Detik selanjutnya Rana menggeleng samar. Demi apa sampai ia mengira-ngira segala?


"Memangnya dia ada masalah apa?" tanya Bian setelah menghela napas panjang.


Maka mengalirlah cerita Rana sejak ia curiga Helen menyembunyikan sesuatu, juga soal keinginan sahabatnya itu mengenakan hijab.


Bian shock, tidak menyangka sepelik itu masalah yang dihadapi Helen. "Ya sudah, aku akan segera menemukan penggantinya," katanya sambil tampak menimbang-nimbang sesuatu. "Untuk sementara tolong kamu urus semuanya. Nanti aku kasih bonus di akhir bulan."


"Baik, Pak."


Teringat sesuatu yang ditentengnya, Bian segera masuk ke ruangannya. Ia masih tidak habis pikir benar-benar akan mengubah penampilannya sesuai saran Bara. Entah seperti apa respons pegawainya nanti.


***


Bara sedang menyendiri di taman kampus. Di pangkuannya laptop menyala sedari tadi. Kalau sudah luang, dan terkadang malas langsung pulang, ia memang senang menyepi di sini. Tempat ini cukup nyaman untuk menulis. Tapi kali ini ia malah sibuk dengan miniatur Batman di tangannya. Sedari tadi benda mungil itu dipandanginya larut-larut. Sesekali dibolak-balik.


"Sejak kapan kamu jadi kolektor miniatur superhero?" Riko menginterupsi lamunan Bara. Lelaki berambut kriwil itu langsung mengambil alih bangku kosong di samping Bara.


Bara hanya menghela napas gusar, malas menanggapi.


"Berisik, ah!" sambar Bara akhirnya. Ia merebut kembali miniatur Batman itu. "Siapa juga yang mau ngoleksi ginian? Mending uangnya buat beli kuota."


"Terus?"


"Ini punya Kevin."


"Siapa Kevin?"


Sesaat Bara bingung menjawab. Entah bagaimana harus mengatakannya. "Anaknya Dira," sahutnya pura-pura enteng kemudian.


"Dira? Siapa Dira?" Riko menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Bara hanya mendesah pasrah. Tapi sebelum ia kepikiran untuk menjelaskannya lebih lanjut, tiba-tiba Riko heboh setelah merasa familiar dengan nama Dira.


"Dira personel DAMKAR yang waktu itu?" pekik Riko.


Bara hanya mengangguk lemah.

__ADS_1


"Yang cantik itu?"


Bara kembali mengangguk dengan gaya yang sama.


"Dia udah punya anak?" Riko melotot sempurna. "Astaga!" Kali ini sampai tepuk jidat.


"Lebay, deh." Bara menutup laptopnya, lalu memasukkannya ke ransel. "Udah, ah, aku mau balik." Lelaki berkemeja hitam itu bangkit dari duduknya, lalu beranjak tanpa berucap apa-apa lagi. Dari luar responsnya perihal status Dira memang tidak seheboh Riko, tapi nyatanya sejak tadi malam ia tidak bisa konsentrasi dalam segala hal karena terus kepikiran. Dira memang bukan siapa-siapanya. Tapi perasaan aneh ini tumbuh secara alami, menjalar sedemikian cepat.


***


Meski tidak yakin sesore ini kantor DAMKAR masih buka, Bara tetap nekat ke sana. Selain ingin mengembalikan miniatur Kevin, sesuatu seolah memanggil-manggil. Bara merasa perlu mengobrol sekali lagi dengan Dira, sampai ia benar-benar bisa berdamai dengan kenyataan, bahwa tidak ada yang patut diperjuangkan. Bayangan Luna yang seolah hadir dalam diri Dira biarlah menjadi kisahnya sendiri.


Sekitar 15 menit kemudian, Bara sudah tiba di kantor DAMKAR Kota Makassar yang berlokasi di Jl. dr. Ratulangi. Puluhan personel DAMKAR sedang berbaris rapi di halaman kantor. Sepertinya sedang apel. Tak ingin mengganggu, Bara memarkir motornya di tepi jalan, lalu merapat ke pos yang berada di samping gerbang. Di depan pos itu ada tempat duduk berupa pipa-pipa besi yang ditanam langsung di lantai beton. Di sanalah Bara duduk mengamati suasana.


Tak butuh waktu lama, Bara langsung bisa mengenali Dira di antara belasan Srikandi yang berkumpul di barisan paling kiri. Baret hitam berlencana logam yang melekat di kepala perempuan itu membuat Bara kagum. Terlebih saat membayangkannya beraksi di lapangan. Bara yakin, secuil pun ia tidak memiliki keberanian seperti Dira.


"Papa ...." Bukan hanya suara itu yang membuat Bara terkesiap, tapi juga hadirnya kepala mungil yang tiba-tiba sandar di lengannya.


"Kevin?" Bara setengah memekik saat mendapati anak itu di sampingnya. Entah kapan dan dari mana datangnya.


Pekikan Bara tadi nyaris bersamaan setelah apel dibubarkan. Mendengar nama Kevin, Dira langsung menoleh ke sumber suara. Senyumnya mengembang, senang sekaligus heran melihat Kevin bersama Bara di sana.


"Kamu, kok, bisa ada di sini?" tanya Dira begitu tiba di depan mereka. Bara tampak sedang menggoda Kevin.


Bara berhenti mencolek pinggang Kevin, mengangkat kepala dan melabuhkan tatapannya tepat di manik mata perempuan yang baru saja bersuara.


"Cuma 15 menit dari kampus. Tidak perlu seheran itu," celetuk Bara sambil tersenyum lebar.


Dira melepas baretnya, lalu merapikan selipan rambutnya di balik telinga. "Maksudnya, kamu ngapain ke sini? Ada perlu yang berkaitan tugas kulaihkah, atau ... apa?"


Bara sengaja bergeser sedikit, alih-alih mempersilakan Dira duduk. "Nggak, sih." Bara mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. "Aku cuma mau balikin ini," katanya sambil megacungkan miniatur Batman, yang sontak menarik perhatian Kevin. Anak itu bahkan langsung menyambarnya.


"Eh, Kevin nggak sopan, ah," tegur Dira.


"Nggak apa-apa, namanya juga anak-anak." Bara mengelus pucuk kepala Kevin.


"Tadi malam dia nggak bisa tidur gara-gara nyariin itu. Aku tawarin beli baru aja, dia malah nangis."


"Kehilangan memang sakit. Terlebih untuk sesuatu yang tidak akan tergantikan oleh apa pun." Bara lagi-lagi teringat Luna. Kenapa juga rasa sesak itu mampir setiba-tiba ini?


Dira bisa merasakan, kalimat Bara barusan keluar bersama aliran emosi yang sedemikian kuat. Kerutan halus tercetak di kening perempuan itu. Lelaki di sampingnya ini seolah sedang ancang-ancang untuk berbagi sesuatu, sesuatu yang mungkin benar-benar bisa mereka urai bersama suatu hari nanti.

__ADS_1


***


[Bersambung]


__ADS_2