
Bertetangga sekaligus diam-diam menyukai lelaki yang bercita-cita menjadi penulis profesional seperti Bara, tanpa sengaja menumbuhkan minat Rana pada dunia literasi.
---
"Barusan Bara ngajakin saya jalan, Pak. Katanya sebagai perayaan karena cerpennya berhasil menembus media bergengsi," jawab Rana akhirnya, dengan berat hati.
"Oh, gitu." Bian berusaha untuk tidak terlihat kecewa.
"Kalau Om ada waktu, boleh ikutan, kok," tawar Bara santai.
Rana langsung menyentil siku Bara yang bertumpu di sudut meja. Entah kapan anak ini bisa sedikit menghargai Bian sebagai atasan Rana.
"Nggak usah. Kalian aja."
"Tapi kalau memang ada yang penting, bisa ditunda, kok, Pak," kata Rana buru-buru saat Bian memutar badan hendak beranjak.
Bian menoleh. "Nggak, kok, nggak penting. Lanjutin aja rencana kalian." Setelah berkata sekenanya, Bian kembali hendak beranjak.
"Om!" Kali ini Bara yang mencegat langkahnya.
Bian kembali menoleh dengan kedua alis terangkat.
Bara sigap merebut koran dari tangan Rana, lalu memberikannya ke Bian. "Di situ ada cerpen saya. Kalau ada waktu luang, Om baca, ya," terang Bara sebelum Bian sempat bertanya.
"Oke. Kebetulan sudah lama aku tidak baca cerpen. Awas kalau tidak bagus." Bian menyunggingkan senyum tipis kemudian benar-benar berlalu kali ini. Ia berjalan santai menuju pintu khusus di sudut area sales untuk kembali ke ruangannya.
Setibanya di ruangannya, Bian mengeluarkan ponsel untuk menghubungi mamanya, sekadar ingin menyampaikan bahwa rencana untuk mengenalkan Rana nanti malam, batal.
***
Suasana Nipa Mall tidak beda jauh waktu terakhir kali Rana mengunjunginya sekitar seminggu yang lalu. Pengunjung masih didominasi orang-orang yang sebatas penasaran dengan interior bangunan yang memang sedang jadi buah bibir ini. Banyaknya spot berfoto yang bagus memuaskan hasrat mereka yang ingin mengabadikan momen bersama pasangan ataupun keluarga. Hanya seglintir yang berniat untuk belanja, sebab memang baru beberapa toko yang sudah beroperasi. Sebagian besar masih dalam proses persiapan.
Karena tidak ingin pulang kemalaman, Rana dan Bara langsung menuju bioskop yang berada di lantai tiga.
"Kita jadi nonton Suzzanna, kan?" tanya Bara saat sedang mengantre untuk membeli tiket.
Rana mengangguk, meskipun sebenarnya ia tidak suka nonton film horor karena akan lebih sering menutup mata daripada menikmati filmnya. Tapi kali ini tidak masalah. Lagipula ia tahu, sejak trailer-nya rilis, Bara sudah sangat antusias menunggu film remake dari ratu horor Indonesia itu.
Kalau boleh memilih, sejujurnya Rana pengin nonton film drama percintaan remaja yang diangkat dari salah satu novel jebolan Wattpad, yang kebetulan sudah ia baca hingga tuntas selama di-publish secara berkala. Ya, bertetangga sekaligus diam-diam menyukai lelaki yang bercita-cita menjadi penulis profesional seperti Bara, tanpa sengaja menumbuhkan minat Rana pada dunia literasi. Meskipun ia baru bisa jadi pembaca, sama sekali belum tergerak untuk mencoba menulis.
Sesuai dugaan, sepanjang film, Rana lebih sering menutup mata. Bahkan beberapa kali sampai menjerit saking kagetnya. Bukannya prihatin, Bara malah menertawakannya. Rana hanya membalas dengan menoyor pundak lelaki itu.
Bahkan setelah berada di luar bioskop pun, Rana masih sesekali bergidik ngeri terbayang adegan-adegan menegangkan yang baru saja menjejali kepalanya.
"Filmnya keren banget, ya?"
__ADS_1
Rana kembali bergidik sebagai jawaban, membuat Bara terkekeh.
"Nanti kalau takut tidur sendiri, tinggal ketuk pintu aja, ya."
"Enak aja." Rana kembali menoyor pundak Bara.
Mereka sudah tiba di lantai satu, berjalan menuju sebuah restoran cepat saji.
"Papa!" Panggilan itu bersamaan dengan hadirnya sepasang lengan mungil memeluk kaki kanan Bara. Tangan kanan anak itu memegang miniatur Batman.
Tentu saja Bara kaget dan langsung menghentikan langkahnya. Ia menunduk dan melihat bocah lelaki berumur sekitar tiga tahunan yang kini mentapnya dengan mata berbinar dan senyum merekah sempurna.
"Kamu kenal?" tanya Rana heran.
Bara menggeleng tegas. Kemudian ia jongkok untuk menyeimbangi tinggi anak itu.
"Nama kamu siapa?"
"Kevin," jawab anak itu sambil tersenyum ceria.
"Lucu banget, ya?" Bara mendongak, meminta persetujuan Rana.
Rana mengangguk. Kemudian ia ikut jongkok untuk melihat anak itu lebih dekat.
Kevin menggeleng.
"Kita cari mama kamu, ya," usul Bara.
Kevin kembali menggeleng. Kemudian tangan kanannya yang masih memegang miniatur Batman menunjuk ke restoran cepat saji yang tadi hendak dituju Bara dan Rana.
"Ooo, kamu lapar?"
Kevin mengangguk antusias.
"Ya udah, kita makan dulu. Tapi habis itu kita cari mama kamu, ya."
Kevin kembali mengangguk. Kali ini sambil lompat-lompat karena sudah tidak sabaran pengin segera makan.
"Bar, yakin nggak apa-apa?" Rana tampak khawatir.
"Loh, kita, kan, nggak mau nyakitin dia, malah pengin dikasih makan."
"Tapi orangtuanya pasti lagi panik nyariin."
"Nanti, kan, kita bantu cariin orangtuanya. Tapi sekarang makan dulu, anak ini udah lapar." Tanpa menunggu persetujuan Rana, Bara menggendong Kevin, kemudian melanjutkan langkahnya ke restoran cepat saji tadi.
__ADS_1
Saat Bara menyodorkan buku menu, Kevin langsung menunjuk gambar burger, juga segelas minuman berwarna kuning. Ia tidak tahu kalau itu namanya jus jeruk. Yang penting warnanya sangat mencolok dan sangat menarik perhatiannya.
"Anak ini pasti anak orang kaya," tebak Bara sambil menoleh ke arah Rana yang berada di sebelah Kevin.
Rana mengangguk setuju. "Tampak pengalaman makan di restoran."
Bara dan Rana terkekeh. Kevin juga ikut-ikutan, tanpa tahu dia yang jadi topik pembicaraan.
Begitu pesanan mereka datang, Kevin langsung sibuk dengan burgernya. Miniatur Batman yang sedari tadi dimainkannya diletakkan begitu saja. Ia bahkan terkesan cuek pada Bara yang sesekali menggodanya. Kevin tampak lahap. Sesekali Rana membantunya memotong bagian-bagian tertentu untuk menghindari risiko tersedak.
"Punya anak rasanya kayak gini, kali, ya?" celetuk Bara.
"Kenapa, udah pengen?"
"Pengen, sih. Tapi gimana, ya, ibunya aja belum ada." Bara tertawa garing.
Rana yang sedang membantu Kevin minum hanya tersenyum sambil menggeleng geli.
Burger berukuran sedang tidak tersisa lagi di piring Kevin, begitupun segelas jus jeruknya. Anak itu tampak kekenyangan dan benar-benar puas.
"Udah kenyang?" goda Bara.
Kevin mengangguk malu-malu.
"Mau nambah?"
Kevin menggeleng sambil menepuk perutnya. Tingkah anak itu sukses menghibur Bara.
"Bar, mending buruan bayar, deh. Terus kita cari orangtua anak ini. Kalau perlu kita lapor ke satpam, sebelum kita dituduh penculik."
Mungkin karena telanjur suka dengan tingkah-tingkah lucu Kevin, Bara sama sekali tidak kepikiran kemungkinan buruk itu. Bara lekas berdiri, sementara Rana membantu Kevin turun dari kursi.
"Kevin?!" Saat itulah terdengar seorang perempuan memanggil nama Kevin dengan cukup keras, membuat beberapa pengunjung menoleh ke titik yang sama. Begitu pun dengan Bara dan Rana.
"Mama!" Kevin langsung melepas pegangannya di tangan Rana dan berlari ke arah perempuan itu.
Perempuan itu berjongkok sambil merentangkan tangan dan langsung menyambut Kevin dalam pelukannya. Kemudian ia menghujani anak itu dengan ciuman. Setelah merasa benar-benar lega, perempuan itu bangkit sambil menggendong kevin. Ia menghampiri Bara dan Rana.
Sedari tadi Bara tercengang bukan karena adegan dramatis pertemuan ibu dan anak yang sering ada di film-film, kini terjadi di depan mata. Ada hal lain.
"Dira?" tebak Bara setengah yakin setelah perempuan itu tiba di depannya.
***
[Bersambung]
__ADS_1