
Entah seperti apa pola pikir orang-orang yang selalu beranggapan bahwa cinta itu mudah. Karena apa-apa yang berkaitan dengan sesuatu tak kasat mata nyatanya lebih rumit dari semua jenis rumus perhitungan yang ada di muka bumi.
---
Pagi ini dibuka dengan kecanggungan. Satu hal yang disyukuri Bian, sikap Rana terhadapnya tidak berubah. Meski memang agak kaku. Itu sangat wajar. Seiring menit bergulir, kecanggungan itu perlahan-lahan larut ditelan kesibukan. Lalu diam-diam Bian bertanya dalam hati, apa yang akan terjadi selanjutnya? Setelah berhasil melewati fase paling krusial, apakah tinggal menunggu dalam senyap? Atau terang-terangan meminta jawaban? Atau malah membiarkan waktu menguapkannya tanpa jejak? Bian benar-benar tidak habis pikir bagaimana pola pikir mereka itu yang selalu bilang cinta itu mudah.
***
Rana selalu berusaha bersikap profesional dalam menjalani pekerjaannya. Karena itu, ia tidak sembarang menerima telepon di jam kerja. Tapi karena panggilan ibunya kembali menggetarkan ponselnya untuk kali kedua, Rana segera meminta izin kepada Bian untuk mengangkatnya.
Setelah diizinkan, Rana berlari-lari kecil ke belakang sambil menjawab telepon ibunya, sebelum waktu tunggunya habis. Rana yang sudah tiba di depan ruang istirahat mendadak lemas saat mendengar tangis ibunya. Pasti ada yang tidak beres, pikirnya. Kemudian dadanya seperti dihantam palu saat mendengar kabar duka yang keluar bersamaan raungan tangis ibunya. Rana terhuyung. Ia hampir terjatuh kalau saja tangan kirinya tidak sigap bertopang di dinding. Kini air mata Rana juga sudah membanjir.
"Rana akan pulang, Bu," katanya susah payah, lalu mematikan sambungan telepon.
Rana yang merasa lemas membiarkan tubuhnya merosot hingga terduduk di lantai. Ia berusaha meredam tangisnya sebelum ada yang melihat. Ia tidak ingin mengganggu suasana kerja. Tapi terlambat. Bian yang masuk untuk mengisi botol semprotannya dengan cairan khusus anti bakteri, sudah melihatnya.
"Kamu kenapa, Ra?" Bian langsung jongkok di samping Rana.
"Adik saya meninggal, Pak." Bahu Rana kembali terguncang keras.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un ...," desis Bara, lalu tertegun.
"Aku boleh izin pulang sekarang, Pak?" Rana menyusut air matanya.
"Oh, tentu!" jawab Bian secepat kilat. "Mau pulang kampung?" imbuhnya.
Rana mengangguk.
"Aku antar, ya."
"Nggak usah, Bone itu jauh, Pak."
"Iya, tahu. Karena jauhnya itu, sebaiknya aku anterin. Kamu pasti pengen segera tiba, kan?"
Rana memang ingin segera tiba di kampung halaman untuk berbagi kesedihan dengan ibunya. Tapi rasanya sangat memberatkan kalau ia harus menerima tawaran Bian.
"Kalau naik mobil sewa pakai nunggu lagi, loh. Belum tentu ada yang mau berangkat jam segini."
Bian benar.
"Atau mau minta dianterin Bara?" Bian curiga.
__ADS_1
Rana menggeleng. Meski sempat berpikir begitu, tapi sebaiknya jangan. Selain sibuk mengerjakan tulisan, Bara harus kuliah.
"Ya udah, berarti sama aku aja." Bian berdiri. "Ambil tasmu, sekalian aku anterin ke kos dulu buat berkemas. Dari kosanmu kita ke rumahku sebentar, aku harus pamit sama mama, sekalian ambil pakaian ganti." Usai berkata demikian, tanpa perlu menunggu persetujuan Rana, Bian masuk ke ruangannya. Ia harus memastikan beberapa hal sebelum meninggalkan toko.
***
Enam jam bukan waktu yang singkat untuk sebuah perjalanan. Dan akan terasa lebih lama karena Rana melaluinya bersama Bian, bos yang sudah terang-terangan mengakui perasaan spesial di hatinya. Ditambah duka yang sedang membalut hatinya. Tiba-tiba Rana merasa bersalah karena tidak menyempatkan waktu untuk pulang menjenguk adiknya. Ah, tidak ada gunanaya menyesal. Rana hanya ingin segera tiba di rumah.
Sesekali Bian melirik Rana yang terus-terusan meneteskan air mata. Hatinya sungguh pilu menyaksikan hal itu. Tapi Bian tidak bisa berbuat apa-apa. Air mata itu sangat wajar untuk seseorang yang sedang kehilangan.
Rumah keluarga Rana berada di Kelurahan Bajoe, bersebelahan dengan laut. Suasana di sepanjang tanggul yang dilewati mobil Bian tampak sangat nyaman untuk bersantai sekadar menikmati angin laut. Tapi tentu saja bukan sekarang.
Rumah mungil itu sudah disesaki pelayat. Beberapa orang membentuk kelompok-kelompok kecil di depan rumah. Empat bapak-bapak tampak sibuk menyiapkan keranda.
Begitu mobil Bian berhenti, Rana langsung turun. Meski tergesa-gesa, Rana menyempatkan diri menyalami para kerabat dan tetangga yang kebetulan melihat kedatangannya.
Setibanya di ruang tengah tempat jasad adiknya terbujur, pertama-tama Rana langsung melabuhkan diri dalam pelukan Sakka, ibunya. Tangis mereka seketika bersahutan. Kedua adik Rana lainnya ikut merapat, saling merangkul, berbagi kekuatan. Rana menyingkap kain penutup jasad adiknya di bagian atas. Ia mengelus kedua pipinya, lalu mengecup keningnya. Rana sungguh tidak mampu menarik diri dari kubangan rasa bersalah. Seharusnya ia langsung pulang saat mendapat kabar adiknya masuk rumah sakit. Sakka telaten mengelus punggung Rana, mencoba meredakan gemuruh apa pun yang sedang menguasai putri sulungnya itu.
Bian mampir di teras, bergabung bersama bapak-bapak yang larut dalam beragam obrolan. Bian menyalami mereka satu per satu, memperkenalkan diri sebagai temannya Rana. Setelahnya, Bian lebih banyak diam, karena bapak-bapak di sekelilingnya serius mengobrol dalam bahasa Bugis. Bian tidak paham.
Pemakaman berlangsung sekitar jam lima sore. Bian ikut mengantar. Rana, ibu, dan kedua adiknya, juga tiga orang kerabat ikut di mobilnya. Sekali lagi Rana tampak sangat terpukul. Ini memang sudah jadi ketentuan Yang Maha Kuasa, tapi tetap saja ada rasa bersalah yang mendiami relung hati Rana. Sebagai seorang Kakak sekaligus tulang punggung keluarga, minimal ia bisa mengupayakan pengobatan yang lebih baik.
"Iya, Bapak pasti masih capek, kan? Lagipula nyetir sendirian malam-malam kurang aman. Bukannya apa, takut Bapak ngantuk karena nggak ada teman ngobrol." Rana menambahkan. Sisa air mata masih membekas di pipi gadis itu.
"Baik, Bu," ujar Bian, lalu mengangguk juga sambil tersenyum ke arah Rana. Mengemudi sendirian di malam hari tentu tidak masalah bagi Bian, tapi ia memang berniat untuk tinggal sampai besok. Ia ingin menemani Rana melewati ini semua.
***
Malam hari, lantunan ayat-ayat suci Al-Quran memenuhi rumah duka. Menjalar hingga ke sudut-sudut kampung. Bian ikut mengaji bersama pemuka-pemuka agama dan beberapa anak remaja masjid yang datang sejak bakda magrib tadi. Sementara Rana dan beberapa sepupu perempuannya sibuk di dalam, menyiapkan makanan dan minuman ala kadarnya untuk mereka.
Pengajian untuk malam ini berlangsung sampai pukul sembilan, tapi ada juga yang tetap tinggal hingga sejam setelahnya. Bian sedang menyendiri di teras, menatap ke arah laut yang gelap sempurna. Hanya lampu-lampu di pelabuhan yang menjadi penerangnya, juga beberapa titik cahaya kecil yang berasal dari kapal-kapal nelayan.
"Bapak nggak istirahat?" Rana datang menyela keasyikan Bian menyesap aroma laut.
"Sebentar lagi."
"Nanti Bapak tidur di kamar depan, ya. Saya biar gabung sama ibu dan adik-adik di dalam."
Bian hanya mengangguk. Sebenarnya ia tidak masalah kalau harus tidur di lantai.
"Saya izin tinggal beberapa hari lagi, ya, Pak. Saya masih belum sanggup ninggalin Ibu."
__ADS_1
"Iya, nggak apa-apa."
Rana tersenyum datar. "Saya masuk dulu, Pak, mau nemenin Ibu."
Bian mengangguk mempersilakan, lalu mengembalikan tatapannya ke fokus semula.
Sebelum ke dalam, Rana mampir sebentar membereskan kamar depan yang akan ditempati Bian malam ini. Biasanya kalau pulang, ia tidur di situ. Saat merapikan seprai, Rana menemukan ponselnya tergeletak begitu saja di sisi bantal. Rana kaget melihat puluhan panggilan tidak terjawab dari Bara. Astaga, Rana baru ingat, ia belum mengabari lelaki itu. Di WA, pesan Bara juga masuk secara beruntun. Lelaki itu protes karena Rana pulang tidak bilang-bilang.
Rana_: Maaf, Bar, aku benar-benar kalut tadi, sampai-sampai lupa ngabarin.
Bara_: Ditelpon nggak diangkat, dichat nggak direspons. Aku khawatir, tahu.
Rana_: Tadi sama sekali nggak sempat pegang hp.
Bara_: Aku kaget banget waktu dapat kabar adikmu dari orang toko. Terus mereka juga bilang, kamu pulang diantar Bian.
Rana_: Sekali lagi maaf, aku benar-benar lupa ngabarin.
Bara_: Iya, nggak apa-apa. Turut berduka, ya, Ran.
Rana_: Makasih, Bar.
Bara_: Kamu kapan balik ke sini?
Rana_: Mungkin lusa. Aku udah izin sama Pak Bian.
Bara_: Kalau gitu tunggu, ya, besok sore sepulang kuliah aku ke situ. Lusanya kita barengan pulangnya.
Seketika sudut bibir Rana tertarik membentuk lengkungan tipis.
Rana_: Bar, aku minta maaf, ya. Sikapku tadi pagi nggak banget.
Bara_: Udah, lupain aja. Aku yang salah karena udah sok-sokan menilai lelaki yang pantas buat kamu.
Rana_: Sampai jumpa besok.
Bara membalas dengan emotion senyum. Rana ikut tersenyum, tapi tidak ikut mengirimkan emotion. Ia mengantongi ponselnya dan lanjut merapikan kamar itu.
***
[Bersambung]
__ADS_1