Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Galau


__ADS_3

Agama mengajarkan kita agar tidak menolak maksud baik seseorang yang juga sudah jelas kebaikannya.


---


Bara memutuskan untuk jogging pagi ini. Kegiatan itu memang jarang dilakukannya, tapi kali ini ia merasa butuh lebih banyak asupan udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Di setiap ayunan kakinya, ucapan Riko tadi malam kembali terngiang. Bayangan kebersamaannya dengan Rana selama ini pun berdesakan, sesekali timbul tenggelam dengan bayangan saat Dira menyelamatkannya dari peristiwa kebakaran itu. Seiring keringat yang mulai bercucuran, berkali-kali Bara menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya ada hal yang memberatkan kepalanya di luar urusan kuliah dan perkara menemukan ide untuk proyek menulis.


Karena kawasan di sekitar kosan Riko sebenarnya kurang ideal untuk jogging, Bara hanya menghabiskan waktu 30 menit untuk berkeliling. Bara menggeleng sambil berdecak pelan saat menemukan Riko masih bergelung di balik selimut. Bara meraih handuk kecil yang tergantung di samping jendela, kemudian mengelap sisa keringat yang masih menempel di lehernya.


Sambil menunggu keringatnya kering sebelum mandi, Bara duduk melantai di depan meja pendek. Ia membuka laptop untuk mengamati sudah sejauh mana naskah novel yang sedang dipersiapkannya untuk sayembara dwi tahunan itu. Meski jatuhnya agak dipaksa, hari ini ia harus melanjutkannya, mengingat deadline semakin dekat. Mumpung hari ini juga tidak ada jadwal kuliah.


Bara membaca ulang beberapa paragraf terakhir untuk menemukan kembali feel-nya, tapi perubahan sikap Rana masih lebih mendominasi pikirannya. Akhirnya ia menyingkirkan laptopnya, menggantinya dengan ponsel. Ia harus menghubungi Rana.


Jempol Bara mondar-mandir di permukaan gawainya, keluar masuk room chat dan menu panggilan. Cukup lama begitu saja. Selama ini jarang banget Bara berinteraksi dengan Rana via ponsel. Setiap ada apa-apa ia lebih nyaman menyampaikannya secara langsung. Makanya, sekarang ia bingung harus mengetik apa untuk memulai obrolan. Kalau ditelepon, apa yang harus diomongin?


Kenapa jadi sekaku ini? Bara meletakkan asal ponselnya, kemudian mengacak frustrasi rambutnya. Ia menghela napas berat sebelum beranjak untuk mandi. Mungkin pikirannya jadi lebih jernih kalau kulitnya tidak lagi lengket akibat bekas keringat.


***


"Bagaimana dengan lamaran Bian? Kamu sudah memikirkan jawabannya?"


Gerakan tangan Rana terhenti ketika mendengar pertanyaan ibunya di seberang sana. Gadis itu tengah menyusun lembaran baju ke dalam lemari di kosan baru yang akan dia tempati. Ia tercenung cukup lama, hingga Ibunya memanggil beberapa kali.


"Rana ... belum tahu, Bu," jawabnya jujur.


Bagi Rana pernikahan adalah pintu gerbang menuju kehidupan baru, yang lebih serius, dan tentu saja lebih banyak ujiannya. Ia tidak mau salah ambil keputusan yang bisa berakibat fatal. Gagal di tengah jalan karena cinta yang tidak bisa dihadirkan, misalnya. Yah, sebutlah Rana korban kisah-kisah romance yang mengagungkan cinta sedemikian tinggi. Ia hanya berusaha berpikir logis. Bukankah untuk hidup bersama dengan orang lain kita setidaknya harus merasa nyaman dulu?


Sedangkan ia dan Bian .... Rana bahkan belum menemukan kata yang pas untuk menggambarkan seperti apa hubungan mereka. Tidak bisa disebut teman karena nyatanya Rana tidak bisa cerewet di depan bosnya itu, tidak bisa menampilkan sikap paling songong seorang Rana seperti ketika bersama Bara. Rana mengerang dalam hati, lagi-lagi nama itu yang ia sebut.

__ADS_1


"Ibu bukannya mau ikut campur," ucap Sakka hati-hati. "Tapi bukankah dalam agama kita diajarkan agar tidak menolak maksud baik seseorang yang juga sudah jelas kebaikannya?"


Ibunya benar. Bian, tidak ada satu hal negatif pun yang pernah Rana jumpai pada diri lelaki itu. Tingkah lakunya, perkataannya, nyaris tanpa cela. Seolah Bian memang diciptakan sesempurna itu. Namun, justru hal itulah yang mengganggu Rana. Bian terlalu baik untuk dia yang baru belajar menjadi baik.


"Nanti Rana pikirkan lagi, Bu," jawab Rana sekenanya.


"Mungkin adik-adikmu bisa jadi pertimbangan, Rana."


Dahi Rana dipenuhi kerutan. Kenapa ibunya mendadak membahas adik?


Terdengar tarikan napas sebelum Sakka kembali berujar, "Mungkin ini akan terdengar materialistis, tapi Ibu juga kasihan denganmu yang harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan kami."


Sekarang Rana mengerti ke mana arah pembicaraan ibunya. Masalah ekonomi memang terkadang menyesakkan.


"Menikah dengan Bian, insya Allah kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu lagi. Iya, kan?"


"Insya Allah, akan Rana pertimbangkan lagi, Bu."


Sambungan diakhiri setelah sedikit obrolan tentang tempat tinggal Rana yang baru. Pun tak lupa mengingatkannya agar sholat dan jaga diri.


"Ibu kamu?" Ranti yang hari ini membantu Rana pindahan duduk di depan gadis itu beralas lantai keramik. Kosan baru Rana tidak jauh beda dengan yang dulu. Berisi tiga petak ruang yang terdiri dari satu ruang luas sebagai kamar tidur merangkap ruang serba guna. Dapur kecil dan satu kamar mandi.


Rana mengangguk, kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Melipat baju dan memasukkan ke lemari plastik bergambar Doraemon.


"Nanyain lamaran Pak Bian?" Ranti menebak, yang lagi-lagi dijawab anggukan oleh Rana.


"Ya udah sih, terima aja!" usul Ranti.

__ADS_1


Rana berdecak. "Gak semudah itu." Bagi Ranti yang memang sudah ngefans dengan Bian dari pertama bertemu tentu saja lamaran itu terdengar menyenangkan. Seperti mimpi yang serta-merta terwujud. Tapi tidak bagi Rana.


"Kenapa? Soal Bara lagi?" Gadis itu melipat tangan di dada. Ia gemas sendiri dengan sikap Rana yang lembek. Padahal urusan pekerjaan Rana lebih gesit dari kucing yang ketahuan nyolong ikan. "Gini aja, dari pada galau, mending kamu nanya langsung, deh, ke Bara!" saran Ranti.


"Maksud kamu?" Rana kembali menunda kegiatan. Fokus Rana sepenuhnya tertuju pada lawan bicaranya itu. Sebuah pemikiran yang sempat mengotori otaknya, ia buang jauh. Namun, ketika Ranti menggerakkan mulutnya, ia tahu jika usul Ranti memang bisa segila itu.


"Ya tanyain ke tuh anak, suka gak sama kamu?"


"Kamu gila?" Serta-merta Rana membalasnya dengan sewot. Baju yang semula sudah dilipat diacak-acak lagi. Mau ditaruh di mana muka Rana jika harus menyatakan perasaan pada Bara. Demi apa pun, Rana tidak akan bertindak senekat itu. Jika pada akhirnya Bara memang bukan takdirnya, Rana akan tetap merahasiakan perasaan itu.


"Lah, dari pada galau?"


Rana sudah membuka mulut, bersiap memerangi ucapan teman sejawat yang minta disambelin itu ketika ponselnya bergetar. Lantas nama yang tertera di layar sukses membuat jantung Rana terjun ke dasar perut.


Hingga nada dering berakhir, Rana hanya memandangi benda pipih itu. Ia bukannya tidak mau menerima panggilan Bara, hanya saja dia masih terlalu syok. Akan sangat canggung jika ia tiba-tiba harus berbicara dengan orang yang baru saja ia obrolkan dengan Ranti.


"Kok gak diangkat?" Pertanyaan Ranti bertepatan dengan nada dering panggilan yang kembali terdengar.


Rana segera menyembunyikan ponselnya di dada ketika gadis itu menjulurkan kepala. "Ini mau diangkat, kok." Rana berdehem, lantas berjalan keluar menjauhi Ranti.


"Assalamualaikum, Bar." Entah sebab apa jantung Rana harus bertalu sekencang ini.


"Waalaikumussalam, Ran. Bisa kita ketemu?"


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2