Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Menerjemahkan Bahasa Kalbu


__ADS_3

Gimana kalau rasa suka itu terlambat kamu sadari?


---


"Aku ngerti itu, Bara."


"Sekarang gini deh, kamu penulis, kan? Pernah nggak ngebayangin aku sebagai salah satu tokoh dalam ceritamu? Ada nggak?"


"Atau justru yang ada hanya Luna atau malah perempuan lain?"


Adakah yang lebih mengganggu selain otak yang riuh serupa pasar pagi?


Bara mengalami itu beberapa hari ini. Sekarang intensitasnya justru semakin menjadi. Jika diibaratkan pasar, maka otak Bara adalah kios yang sedang mengadakan diskon besar-besaran. Terbayang berapa kepala yang ramai saling mengeluarkan suara.


Pupil matanya menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Seperti sedang mencoba menjelajah barisan aksara yang dirangkai sendiri. Ada puluhan cerpen bertema cinta yang sudah ia tulis. Ada lebih dari sepuluh draf naskah novel bernapas sama. Tentang cinta; mencintai dan dicintai. Ia hafal betul bagaimana menggambarkan baik tersirat maupun tersurat tingkah orang yang jatuh cinta.


Ia ingat, seseorang yang membaca ceritanya di salah satu platform menulis pernah berkomentar, jika apa yang ditulis Bara sangat sesuai dengan yang orang itu rasakan. Harusnya ia sudah lulus, kan, dalam memaknai isyarat hati?


Tapi hari ini, Bara dibuat kelimpungan sendiri. Faktanya, ia telah gagal menerjemahkan bahasa kalbu. Entah karena ia sendiri yang belum pernah benar-benar jatuh cinta atau memang hatinya terdoktrin untuk hanya menyatakan cinta pada orang seperti Luna.


Bara menyugar rambut, lantas menengadah. Kembali, perkataan Dira terngiang di samping telinga.


"Bar, kamu yakin beneran suka sama aku? Bukan karena menyukai sosok Luna yang secara kebetulan ada di diri aku?"


Lantas ia mengingat kembali pertemuan perdana dengan Dira. Perempuan pemberani, berjiwa penyelamat yang sukarela menolong Bara. Dira yang kemudian Bara sebut titisan Luna.


Bara tertawa hambar. Faktanya, dari awal ia memang sudah menganggap Dira adalah transformasi dari gadis kecil di masa lalunya. Luna versi dewasa.


Jika benar demikian, rasanya sangat pantas jika Dira menolaknya. Tapi perihal rasa suka Bara, apa benar ada seseorang yang justru telah mencuri hatinya tanpa disadari? Satu pertanyaan itu yang paling mengganggu Bara.


Ia membenarkan posisi duduk, menegakkan punggung, lantas jemarinya lincah menggeser kursor. Ia ingin membuktikan satu kali lagi ucapan Dira, tentang tokoh dalam ceritanya yang bisa jadi terinspirasi dari orang di sekitarnya.


Bara mengeklik salah satu cerpen bertema cinta pertama. Dalam cerita itu ia mengisahkan tentang gadis periang yang menjadi tulang punggung keluarga. Mengingat latar belakang tokohnya saja membuat Bara menelan ludah. Menggeleng, Bara berasumsi jika itu pasti hanya kebetulan.

__ADS_1


Tingginya hanya sebatas bahuku. Netra cokelat terang itu selalu memancar hangat, membuat siapa pun betah berlama-lama berbagi tatap dengannya.


Kutipan dalam tulisan kedua yang dipilih Bara secara random. Membaca itu mampu membuat bayangan wajah seseorang tergambar jelas di kepalanya. Lagi, Bara menggeleng, tak cukup sekali. Ia juga berusaha mengusir bayang wajah itu. Mungkin karena mereka dekat, yakin Bara sekali lagi.


Hingga tangannya kemudian berhenti pada tulisan yang sedang ia garap. Kisahnya dengan Luna. Cinta abadi yang tak lekang tergerus waktu. Tokoh lelaki yang ia gambarkan percaya jika kekasih masa kecilnya belum tiada. Tokoh yang membawa cinta masa kecil itu hingga dewasa. Sampai kemudian penantian itu berbuah manis. Si tokoh lelaki menemukan seorang gadis yang begitu mirip dengan gadis yang selama ini ia tunggu.


"Iyalah, cintaku, kan, emang cuma untuk Luna." Bara bermonolog, lantas tersenyum lega karena apa yang tadi sempat menyelinap ke otaknya ternyata tidak benar. Pasti hanya kebetulan.


Bara mengambil korek pemberian Dira di samping laptop. "Kamu salah, Dira, tidak ada gadis lain," ujarnya sembari memandangi benda itu seolah berhadapan dengan Dira.


Namun, ketika netranya tertumbuk pada deretan kalimat berisi ciri fisik gadis di dalam novel, Bara kesusahan menelan ludah sendiri. Seakan ada penghalang amat besar di tenggorokan.


"Hari ini keluarga Pak Bian melamar Rana secara resmi."


Bara kembali merasakan sesuatu asing di dada. Seperti ada tangan tak kasat mata yang merenggut hati, menimbulkan kekosongan yang Bara sendiri tidak mengerti. Kenapa ia harus merasa sehampa ini? Kenapa ia seperti kehilangan separuh hati?


Kembali ia baca deretan aksara di layar.


Gadis bermata bulat itu menatapnya. Mendadak ada desir halus yang mengisi hati. Lalu ketika gadis berhijab itu tersenyum, ia yakin telah menemukan yang selama ini ia cari.


Satu kata itu lolos begitu saja dari mulut Bara. Siapa lagi gadis periang yang menjadi tulang punggung keluarga selain karyawati Sakura? Siapa lagi gadis beriris cokelat yang tingginya hanya sebatas bahu Bara selain mantan tetangga kos? Siapa lagi pemilik mata bulat dan berhijab, pemilik senyum hangat selain Rana?


"Mustahil!"


Menggeleng berulang, Bara berusaha mengenyahkan semua kemungkinan gila itu. Tidak masuk akal jika ia menyukai sahabatnya sendiri. Ini pasti salah, bisik hatinya.


"Bar, kamu udah bisa nyalain korek?" Riko muncul di ambang pintu. Kedua bola matanya membulat sempurna, menatap Bara takjub.


"Apa?" Bara tidak begitu mendengar ucapan temannya itu.


"Itu?" Dagu Riko tergedik ke arah tangan Bara. "Kamu udah nggak phobia?"


Bara mengikuti arah kedikan dagu lelaki berambut keriting itu. Detik berikutnya netranya melebar, nyaris keluar, dengan gerakan kilat Bara melempar korek yang tengah menyala itu. Benda itu jatuh ke lantai keramik, diikuti pandangan tak percaya dari orang yang baru saja melihat api dari lubang kecil di permukaannya. Rupanya secara tidak sadar Bara telah menekan tuas untuk menyalakan korek itu.

__ADS_1


"Bar, kamu nggak papa?" Riko menyentuh pundak Bara yang tampak tidak baik-baik saja. Napas Bara memburu seperti pelari maraton.


Menoleh dengan gerakan serupa robot, Bara menelan ludah kelat. "Itu ... tadi ... api?" igaunya. "Di tanganku?"


Riko menarik napas panjang. Lantas membimbing Bara untuk melakukan hal yang sama dan membuangnya perlahan. Setelah kondisinya stabil, Riko mulai angkat bicara. "Kamu kenapa, sih, Bar? Ada masalah?"


Untuk beberapa detik Bara hanya menatap lelaki itu. Ia berdeham. "Kamu pernah jatuh cinta?" tanya itu terlontar, yang otomatis membuat Riko menahan tawa.


"Ya pernahlah. Aku bukan batu."


Bara tidak menggubris candaan Riko. Ia kembali mengajukan pertanyaan lain. "Pernah patah hati?"


Kali ini alis Riko berjengit. Sadar bahwa Bara sedang tidak main-main. "Pernah juga."


"Gimana nyembuhin patah hati?"


Dan kerutan di dahi Riko kian dalam. "Kamu patah hati? Karena siapa? Dira? Kamu udah nyatain perasaan? Terus ditolak?"


Bara berdecak. Teman satu kampusnya itu memang berjenis lelaki, tapi tingkat kekepoannya kadang melebihi akun gosip Instagram. "Jawab dulu pertanyaanku!"


Riko yang duduk di tepi ranjang, melipat tangan di dada. "Biasanya kalau ditolak cewek aku nyari lagi yang lain. Kan, populasi cewek lebih banyak. Ditolak satu masih ada seribu." Riko menaikturunkan alis. Detik berikutnya ia mengaduh karena lemparan pulpen dari Bara.


"Sok ganteng," cibir Bara. Tawa Riko pecah.


"Gimana kalau rasa suka itu terlambat kamu sadari?" Bara masih belum kapok mengajukan pertanyaan setelah tawa Riko reda. "Dan ketika sadar, dia sudah memilih orang lain?" Netra Bara menerawang, ia merasakan itu, lagi. Semacam rasa sakit yang membuat sesuatu di rongga dada ngilu.


"Kamu ngomongin siapa, sih, Bar?" Riko semakin penasaran. Ia memutar otak, menebak perempuan mana yang telah mematahkan hati Bara.


Tunggu! Netra Riko melebar ketika satu clue menjadi kunci jawaban. Gimana kalau rasa suka itu terlambat kamu sadari?


"Bar, cewek itu Rana?"


Pertanyaan itu terlontar seiring bunyi mesin motor yang dinyalakan. Bara sudah tidak ada di tempat semula. Lelaki itu tergesa keluar. "Bar, kamu suka Rana? ... Woiii!!!"

__ADS_1


***


[Bersambung]


__ADS_2