
Apa pun tidak akan bertahan lama kalau datangnya bukan dari hati.
---
Rumah Bian tampak ramai. Keluarga dan teman-teman dekat orangtuanya mulai berdatangan. Mulai dari halaman depan hingga ruang tengah, orang-orang berlalu-lalang. Mereka bertegur sapa, berbagi cerita, dan sesekali tertawa bersama. Bian dan Rana baru saja tiba. Setelah Bian memastikan parkiran mobilnya tidak mengganggu pengguna jalan, mereka berjalan berdampingan. Kalau di acara-acara keluarga sebelumnya Bian lebih sering memisahkan diri, sekarang ia tampak sangat antusias menyapa orang-orang yang dilaluinya. Kehadiran perempuan cantik bergamis hijau tosca yang dipadukan dengan jilbab berwarna senada, menumbuhkan kepercayaan diri lelaki itu. Bian bermaksud langsung ke dalam untuk menemui kedua orangtuanya. Ia sudah tidak sabar ingin mengenalkan Rana, meski hanya ingin dikenalkan sebagai pegawai.
"Ma, Pa ...."
Pasangan suami istri yang tadinya sedang menyapa tamu, kini mengalihkan perhatian ke sumber suara.
"Bi, kamu lama, loh. Katanya cuma sebentar," protes Darma.
"Macet, Ma."
"Ini siapa?" Perhatian Darma dan Santo beralih ke perempuan anggun di sebelah Bian.
"Oh ya, kenalin, ini Rana."
Rana langsung meraih tangan Darma dan menyentuhkan ke keningnya. Setelahnya, ia beralih ke Santo dan melakukan hal yang sama.
"Ooo ... jadi ini yang sering kamu ceritain ke Mama?" goda Darma, yang sukses membuat Bian salah tingkah.
"Apa, sih, Ma?"
"Pak Bian cerita soal saya ke Tante?" Rana mendadak canggung. Jika benar, demi apa seorang atasan menceritakan bawahannya ke orangtuanya?
Darma mengangguk sambil tersenyum. Perempuan berusia 47 tahun itu langsung jatuh cinta dengan pembawaan Rana. Tipikal menantu idamannya seolah terangkum sempurna dalam diri Rana.
"Banyak. Hampir tiap hari ia ngomongin kamu," ungkap Darma tanpa ragu, mengabaikan peringatan berupa kedipan mata dari Bian yang berlangsung sejak tadi.
"Ma!" Bian benar-benar tidak enak sama Rana. Ia lupa mengantisipasi sikap mamanya yang memang suka keluar jalur.
"Selama ini sikap Bian ke kamu gimana?" Darma benar-benar tidak bisa dihentikan.
Rana lumayan bingung untuk menjawab. "Gimana apanya, Tante?"
"Galak, nggak?"
"Enggak. Justru Pak Bian baik banget."
"Dia nggak pernah bilang suka sama kamu?"
Rana menggeleng malu-malu.
"Ma!" Kalau saja tidak takut dosa, pasti sedari tadi Bian sudah membekap mulut mamanya.
"Sebenarnya dia suka sama kamu, tapi anak saya ini memang payah dalam dunia percintaan."
Sebagai perempuan dewasa, tentu saja Rana bisa membaca makna tersirat di balik perhatian-perhatian kecil yang selama ini Bian tunjukkan di balik kekakuannya. Mungkin karena itu, mendengar pernyataan Darma, terlepas benar atau tidak, ia tidak terlalu kaget.
"Percaya nggak percaya, di usia sematang ini, dia belum pernah pacaran."
__ADS_1
Entah kenapa, Rana malah takjub mendengarnya.
"Benar-benar payah. Padahal dulu Papa nembak mamamu di pertemuan kedua, loh." Santo menambahkan, membuat Bian tepuk jidat.
Pasangan suami istri itu tertawa, seolah benar-benar puas 'menelanjangi' putra mereka di depan gadis yang dicintainya.
Rana menanggapinya dengan senyum kikuk.
"Ran, kita ke taman, yuk. Di sini rada panas." Tanpa perlu menunggu persetujuan, Bian segera berbalik dan menagmbil langkah panjang-panjang.
Rana segera menyusul setelah pamit kepada Darma dan Santo.
***
Di ulang tahun pernikahan kali ini, meskipun terbilang sederhana, orangtua Bian mengusung konsep ala-ala outdoor. Halaman yang cukup luas didekor sedemikian rupa. Tenda-tenda kerucut menghiasi beberapa sudut. Di bawahnya terdapat meja bundar yang dikelilingi tujuh kursi. Selain itu ada pula bangku yang diatur rapi di kedua sisi jalan yang membelah taman dari ujung gerbang hingga ke depan teras. Sisi kiri-kanan teras disulap menjadi stan aneka makanan dan minuman. Dijaga oleh beberapa orang dari pihak catering, yang sangat cekatan ketika persediaan mulai menipis. Kendati suasana di luar cukup hangat, beberapa tamu ternyata lebih nyaman berkumpul di dalam. Darma dan Santo terpaksa harus mondar-mandir untuk menyapa semuanya.
Sementara Bian dan Rana kini sedang berada di balkon, memperhatikan orang-orang itu mengobrolkan banyak hal dari atas. Keduanya sambil menikmati pudding cup di tangan masing-masing.
"Kamu nggak ngajakin Bara?" Bian bermaksud memecah hening, meski memilih topik jadi sangat sulit setelah mamanya blak-blakan tadi.
"Diajakin, tapi lagi sibuk." Rana jadi teringat ekspresi Bara saat mendatangi unitnya selepas magrib tadi. Lelaki itu termenung di meja. Akunya sedang menulis, tapi monitor laptop di depannya masih menampilkan halaman word kosong. Rana tahu persis Bara kenapa, tapi ia sama sekali belum menemukan padanan kata yang pas untuk sekadar menyampaikan, bahwa reaksinya itu tidak semestinya.
"Oh ya, yang tadi itu nggak benar, kan?" Rana sedang tidak ingin membahas Bara, tapi pengalihan topiknya sungguh buruk. Kalau bisa, ia sangat ingin menarik ucapannya, membuat Bian tidak pernah mendengarnya.
Bian tahu persis apa yang dimaksud Rana. Lelaki ber-blazer navy itu meletakkan pudding cup-nya, lalu mencengkeram tepi railing sambil mengatur pola napasnya.
"Kalau ternyata benar, kenapa?" Bian merasa seperti baru saja memuntahkan bongkahan besi yang selama ini mengganjal di tenggorokannya. Lega luar biasa. Meski diiringi pula rasa takut sikap Rana akan berubah setelah ini.
"Maaf, Pak, saya mau ambil minum dulu. Bapak mau sekalian diambilin?" Rana bahkan sudah putar badan, meski tatapannya masih melekat di wajah Bian.
"Nggak usah. Aku juga mau turun. Kita gabung aja sama yang lain." Untuk menghabiskan sisa waktu yang ada, sebaiknya memang jangan berdua. Meskipun berawal dari blak-blakan mamanya, setidaknya Bian sudah berhasil membuat Rana tahu isi hatinya, sesuatu yang membuatnya gundah beberapa tahun ini.
***
Bara sedang bermain gitar di teras unitnya, lebih tepatnya melamun sambil memangku gitar saat Rana muncul dari balik pintu mobil yang baru saja dibukakan Bian. Saking khusyuk lamunannya, sampai-sampai ia tidak mendengar suara mobil. Tahu-tahu sedan hitam itu sudah terparkir di pinggir jalan depan kosan. Kemunculannya seolah-olah menggunakan mantra pemanggil.
Bara meletakkan gitarnya, lalu merapat ke sisi jalan.
"Cieee ... udah kayak pangeran dan putri dari negeri dongeng aja," goda Bara. "Sayang, naiknya mobil, bukan kereta kencana," imbuhnya, lalu terkekeh.
"Namanya juga generasi milenial." Bian tersenyum lebar.
Lagi-lagi Rana merasa aneh melihat interaksi keduanya. Tapi ... sudahlah. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus Rana pikirkan sekarang.
"Terima kasih untuk malam ini, Pak. Senang banget bisa kenal dengan keluarga Bapak."
"Jadi ada yang habis dikenalin ke keluarga, nih? Wow!" timpal Bara sok heboh.
Rana refleks menyikut pinggang tetangga unitnya itu.
Bian hanya tersenyum geli sambil geleng-geleng. "Sama-sama, Ran. Malah aku yang harus berterimakasih."
__ADS_1
"Bentar, kalau kalian butuh privasi, aku bisa masuk, kok," sela Bara.
Kali ini Rana mencubit perutnya. Bara pura-pura meringis.
"Ya udah, aku pulang, ya." Bian pamit.
Rana hanya mengangguk.
"Hati-hati, Bro!" Bara mengangkat jempol kanannya setinggi dada.
Sepeninggal Bian, Bara pikir Rana akan bercerita sesuatu. Nyatanya tidak. Gadis itu langsung masuk ke unitnya dan menutup pintu rapat-rapat. Bara membiarkannya. Ia kembali memangku gitarnya dan mulai menciptakan melodi entah sambil bersenandung lirih.
***
"Selamat pagi, Tuan Putri," sapa Bara begitu Rana muncul dari balik pintu.
Rana senang melihat lelaki beralis tebal itu tak lagi selesu kemarin. Tapi ... kenapa jadi tuan putri?
"Kok, tuan putri?" protes Rana sambil melangkah mendekat.
"Kan, udah ketemu pangeran." Bara menaik-turunkan alisnya.
"Jangan ngaco, deh!"
"Bian kurang apa lagi, sih, Ran?"
Rana mengernyit, cukup kaget mendapati Bara seolah tahu lebih jauh.
"Nggak perlu pakai peramal, siapa pun bisa menebak kalau Bian itu suka sama kamu." Bara menjawab pertanyaan yang tersirat di mata Rana.
Rana hanya menghela napas panjang.
"Masa depanmu akan terjamin sama dia."
"Tahu dari mana?" timpal Rana.
"Dia pekerja keras, mandiri, berpikiran jauh ke depan, sudah punya usaha, pokoknya sama dia kamu akan baik-baik saja."
"Kamu lupa satu hal, hati. Apa pun nggak akan bertahan lama kalau datangnya bukan dari sini." Rana menunjuk dadanya.
"Kamu lagi dapet, ya? Kok, baperan amat?" Bara merasa aneh dengan sikap Rana pagi ini.
"Nggak usah sok dewasa kalau sampai sekarang kamu belum bisa lupain Luna."
"Kok, jadi belok ke Luna?" Bara tidak habis pikir.
"Udah, ah, aku naik angkot aja." Rana melangkah panjang-panjang ke arah jalan poros.
"Lah, kita nggak jadi barengan?" Bara segera menstarter motornya dan menyusul Rana.
***
__ADS_1
[Bersambung]