Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Arti Mencintai


__ADS_3

Orang yang ia harap jadi imam sudah lebih dulu mengikrarkan diri untuk menjadi imam orang lain. Jadi, izinkan ia belajar memulai yang baru sekarang.


---


Bian: Sudah sampai rumah?


Rana: Sudah, Pak. Alhamdulillah.


Bian: Bagaimana kabar Ibu dan adik-adik?


Rana: Alhamdulillah sehat.


Bian: Syukurlah. Insya Allah kami berangkat besok pagi.


Senyum Bian tak henti merekah seharian ini. Ah, tidak, bahkan dari berhari-hari sebelumnya. Hari yang ia tunggu akhirnya tiba. Besok ia dan kedua orangtuanya akan melamar Rana secara resmi, menentukan tanggal pernikahan yang semoga disegerakan.


Jika tidak ingat umur, ingin rasanya Bian melompat-lompat mengekspresikan kebahagiaan. Apa yang menjadi doa dalam sujud panjangnya akhirnya terkabul. Meski masih ada satu hal yang mengganjal di hati, panggilan Rana untuknya. Ia merasa seperti bapak-bapak yang akan menikahi anak kecil. Padahal perbedaan umur mereka tidak sampai sepuluh tahun. Tapi itu bisa ia pikirkan nanti.


Yang terpenting bagi Bian sekarang adalah penerimaan Rana. Ia sudah sangat bersyukur gadis itu pada akhirnya mau menerima. Soal cinta ia akan berusaha menghadirkannya perlahan. Seiring kebersamaan mereka, Bian yakin tidak akan sulit membuat Rana jatuh cinta. Lagi pula Rana yang menerima Bian sebagai calon suami juga bisa disebut usaha untuk mencintai Bian, kan?


Bian kembali berkutat dengan perlengkapan yang akan dibawa. Ia memastikan sekali lagi kemeja yang akan dikenakan besok tidak kusut, juga telah wangi. Tadi siang ia bahkan sudah ke barber shop langganan, meminta rambutnya dirapikan. Ia juga bersyukur telah menemukan pengganti Helen, dan menambahkan karyawan satu lagi. Bian butuh tambahan tenaga kerja sekarang ini.


"Yang mau lamaran, senyum terus sampai gak denger Mama ketuk pintu dari tadi."


Bian menoleh ke belakang, mamanya tengah bersandar pada kusen pintu kamar. "Mama? Kapan Mama ketuk pintu?"


Wanita itu berdecak. "Nah, kan, kamu bahkan gak tahu. Ngelamunin apa, sih?" Ia mendekat, menepuk pundak anak yang sudah jauh lebih tinggi darinya itu.


Bian terkekeh malu. "Oh iya, Mama kok belum tidur? Besok kita berangkat pagi lho."


"Iya, iya, Mama tahu, kok. Ini juga mau tidur, tapi si calon pengantin sendiri malah masih melek jam segini," ledeknya.

__ADS_1


Lagi, Bian tertawa. Ia lantas memeluk tubuh wanita yang paling dicintainya itu erat. Sekali lagi mengucap terima kasih dan memohon doa untuk acaranya besok.


***


Bian: Syukurlah. Insya Allah kami berangkat besok pagi.


Rana memandangi gawai yang menampilkan laman chat-nya dengan Bian. Kalimat yang dikirim lelaki itu seolah menyadarkan Rana bahwa tinggal hitungan jam nasibnya akan ditentukan. Setelah besok mungkin tidak akan ada lagi kesempatan baginya untuk melarikan diri atau sekadar membatalkan acara pernikahan mereka.


Rana menghela napas panjang. Ia berjalan menghampiri jendela, menyibak tirai hijau lumut itu. Gelap yang tertangkap retina. Cahaya lampu dari sudut rumah tidak cukup menerangi bagian samping bangunan sederhana itu. Ia menengadah, memandang langit yang dihiasi kelip-kelip kecil.


Selintas tanggapan Ibu dan adik-adiknya beberapa saat lalu ketika ia menginjakkan kaki di rumah menggelitik kuping.


"Alhamdulillah. Ibu pikir kamu tidak akan menerima lamaran Bian, Rana," ucap Sakka dengan mata dihiasi selaput bening.


"Horee! Kakak mau nikah sama orang kaya," teriak dua adiknya yang masih SD.


Rana tersenyum mengingat kegembiraan dua adiknya. Bagi mereka mungkin menikah dengan orang berada itu menyenangkan, seolah apa pun keinginan mereka akan terpenuhi. Andai sesederhana itu Rana tentu akan berkata iya di hari ketika Bian mengungkapkan perasaannya.


Jika pernikahannya dengan Bian bisa membuat keluarga bahagia, maka akan ia lakukan. Toh, cinta yang seharusnya ia perjuangkan sudah kandas. Orang yang ia harap jadi imam sudah lebih dulu mengikrarkan diri untuk menjadi imam orang lain. Jadi, izinkan ia belajar memulai yang baru sekarang.


***


Jari-jari panjang itu lincah menari di atas papan ketik, memvisualisasikan ide si penulis ke dalam laman word. Sudah sekitar 1500 kata yang Bara tulis selama satu jam ini.


Lelaki itu meregangkan otot-otot tubuh ketika bab 28 baru saja ia rampungkan. Bagian terbaru dalam kisahnya bersama Luna. Ia tersenyum semringah. Menulis selalu membawa pengaruh positif bagi pikiran dan hati. Kerinduannya pada Luna seolah terobati. Ia merasa berinteraksi dengan gadis kecil itu secara nyata. Terlebih dalam cerita yang ia tulis, ia telah menemukan gadis itu. Gadis kecil yang ia cari nyaris sepanjang hidup. Cinta masa kecil yang terus tumbuh seiring tubuh yang juga kian dewasa. Mungkin kisah yang ia tulis bisa disebut cinta sejati. Cinta yang tidak pernah mati meski jarak membentang dan waktu mengubah segalanya. Cinta yang meyakini bahwa apa yang ia tunggu pada akhirnya datang. Bahwa keajaiban cinta selalu ada.


Bara tersenyum kian lebar. Tak sabar untuk lekas merampungkan karya dan mengirim ke panitia penyelenggara event bergengsi itu. Jika ia berhasil memenangkannya, Bara akan mempersembahkan untuk Luna.


Berbicara tentang Luna, otomatis membawa satu nama yang beberapa hari ini cukup sering menghubunginya via ponsel, Dira. Gadis itu rutin menanyakan perkembangan hubungannya dengan si korek gas. Terdengar tidak penting bagi sebagian orang mungkin, tapi bagi Bara itu spesial. Dira membantunya mengatasi rasa takut dan trauma. Meskipun sampai detik ini Bara belum mampu menyalakan benda itu. Bara yakin, seiring berjalannya waktu ia akan bisa. Apa lagi dengan bantuan Dira, si penakluk api.


Faktanya skenario Tuhan memang unik. Bara yang notabene tidak bisa berinteraksi dengan api justru dipertemukan dengan orang yang bersahabat dengan zat panas itu. Barangkali Tuhan menginginkannya sembuh lewat Dira.

__ADS_1


Bara mengambil korek yang tergeletak di samping laptop. Menimang seperti biasa. "Demi kamu aku akan terus berusaha."


***


"Gelap tak selamanya menakutkan, kadang di dalam kegelapan justru tersimpan keajaiban. Seperti keajaiban sepertiga malam yang akhir, di mana doa layaknya anak panah yang tepat sasaran."


Dira tersenyum membaca kutipan status dari akun Instagram @maliq_ itu. Segala apa yang menghiasi time line-nya berisi kebaikan. Kalimat-kalimat yang tidak menggurui, tapi berhasil memengaruhi alam bawah sadar si pembaca untuk bersikap lebih baik.


Tak jarang update statusnya dipenuhi komentar para gadis yang terang-terangan memuja. Seperti beberapa komen yang sempat Dira baca malam ini.


@akhwat.bercadar: Masya Allah, terima kasih akhi sudah diingatkan.


@gadis_pemalu: Terima kasih akhi. Insya Allah belajar istiqomah untuk sholat malam.


@desi.bukan.ratnasari: Yang kayak gini nih, cocok jadi calon imam.


Dan sederet kalimat-kaliamt lain yang tidak sempat Dira baca.


Hal yang membuat Dira kian kagum dengan lelaki yang dikenalnya bertahun silam, Malik sama sekali tidak menggubris komentar mereka. Seperti yang Dira tahu, Malik akan tetap menjadi Malik, pemuda taat agama yang mungkin menomorsekiankan urusan dunia, apa lagi hanya persoalan cinta.


Namun, kenyataan itu tak lantas membuat Dira patah arang. Kekagumannya pada pemuda itu masih sebesar dulu, bahkan lebih. Keinginan Dira untuk bisa bersanding dengan Malik akan tetap menjadi cita-cita abadi hingga pemuda itu telah menambatkan hati pada gadis lain.


Dira percaya akan selalu ada jalan menuju bahagia. Seperti musibah yang dulu menimpa keluarganya. Awalnya Dira pikir, hidupnya tidak akan seberarti dulu. Tidak akan lengkap. Tapi, justru itu menjadi titik balik. Sekarang ia menjadi penyambung kebahagiaan bagi keluarga lain. Mereka yang berhasil Dira dan tim selamatkan dari kebakaran.


Netra Dira melebar ketika akun Instagram yang tengah ia satroni menampilkan story baru. Jantungnya mendadak bertalu cepat, dibarengi rasa aneh yang merambati dada. Foto masjid itu tidak mungkin salah Dira kenali. Ia ingat betul, masjid dengan kubah emas dan pilar hijau itu ada di kota mereka dulu. Masjid yang sering Malik sambangi untuk memanggil orang-orang sholat.


Hal yang lebih mendebarkan adalah kalimat di bawah foto itu. "Rindu adzan di sana."


Apa itu artinya Malik akan pulang ke Indonesia?


***

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2