Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Tantangan


__ADS_3

Kamu nggak akan ngerti gimana rasanya berada di dalam kungkungan api.


---


"Dia udah ngelamar aku."


"Aargh ...."


Bara mengacak rambut frustrasi, layar laptop yang menyala terang di depannya masih menampilkan halaman kosong. Kursor yang berkedip-kedip itu seolah mengejek Bara yang belum juga menuliskan aksara untuk bab terbaru dari proyek novelnya. Entahlah, semua yang ditulis Bara terasa salah. Setiap barisan kata yang coba ia tuangkan seperti tidak bernyawa. Hingga berakhir di tombol delete. Alhasil belum ada apa pun yang Bara tuang di file word-nya selama hampir satu jam ini.


Biasanya jika Bara kehilangan mood menulis, ia akan menyambangi tetangga unitnya. Mengetuk pintu asal, hingga si empunya keluar dengan tampang garang. Lantas Bara memamerkan cengiran tanpa dosa.


"Apaan sih, Bar? Ketok pintu kayak ada kebakaran aja!" sewot Rana.


"Emang ada kebakaran Ibu Peri, kamu gak tahu?" balas Bara sok serius.


"Hah? Di mana? Terus kamu nggak papa? Kamu liat apinya?" Ekpresi kepanikan dari wajah Rana adalah hiburan tersendiri bagi Bara. Hampir saja ia tertawa jika tidak ingat tengah bersandiwara.


"Aku ketakutan, Ibu Peri." Bara memeluk tubuh sendiri, berperilaku seolah benar-benar takut.


"Ya Allah ...." Mata Rana berkaca-kaca. "Terus gimana, kamu butuh sesuatu sekarang?"


Bara mengangguk dua kali. "Aku butuh tongkat ajaibmu Ibu Peri."


Setelah itu bisa dipastikan Rana akan mengambil sapu atau apa saja yang terjangkau tangan dan mengejar Bara untuk mendapat hukuman.


Bara tersenyum sendiri ketika momen bersama Rana terputar. Jail, begitulah Bara jika bersama Rana. Tapi menjaili gadis itu ampuh untuk mengembalikan mood menulisnya. Seperti obat yang dulu sering ia konsumsi jika ketakutan akan musibah kebakaran itu menghantui.


"Dia udah ngelamar aku."


Dan potongan pernyataan Rana tempo hari sukses menggerus garis senyum di bibir Bara. Hal itu pula yang menyebabkan lelaki beralis tebal itu gagal menulis hari ini. Bara tidak tahu kenapa ucapan Rana begitu melekat di dalam kepala. Seperti playlist musik yang disetel berulang, terputar lagi dan lagi.


"Memangnya kenapa kalau Rana dilamar. Itu bagus, kan?" Bara bermonolog di depan laptop.


"Iya tahu, kalau Rana udah nikah sama Bian itu artinya aku dan dia gak bisa sama-sama lagi."


"Kamu kenapa Bar, lagi ngapalin dialog?" Tiba-tiba suara Riko menginterupsi, dahi lelaki yang baru pulang itu berkerut dalam.


"Eh, enggak ... ini ...." Bara menggaruk tengkuk, salah tingkah. "Iya. Aku lagi mencoba ngapalin dialog di naskah aku biar kerasa feel-nya." Ia cengengesan.

__ADS_1


Riko berdecak, lantas ia menilik penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangan kiri. "Kamu nggak jadi jalan?" Ia menatap Bara yang masih santai dengan kaus oblong dan celana pendek.


Alis Bara bertaut sambil membeo ucapan temannya. "Jalan?"


"Kamu bukannya ada janji sama Dira?"


Detik selanjutnya Bara kalang kabut sendiri. Kursi yang ia duduki sampai terjengkang karena gerakan yang membabi buta. Jika Riko tidak mengingatkan, bisa dipastikan ia melupakan janji temunya dengan Dira Sabtu sore ini.


"Katanya naksir, tapi lupa sama janji sendiri," ejek Riko ketika Bara baru saja menutup pintu kamar mandi.


***


Meskipun Bara sudah melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata, tetap saja ia terlambat. Dira sudah menunggu di tempat mereka janjian.


"Sori lumayan macet tadi," Bara beralasan. Klasik. "Udah nunggu lama, ya?"


"Sepuluh menit," jawab Dira singkat sembari mengulas senyum yang tidak bisa Bara artikan apa maknanya.


"Papa gimana, sih, masa telat?" protes Kevin yang duduk di sebelah Dira. Mulutnya belepotan coklat dari biskuit stik yang dia pegang.


Bara meringis, sekali lagi minta maaf pada bocah lelaki itu. Ia berulang kali merutuki diri. Lelaki mana yang membuat perempuan menunggu? Ia mengingatkan diri sendiri agar memasang reminder jika ada janji temu lagi.


"Kevin mau main," jawab Kevin antusias.


"Main apa, Ganteng?"


"Main api," jawab Kevin tangkas diakhiri yel-yel seru. Sementara dahi Bara mengernyit bingung.


"Kevin mau main jadi damkar. Kebetulan di lantai bawah ada spotnya." Dira menjelaskan.


"Ap-apa?!"


***


Bara berulangkali melakukan inhale, exhale. Berharap aktivitas menarik napas dalam dan membuangnya lewat mulut itu bisa sedikit mengurangi gugup. Tangan pemuda itu berkeringat. Meskipun tempat yang akan mereka datangi adalah wahana edukasi anak-anak, tetap saja segala sarana yang digunakan nyata. Termasuk apinya.


"Nanti kamu yang temenin Kevin ya, Bar." Ucapan Dira semakin membuat jalan napas Bara menyempit.


"Dira, bukannya aku gak mau, tapi kamu tahu, kan, aku ...." Bara tidak mampu menyebutkan kata terakhirnya.

__ADS_1


Saat ini ia merasa seperti pecundang yang kalah sebelum berperang. Tangannya mengepal erat di samping tubuh. Sungguh Bara ingin menemani Kevin menjadi petugas damkar di wahana Penakluk Api itu. Namun, penyakit tak kasat mata yang ia derita memaksanya mundur. Bagaimana ia akan maju, jika menyalakan korek api saja tidak sanggup? Ia tidak mungkin nekat, karena bisa dipastikan Bara akan pingsan ketika melihat simulasi kebakaran itu.


Dira berdiri menghadap Bara sepenuhnya. "Bar, ketakutan itu harus dihadapi, kamu gak mungkin terus sembunyi. Apalagi api ada dalam kehidupan sehari-hari—"


"Aku tahu, Dir, aku tahu. "Bara memotong ucapan perempuan itu. "Kamu bisa mengucapkan semua itu karena kamu tidak berada di dalam kebakaran." Bara menekankan kalimat terakhir, dadanya naik turun signifikan, simbol emosi yang tertahan. "Kamu nggak ngerti gimana rasanya berada dalam kungkungan api. Kamu juga nggak akan ngerti gimana menyaksikan orang yang kamu sayangi mati karena kita yang egois." Suaranya yang naik satu oktaf, membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.


Dira mengulas senyum, santai menanggapi Bara. "Dan selamanya kamu mau jadi pengecut?"


Telak. Perkataan Dira benar-benar menjatuhkan harga diri Bara. Sayangnya semua itu benar, dan Bara tidak bisa menyanggah. Kepalan tangannya semakin erat, membuat buku-buku jari memutih.


"Papa, ayo!" Sentuhan Kevin di lengan kemeja panjang Bara membuat emosinya sedikit mengikis. Pancaran dari kelereng Kevin yang sarat permohonan itu membuat Bara terenyuh.


Pemuda itu berjongkok, menyamakan tinggi dengan si bocah. Lantas mengelus surainya lembut. "Gimana kalau kita main yang lain aja? Bombom car, itu juga seru lho?" bujuknya pada Kevin. Berharap tetap bisa menyenangkan bocah itu tanpa membuat kecewa.


"Gak mau!" balas Kevin tegas. "Kevin, kan, mau jadi penakluk api kayak Mama. Iya, kan, Ma?" Kevin mendengak, menatap Dira yang juga tengah menatapnya.


"Iya, Sayang," ujar Dira sebelum berganti menatap Bara. "Ini nggak seburuk yang kamu bayangkan Bar, cuma simulasi. Dan jarak kalian dengan api juga sudah diamankan." Dira mencoba meyakinkan Bara.


Bara mendesah, mengacak rambutnya frustrasi. "Aku nggak bisa, Dir, maaf."


Sepertinya hari ini adalah hari buruk bagi Bara. Setelah datang tidak tepat waktu, dia juga mengecewakan untuk kedua kalinya orang yang sama. Pada akhirnya Dira tidak mau lagi memaksa, memasuki wahana tanpa Bara. Sedangkan lelaki itu seperti ucapannya beberapa saat lalu, menjadi si pecundang yang memilih menunggu di luar.


Sebenarnya, trauma Bara sudah lebih baik dari bertahun lalu. Setidaknya sekarang ia tidak histeris saat melihat api kompor di gerobak penjual pinggir jalan. Dulu ia bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di dapur rumah keluarga. Tapi untuk menghadapi api itu sendiri, Bara belum bisa. Ia tidak bisa menyalakan korek api, apa lagi kompor. Itulah sebab di kosannya dulu ruangan dapur hanya berisi peralatan makan, tanpa perlengkapan memasak. Dan untuk menghadapi kebakaran, sekalipun itu simulasi, ia belum bisa.


Entahlah, setiap kali melihat api bayangan musibah itu menyeruak begitu saja. Ia seolah bisa mendengar bunyi papan kayu yang mulai terbakar. Ia juga bisa merasakan panas si jago merah yang membakar kulit. Senyata itu, seolah kebakaran sedang ia alami.


"Kirain kamu sudah pulang, Bar."


Bara tidak tahu berapa lama ia merenung. Tapi ketika suara Dira menyapa telinga, ia tahu waktu telah berjalan panjang.


Bara berdiri, mendekati keduanya. Kevin terlihat sangat bahagia. Sayang, ia tidak turut mencipta kebahagiaan itu. "Nggaklah. Masa udah datang telat, pulangnya malah duluan," tukas Bara. Canggung masih mendominasi.


Dira terkekeh. "Sekarang kami lapar. Ayo makan!"


Terbiasa menghadapi anak kecil dan kebakaran yang membutuhkan kesabaran extra mungkin juga berpengaruh bagi sikap Dira. Perempuan itu memang sedewasa itu. Jadi, tidak salah, kan, Bara memilihnya?


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2