
"Terus, kalau nanti masing-masing kita sudah punya pasangan, apa masih bisa sedekat ini?"
---
Adalah Dira, srikandi yang menurut Bara mirip dengan Luna. Lebih tepatnya mirip dengan perempuan yang membawakannya sebotol bensin kemarin. Atau memang dia? Atau karena Bara sedang menuliskan kisah Luna, yang membuatnya tiba-tiba merasakan banyak kemiripan teman masa kecilnya itu di diri orang lain?
Bara mencoba mempertajam ingatannya. Ini kebetulan yang terlalu kebetulan. Tapi sepasang mata milik perempuan berjaket kulit kemarin, sama dengan mata Dira.
"Nah, terciduk. Kamu kagum juga, kan, sama mereka?" Riko meginterupsi lamunan Bara.
"Ko, kamu punya kenalan di antara mereka?"
Riko menggeleng. "Tapi bisa diatur. Setelah acara ini selesai, kita kenalan sama mereka."
Perihal kecakapan Riko mendekati lawan jenis memang tidak perlu diragukan. Tapi dengan perempuan-perempuan "gagah" itu, entah jurus seperti apa yang akan dilancarkan.
***
Kalau bukan karena ingin memastikan Dira adalah penolongnya atau bukan, Bara malas menemami Riko berdiri di parkiran seperti ini. Standby di dekat mobil tim DAMKAR, mereka seperti agen rahasia yang sedang merencanakan penculikan. Sampai detik ini Bara masih belum tahu apa yang akan dilakukan Riko kalau mereka datang.
"Mana, ya?" Riko mulai resah.
"Lagian kenapa harus nunggu di sini, sih? Kenapa kita nggak negur di dalam aja?" protes Bara.
"Biar memorable. Kalau kita negur di dalam, kesannya biasa banget. Tapi kalau di sini, seakan-akan kita sudah menunggu lama demi bisa ngobrol langsung sama mereka."
Bara memutar bola mata malas.
Beberapa saat kemudian, pasukan berseragam biru mencolok yang ditunggu-tunggu pun tiba. Mereka baru saja turun dari koridor, membelah pelataran beton menuju area parkir.
"Nah, mereka datang." Riko menepuk punggung Bara yang sibuk memainkan ponsel.
Tatapan Bara langsung tertuju pada Dira. Jarak mereka masih sekitar sepuluh meter, saat tiba-tiba Dira belok kanan, memisahkan diri dari teman-temannya. Ia ke area parkir khusus kendaraan roda dua. Ternyata di sana terparkir sebuah ninja merah. Bara teramat yakin sekarang. Tidak salah lagi, Dira adalah penolongnya.
Tak ingin kehilangan kesempatan lagi untuk berkenalan, Bara berlari-lari kecil menghampirinya. Ia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Riko.
"Hei ...," tegur Bara tanpa ragu setibanya di samping Dira.
Dira yang hendak mengenakan helm, urung. Ia langsung menoleh ke sumber suara. Sesaat kemudian senyumnya mengembang karena merasa kenal dengan mahasiswa yang menegurnya.
"Kamu cowok yang kemarin, kan?" tebaknya.
Bara mengangguk. "Syukurlah kalau masih ingat."
"Baru juga kemarin, masa langsung lupa?" Senyum Dira semakin lebar. "Lagian kamu masih pakai kemeja ini."
Bara spontan mengamati kemeja yang melekat di tubuhnya. Astaga! Tadi ia memang malas menyetrika, ujung-ujungnya pakai kemeja yang kemarin. Ini benar-benar memalukan. Bara berjanji tidak akan lagi mengenakan kemeja yang sama dua hari berturut-turut setelah ini.
Sekarang Bara hanya bisa cengar-cengir tidak jelas dan mendadak kehabisan kata gara-gara kemeja.
"Jadi kamu kuliah di sini?"
__ADS_1
Bara mengangguk tegas.
"Ya udah, aku duluan, ya." Dira memasang helm, lalu menaiki motornya.
Bara buru-buru mengulurkan tangan sambil menyebutkan nama.
Di balik helm full face yang kacanya masih dibiarkan terbuka, senyum Dira kembali mengembang. Ia menjabat tangan Bara, juga sambil menyebutkan nama.
Dira menstarter motornya, lalu pamit sekali lagi sebelum mulai menarik gas dan berlalu dari hadapan Bara.
Bara terus memandangi punggung Dira hingga benar-benar tidak terlihat setelah melewati pintu gerbang. Bara sangat menyanyangkan obrolan sesingkat itu. Padahal ia sangat ingin menanyakan kenapa Dira lebih memilih bawa motor sendiri daripada gabung sama teman-temannya. Bara juga belum sempat berterima kasih atas kejadian kemarin.
***
Bian mengundur jam pulangnya, hanya karena Rana masih ada di sudut teras tokoh. Bertemankan paper cup berisi cokelat hangat, gadis berhijab merah itu tampak sedang menunggu seseorang. Siapa lagi kalau bukan Bara? Bian yakin seribu persen.
Bian pura-pura sibuk di area sales, mengecek kondisi bunga-bunga yang dikirim supplier tadi pagi. Tentu saja itu percuma, karena bunga-bunga itu bahkan sudah melalui tiga kali tahap pengecekan sebelum tiba di rak pajangan. Dari balik dinding kaca, diam-diam ia mengamati Rana. Sambil mondar-mandir, ia memikirkan akan menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang atau tidak usah.
Bian sudah mengitari area sales sebanyak tiga kali, dan ia merasa mulai bertingkah semakin bego. Akhirnya ia memutuskan menghampiri Rana.
"Belum pulang?" Bian mengisi kursi kosong di depan Rana, diantarai meja bundar kecil berwarna putih.
"Bentar lagi, Pak. Lagi nunggu Bara."
Bian mendesah pelan. Entah kenapa ia bosan menerima jawaban yang sudah bisa ia tebak sebelumnya.
"Bapak mau cokelat panas? Kalau mau, saya bisa beliin di minimarket sebelah."
Rana mengangkat sedikit pandangannya. Cuaca memang sedang mendung. Bahkan kalau diperhatikan secara seksama, butir-butir halus air langit mulai turun.
"Makasih, Pak. Tapi Bara janji mau jemput, katanya ada hal penting yang mau diomongin."
Jawaban itu membuat Bian menghela napas panjang, lalu menahannya sepersekian detik. Padahal unit Bara dan Rana bahkan berbagi dinding, mereka punya banyak waktu untuk mengobrol. Bian tidak habis pikir, sepenting apa hal yang dimaksud.
"Ya udah, kalau gitu, aku duluan, ya," pamit Bian sambil bangkit dari duduknya.
Rana mengangguk mempersilakan sambil tersenyum santun.
Tepat saat Bian meraih handle pintu mobilnya, Bara datang. Rana langsung berdiri dan menghampirinya. Bian sadar betul, senyum Rana ke Bara selalu berbeda dengan senyum yang ia terima.
"Namanya Dira," ungkap Bara tanpa basa-basi saat Rana tiba di depannya.
"Siapa Dira?" Rana mengernyit. Tentu saja ia bingung.
"Titisan Luna, cewek penolongku."
Rana melongo. "Jadi, kamu kehabisan bensin lagi? Terus, ditolongin dia lagi?"
"Takdir Tuhan tidak sereceh itu, Ibu Peri." Sebelum menjelaskan, Bara mengambil alih paper cup di tangan Rana, lalu menyedot isinya hingga tandas.
Lihatlah, mereka bahkan tidak canggung berbagi minuman dari gelas yang sama. Diam-diam Bian masih mengamati mereka dari balik kaca gelap mobil. Dan pemandangan barusan membikin hatinya ngilu.
__ADS_1
"Ternyata dia personel DAMKAR, dan kebetulan tadi ngadain sosialisasi di kampus."
Sekarang Rana benar-benar bingung harus merespons seperti apa. Ternyata ia menunggu hanya untuk mendengarkan kabar ini.
***
Di sepertiga malam, Rana kembali menyulam nama Bara dalam lembar-lembar doa yang tanpa bosan ia langitkan. Tak perlu malu pada Tuhan, ia bersungguh-sungguh memohon lelaki itu. Tapi jika memang bukan jodoh, ia berharap diberi petunjuk secepatnya, agar tak lebih lama berada di ruang tunggu bertemankan harapan-harapan kosong. Namun jika seandainya akhir cerita ini memang tidak sesuai isi doa-doanya selama ini, semoga rasa sakit itu masih punya sedikit belas kasihan, agar tidak melumatnya hingga benar-benar tandas tak berbekas.
Untuk beberapa saat Rana masih betah bersimpuh, mengendapkan segala gundah di atas sajadah. Ia kembali teringat ekspresi riang Bara saat bercerita soal Dira, gadis yang tanpa ragu disebutnya sebagai titisan Luna. Hati Rana kembali sesak. Rana memang tidak pernah benar-benar tahu seperti apa sosok Luna, seberapa sering pun Bara bercerita tentang gadis kecil itu. Tapi jika akhirnya ada yang sampai paham sedemikian detail masa lalu Bara dengan Luna, seharusnya orang itu adalah Rana, sebagai satu-satunya tempat curhat Bara.
Seiring berjalannya waktu, Rana iri pada Luna, yang mampu menempati ruang khusus di hati Bara dan sepertinya tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Sampai kapan pun. Rana tidak mungkin menjelma menjadi Luna, meskipun sebenarnya sangat ingin. Ia hanya bisa berupaya menjadi berarti di setiap detik yang bergulir di hidup Bara. Namun, usahanya selama beberapa tahun ini seakan sia-sia sejak kemunculan Dira. Betapa pun sakitnya, Rana percaya, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Jika Dira memang jawaban dari doa-doanya selama ini, Rana akan menyiapkan hati selapang-lapangnya.
***
Sepagi ini Bara terbangun karena seseorang mengetuk pintu unitnya. Dari ritmenya, Bara bisa menebak, itu Rana. Benar saja, saat Bara membuka pintu, gadis itu langsung tersenyum lebar khas semangat pagi. Senyumnya langsung menular ke Bara, meski masih sambil mengucek-ngucek mata.
"Masuk pagi lagi?" tanya Bara sambil memindai penampilan Rana yang sudah rapi. Wajah gadis itu tampak segar dalam balutan jilbab merah muda.
Rana mengangguk sambil menyodorkan sepiring nasi goreng udang.
"Wah, jadi ngerepotin, nih," ujar Bara sambil menerimanya.
"Sikap sok nggak enakmu itu, loh. Kayak baru pertama aja." Rana terkekeh.
Bara ikut cengengesan.
"Aku sengaja anterin langsung, biar dimakan. Mumpung masih hangat juga. Kemarin pisang gorengnya nggak kamu makan, kan?"
"Mm ... lupa." Bara mengacungkan jari tengah dan telunjuk kanannya membentuk huruf V.
Rana hanya berdecak sambil geleng-geleng.
"Ngomong-ngomong, makasih, ya, Ran. Selama ini kamu baik banget sama aku."
"Mulai, deh. Santai aja, kali." Rana mengibaskan tangan.
"Tapi ... apa kamu nggak bosan?" Bara tampak ragu dengan kalimat yang baru dilontarkannya.
"Emang kamu bosan?" Rana mengernyit tajam.
"Enggak. Maksudnya, selama ini kamu doang yang selalu baik, tapi aku nggak pernah balas apa-apa."
"Terus, kamu sering anterin dan jemput aku, selalu jadi pendengar dan pemberi solusi tiap kali aku ada masalah, uang yang kamu pinjamkan kemarin, itu artinya apa?"
Sanggahan Rana yang diucapkan sedemikian cepat membuat Bara bungkam sesaat.
"Terus, kalau nanti masing-masing kita sudah punya pasangan, apa masih bisa sedekat ini?" Kali ini Bara berucap tanpa menatap mata Rana. Ia malah melabuhkan pandangan di permukaan nasi goreng yang sedari tadi menguarkan aroma sedap.
"Ngomong apa, sih?" Rana mengibaskan tangan. "Udah, ah. Aku berangkat dulu." Rana lekas berlalu sebelum pertanyaan Bara tadi benar-benar membuatnya salah tingkah.
***
__ADS_1
[Bersambung]