
Menabung itu memang perlu, tapi jangan semuanya. Ingat untuk selalu memberikan hadiah kepada diri sendiri atas perjuangan yang telah dilalui.
---
Helen nyaris terlambat lagi. Ketika rekannya mulai sibuk bekerja, ia masih membenahi riasan wajahnya. Pasalnya, Bian juga paling tidak suka kalau pegawainya masuk shift dalam kondisi tidak fresh.
Helen mematut diri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Make up tebalnya membuat Rana curiga. Saat Helen datang dengan tergesa-gesa tadi, sekilas Rana melihat lebam di keningnya. Benar saja, ia berusaha menutupi lebam itu, meski masih terlihat samar-samar. Rana semakin yakin ada yang tidak beres. Tapi Rana memilih menyimpan rasa penasarannya sampai jam istirahat nanti. Selama masih jam kerja, ia harus profesional, sebisa mungkin menghindari obrolan yang sama sekali tudak ada kaitannya dengan pekerjaan.
Di jam istirahat, Rana sengaja meminta satu rekannya stanby di area sales, sementara ia dan Helen makan duluan di belakang. Bian sedang keluar. Tadi ia tampak buru-buru setelah menerima telepon. Tidak adanya Bian bukan berarti Rana bebas berbuat semaunya, tapi minimal suasananya jadi lebih nyaman dan kondusif untuk mencari tahu apa yang disembunyikan Helen.
"Emm ... aromanya enak banget," puji Helen saat membuka tutup nasi kotaknya. "Beli di tempat biasa, ya?" tanyanya kemudian.
Rana hanya mengangguk saat Helen menoleh minta jawaban. Rana paham, Helen berusaha bersikap ceria seperti biasanya. Kendati demikian, gerak-geriknya masih saja terlihat janggal.
Rana memilih mengendapkan beberapa pertanyaan yang sedari tadi mencak-mencak dalam kepalanya. Ia menunggu sampai mereka selesai makan. Mengobrolkan hal terlalu serius sambil makan tidak baik, sementara mereka butuh asupan gizi yang cukup untuk menjalani sisa jam kerja.
"Keningmu kenapa?" tanya Rana akhirnya setelah Helen selesai makan dan baru saja menenggak hingga setengah isi botol air mineral di depannya.
Raut wajah Helen mendadak kaku. Ia juga tampak kesulitan memfokuskan pandangan ke satu titik. Kentara sekali ia ingin menghindar.
"Aku duluan, ya. Ranti juga pasti udah lapar banget." Helen bangkit dari duduknya.
Namun sebelum sempat beranjak, Rana mencengkeram pergelangan tangannya.
"Hari ini Ranti puasa nazar. Tidak masalah kita lebih lama di sini. Nanti waktu istirahatnya hanya untuk shalat dan membaca Al-Quran beberapa ayat."
"Tapi--"
"Kita perlu bicara. Kamu tidak bisa kayak gini terus. Belakangan kamu berubah."
Mendengar kalimat tidak terduga itu, Helen kembali merosotkan tubuhnya.
"Kamu pasti menyembunyikan sesuatu. Padahal kamu yang selalu bilang, masalah apa pun akan terasa lebih ringan jika kita berkenan membanginya dengan orang lain."
Helen hanya terus menunduk, sama sekali tidak punya kekuatan untuk membalas tatapan Rana.
"Kita masih teman, kan?"
Detik itu juga pertahanan Helen roboh. Air matanya meruah begitu saja, punggungnya terguncang sedemikian hebat.
Rana lekas menariknya ke dalam pelukan. Untuk beberapa saat Rana tidak bertanya apa-apa lagi. Ia membiarkan Helen menangis seperti itu saja dalam pelukannya, sampai sesak di dadanya reda.
"Aku ingin berhijab, Ran," ujar Helen kemudian dengan suara bergetar.
Rana langsung melepas pelukannya, menatap tepat di manik mata Helen. Meihat kondisi Helen, pengakuan barusan tidak bisa lagi Rana anggap sebagai angin lalu seperti yang sudah-sudah.
"Kenapa?" Pembahasan emosional ini membuat Rana turut meneteskan air mata. Jemarinya bahkan sampai bergetar. Dadanya disesaki perasaan-perasaan ajaib yang belum pernah terpatri selama ini.
"Aku butuh perlindungan. Aku ingin belajar menjaga diri seperti kamu menjaga diri selama ini."
__ADS_1
Kening Rana berkerut, pertanda masih belum paham.
"Ayah memaksaku jadi lady escort sebagai bayaran atas utang-utang yang sudah menggunung gara-gara judi."
Rana tersentak, pupil matanya membesar. "Jadi karena itu, kamu jadi aneh beberapa hari ini?"
Helen mengangguk sambil menyeka air matanya. "Bahkan mereka tidak segan menyentuh, meraba tubuhku sesukanya." Helen kembali terisak. "Dan kalau mereka kalah, aku jadi pelampiasan kekesalan, dianggap pembawa sial."
"Jadi memar di keningmu itu ...?"
Helen mengangguk samar.
Rana mengusap lembut pundak Helen. Ia sungguh prihatin.
"Tolong ajari aku cara menyembah Tuhanmu." Kali ini Helen membalas tatapan Rana penuh kesungguhan.
"Ada apa dengan Tuhanmu?"
Helen tidak menjawab.
"Jujur, aku sangat bahagia menyambut keinginanmu ini. Rasanya sungguh luar biasa. Tapi jika sebatas karena ingin melindungi diri, mulai sekarang kamu bisa belajar mengenakan pakaian tertutup tanpa harus menanggalkan keyakinan yang kamu peluk sejak lahir."
Selama ini cara berpakaian Helen memang agak terbuka. Tipe tampilan yang bisa membuat para lelaki sulit berkonsentrasi. Selaku rekan kerja sekaligus sahabat, Rana pernah beberapa kali menegurnya pelan-pelan.
"Tuhan cuma ada satu, kan? Berarti Tuhanku dan Tuhanmu sama. Mungkin hanya cara kita menyembahnya yang berbeda. Untuk hari-hari esok, aku ingin menyembah-Nya seperti caramu."
Air mata Rana kembali menetes. Ia bisa melihat kesungguhan itu di mata Helen. Sesaat ia tidak bisa berkata apa-apa.
Helen berasal dari Toraja, yang penduduknya mayoritas non muslim.
"Aku yang akan menjalaninya, bukan mereka."
"Ayahmu?"
Rana tahu persis seperti apa ayah tiri Helen. Lelaki pemimpi yang malas bekerja. Gaji-gaji Helen habis sama dia. Ia tidak pernah memanusiakan Helen, terlebih setelah ibunya meninggal.
"Aku tidak peduli!" tegas Helen. "Dia juga tidak pernah peduli sama aku."
Rana meraih tangan Helen, menggenggamnya. "Jujur, aku sangat bahagia. Bahkan, ada perasaan ajaib yang sulit kujabarkan." Rana jeda sejenak untuk menyeka air matanya. "Tapi di sini aku juga mencoba berperan sebagai sahabat yang siap menawarkan beberapa solusi. Hari-hari selanjutnya akan sangat berat, kalau keinginanmu ini hanya didasari emosi sesaat. Hanya karena sedang terlilit masalah serius." Rana berucap pelan. Jangan sampai Helen salah pengertian.
"Ini bukan emosi sesaat, Ran." Helen menghela napas panjang. "Setiap kali dengar kamu ngaji, aku tenang. Aku juga suka tiba-tiba mematung saat adzan mengalun."
Rana tentu masih ingat, sebelum ini Helen pernah melontarkan pengakuan serupa. Tapi mengingat Helen memang gadis ekspresif, Rana hanya berucap hamdalah tanpa respons berlebih. Tapi kali ini situasinya beda. Sesuatu telah menyentuh nurani sahabatnya ini.
"Bantu aku, Ran."
Sebelum tangis Helen kembali pecah, Rana menariknya ke dalam pelukannya.
***
__ADS_1
Selepas jam makan siang, pengunjung Sakura lumayan ramai. Sebagian besar dari mereka sedang berburu benda-benda unik dalam rangka memberikan kejutan manis untuk orang terdekat. Tidak melulu untuk pacar, karena beberapa mengaku ingin memberikannya ke orangtua mereka. Mereka datang ke tempat yang tepat, karena Sakura memang menyediakan benda-benda lucu yang cocok untuk kado di luar perayaan hari khusus.
Rana sedang sibuk di balik komputer kasir ketika Bara tiba-tiba muncul di antara pengunjung yang sedang melihat-lihat barang di rak pajangan. Lelaki itu langsung tersenyum lebar sambil mengambil langkah-langkah panjang demi lekas tiba di depan Rana.
"Ibu Peri."
"Mm ...."
Rana memang paling tidak bisa diganggu kalau sedang sibuk melayani pelanggan. Menyadari hal itu, Bara mencoba untuk tidak mengganggu lagi. Ia menunggu sampai transaksi yang sedang dilakukan Rana selesai.
"Senyumnya lebar amat. Ada apa?" Sekarang Rana yang memulai, setelah tidak ada lagi pelanggan yang mengantre di depan meja kasirnya.
"Nih." Dengan senyum semakin lebar, Bara menyodorkan sebuah surat kabar.
Tanpa perlu dijelaskan, Rana paham, tulisan Bara pasti dimuat di sini. Namun yang membuat Rana heboh kemudian, surat kabar yang dipegangnya sekarang adalah surat kabar nasional, yang kata Bara honor pemuatannya paling tinggi.
"Wah ...." Tatapan Rana berpindah-pindah dari halaman koran berisi cerpen ke wajah penulisnya.
"Akhirnya tembus juga. Hebat, kan?" Seperti biasa, Bara selalu punya gaya khas saat memuji diri sendiri, yang ampuh membuat Rana terkekeh.
Rana mengacungkan jempol kanannya penuh semangat. "Hasil memang tidak akan berkhianat. Selamat, ya." Rana tahu pasti, sudah lama Bara mengincar koran ini. Katanya, penulis yang berhasil menjejalkan karyanya di sini langsung disegani di komunitas-komunitas online yang diikutinya. Kendati demikian, menjadi populer bukan tujuan utama Bara dalam menulis, terlebih hanya untuk menuai puji-pujian yang bersifat fana. Selain karena honornya memang menggiurkan, ia sedang menantang diri sendiri.
"Pokoknya, nanti malam aku traktir kamu makan, nonton, dan--"
"Nggak usah, Bar." Rana menyela.
"Loh, kenapa? Kita harus merayakannya."
"Memangnya kamu tidak mau jadi orang, ya?"
"Jadi selama ini menurutmu aku bukan orang?!" Bara pura-pura kaget sambil terbelalak.
Rana tersenyum geli. "Maksudnya, dari sekarang kamu harus menata masa depanmu. Dan kamu perlu menabung untuk itu."
"Aku sudah menatanya dengan amat sangat baik, Ibu Peri," ujar Bara penuh penekanan. "Aku tinggal kuliah dengan rajin, lulus tepat waktu dengan nilai memuaskan, lalu daftar CPNS, jadi guru, dan terus menulis di luar jam kerja. Jadi, Bara di masa mendatang adalah guru sekaligus penulis buku-buku best seller." Gerakan tangan Bara sepanjang kalimat tadi sedramatis intonasi suaranya.
"Amin. Karena itu, mending uangnya kamu tabung untuk keperluan-keperluan tidak terduga nantinya."
"Kalau itu pasti. Tapi tidak semuanya. Lagipula aku harus memberikan hadiah untuk diriku sendiri yang tidak pernah lelah berjuang."
Itu kalimat paling ampuh yang sama sekali tidak bisa dibantah Rana. Maka gadis itu hanya bisa tersenyum, merasa beruntung memiliki sahabat yang selalu bersikap optimis. "Jadi, ke mana kita nanti malam?" tanyanya kemudian.
"Nipa Mall."
Rana sudah menduganya. Selain karena masih baru, konsep asri yang ditawarkan mal milik wakil presiden Indonesia itu, Pak Jusuf Kalla, berhasil menyedot perhatian warga Makassar. Satu-satunya mal di Makassar yang punya air terjun buatan. Banyak pengunjung yang betah berlama-lama hanya untuk menyaksikan pemandangan air jatuh dari lantai tiga, diiringi suara cipratan yang terkadang membuat kita lupa sedang berada di dalam mal. Juga satu-satunya mal di Makassar yang menyulap rooftop menjadi taman dan membangun sebuah masjid di sana. Kehadiran masjid itu yang membuat Rana jatuh cinta di kunjungan pertamanya. Sensasi yang didapatkan saat berada di Nipa Mall memang cukup timpang dengan mal-mal yang sudah ada sebelumnya.
"Ran, nanti malam kamu ada acara?" Tiba-tiba suara Bian menginterupsi.
Sesaat Rana tampak kesulitan untuk menjawab.
__ADS_1
***
[Bersambung]