
"Cantik itu milik semua perempuan, tapi kalau keren, hanya dimiliki oleh perempuan yang berani terjun ke dunia yang didominasi laki-laki."
---
Malam ini Rana terdiam di teras unitnya. Ia baru saja terima telepon dari ibunya di kampung. Adik pertamanya masuk rumah sakit karena demam berdarah. Beberapa hari ini anak itu memang demam. Ibunya pikir cuma demam biasa yang akan sembuh setelah meminum pil penurun panas yang dibelinya di warung. Nyatanya tidak. Ibunya memang tidak menyinggung soal uang, tapi Rana paham betul, saat ini beliau pasti butuh pegangan untuk berjaga-jaga. Mengingat tidak semua biaya rumah sakit akan ditanggung oleh pihak penyedia layanan jaminan kesehatan masyarakat. Inilah yang membuat Rana murung. Sisa saldo di rekeningnya hanya cukup untuk makan, dan gajian masih seminggu lagi.
"Woi." Teguran itu bersamaan dengan jatuhnya tepukan di pundak Rana. "Tumben ngelamun di sini." Bara mengambil posisi bersisian.
Rana bahkan tidak menoleh, meski tadinya ia agak tersentak.
"Kenapa?" tanya Bara lagi setelah menemukan ketidakberesan di wajah Rana, yang malam ini dibingkai jilbab berwarna biru muda.
"Adikku masuk rumah sakit."
Mendengar jawaban itu, muka jail Bara berganti prihatin.
"Ibumu minta dikirimi uang, ya?" tanya Bara hati-hati.
Rana menggeleng, lalu menengadah sambil menghela napas panjang. Ia berusaha menepis pikiran buruk dalam kepalanya. "Ibu tahu kondisiku di sini. Meski sangat butuh, ia pasti sangat berat mengatakannya."
"Kalau gitu, kamu pakai uangku aja dulu."
"Eh, nggak usah, Bar. Lagian seminggu lagi gajian, kok."
"Tapi ibumu pasti butuh sekarang."
"Terus, kamu sendiri?"
"Uang bulanan dari orangtua ditambah honor tulisan-tulisan yang dimuat bulan lalu, untuk pengeluaran rutin sudah aku sisihkan. Alhamdulillah masih ada sisa."
"Serius, nggak apa-apa?"
"Udah, nggak usah terlalu dipikirkan. Untuk saat ini kesembuhan adikmu jauh lebih penting." Bara tersenyum menyemangati.
"Makasih, Bar ...," ucap Rana setulusnya.
"Sama-sama, Ibu Peri."
"Sekarang kamu perinya. Kan, kamu yang nolongin," celetuk Rana. Kesedihan di wajahnya perlahan-lahan berkurang.
Keduanya terkekeh.
"Kita transfer di ATM depan aja, ya."
Rana mengangguk setuju.
"Ya udah, tunggu bentar, aku ambil jaket sama dompet dulu."
Rana kembali mengangguk.
__ADS_1
***
Assalamualaikum, Bar ....
Tadi subuh ibuku nelpon, beliau sangat berterima kasih atas kiriman uangnya.
Makasih, ya, Bar ....
Aku beruntung banget punya sahabat sebaik kamu.
Ohya, tadi aku bikin pisang goreng. Kalau kamu mau, silakan ambil sendiri di kamar. Kunci cadangan di tempat biasa.
--Rana
Usai membaca ulang, Rana menyelipkan kertas memonya di celah bawah pintu unit Bara. Berhubung Bara kuliah siang, hari ini ia berangkat sendiri naik angkot.
***
Rutinitas pagi setelah buka toko seperti memastikan kebersihan area sales, kaca depan, halaman, hingga mengecek kondisi produk yang terpajang di rak-rak kini sedang menyibukkan Rana bersama seorang rekannya. Biasanya mereka mengerjakan semua itu bertiga, tapi berhubung Helen belum datang, mereka terpaksa mengerjakannya berdua. Prosesnya tentu saja jadi lebih lama.
Di tengah kesibukannya, berkali-kali Rana mengecek posisi jarum jam di pergelangan tangan kirinya. Ia jadi khawatir. Tidak biasanya Helen terlambat seperti ini.
Untungnya Bian tipe atasan yang membumi, tidak keberatan terjun langsung mengerjakan semua hal yang berkaitan dengan kelancaran operational toko. Terlebih untuk situasi tak terduga seperti sekarang. Meskipun dengan wajah ditekuk, Bian mengambil alih pekerjaan Rana yang sedang menyapu halaman, lalu meminta gadis itu menyiapkan beberapa buket bunga pesanan tadi malam yang akan diambil pagi ini. Bian bukan kesal karena harus menyapu halaman, tapi karena ada pegawainya yang tidak disiplin.
***
Setelah kesibukan khas pagi hari berakhir, Helen baru datang. Rana tercengang melihat penampilannya yang masih berantakan. Wajah polos, sama sekali tidak mengenakan make up. Rambutnya juga belum disisir rapi. Ia terlihat gugup dan ketakutan. Rana semakin yakin, ada yang tidak beres dengan rekan kerjanya itu. Sebagai supervisor yang merasa ikut bertanggung jawab atas kedisiplinan seluruh pegawai di toko itu, Rana harus mencari tahu. Tapi tidak sekarang, karena Bian langsung meminta Helen masuk ke ruangannya.
"Maaf, aku merepotkan kalian." Helen memperdengarkan penyesalan. Ia sudah siap kalau Rana pun akan memarahinya. Meskipun Rana tidak pernah memosisikan diri sebagai atasan sesuai jabatannya, tapi Helen cukup paham, rekan kerjanya itu diberi tanggung jawab lebih untuk mengontrol semua personel dalam toko itu.
Rana mendesah sebentar. "Yang masalah bukan repotnya, tapi tanggung jawab kamu," tanggapnya kemudian dengan nada ringan.
"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Lagian kenapa, sih? Kok, tumben kamu telat?"
"Aku kesiangan."
"Kesiangan? Emang semalam begadang? Ngapain?"
Helen tampak kesulitan menjawab. Rana semakin yakin, rekan kerjanya ini menyembunyikan sesuatu.
"Terus, Pak Bian ngomong apa?"
Bahu Helen merosot perlahan. "Aku di-SP."
Rana tampak prihatin. "Ya sudah. Sana, mulai kerja, sebelum Pak Bian keluar dan melihat kita malah ngobrol."
Helen lekas meninggalkan area kasir.
__ADS_1
***
Hari ini Bara hanya ada dua mata kuliah. Berhubung salah satu dosen berhalangan masuk, sebenarnya ia bisa pulang lebih awal. Tapi Riko—teman sejurusan—malah menyeretnya ke aula. Katanya ada sosialisasi dari Dinas Pemadam Kebakaran setempat terkait beberapa hal penting yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran. Kali ini perwakilan mereka didominasi oleh personel perempuan, yang dalam istilah mereka disebut Srikandi Yudha Brama Jaya.
Sumpah, Bara malas banget ikut sosialisasi seperti ini. Kalau ia pulang dan melanjutkan tulisannya, bisa dapat minimal sepuluh halaman.
"Ini penting banget, Bar. Menyangkut hidup dan mati."
Bara paham. Tapi, kalau boleh jujur, ia sangat tidak nyaman berada di sini. Bahasan mereka pasti tidak jauh-jauh dari api, sesuatu yang paling Bara hindari. Bahkan sekadar mengeja kata ke-ba-ka-ran, mampu membuat bulu kuduk Bara meremang.
Riko masih terus menarik tangan Bara, memastikannya tidak kabur. Mereka berjalan di antara dua kelompok kursi yang tertata rapi dan sebagian besar sudah terisi.
"Yang namanya musibah, kita nggak pernah tahu kapan datangnya. Kan, enak, kalau kita udah punya pengetahuan dasar. Jadinya nggak panik," cerocos Riko sambil celingukan kiri-kanan. Ia harus menemukan tempat duduk ideal, agar bisa menyimak dengan baik.
Riko seperti seorang ayah yang mendapati anaknya kelamaan main di sungai, lalu ditarik paksa untuk pulang. Dan Bara baru sadar, sedari tadi mereka jadi tontonan beberapa orang. Bara refleks mengentakkan tangannya agar terbebas dari cengkeraman Riko.
"Nah, kita duduk di sana." Riko menunjuk dua kursi kosong di baris ketiga.
"Nggak mau. Terlalu di depan. Demi apa coba?" Bara mengenyakkan diri di kursi kosong yang kebetulan ada di sampingnya. "Di sini aja!" katanya.
"Kalau di sini kejauhan. Nanti kita nggak paham apa yang mereka bilang. Kan, namanya buang-buang waktu." Riko kembali mencengkeram pergelangan tangan Bara, memaksanya berdiri, lalu kembali diseret ke posisi tempat duduk yang diinginkannya.
Daripada menimbulkan keributan, Bara memilih pasrah.
"Nah, gini, kan, enak." Riko tampak puas. Untung Bara melunak, sebelum kursi incarannya ditempati orang lain.
Bara masa bodo. Baginya, untuk sosialisasi semacam ini, duduk di depan atau di belakang sama-sama membosankan. Malah mungkin jadi sedikit mengerikan kalau nantinya mereka terlalu sering menyebut kata "api". Semoga mereka tidak melibatkan proyektor dan mempertontonkan simulasi pemadaman api. Karena jika itu terjadi, bisa dipastikan Bara akan menutup mata rapat-rapat.
Mengabaikan Riko yang tampak semakin antusias dan tidak sabaran, Bara mengeluarkan ponsel. Ia login ke Facebook, mengecek beberapa halaman koran lokal maupun nasional. Tentu saja ia berharap ada seseorang yang menandainya di laporan pemuatan karya. Sayangnya belum ada. Alhasil, Bara hanya memberikan ucapan selamat kepada nama-nama yang muncul. Percayalah, ucapan selamat sesederhana ini adalah bentuk dukungan dari sesama pejuang litearsi yang menyenangkan. Bara tahu persis rasanya seperti apa, terlebih saat cerpennya dimuat untuk pertama kalinya. Sejak saat itu Bara selalu menyempatkan membubuhkan komen, memberi ucapan selamat walau hanya dua atau tiga kata.
"Eh, udah mau mulai."
Tepukan Riko di pahanya berhasil mengangkat pandangan Bara dari layar ponsel ke atas panggung. Tampak dua personel DAMKAR berbadan kekar sedang mengatur kursi dan mengecek mikrofon. Beberapa personel perempuan kemudian bergabung ke tengah panggung.
"Eh, keren, ya?" Riko menyikut Bara.
"O ... jadi mereka yang bikin kamu seantusias ini?" Melihat barisan perempuan berseragam biru mencolok di atas sana, Bara jadi paham. Sejak dulu Riko memang terobsesi ingin memacari perempuan "gagah", begitu dia menyebut perempuan yang terjun ke dunia yang didominasi laki-laki. Para Srikandi Yudha Brama Jaya di atas sana contohnya.
"Sumpah, mereka keren banget!"
Nah, kan? Padahal mereka cuma berdiri di atas panggung. Tidak berbuat sesuatu yang bisa mengundang decak kagum. Oh ya, Riko tidak pernah menggunakan kata "cantik" untuk memuji mereka, selalu seperti tadi, "keren".
"Selamat sore, semuanya ...."
Hampir seisi ruangan menjawab serentak salam pembuka dari personel DAMKAR yang tengah berdiri di tepi panggung sambil menabur senyum dan berusaha menarik perhatian. Setelah beberapa kalimat pembuka yang sudah teramat lazim untuk acara seperti ini, lelaki berotot itu memperkenalkan anggota timnya dengan menyebutkan nama. Yang namanya disebut kemudian berdiri untuk sekadar melambai sambil mempersembahkan senyum bersahabat.
Bara memicing, lalu tanpa sadar menegakkan punggung saat merasa mengenali salah seorang di antara mereka.
"Luna ...?"
__ADS_1
***
[Bersambung]