Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Perubahan yang Memengaruhi Suasana Hati


__ADS_3

Mengabaikan uluran tangan di belakang kita dan memilih untuk berjuang sendiri, itu sama halnya kurang bersyukur.


---


Untuk pertama kalinya Rana tidak semangat kerja. Selain masih berkabung atas kematian adiknya, bayangan kebersamaan Bara dan Dira terus memperburuk keadaannya. Dibantu Ranti, tadi pagi ia ke kos untuk mengemasi barang-barangnya. Ia sudah memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


Rana sempat mengamati unit Bara. Sepertinya sudah kosong. Entah kapan Bara mengemasi barang-barangnya. Atau barangkali ia minta bantuan Riko. Hati Rana mencelus melihat kerusakan pintu unit itu. Ia yakin, petugas DAMKAR mendobrak pintu itu untuk mengeluarkan Bara. Rana tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya Bara saat itu.


Sejak pagi tadi, total ada sembilan pelamar yang datang. Atas permintaan Bian, Rana sedang menghubungi mereka satu per satu, diminta datang besok pagi untuk wawancara.


"Hei ...." Sapaan itu terdengar saat Rana hendak menghubungi nomor kelima. Tatapannya langsung bergeser dari layar ponsel ke manik mata Bara yang sudah berdiri di seberang meja kasir.


"Hei." Rana menjawab datar, sangat timpang dengan biasanya.


"Kamu kapan tiba dari Bone?"


"Tadi malam."


"Katamu mau langsung ke rumah sakit." Bara mengernyit.


"Sudah terlalu larut. Takut nggak dibolehin lagi sama satpam."


"Kamu baik-baik aja?" Bukan hanya intonasi suara, tapi semua gerak-gerik Rana hari ini terasa asing bagi Bara.


"Harusnya aku yang bertanya begitu."


Sejenak hening. Rana bermaksud melanjutkan menghubungi pelamar selanjutnya, tapi fokusnya telanjur pecah. Ia terus-terusan salah memasukkan nomor. Sebenarnya Bara ingin berbagi kebahagiaan, setelah mengetahui status Dira yang masih single. Tapi sepertinya timing-nya tidak pas.


"Aku turut berduka atas kepergian adikmu." Suara Bara lebih pelan dari sebelumnya. "Maaf, karena musibah itu, aku tidak jadi menyusulmu."


Rana tersenyum datar, berusaha memvisualisasikan rasa terima kasih dan pemakluman secara bersamaan.


"Ran, udah kamu hubungi semua?" Bian hadir menengahi mereka.


"Sementara, Pak." Rana megembalikan fokusnya ke data pelamar yang terpampang di depannya.


"Hei, Bro. Gimana, udah waras?" Bian sengaja menepuk agak keras pundak Bara.


Bara merespons dengan gerakan menekuk lengan, sok memamerkan tonjolan ototnya yang tidak seberapa. Bian terkekeh dibuatnya.


"Kalian mau aku cariin kosan yang berdempetan lagi? Atau minimal satu lokasi, gitu?"


"Nggak usah, Pak." Rana buru-buru menimpali. "Dekat rumah Ranti ada kosan, saya mau di situ aja."


Sungguh respons yang tidak terduga oleh Bara. "Kita nggak akan sama-sama lagi?" Ia mengernyit.


"Kita emang nggak harus selalu sama-sama, kan?"


Mendadak Bian merasa salah posisi. Untung ada customer yang tiba-tiba bertanya sesuatu padanya, jadi ia bisa langsung beranjak dari obrolan itu.

__ADS_1


"Aku punya salah?" Suara Bara semakin pelan. Wajah kekanak-kanakannya sama sekali tidak tampak kali ini.


Rana menggeleng. "Maaf, aku lagi kerja, Bar!"


Bara mendesah pelan. Hari ini Rana benar-benar bukan ibu peri yang dikenalnya selama ini. Ada apa?


***


Bara meletakkan kembali ponselnya di atas nakas setelah mengakhiri percakapan singkatnya dengan Dira. Bara memang tidak jago berbasa-basi. Daripada garing, ia menyudahinya.


"Udah, gitu aja?" Riko mengalihkan sejenak fokusnya dari tugas kuliah yang dikerjakannya.


"Maumu gimana?"


"Astaga, kamu nggak kreatif banget, sih!" Riko menggeser sedikit posisinya menghadap ke Bara. "Besok Sabtu. Dia pasti cuma dinas setengah hari. Kamu nggak sekalian ajakin malam mingguan gitu?" Saking gemasnya, ucapan Riko penuh penekanan. Soal ekspresi jangan ditanya, ia emang selalu lebay.


Bara mengangguk samar, ucapan Riko terproses di otaknya. Kenapa ia tidak kepikiran sampai ke situ, ya?


"Tapi, serius kamu suka sama mbak-mbak pemadam itu?" Riko sangsi. Pasalnya, baru pertama kali ia melihat Bara seperti ini. Sebelumnya, di kepalanya hanya ada ide-ide tulisan dan masa lalu tentang Luna.


"Mbak-mbak apaan?!" protes Bara. "Paling ia cuma tuaan setahun dua tahun."


"Inti pertanyaannya, kamu beneran suka?"


Bara mengangguk.


Bara kembali mengangguk. Kali ini sambil tersenyum.


Riko menarik kursinya mendekat ke sisi tempat tidur. Sedari tadi lawan bicaranya memang sambil sandaran di kepala tempat tidur. "Terus, Rana gimana?"


Bara mengernyit. Pertanyaan macam apa itu? "Kok, jadi Rana?"


"Astaga ...." Riko berdecak sebal. "Kamu itu ngakunya penulis, tapi hal kek gini aja lemotnya minta ampun." Riko bangkit dari kursinya, bergabung di atas tempat tidur. "Gini, ya, persahabatan antara lawan jenis itu nggak ada yang benar-benar murni. Cepat atau lambat, akan ada salah satu yang diam-diam tersiksa. Karena tidak bisa dipungkiri, cinta dengan mudah bisa tumbuh pada intensitas pertemuan yang tinggi."


"Sotoy. Buktinya, sejauh ini aku nyaman-nyaman aja, kok, sahabatan sama Rana."


"Nah, itu yang bahaya." Riko langsung menyambar omongan Bara. "Kamu hanya akan mengaku nyaman, karena memang sampai di situ batas rasa yang wajar terhadap seorang sahabat."


Bara terdiam penuh tanda tanya.


"Tapi, coba ditelaah lebih dalam lagi. Bisa jadi rasa nyaman itu malah cinta yang tidak menemukan ruang untuk berpijak."


Bara mengangkat sedikit punggungnya yang semakin merosot. Ia tampak bingung.


"Gini, deh, udah berapa lama kamu kenal Rana?"


"Tiga tahun lebih."


"Dira?"

__ADS_1


"Belum cukup dua minggu."


"Apa yang bikin kamu nyaman sama Rana?"


Bara tampak berpikir sejenak. "Meskipun rada cerewet, dia teman ngobrol yang asyik. Selain itu dia juga baik, pengertian, perhatian, suka bantuin ini-itu, enak diajak jalan, pokoknya seru."


"Kalau sama Dira?"


Bara terdiam.


"Karena apa kamu udah yakin benar-benar cinta sama dia?"


Satu-satunya yang terlintas di benak Bara saat ini, karena menurutnya Dira memiliki beberapa kemiripan dengan Luna. Tapi ia tidak mungkin menjawab demikian, kan?


"Please, Bar, bahkan kamu nggak berani bilang kalau dia itu cantik." Riko terkekeh pelan. "Coba tanya ke sini sekali lagi, apa yang benar-benar ia butuhkan." Riko menempelkan ujung telunjuknya di dada Bara.


Bara larut dalam diam, pikirannya jadi rumit.


"Nggak ada perempuan lain yang bisa ngertiin kamu kayak Rana. Bisa jadi saat ini ia sedang terluka melihat kedekatanmu dengan Dira. Kita nggak pernah tahu, kan?"


Bara teringat perubahan sikap Rana tadi sore. Sungguh ia terluka? Lalu, Bara harus bagaimana?


***


"Lalu, apa lagi yang bikin kamu ragu untuk nerima lamaran Pak Bian?" tanya Ranti setengah memekik, setelah Rana memaparkan apa yang membuatnya kurang bersemangat hari ini.


Karena di rumahnya tidak ada lagi kamar kosong, Ranti berbagi tempat tidur dengan Rana. Sebenarnya Rana tidak enak menumpang lebih dari sehari, tapi menemukan kosan baru dengan harga bersahabat, aman dan nyaman tidak mudah.


"Entahlah ...." Rana mendesah pelan.


"Padahal Pak Bian itu tipe calon suami idaman banget, loh."


"Aku tahu. Tapi ...."


"Bara?" todong Ranti.


Rana diam saja, yang kemudian diartikan sebagai pembenaran oleh Ranti.


"Apa yang kamu rasakan sama Bara, tidak menutup kemungkinan bisa kamu rasakan juga sama Pak Bian. Kamu hanya butuh sedikit keberanian untuk memulainya. Ingat, kamu dan Bara berawal dari dua orang asing yang nggak saling kenal, kan? Lalu karena kebetulan kalian tetangga kosan, setiap hari ketemu, akhirnya tumbuh perasaan yang membuatmu bimbang saat ini. Sah-sah saja kalau kamu ingin memperjuangkannya, itu hak kamu. Tapi, bagaimana jika nyatanya Bara cuma butuh kamu sebatas sahabat?"


Hati Rana mencelus mendengar kalimat terakhir Ranti.


"Ingat, mengabaikan uluran tangan di belakang kita dan memilih untuk berjuang sendiri, itu sama halnya kurang bersyukur."


Rana menghela napas panjang. Bayangan Bian saat mengutarakan perasaannya di depan Ibu, bayangan tingkah-tingkah kocak Bara, berhamburan di kepalanya.


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2