
Pada akhirnya ia hanya mampu memaksakan senyum pahit. Merasakan sakit tak berdarah yang menggerogoti hati.
---
"Terlambat kusadari kau teramat berarti. Terlambat tuk kembali, dan tuk menanti kesempatan kedu—aww!" Riko mengusap lengan atasnya yang nyeri karena geplakan buku dari Bara. Nyanyiannya terpotong paksa. "Sakit, Bos," keluhnya.
"Berisik!" maki Bara.
Riko mencebik. "Bilang aja kalau kesindir."
Bara memutar bola mata. "Suaramu tuh ancur kayak kaleng rombeng. Yang ada seluruh kampus sakit telinga."
Riko memperhatikan sekitar, saat ini mereka dalam perjalanan menuju perpustakaan. Sepanjang koridor yang mereka lewati, tidak ada tanda-tanda mahasiswa mengeluh atau menutup kuping seperti yang Bara ucapkan barusan. "Kamu kali yang sakit telinga atau sakit hat—adoh!" Riko kembali mendapat geplakan. "Kamu bisa aku laporin tau nggak, Bar, tindakan penganiayaan," ancam Riko.
"Bodo amat! Dasar tukang ngaduh, kayak cewek!"
"Isshh, kamu sensi banget, sih. Nih ya, kalau patah hat—" Riko menghentikan ucapannya karena gerakan Bara yang kembali mengangkat buku, bersiap menyerangnya lagi. Ia lantas melakukan gerakan menutup mulut dengan jari.
Bara kembali memusatkan pandangan ke depan. Kendati perasaan bersalah bergelayut. Siapa sangka patah hati membuat ia berkelakuan ganjil. Seperti kemarin, ia memperlakukan Bian dengan tidak biasa. Jutek. Dan sekarang korbannya sahabat sendiri.
***
Entah apa yang menyebabkan Bara ada di tempat ini, menyampaikan rindu atau justru menyiksa hati kian dalam. Karena faktanya apa yang dilihat di depan sana lebih dari sekadar menyakiti mata.
Mereka terlihat asyik mengobrol. Entah membicarakan apa, yang jelas mereka saling melempar senyum sebelum berpisah. Bian tampak terburu-buru. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Bara di tempat parkir Sakura. Lelaki itu memasuki mobil dan pergi.
Bara belum beranjak. Irisnya masih setia menatap objek di dalam sana. Meski terhalang kaca, tapi Bara masih bisa menikmati bagaimana gadis itu berbicara dan tersenyum pada orang di depannya. Karyawati baru, duga Bara karena belum familiar dengan wajahnya.
Cukup lama Bara menikmati momen itu. Hingga akhirnya Rana menyadari keberadaan Bara.
***
"Ya udah, aku pulang dulu ya. Udah ngerti, kan, yang tadi?" Rana sekali lagi memastikan pada Suci, anak baru yang bertugas sebagai kasir. Jam kerjanya sudah habis lima menit lalu, tapi ia perlu memastikan semuanya aman terkendali.
Ia baru akan mengambil tas di ruang istirahat ketika maniknya menangkap sosok di balik jendela kaca. Untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang, hingga orang yang duduk di jok motor itu melambaikan tangan.
"Bara?" bisiknya.
Rana tidak pernah segrogi ini sebelumnya ketika harus berdekatan dengan mantan tetangga kosnya. Tapi, hari ini entah kenapa bahkan untuk melangkah mendekati Bara saja terasa berat. Berulang kali gadis itu menarik napas perlahan demi bisa sampai di tempat parkir Sakura.
"Hai?" Bara menyapa duluan. Ia berdiri di depan Rana dengan kedua tangan di dalam saku celana.
"H-hai." Rana berusaha menarik sudut bibir. Tersenyum, yang semoga terlihat wajar.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu."
Kapan terakhir mereka bertemu? Rana lupa, yang jelas memang seperti sudah lama. Ia mengusap sisi kepala. "Iya, sudah lama ya?" Jeda menggantung. "Kamu nggak kuliah?" Demi Tuhan, Rana masih hafal jadwal kuliah Bara. Ia hanya mencoba sedikit berbasa-basi.
Bara menaikkan alis. "Udah selesai. Kamu lupa?"
"Hm?" respons Rana, lalu mengangguk kaku. Mengaku bahwa ia sedikit tidak ingat. "Kita, kan, udah nggak tetanggan lagi, Bar. Jadi aku agak lupa."
"Oh."
Hening. Mereka sama-sama diam, membiarkan suara kendaraan yang berlalu lalang mengambil alih suasana.
Rana memegang tali tas selempang erat. Tak pernah terbayang jika akan secanggung ini dengan Bara. Harusnya ia bisa, kan, bersikap seperti biasa? Ayo Rana, jangan kayak patung gini! Sebagian dirinya menyemangati. Ia lantas menarik napas, kemudian mendengak demi bisa menatap Bara. "Kamu ada perlu ke sini?"
"Ayo jalan-jalan!"
***
Jalan-jalan yang dimaksud Bara adalah sepenuhnya jalan menggunakan sepasang kaki. Tanpa mesin kendaraan. Mereka menyusuri trotoar di depan kios-kios penjual beraneka ragam dagangan. Masih tidak ada perbincangan, dua insan itu melangkah bersisian dalam diam.
Rana berulang kali melirik Bara. Otaknya berpikir keras demi menemukan bahan obrolan. "Tulisan kamu gimana?"
Bara tidak langsung menjawab. Lelaki itu justru berhenti, menyebabkan Rana melakukan hal yang sama. Rana terkesiap ketika tangan Bara menyentuh puncak kepala yang otomatis membuat jantungnya menggedor tak biasa. Detik berikutnya ia mengembuskan napas lega karena ternyata Bara hanya mengambil daun kering yang mungkin terjatuh di kepala ketika mereka berjalan di bawah pohon mahoni.
Ia sudah akan kembali berjalan ketika suara Bara membelai telinga, mengucapkan sesuatu yang tidak ia duga. "Dua hari lalu aku ke Sakura."
Netra Rana membulat. "K-kamu nyari aku?" tanyanya terbata.
Bara mengangguk, lalu melanjutkan langkah. "Ranti bilang kalian tunangan hari itu. Kamu emang nggak niat ngasih tahu aku?"
"Aku pikir nggak perlu. Toh, kamu udah tahu, kan, kalau Pak Bian ngelamar aku?" Rana kesusahan menyejajari langkah Bara yang mendadak lebih cepat. Ia tertinggal satu langkah.
"Tapi setidaknya aku nggak harus tahu dari orang lain," sangkal Bara masih berjalan cepat.
"Lah, kamu juga, kan, yang nyuruh aku supaya nerima dia?" ucap Rana sedikit keras, karena selain jarak, kendaraan juga lumayan banyak.
"Astaghfirullah!" Rana nyaris saja menubruk punggung Bara karena berhenti tiba-tiba. Lelaki itu membalikkan badan, membuat jarak mereka begitu dekat. Rana menelan ludah saat Bara menunduk, menyejajarkan pandangan.
"Jika aku nggak nyuruh kamu untuk nerima dia, apa kamu akan menolak lamarannya?"
"Apa?" Rana perlu meyakinkan sekali lagi tentang yang barusan Bara ucapkan. Ia takut alam bawah sadarnya yang menginginkan Bara mendadak berhalusinasi. Padahal sudah jelas cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Jika aku menyuruhmu untuk tidak menerima Bian, apa kamu akan melakukannya?"
__ADS_1
Netra Rana melebar. Tenggorokannya tiba-tiba kering. Apa yang baru saja Bara katakan? Apa maksudnya? Dan kenapa hari ini Bara terus memanggilnya Rana, bukan Ibu Peri seperti biasa? Ia bahkan kesulitan menyuarakan isi kepalanya.
Namun, detik selanjutnya tawa Bara pecah. Ia sampai membungkukkan badan memegangi perut.
"Bara! Ih, nggak lucu tau!" Rana menggunakan tas untuk memukul Bara yang tak kunjung diam.
"Sumpah, mukamu lucu banget, Ibu Peri," ujar Bara di sela tawa.
"Bodo!" Gadis itu sengaja menyenggol tubuh Bara, berjalan terlebih dahulu dengan mengentak kaki. Ia benar-benar merasa malu sekaligus tertipu. Harusnya ia bisa menebak ketika sikap Bara tidak seperti biasa berarti ada sesuatu. Rencana mengerjainya seperti ini misal.
Tapi pada akhirnya Rana pun tersenyum. Selain karena merasa konyol, ia juga lega, hubungan mereka masih seperti sedia kala.
"Eh," Rana otomatis berhenti ketika satu cone es krim terjulur di depan muka. Menoleh, didapatinya Bara dengan cengiran lebar. "Dasar! Maki Rana meski tetap menerima es krim coklat itu.
Mereka duduk di bangku besi menghadap taman kota. Sekeliling mereka ramai oleh gerobak penjual jajanan dan pengunjung. Sore hari memang waktu yang pas untuk bersantai seperti ini.
"Bagaimana dengan Dira?" Rana tidak bisa mencegah tanya itu keluar. Meski tahu ia akan sakit hati, tapi rasa penasaran lebih dominan.
"Dia menyukai orang lain," jawab Bara tanpa beban. Hal yang membuat Rana kaget tentu saja.
"Kok? Terus kamu?" Ucapan Rana sarat keprihatinan.
Bara menoleh. "Gimana kalau sama kamu aja?"
Secepat ucapan itu keluar, secepat itu pula tinju Rana bersarang di bahu Bara. "Bercanda mulu! Aku timpuk, nih, pakai es krim!" Rana mengangkat sebelah tangan yang memegang es krim.
***
Aku tidak bercanda, Rana.
Jawaban itu tertahan di tenggorokan, berganti tawa yang Bara paksakan. Lagi.
Demi Tuhan sebagian diri Bara berhasrat untuk menyatakan perasaan sebenarnya pada Rana. Sisi terjahatnya menginginkan untuk merebut Rana. Tapi, ia juga masih punya nurani.
Pada akhirnya ia hanya mampu memaksakan senyum pahit. Merasakan sakit tak berdarah yang menggerogoti hati. Termasuk ketika ponsel Rana berdering dan nama Bian tertangkap ekor mata.
"Assalamualaikum, Pak. Eh, anu, Daeng."
Bara mereguk ludah kelat, bahkan panggilan untuk lelaki itu sudah berubah.
***
[Bersambung]
__ADS_1