Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Membiasakan Diri


__ADS_3

Sekian lama rasa itu tak pernah padam. Aku yakin ada sesuatu di balik besarnya perasaan ini.


---


Pada akhirnya semua akan kembali. Seperti jodoh yang telah digariskan. Ia boleh membawa hatinya lari dan bersembunyi. Toh, pada akhirnya ia pun kembali. Layaknya patahan koin yang tidak mungkin digantikan yang lain.


Itu adalah penggalan paragraf di part terakhir cerita Bara. Dua minggu ini pemuda itu memforsir tenaga dan pikirannya untuk merampungkan tulisan. Bukan tanpa alasan memang. Karena selain deadline, pun karena ia sengaja mengajak hati dan otaknya sibuk.


Menulis membuatnya harus memikirkan ide, menentukan adegan dan tentu saja pesan moral yang ingin disampaikan. Dengan begitu tak ada ruang bagi otaknya untuk memikirkan yang lain. Menulis juga turut menyalurkan emosi yang tak bisa ia ungkapkan. Biarlah aksara yang akan menjadi saksi, tentang si hati yang merana sendiri, tentang rasa yang gagal ia pahami.


Jika suatu hari ada yang menyadari, Bara harap hatinya telah sepenuhnya pulih. Tentang rasa yang ternyata tak bisa bersambut baik, biarlah Bara menyimpannya. Menempatkan dalam kotak khusus yang dikunci rapat dan disembunyikan.


Setelah memastikan tulisannya beres, Bara mengirimkan ke email panitia penyelenggara, sembari berdoa yang terbaik untuk karya dan dirinya sendiri.


Bunyi notifikasi dari ponsel di atas kasur membuat Bara menoleh. Akhir-akhir ini ia tidak begitu akrab dengan benda pipih untuk komunikasi itu. Ia lebih sering menaruh benda itu di atas kasur jika sedang di kos. Dan meletakkan di ransel ketika berada di kampus. Kadang beberapa teman sampai protes karena Bara yang sulit dihubungi.


Tentu saja Bara melakukan itu karena sebuah alasan. Satu kontak dengan foto profil bunga lily adalah penyebabnya. Tangannya seolah tergoda untuk menghubungi nomor itu setiap kali bersentuhan dengan gawai. Sedangkan situasi dan kondisi tidak mengizinkan semua itu.


Satu pesan masuk dari Dira. Foto Bandara Husein Sastranegara terpampang, diikuti caption, Alhamdulillah selamat sampai tujuan. Bara segera mengetikkan balasan.


Bara: Alhamdulillah. Bagaimana keadaanmu?


Dira: Sedikit pusing, tapi juga berdebar bahagia.


Pesan itu diakhiri dengan emot senyum penuh cinta. Bara ikut tersenyum.


Bara: Kabari kalau kamu sudah bertemu dengannya.


Dira: Ship. Kamu juga selamat berjuang.


Kali ini Bara mendengkus, lantas tertawa kecil. Berjuang itu berusaha mendapatkan apa yang diinginkan. Berjuang adalah melakukan apa pun demi meraih yang dicita-citakan. Lalu, melupakan seseorang apa bisa disebut berjuang? Membunuh rasa cinta yang belum sempat dinyatakan apa juga bisa disebut berjuang?


Bara menggeleng. Ia teringat kembali pertemuan dengan Dira tiga hari lalu.


"Aku akan pergi ke Bandung." Kalimat itu mengalir mulus dari mulut Dira.

__ADS_1


Bara sudah menduga, ajakan gadis di hadapannya ini pasti punya maksud dan tujuan. Tapi ucapan Dira membuat kening Bara berkerut. "Ngapain?"


Sekilas Bara bisa melihat kilat bahagia di mata Dira sebelum berucap, "Dia sudah kembali."


Tanpa perlu bertanya siapa yang Dira maksud, Bara sudah tahu. Tentu saja si lelaki tambatan hati. Orang yang katanya menempuh pendidikan di Mesir itu.


Bara mengangguk. "Dia tahu kamu akan datang?"


Gelengan Dira berikan, hal yang membuat Bara cukup kaget. "Aku akan langsung menemuainya," ucap Dira mantap.


"Lalu?"


Dira mengedikkan bahu. "Lalu menyatakan perasaanku tentu saja. Apa lagi?"


Alis Bara berjengit. Tidak menyangka Dira akan senekat itu. "Kamu, kan, cewek?"


"Emangnya kenapa? Bukannya Khadijah juga menyatakan perasaannya lebih dulu kepada Baginda Nabi?"


Bara meringis, ia paham itu. "Bagaimana kalau ditolak?"


Kali ini Bara tersenyum. Faktanya Dira memang sepemberani itu. Ia mencibir diri sendiri yang tidak bisa seperti Dira.


"Dan kamu Bara," ucap Dira kemudian. "Kamu juga harus berjuang. Aku yakin sebenarnya ada seseorang yang kamu cintai tanpa kamu sadari."


"Bagaimana kamu bisa menebak seperti itu?" Netra Bara memicing.


"Karena kamu sudah dewasa. Jadi sangat mungkin untuk jatuh cinta. Ayolah, jangan menoleh ke belakang terus! Luna pasti ikhlas, kok."


Tawa Bara pecah. Yang Dira tidak tahu adalah Bara sudah menemukan siapa yang ia jatuh cintai. Yang Dira tidak tahu adalah ia juga telah patah hati di waktu yang bersamaan.


***


"Bagaimana kalau yang ini?" Bian menunjuk gambar dekorasi resepsi pernikahan dengan nuansa putih. Kursi pengantin putih, bunga mawar putih, serba putih yang terlihat begitu sakral. "Atau bunganya bisa kita ganti lily kesukaan kamu."


Rana mengamati gambar rekomendasi calon suaminya. Saat ini mereka sedang berada di kantor wedding organizer. Rencananya resepsi pernikahan akan diadakan di rumah Bian, sementara akad di kediaman Rana. Katalog di meja rendah itu adalah contoh dekorasi yang harus mereka pilih.

__ADS_1


Rana sempat kagum dengan apa yang dilihat mata, apalagi jika membayangkan bunga lily putih di sana. Tapi matanya melebar sempurna ketika melihat nominal harga yang berkisar delapan digit angka itu. Ia membalik katalog, lantas bergumam paham. Apa yang sedang mereka lihat adalah contoh dekorasi super spesial dengan harga istimewa tentu saja.


"Lebih bagus juga yang di sini, Daeng." Rana mengganti dengan katalog lain berkelas standar.


Dahi Bian berkerut. "Kata Mbaknya tadi yang paling bagus ini, Ran."


Rana mendesah. "Iya, tapi melihat harganya saya langsung pusing."


Bian terkekeh. "Kalau pusing nanti saya gendong."


"Apaan, sih, Daeng?." Pipi Rana memanas. Akhir-akhir ini Bian memang mulai sering menggoda. Meski tidak pernah benar-benar merealisasikan, tapi tetap saja hal itu membuat Rana malu.


"Saya sudah bilang, kan, soal biaya itu urusan saya," kata Bian serius. "Kalau kamu juga suka kita pakai yang itu."


"Gak, gak." Gadis berhijab itu menggeleng tegas. "Daripada untuk resepsi yang cuma beberapa jam mending uangnya buat yang lain."


"Misalnya?"


"Ya, yang lebih bermanfaat. Misal untuk pendidikan anak kita nanti."


Melihat ekspresi Bian yang mengulum senyum penuh arti, Rana sadar jika ia telah melakukan kesalahan. Apa yang ia ucapkan berpotensi membuatnya lebih malu lagi.


"Memangnya kita mau punya anak berapa?" Penekanan pada kata kita sudah cukup menjadikan pipi Rana kian terbakar.


Gadis itu berdeham, tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. "Ngg ... saya ke kamar mandi dulu, ya," pamitnya terburu tanpa menoleh.


Di kamar mandi Rana mengipas-kipas wajah yang sudah serupa udang rebus itu. Ia merutuki Bian yang semakin pintar menggoda, entah belajar dari mana.


Menatap cermin di depan wastafel, Rana tersenyum. Tidak menyangka jika hubungan mereka akan secair ini. Mungkin karena intensitas pertemuan dan obrolan mereka yang kian sering juga turut berpengaruh.


Lalu, bagaimana dengan si hati?


Rana tidak tahu. Ia hanya mencoba membiasakan diri dengan kehadiran Bian. Menikmati setiap perlakuan manis calon suaminya itu. Meski tak bisa dipungkiri kadang rindu menyelinap mencuri sedikit waktu Rana dengan bayang wajah Bara.


***

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2