
Bara bertekad akan menyampaikan rindunya lewat aksara, hingga ia tak lagi merasakan bagaimana rindu itu merongrong jiwa.
---
Waktu seolah berlari, hari berganti bak kedipan mata, tanggal menggulung serupa ombak di laut. Rana tidak menduga jika masa itu akan segera tiba. Tadi pagi Sakka menelepon, memberitahu bahwa mulai minggu ini masa pingitan akan dilakukan.
Hal itu memang sudah menjadi kesepakatan antar dua keluarga. Lima belas hari sebelum akad, Rana dan Bian dilarang bertemu. Bahkan komunikasi lewat telepon sekalipun.
"Biar nanti kerasa kangennya," seloroh Mama Bian waktu itu.
Masalahnya Rana dan Bian berada dalam satu lingkungan kerja. Hal yang mustahil jika mereka tidak saling melihat satu sama lain tiap harinya. Jadi satu-satunya jalan adalah Rana berhenti dari Sakura untuk sementara.
"Jadi, mulai besok kamu tidak datang ke sini?" Bian menanyakan hal yang sudah jelas disepakati. Toko baru saja tutup, menyisakan Bian dan Rana. Lelaki itu baru saja mengunci pintu.
"Iya, Daeng."
Mereka berjalan beriringan menuju mobil Bian. Semilir angin malam membelai kulit.
"Rana?" Bian urung membukakan pintu untuk Rana. Ia kembali menghadap gadis yang mengerutkan kening itu. "Tidakkah dua minggu terlalu lama? Bagaimana kalau minta dispensasi, seminggu aja."
Rana melipat bibir, mencegah tawa pecah. Ia pikir Bian akan menyampaikan sesuatu yang lebih penting. "Pak, bunga di toko Bapak saja tidak bisa ditawar, apalagi ini?" Rana sengaja mempermainkan Bian, termasuk memanggil dengan sebutan bapak. Ia berjalan melewati samping tubuh lelaki itu, lantas membuka sendiri pintu mobil.
Bian meremas rambut belakang. Demi apa pun ia tidak pernah sefrustrasi ini. Membayangkan akan kehilangan Rana selama dua minggu membuat kepalanya pening. Belum apa-apa ia sudah merasa rindu.
Bian mengela napas berat. Ia membalik badan, menatap sesosok gadis berhijab di balik pintu mobil. Meski tidak terlihat, Bian bisa mengukir di dalam kepala siluet gadis itu.
"Daeng, ayo!" Hingga tanpa Bian sadari, Rana sudah menurunkan kaca jendela.
Bian mengitari bagian depan mobil, lantas mendudukkan diri di kursi kemudi. "Rana?" Ia tidak langsung menyalakan mesin. "Apa kamu akan merindukan aku?"
Rana mengerjap. Rindu itu tercipta ketika dua insan tidak saling bertemu untuk beberapa waktu, kan? Seperti Rana yang kerap merindukan ibu dan adik-adiknya di kampung. Berharap jarak terguling dalam satu kedipan, sehingga mereka bisa bersua. Tapi dengan Bian, Rana belum pernah merasakan itu. Nyaris setiap hari mereka bertemu, jadi belum ada kesempatan bagi rasa itu menunjukkan eksistensinya.
"Bisa jadi," jawab Rana sekenanya.
Kening Bian berkerut. "Bisa jadi?" Ia tahu persentase Rana menyukainya masih sangat kecil. Mereka memang akrab sekarang ini. Tapi hanya sebatas itu.
"Bisa jadi saya akan rindu, tapi bisa juga tidak kalau saya sibuk banget. Kan, belum dijalanin."
Bian ber-o tanpa suara sembari mengangguk paham. Lantas menyalakan mobil dan melajukannya menjauhi Sakura.
__ADS_1
"Jika rindu, apa yang akan kamu lakukan?" Bian menanyakan itu di sela perjalanan mereka.
Rana menelengkan kepala. Ia memang harus sangat bersyukur akan memiliki suami yang sepertinya sangat mencintainya itu. "Daeng sendiri? Apa yang akan dilakukan?"
Bian menoleh sebentar sebelum kembali fokus ke jalan hitam. "Kamu tahu alasan aku menjadikan bunga sebagai bisnis?"
Alis Rana berjengit, selain karena kalimat Bian yang tidak nyambung dengan apa yang dibahas sebelumnya, pun karena tidak tahu. "Kenapa?"
"Karena aku ingin menjadi bagian dari setiap kisah cinta. Menjembatani mereka untuk mengungkapkan rasa." Bian kembali menoleh ketika mobil berhenti karena lampu merah. "Jadi seperti orang-orang itu, aku akan mengirimi kamu lily putih setiap hari sebagai tanda rindu dan cinta."
Perkataan Bian tak ayal membuat pipi Rana bersemu. Beberapa hari ini Bian memang lumayan sering menggoda, tapi baru kali ini perkataannya terdengar begitu romantis. Siapa yang tidak akan berbunga mendengar penuturan barusan?
Gadis itu berdeham. "Dan Daeng tahu kenapa aku suka lily putih?"
"Karena cantik?" Mobil kembali bergerak, membelah jalanan berselimut pekat.
Rana terkekeh. "Iya, tapi gak cuma itu. Lily putih adalah lambang kesucian. Cinta yang murni. Jadi mari sama-sama kita jaga kemurnian itu sampai saatnya tiba."
Bian memelankan laju mobil, menoleh dengan kening berkerut. "Maksudnya ... saya tidak boleh mengirimi kamu bunga?"
Rana mengangguk. "Lagi pula yang ada nanti rumah saya jadi toko bunga kalau tiap hari dapat kiriman dari Daeng."
"Iya juga, sih."
"Ada cara lain untuk mengungkapkan rindu ...." Rana menjeda kalimatnya, tersenyum, ia berucap, "lewat doa."
Tentu saja. Itu juga, kan, yang Bian lakukan selama ini. Mendoakan Rana nyaris di setiap pertemuannya dengan Pencipta.
***
Krakk!
Itu bunyi hati Bara yang patah. Seperti kaca yang dijatuhi beban, retakannya menjalar dari pusat hingga ke sisi paling ujung, membuatnya jadi kepingan tak berbentuk.
Kertas tebal dengan dominasi warna putih bunga-bunga adalah penyebabnya. Tertulis nama Bian dan Rana yang akan melangsungkan pernikahan. Dan ia diundang. Kurang kejam apa Rana pada Bara, menginginkan lelaki itu menjadi saksi bersatunya dua hati. Hati yang ia cintai.
Sadar, Bro! Kamu gak nyatain apa-apa ke Rana.
Bisikan itu menampar Bara, mencipta sakit yang kian kentara. Menyadarkan bahwa Rana bukan takdirnya. Cinta tak sampai, mungkin itulah judul yang tepat.
__ADS_1
Bara menarik napas panjang, berharap rasa sesak di dada berkurang. Ia meletakkan undangan itu di atas meja. Melirik ponsel yang tergeletak di sebelahnya. Satu ide muncul, mengucapkan selamat tak ada salahnya, kan?
Bara: Congratulation, Rana. Semoga lancar sampai hari H.
Ia mengirim pesan disertai foto undangan itu. Tak sampai lima menit balasan datang.
Rana: Terima kasih, Bara. Jangan lupa dateng, ya!
Bara: Tentu!
Sebut saja Bara munafik mengirim pesan terakhir dengan tambahan emot gembira. Meski nyatanya nyeri itu kian terasa.
Bara: Jadi, kamu sedang menjalani masa pingitan?
Rana: Iya.
Bara: Bagaimana sensasinya? Kamu udah mulai dilanda rindu yang menggebu pada lelaki itu?
Rana membalas dengan emot tertawa setengah lusin.
Rana: Dasar penulis! Gak selebay itu kali.
Bara: Apa kamu juga merindukanku?
Cukup lama Bara memandangi layar 5 inci itu. Senyum yang sempat terkembang karena ia berhasil menggoda Rana perlahan memudar.
Tentu saja sudah tidak ada ruang untuk ia merindukanmu, Bara!
Bara tersenyum kecut.
Ia baru saja akan menaruh ponselnya ke nakas ketika bunyi notifikasi menginterupsi. Email yang masuk membuat senyum kecut Bara berubah semanis gulali. Rupanya benar, kesedihan selalu bersisian dengan kebahagiaan.
Email dari penyelenggara event dwi tahunan itu memberitahukan bahwa naskah Bara lolos sebagai juara pertama. Hal yang sangat membanggakan sekaligus membahagiakan tentu saja. Karena naskah Bara otomatis dikontrak penerbit mayor. Dan hanya tinggal menunggu waktu tulisan Bara akan dinikmati banyak orang.
Ia masih memandangi layar ponsel, memastikan sekali lagi bahwa email itu nyata, bukan khayal semata. Ia tersenyum simpul. Biarlah kisahnya abadi di dalam buku. Biarkan semua orang tahu tentangnya yang memendam rasa pada ia yang jauh di sana. Pada ia yang tak mampu Bara sebut. Pada ia yang tak kuasa Bara nyatakan rasa cintanya.
Bara berjanji akan terus menulis tentang Rana hingga ia lupa mengeja namanya. Bara bertekad akan menyampaikan rindunya lewat aksara hingga ia tak lagi merasakan bagaimana rindu itu merongrong jiwa.
Pertanyaannya adalah, mampukah Bara melupakan Rana?
__ADS_1
***
[Bersambung]