Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Keputusan


__ADS_3

Sejatinya, waktu tak bisa menunggu. Pada akhirnya masing-masing hati harus mampu mengambil keputusan dan menetapkan arah selanjutnya untuk merentang kisah.


---


"Terima kasih atas kunjungannya, selamat datang kembali."


Rana memberi senyum terbaik pada pelanggan yang baru saja meninggalkan Sakura. Pelanggan istimewa yang dia kenal dua tahun belakangan. Namanya Hadi, lelaki berumur yang sudah memiliki empat cucu. Setiap tanggal 12 dia akan mengunjungi Toko Sakura, mencari bunga matahari terbaik.


"Buat siapa, Pak?" tanya Rana pada pertemuan pertama mereka.


"Istri saya," jawab lelaki yang sebagian rambutnya sudah berubah warna menjadi keperakan itu.


"Wah, Bapak romantis sekali."


Lelaki itu tersenyum. "Untuk orang yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk saya, tidak ada kata romantis, yang ada adalah wujud terima kasih saya padanya."


Mulut Rana ternganga, takjub akan penjelasan Kakek Hadi. Rana bisa merasakan ketulusan cinta dalam sosok lelaki yang tidak muda lagi itu. "Saya jadi penasaran dengan beliau."


"Sayangnya, saya tidak mungkin membawanya ke sini."


"Loh, kenapa?"


Hal selanjutnya yang Rana tahu adalah istri lelaki itu telah tiada. Tanggal 12 adalah tanggal kematiannya. Itulah sebabnya ia selalu membeli bunga matahari setiap tanggal itu.


Rana masih memandangi mobil sedan hitam itu hingga tak lagi terlihat. Dia lantas mendesah, akankah kisah cintanya kelak berjalan seperti keluarga Kakek Hadi? Setelah maut memisahkan, tak lantas membuat luntur cinta mereka.


"Permisi, Mbak?" Seorang gadis manis berkucir kuda tersenyum ke arah Rana.


"Iya, ada yang bisa dibantu?" Melihat penampilan gadis itu yang bersetelan rapi, Rana sepertinya tahu maksud kedatangannya.


"Perkenalkan, saya Lisa, yang kemarin dihubungi untuk melakukan interview."

__ADS_1


Rana mengangguk, lantas membawa Lisa bertemu bos Sakura. Bian sedang berkutat dengan laptop ketika Rana mengetuk pintu ruangannya yang sedikit terbuka. Setelah memberitahukan tentang si pelamar, ia undur diri.


Sejenak ekor mata Rana memperhatikan Bian, ajakan lelaki itu kemarin telah ia setujui. Rana yakin, Bian tidak hanya ingin makan pisang epe seperti yang ia utarakan. Mungkin, Bian akan menanyakan jawaban atas lamarannya. Gadis berhijab itu mendesah, semalam ia telah berpikir keras, menimbang segala kemungkinan. Dan semoga keputusannya nanti akan membawa Rana bersama sosok seperti Kakek Hadi.


***


Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat ketika Bian dan Rana turun di tempat penjual pisang epe. Bukan jenis tempat makan mewah dengan pelayanan wah. Tempat yang mereka datangi sederhana, tapi pengunjungnya lumayan membludak.


Aroma khas dari pisang kepok yang dibakar menyambut kedatangan Bian dan Rana. Pun dengung obrolan para pengunjung yang nyaris menempati setiap sisi ruangan. Mereka mendapat tempat di sudut, dekat jendela yang berhadapan langsung dengan jalan hitam.


"Bagaimana kontrakan barunya?" Bian mengawali percakapan setelah hening beberapa saat.


"Lumayan nyaman," jawab Rana diselingi senyuman. Meski ia belum terlalu akrab dengan tetangga kos, tapi sejauh ini Rana merasa tenang tinggal di sana.


"Syukurlah. Bagaimana dengan Bara?"


Alis Rana berjengit, mendengar nama itu membuatnya ingat percakapan dengan Bara tempo hari, tentang lelaki di depannya ini. Tentang Bian yang meminta pendapat Bara demi bisa dekat dengan Rana. Begitu besar usaha lelaki itu, Rana juga tidak mungkin lupa dengan Bian yang merelakan waktunya untuk mengantar pulang ketika adiknya meninggal. Lantas setega itukah Rana untuk menyakiti Bian dengan menolak lamarannya?


"Apa?" respons Bian sedikit kaget, tidak menduga jika Rana akan langsung menembaknya dengan pertanyaan seperti itu. "Oh, itu ...." Kalimat Bian terjeda karena pelayan yang membawakan pesanan mereka.


Dua porsi pisang epe yang masih mengepul dengan aroma khas tersaji di meja. Tapi, Bian mendadak kehilangan selera. Apa yang dikatakan Rana barusan benar adanya. Ia sengaja mengajak Rana ke sini karena ingin tahu jawaban tentang lamaran itu. Sebutlah Bian tidak sabaran, ia hanya ingin secepatnya mengetahui isi hati Rana. Beberapa hari ini, ia nyaris tidak bisa tidur. Bayangan gadis berhijab itu menari-nari di dunia khayalnya. Mengetahui Rana yang harus menghidupi ibu serta dua adiknya membuat Bian simpati. Dia ingin membantu, setidaknya menjadi tempat bersandar kala lelah. Dan yang paling mengusik Bian adalah Rana yang harus hidup sendiri. Ketika kontrakan Rana yang dulu terbakar, sebuah pemikiran buruk sempat mengotori otaknya, bagaimana jika saat itu Rana ada di sana? Bian tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan Rana.


"Kita makan dulu, setelah itu baru bicara, ya?" pinta Bian, yang diamini oleh Rana.


Sebenarnya Bian hanya sedang mengulur waktu. Ia tahu akan ada dua kemungkinan nanti, diterima atau ditolak. Dan memikirkan kemungkinan ke dua membuatnya memilih menikmati waktu yang tersisa. Meski untuk menelan pisang kepok bakar itu tidak semulus biasanya.


"Bagaimana kabar keluargamu?" tanya Bian setelah beberapa kali suapan. Keheningan yang sempat meraja karena aktivitas mereka membuat Bian justru semakin cemas. Terlebih bukankah ia sedang berusaha menjadi seseorang yang nyaman untuk Rana? Jadi ia harus lebih cerewet, kan?


"Alhamdulillah, mereka baik, Pak." Jeda sejenak, setelah Bian mengangguk. "Orangtua Bapak gimana?" Rana menggigit bibir, masih belum terbiasa terlibat obrolan seintim ini. Saling menanyakan keluarga seolah mereka punya hubungan khusus.


"Mama sama Papa sehat, alhamdulillah. Dan romantis seperti biasa." Perkataan terakhir Bian membuat keduanya tersenyum.

__ADS_1


Bian berdeham, tangan yang berada di atas paha terkepal erat. Jantungnya serasa sedang adu balap entah dengan apa. Meminta jawaban dari Rana sensasinya lebih dahsyat ketimbang saat menyatakan perasaan dulu. "Rana ...."


"Pak ...."


Mereka terkekeh karena bersuara nyaris berbarengan. Untuk sesaat keduanya saling melempar siapa yang lebih dulu bicara. Rana meminta Bian lebih dulu, sementara Bian sebaliknya.


"Baiklah," Bian mengalah, dia kembali berdeham sebelum berujar, "Soal lamaran itu," ia menelan ludah, "kamu sudah ...."


"Saya menerimanya."


Bian belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Rana justru memberikan jawaban yang di luar ekspektasi. Bian perlu waktu beberapa saat demi mencerna ucapan gadis yang hari ini mengenakan blus salem dan rok hitam itu. "Apa Rana?" Ia bahkan perlu mengonfirmasi sekali lagi.


"Saya menerima lamaran Pak Bian," ujar Rana lebih lengkap, dibumbui senyum malu di akhir pernyataan itu.


Bian ternganga, masih tidak percaya dengan pendengarannya. Mimpi apa ia semalam sampai mendapat kenyataan seindah ini? Sudut-sudut bibirnya tertarik maksimal, saking bahagianya ia nyaris menggenggam tangan Rana, tapi ketika sadar bahwa mereka belum halal, ia buru-buru minta maaf.


"Terima kasih Rana, terima kasih," ucap Bian tulus. Ia rasa ia akan tidur nyenyak nanti malam, atau mungkin justru tidak bisa tidur karena kenyataan yang sedang dia hadapi sekarang lebih indah dari mimpi.


***


"Iya, Ma. Pokoknya kosongin jadwal Papa sama Mama akhir bulan ini." Bian tidak mampu membendung kebahagiannya. Pasca lamarannya diterima oleh Rana, senyuman tak henti menghiasi bibir. Rasanya tersenyum terus pun Bian rela. Ya, ia se-lebay itu karena Rana. Menyebut nama gadis itu benar-benar membuat dadanya bergetar. Tinggal satu langkah lagi dan ia akan menjadi imam bagi Rana. Satu langkah lagi Bian dan Rana akan berada di bawah atap yang sama.


Bian belum pernah merasakan sesemangat ini. Dulu ketika mengawali berdirinya Sakura, semangatnya berkobar tapi tidak seintens sekarang. Saking excited, Bian berharap bisa menggulung waktu untuk segera bertemu keluarga Rana dan melakukan lamaran secara resmi, termasuk menentukan tanggal pernikahan mereka.


"Iya, Sayang. Semua akan Mama atur. Kamu tinggal terima beres aja."


Apa lagi yang Bian harapkan? Calon istri idaman di depan mata, orangtua yang full suport, sepertinya Tuhan benar-benar sedang menyayangi Bian saat ini. Segalanya terasa begitu mulus.


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2