
Assalamualaikum, pembaca yang budiman.
Mohon maaf sebelumnya, untuk part 31 sampai tamat hanya bisa dibaca di aplikasi Komunitas Bisa Menulis.
Di sana cerita ini ganti judul (Bukan Tetangga Biasa). Silakan berkunjung.
Saya tunggu, ya.
Makasih atas dukungannya.
Salam santun 😊🙏
***
"Hati-hati bawanya, ya! Saya tidak mau satu tangkai pun lecet."
Untuk kesekian kali Bian mengingatkan lelaki berseragam jasa pengiriman barang itu. Sebuah buket bunga lily putih ukuran jumbo ia serahkan. Buket yang ia rangkai sendiri dengan sepenuh hati dan tentu saja dengan segenap rasa yang merongrong jiwa.
Iya, Bian melanggar larangan Rana untuk tidak mengirimi bunga. Faktanya rindu itu membuncah, semakin berkembang tiap menit dan detik. Jika bukan karena kewarasan yang masih tersisa, Bian nyaris berlari memotong jarak demi bisa menemui Rana.
Rindu itu memang berat. Bian sangat setuju dengan kalimat itu. Sehingga membuat Bian rela melakukan apa saja. Ia sendiri yang memesan lily terbaik dari suplier. Datang lebih awal dari biasanya demi berkutat dengan tangkai-tangkai hijau itu. Beberapa kali ia bahkan merombak buket saat merasa kurang pas.
Dan kini, ia harus merelakan buket buatannya dibawa kurir agar bisa sampai kepada ia yang dituju.
***
Bian baru saja selesai menginput data administrasi bulan ini ketika suara gaduh menginterupsi. Menilik arloji, sudah terlalu malam untuk Sakura ramai karena pembeli. Sebentar lagi bahkan sudah waktunya tutup. Penasaran, Bian melimbai menuju pintu keluar ruangan.
"Brengsek! Jangan bohong!"
Dan apa yang tertangkap retina, membuat Bian melebarkan indra penglihatan. Tiga orang lelaki berbadan serupa binaragawan dengan tato nyaris menutupi tiap inci kulit menyentak Danu, karyawan baru. Sementara gadis-gadis lain yang berjumlah empat orang bersembunyi di balik meja sembari menunduk takut.
"Ada apa ini?" Bian menghampiri, mencoba tetap tenang meski takut menghinggapi karena salah satu dari mereka bersenjata api.
Lelaki berkumis tebal dan berjambang lebat menoleh. Memindai tubuh Bian dari atas ke bawah. "Kamu bosnya?" hardiknya dengan volume suara ekstra keras. Aroma alkohol menguar menusuk indra penciuman Bian. Tonjolan otot-ototnya tidak bisa disembunyikan dari kaus hitam yang ia kenakan.
__ADS_1
"Iya, saya bos mereka. Ada apa ini? Jika ada masalah tolong dibicarakan baik-baik." Seumur hidup Bian tidak pernah berurusan dengan preman atau orang-orang berkelakuan minus lainnya. Sifat Bian yang cenderung baik, membuat orang-orang segan. Belum pernah ada yang sampai mendatanginya seperti ini.
Seketika lelaki itu tertawa pongah, diikuti dua pengikutnya. "Baik-baik dia bilang," ucapnya disela tawa. Ia menggeleng lantas menggebrak meja, membuat semua karyawan berjengit. "Cepat tunjukkan di mana Helen sekarang!"
Baik Bian maupun karyawan Sakura yang lain melebarkan mata. Kini mereka mulai paham untuk apa gerombolan lelaki kuat itu mengusik ketenangan Sakura.
"Maaf, kalau boleh tahu Anda siapa?" tanya Bian, masih mencoba bersahabat.
Lelaki itu berdecak. "Ribet amat kau! Kasih tau aja! Cepetan!"
"Udah Bos, habisi aja!" Lelaki paling kecil di antara ketiganya bersuara. Pandangan mata yang tidak fokus, dan sedikit sempoyongan itu menandakan bahwa ia mabuk berat.
"Yoi, Bos. Kalau perlu kita rampok sekalian," timpal yang lain.
Tangan Bian terkepal erat. Tamu tidak diundang itu memang tidak bisa diajak berbicara baik-baik. Kalau terus seperti itu kesabarannya habis juga. "Pak, asal Anda tahu, Helen sudah lama tidak bekerja di sini. Jadi saya tidak—"
Brakk!
Ucapan Bian terhenti karena lelaki itu membanting vas bunga terdekat. "Nggak usah bertele-tele! Kalau kamu masih nggak mau ngasih tahu, tokomu hancur!"
Rahang Bian mengetat, mimpi apa ia semalam sampai harus berhadapan dengan orang seperti ini? Dan dalam hitungan detik suara-suara pecahan itu memenuhi Sakura. Bunga bercecer, vas hancur berkeping, air menggenang di mana-mana. Dua orang lelaki itu memperlakukan bunga-bunga itu selayaknya barang tidak berharga.
"Hentikan!" hardik Bian dengan suara meninggi, membuat dua orang yang sedang melancarkan aksi itu berhenti. "Anda!" tunjuknya pada lelaki di depannya yang Bian asumsikan sebagai ayah Helen. "Saya tidak tahu di mana Helen. Jadi tinggalkan tempat ini sekarang juga!" ucap Bian dengan penekanan di setiap kata. Badannya boleh kalah besar, tapi keberanian Bian tidak bisa dianggap sebelah mata. Ia tidak mungkin membiarkan toko hancur dan para karyawannya ketakutan seperti sekarang.
Bian berdecak, orang di bawah pengaruh alkohol memang keras kepala. "Anda mau apa? Di sana tidak ada Helen."
Lelaki itu menoleh cepat. Memperingatkan Bian lewat sorot mata tajam bahwa ia tidak mau diinterupsi.
"Anda tidak boleh masuk!" Bian mempercepat langkah, nyaris menyentuh pundak lelaki itu sebelum tangan bertato tengkorak itu teracung, mempertontonkan moncong pistol yang siap menembuskan peluru ke kepala Bian.
Kesiap dan jerit kaget terdengar dari para karyawati di balik meja. Danu yang sedianya akan maju menolong Bian tiba-tiba dihadang oleh lelaki paling kecil. Sementara tanpa sepengetahuan para penjahat itu, Ranti menekan nomor polisi.
Bian menelan ludah, lantas mengangkat kedua tangan sejajar bahu. "Saya tidak bohong. Tidak ada—"
Dorr!
***
Prang!
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim." Rana terkesiap ketika vas berisi lily putih itu terjatuh ke lantai keramik.
Ia berjongkok demi bisa memungut tangkai-tangkai yang baru beberapa jam lalu sampai di rumah.
"Ada apa, Rana?" Sakka memasuki kamar Rana tanpa mengetuk. Netranya melebar ketika melihat pecahan beling memenuhi lantai dengan genangan air. "Astaghfirullah, Nak, kok, bisa sampai pecah begitu?"
"Rana nggak tahu, Bu. Tadi nggak sengaja—aww!" Karena terlalu fokus bercerita pada Sakka, telunjuk Rana terkena pecahan. Darah segar seketika keluar.
"Ya Allah, Rana. Sini, ayo diobatin dulu." Sakka mengajak Rana berdiri.
"Tapi bunganya, Bu ...."
Sakka berdecak. "Itu bisa nanti, jarimu kalau nggak segera diobati nanti infeksi. Masa pengantin jarinya luka?"
Rana menurut, mengikuti ibunya keluar kamar. Ia membersihkan jari di bawah kucuran air. Entah kenapa Rana tidak merasakan perih. Perhatiannya justru tertuju pada dadanya yang tiba-tiba dirambati rasa tidak nyaman.
"Ran!" Panggilan dari belakang tubuh membawa Rana kembali ke bumi. Ia menghampiri Sakka yang sudah membawa obat merah dan plester.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Sakka.
"Rana ... Rana nggak tau, Bu." Gadis itu menggeleng. "Hanya tiba-tiba perasaan Rana nggak enak."
"Paling cuma kaget." Wanita itu mengelus lengan atas putrinya. "Abis ini ganti aja vasnya dengan yang baru. Lagian kamu, bunga sebanyak itu vasnya kecil banget. Kan, gak seimbang, jadi jatuh."
Rana tersenyum kaku. Ia berusaha menyugesti diri bahwa semua baik-baik saja.
Setelah mengobati luka, Rana kembali ke kamar dengan vas baru yang telah diisi air. Beberapa tangkai lily yang sudah sempat ia selamatkan tadi, dimasukkan ke vas bening itu. Rana tersenyum, selain karena masih banyak bunga yang bisa ia pajang kembali, pun karena teringat bagaimana lily-lily itu sampai ke tangannya.
Sementara sisanya yang tidak terselamatkan, Rana masukkan ke wadah plastik untuk dibuang. Saat itulah maniknya tertumbuk pada benda pipih berbahan kertas berwarna keperakan. Rana menelan ludah, menyentuh kartu ucapan itu yang sudah setengah basah. Tulisan tangan yang dibubuhkan sendiri oleh si pengirim memudar. Luntur. Menyisakan aksara yang tidak lagi terbaca tapi masih Rana ingat dengan jelas.
Kamu boleh menghukumku karena ini. Tapi percayalah, rasa ini tetap murni untuk kamu, Rana.
Bian
Dering panjang dari ponsel yang beberapa hari ini mati suri karena tidak ada yang menghubungi membuat Rana bangkit. Meraih benda pipih di atas kasur yang menampilkan kontak Ranti. Menggeser tanda penerima panggilan, Rana menempelkan ponsel di telinga kanan.
"Assalamualaikum, Ranti?" Dahinya berkerut dalam ketika suara sirine mendominasi dari sambungan itu. "Ranti?"
"Ran ...." Mendengar nada suara temannya yang serak semakin membuat Rana bingung. "Pak Bian tertembak."
__ADS_1
***
[Bersambung]