Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Ketika Semuanya Sudah Terlambat


__ADS_3

Ketika masih bebas bertemu, begitu dekat, kenapa justru terlena dengan hubungan bertajuk persahabatan?


---


Bangunan itu masih seperti yang dulu. Berisi tiga petak ruangan yang nyaris serupa dari keempatnya. Dua unit paling kanan masih proses perbaikan. Unit nomor tiga sudah memiliki pintu baru. Yang paling menarik tentu saja yang paling ujung.


Sepuluh menit lalu Bara memacu motor tak tentu arah. Ia hanya berbelok saat ada tikungan, berhenti sebentar saat lampu lalu lintas menyala merah. Dan ketika sadar, ia sudah berada di tempat ini. Mantan tempat kos-nya.


Pemuda itu masih berada di jok motor. Memandang lekat unit paling ujung. Dulu Bara suka mengetuk pintu itu meski tanpa alasan yang jelas. Kadang ia sengaja mengetuk sembarangan, menimbulkan bunyi serampangan. Kemudian wajah itu akan muncul, berusaha terlihat galak meski sebenarnya tidak.


Bara masih bisa mencium aroma masakannya di pagi hari. Bara ingat senyuman itu ketika mereka saling menyapa setelah seharian beraktivitas. Bara hafal kebiasaan gadis itu yang bangun malam dan gemericik air yang terdengar. Bahkan ia juga merekam jelas cara penghuni kos paling ujung itu mengunci pintu.


"Bodoh!" maki Bara untuk diri sendiri.


Entah apa yang menyebabkan ia terlambat menyadari rasa itu. Entah karena apa Bara setolol itu.


Ketika mereka masih bebas bertemu, ketika mereka begitu dekat, ia justru terlampau terlena dengan hubungan bertajuk persahabatan. Bodohnya, ia justru susah payah mencari sosok lain. Sosok yang ia kira telah mencuri hati, tapi ternyata hanya ilusi. Bara tertipu oleh perasaannya sendiri.


Lelaki itu menyugar rambut, menelan ludah kelat. "Lalu sekarang apa?" lirihnya.


Ia merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dengan casing hitam. Jempolnya secara otomatis mencari kontak mantan pemilik kos paling ujung itu.


Ibu Peri


Menyentuh foto kontak itu lama. Gambar bunga lily yang ia sukai.


Lantas netra Bara menemukan status baru dari gadis itu. Unggahan foto yang membuat dadanya kian sesak.


Bismillah, semoga dilancarkan sampai hari H.


Tulisan itu menghiasi foto jari manis yang dihiasi cincin permata.


***


Rana menatap cincin emas berhias permata berbentuk hati di jari manisnya. Dua jam lalu benda berbentuk lingkaran itu disematkan oleh Bian. Nyaris semua yang hadir di ruang tamu rumahnya gembira, memamerkan senyum lebar. Sakka bahkan sempat menitikkan air mata. Air mata bahagia.


Rana tersenyum tentu saja. Ia berusaha menarik sudut-sudut bibir seluwes mungkin. Apalagi ketika kemudian para orang tua memutuskan bahwa pernikahan mereka akan dilangsungkan tiga bulan dari sekarang. Binar cerah menghiasi mata Bian, calon suaminya kelak. Orang yang harus ia cintai sepenuh hati nanti.


Hingga keluarga Bian meninggalkan rumah ini sepuluh menit lalu, senyum di bibirnya masih tersungging. Tak lupa mengatakan hati-hati di jalan sembari melambaikan tangan hingga mobil ditelan tikungan.


Itu sepuluh menit lalu. Ketika semua mata tertuju padanya. Ketika Rana dikelilingi banyak kepala.


Namun, kini ia sendiri. Berteman sepi di dalam kamar pribadi. Senyum itu memudar berganti sendu yang perlahan menjalar. Harusnya hatinya berbunga menatap cincin itu. Tapi Rana tidak. Perasaan bersalah meraja. Ia merasa seperti penipu yang mengelabui begitu banyak orang.


Rana menghela napas berat. Bukankah ia telah memikirkan itu ratusan kali? Kenapa masih tetap sesesak ini?


"Ikhlas, Rana! Ikhlas!" bisiknya pada diri sendiri.


"Rana?" Panggilan dari luar menyentak Rana. Ia mengusap wajah, lantas bergegas menuju pintu.

__ADS_1


Sakka didapati di depan kamar. "Ini ponsel kamu bunyi dari tadi." Perempuan yang wajahnya sudah dikepung keriput itu mengangsurkan gawai putih yang mengeluarkan dering panjang. Nama Bian tertera di layar.


"Oh iya, Bu, makasih ya. Ini dari Pak Bian." Rana menunjuk ponsel. "Aku terima dulu, ya." Lantas menutup pintu kamarnya kembali.


"Assalamualaikum," sapa Rana setelah lebih dulu menarik napas panjang.


"Waalaikumussalam, Ran," jawab si penelepon. Bian berdeham sebelum melanjutkan, "Besok ... kamu jadi berangkat besok?"


"Iya, Pak. Insya Allah besok pagi, karena saya cuti tiga hari."


"Oh ...."


Rana masih menunggu Bian melanjutkan ucapannya, tapi ketika dua menit berlalu dan lelaki itu tak kunjung bersuara, Rana menjauhkan ponsel, menatap layar, memastikan panggilan masih tersambung.


"Rana?"


Ia buru-buru menempelkan benda pipih itu saat Bian memanggilnya. "Iya, Pak?"


"Besok ...." Bian berdeham. "Kita ... berangkat bareng, ya."


Netra Rana melebar, membayangkan satu mobil dengan lelaki yang baru saja dinyatakan sebagai tunangan, membuat Rana mulas. Mungkin tidak masalah jika mereka dekat sebelumnya, tapi ia dan Bian .... Rana bahkan bingung menjabarkannya. "Lho, terus orangtua Bapak gimana?"


"Mereka pulang hari ini, diantar sopir."


Rana meringis, jika sudah begini alasan apa yang akan ia lontarkan? "Emang Bapak nggak capek bolak-balik hotel ke sini?" Gadis itu menggigit bibir bawah, berharap Bian mengurungkan niatnya.


Rana menelan ludah kelat. "Ya ... udah, Pak. Terima kasih sebelumnya," balasnya kaku.


Rana sudah akan menutup telepon saat lagi-lagi Bian bersuara. "Kamu sedang apa?"


"Saya sedang ...." Rana menggaruk kepala, tidak mungkin, kan, kalau ia menjawab sedang meratapi pertunangan mereka? Ketika netranya menangkap tas ransel di sudut kamar, ia menemukan jawaban itu. "Beresin baju, Pak."


"Oh ...."


Lagi, hening menjeda. Rana gatal mengakhiri obrolan, tapi si penelepon entah kenapa masih belum memutus sambungan.


"Ran ...."


"Iya."


"Saya boleh meminta sesuatu?"


Jantung Rana mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Perkataan Bian seolah permintaan horor di telinga Rana. "Ap-pa, Pak?"


Terdengar tarikan napas lumayan panjang, sebelum Bian melontarkan kalimat yang membuat perut Rana kian melilit. "Jangan panggil saya 'pak', bisa?"


"Itu ...."


"Tidak harus serta-merta." Bian buru-buru memberi klarifikasi. "Sedikit demi sedikit saja, misal saat kita hanya berbicara berdua seperti ini."

__ADS_1


"Aah ... iya, insya Allah, diusahakan Pak, eh anu, D-Daeng*." Lidah Rana kaku. Perutnya mulas, dadanya berdebar tak keruan. Rasanya aneh.


"Terima kasih, Rana. Lagi pula bukankah akan lucu jika kita sudah menikah dan kamu masih memanggil saya dengan sebutan itu. Iya, kan?"


Kenapa Rana merasa atasannya itu sedikit lebih banyak bicara hari ini? Apakah kebahagiaan penyebabnya?


"Ran?"


"Eh, iya, Pak, eh."


Bian terkekeh. "Ya sudah, sampai bertemu besok pagi, calon istriku."


***


"Ya sudah, sampai bertemu besok pagi, calon istriku."


Bian masih memandangi layar gawai meski sambungan sudah terputus satu menit lalu. Cengiran lebar menghiasi wajah. Ia menggeleng, merasa seperti orang kurang waras yang tersenyum di depan benda mati.


Apa yang ia rasakan sekarang benar-benar tidak bisa dijabarkan lewat kata. Bian seolah menjelma menjadi manusia baru. Ia sendiri nyaris tidak memercayai pada apa yang baru saja ia lakukan, memanggil Rana dengan sebutan calon istri.


Bian terkekeh. Sepertinya ia tertular sifat nyeleneh Bara. Menyebut lelaki itu Bian jadi teringat bahwa ia belum memberitahu mengenai acara hari ini. Ia menyalakan lagi ponselnya, mengetuk ikon kontak telepon dan mencari nama Bara. Bagaimanapun teman Rana itu turut andil dalam proses pendekatannya.


Bian mengurungkan niat mengirim pesan teks pada Bara, ia kemudian memilih melakukan panggilan selluler. Tapi hingga dua kali nada dering, tak kunjung ada jawaban. Ia nyaris memupus keinginan menghubungi Bara hingga di panggilan ketika suara lelaki itu terdengar.


"Sibuk, Bro?" tanya Bian setelah mendapat salam dari Bara.


"Lumayan."


"Aku ganggu dong?"


"Nggak juga, sih."


Bian mengerutkan kening, merasa aneh dengan gaya bicara Bara yang serba singkat itu. Ia berdeham lantas mengungkapkan bahwa ia dan Rana sudah resmi bertunangan. Senyum yang menghiasi wajah setelah mengucapkan itu perlahan memudar karena respons Bara yang di luar dugaan.


"Oh itu. Iya, udah tahu, kok."


"Kamu lagi sakit, Bar?" tanya Bian penasaran.


Terdengar dehaman sebelum Bara menjawab, "Sori, kayaknya kebawa suasana dalam cerita yang lagi aku garap." Bara kembali berdeham. "Btw selamat ya untuk pertunangan kalian."


Bian mengembuskan napas lega. "Kirain kenapa Bro? Thanks ya, berkat bantuanmu juga ini."


***


Catatan kaki:


*Sapaan dari perempuan Makassar untuk kakak laki-laki atau pasangannya.


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2