Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Pengakuan


__ADS_3

Ia membiarkan hatinya berdarah demi membuat lelaki itu tersenyum bahagia.


---


Rana tidak pernah tahu jika pertemuan dengan seseorang akan membuat hatinya sepenuh ini. Seolah sudah lama sekali mereka tidak berjumpa. Seperti ia yang kehausan dan akhirnya menemukan telaga.


Iya, Rana tahu kemarin mereka bertemu. Hanya saja kondisi hatinya yang sedang buruk membuat pertemuan itu sedikit berbeda. Bisa dibilang aneh. Bagaimana bisa ia menjadi kekanakan seperti itu, mengabaikan Bara hanya karena cemburu yang tidak pada tempatnya?


Kalau boleh jujur, Rana rindu dengan kebersamaan mereka. Ia rindu duduk di belakang Bara, merekam punggungnya yang lebar sepuas hati. Ia rindu saat-saat menjadi pendengar setia Bara. Tentang ide-ide tulisannya, pun tentang Luna.


"Aku dengar hari ini kamu pindah?" Dan suara itu, Rana juga rindu. Suara Bara bukan jenis super bass, yang menonjolkan kemaskulinan. Hanya saja Rana akan langsung bisa menebak sekalipun ia belum melihat jika Bara yang berbicara.


"Iya, kebetulan di belakang rumah Ranti ada kosan kosong."


Mereka berada di sebuah kafe dengan konsep Jawa tempo doeloe. Konon pemiliknya yang bule itu jatuh cinta pada budaya Jawa dan memilih mengabadikan dalam interior kafe dan segala perlengkapannya. Irama gending menjadi latar obrolan para pengunjung yang lumayan banyak siang ini. Meja dan kursi terbuat dari kayu berukir. Peralatan makan pun terbuat dari rotan dan batok kelapa.


"Nyaman nggak?"


Pertanyaan selanjutnya mengusik hati gadis berhijab merah muda itu. Nyaman? Nyaman seperti apa yang Bara maksud? Jika nyaman sama dengan bertemu tetangga unit yang usil seperti Bara, maka Rana tidak menemukannya. Jika nyaman adalah ia yang bersemangat memasak demi berbagi dengan tetangga sebelah, maka Rana belum merasakannya. "Aku, kan, belum sehari Bar, masih butuh adaptasilah," jawab Rana, berharap terdengar logis.


Bara mengangguk. "Iya, juga, sih." Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Sejenak hening menjeda, membiarkan musik khas Jawa berkuasa.


"Kamu, ngajakin ke sini ada yang mau diomongin?" Rana menyeruput es dawet ayu yang dia pesan.


Bara berdeham, samar kerutan menghiasi kening. "Dira ... maksudku bagaimana pendapatmu tentang Dira?"


Alis Rana berjengit. Perasaan penuh di hatinya karena bahagia mendadak berkurang, seperti potongan keju yang perlahan meleleh. Lantas kilas kejadian tempo hari di ruang rawat rumah sakit terputar, tentang Bara yang menyatakan perasaan pada Dira. "Maksudnya?" Rana lebih memilih pura-pura bego, kalau bisa biarkan Bara mengurungkan niat untuk membahas perempuan itu.


"Ya ...." Bara mengusap belakang kepala. "Kamu sudah pernah ketemu dia, kan? Gimana pendapatmu? Dia baik, kan?"


Namun, sepertinya lelaki beralis tebal itu masih keukeh membahas Dira. Mau tak mau Rana harus berpendapat jika tidak ingin Bara curiga. "Baik," jawab Rana mantap. "Dia yang nolongin kamu waktu kehabisan bensin, kan?" Dan juga mengingatkanmu tentang Luna. Kalimat terakhirnya hanya mampu ia eja dalam kalbu.


Bara mengangguk. "Iya, kamu masih ingat?"


Tersenyum, Rana mencibir dalam hati. Tentu saja ia ingat. "Iya, ia baik, ia juga pemberani kayak Luna." Rana menekankan kata terakhirnya, berharap Bara sadar bahwa bisa saja dia tertipu oleh hatinya sendiri.


Senyum Bara terkembang. Dia tidak tahu jika respons Rana akan sebagus ini. Itu artinya apa yang disampaikan Riko tempo hari tidak benar. Antara ia dan Rana murni persahabatan. "Menurutmu bagaimana kalau aku serius dengan Dira?"


Lelaki jahat mana yang tega menyakiti hati perempuan yang menyukainya secara terang-terangan? Sayangnya lelaki itu kini ada di hadapan Rana. Lelaki yang ia sukai, lelaki yang ia sebut dalam doa justru tengah membahas perempuan lain di depannya. Jika tadi hati Rana hanya bolong sedikit, maka sekarang lubang itu kian lebar.


"Bagus. Lebih baik langsung serius dari pada main-main, kan?"

__ADS_1


Sebutlah Rana munafik. Mengatakan apa yang jelas berbeda dengan isi hati. Dia membiarkan hatinya berdarah demi membuat lelaki itu tersenyum bahagia.


"Jadi, kamu setuju?" Bara mencondongkan tubuh antusias, ia sampai lupa dengan es doger yang kian mencair.


Rana mengangguk berulang. Memaksakan senyum yang entah serupa apa. Sejujurnya ia ingin secepatnya hengkang, menumpahkan air mata yang sudah menggenang.


"Terima kasih, Ibu Peri," ucap Bara tulus. "Pendapat Ibu Peri sangat berarti buat aku."


Satu tetes cairan bening luruh begitu saja dari mata Rana. Gadis itu segera menyeka dan mengklarifikasi bahwa itu adalah air mata haru. Lantas mereka tertawa.


Bara mulai bisa menikmati es dogernya dengan santai. Sementara Rana mendadak kehilangan selera. Es dawet ayunya berubah pahit, sepahit perasaannya.


"O iya, Ibu Peri, bagaimana dengan Bian?"


"Bian?" Rana membeo, merasa janggal dengan sapaan Bara untuk bos Sakura.


"Iya, dia udah bilang suka ke kamu?" tanya Bara, seolah tahu segalanya.


"Dari mana kamu tahu?"


Bara menggeser wadah, mengelap bekas basah dengan tisu, lantas menumpukan tangan di sana. "Dia tuh suka banget sama kamu," beber Bara. "Dia sampai nanya ke aku gimana supaya kamu nyaman sama dia. Biar bisa deket kayak kita."


"Terus?"


Rana ber-o tanpa suara. Kepalanya terangguk dua kali. Perasaannya kini campur aduk antara sedih dan ingin marah. Bara bukan hanya tidak menyukainya, ia bahkan mendukung Bian mendekatinya. Kenapa semua orang begitu antusias menjodohkannya dengan Bian? Tanpa mancari tahu lebih dulu apa mau hati Rana sebenarnya.


"Jadi, gimana, dia sudah mengatakan sesuatu sama kamu?" Kembali Bara bertanya. Tak ada kilat cemburu sedikit pun dari ekspresi Bara yang Rana lihat. Gadis itu mendesah dalam hati, mengasihi diri sendiri. Selamanya, Rana hanya akan menjadi sekadar sosok penolong. Ibu Peri yang tidak akan mungkin disukai oleh Bara.


Namun, bisa jadi ini juga merupakan petunjuk dari Tuhan. Agar Rana membuka mata, agar ia sadar jika tidak ada gunanya mengharapkan Bara. Agar Rana melihat ke arah Bian.


"Dia sudah melamarku."


Bara terbatuk hebat ketika mendengar ucapan Rana barusan, tersedak ludah sendiri. Muka dan daun telinganya sampai memerah. Rana segera menyodorkan air mineral yang memang disediakan di meja. "Kamu gak papa?"


Bara menggeleng setelah meneguk air itu. Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya secara berkala, mengembalikan kestabilan tubuh. Tenggorokannya sedikit perih karena batuk yang tiba-tiba itu. "Kamu ngagetin, sih," ucapnya kemudian.


"Sori, Bar."


"Gercep juga si Bian, langsung lamar."


Rana hanya menanggapi dengan senyum dan kedikan bahu.


"Terus, udah kamu terima?"

__ADS_1


"Menurutmu gimana?" Bukan tanpa alasan Rana menanyakan itu. Dia ingin tahu seperti apa saran dari Bara, meski sebagian hatinya mencibir, mengejek Rana yang sebenarnya mengharapkan hal lain. Seperti berharap Bara menyuruhnya menolak, tapi itu hal yang mustahil.


"Terima aja. Toh, Bian baik."


Nah, benar, kan?


***


"Hayo! Ngeliatin apa?"


Rana terkesiap, jantungnya serasa copot ketika Ranti menepuk bahunya. "Ranti ... gagetin aja!" sungutnya.


Ranti mencebik. "Lagian ngeliatin calon suami sampai segitunya. Inget, belum halal."


"Apaan, sih. Tabok nih!" Rana mengangkat tangan, bersiap memukul gadis hitam manis itu. Ranti buru-buru mengambil langkah seribu.


Apa yang dituduhkan Ranti benar. Rana memang sedang memperhatikan Bian yang tengah mengobrol dengan seseorang di pojok dekat rak suvenir. Ia leluasa mencuri lihat karena tubuh Rana yang mungil tersamar oleh rak bunga yang dibuat melingkar itu. Agak kurang sopan memang, tapi Rana butuh melakukan itu. Dia harus mencari tahu seperti apa respons hatinya saat melihat Bian.


"Rana."


"Astaghfirullahal'adzim!"


Rana merutuk dalam hati. Kenapa hari ini orang-orang sangat suka mengagetkannya? Dia berbalik, lantas bertemu pandang dengan iris gelap Bian. "Iya, Pak, ada apa?"


"Maaf kalau saya ngagetin kamu tadi."


"Gak papa kok, Pak."


Tangan Bian yang semula berada di saku celana terangkat, mengusap leher bagian belakang. "Besok kamu shift pagi, kan?"


"Iya, Pak."


"Ngg ... Gimana kalau sorenya kita jalan-jalan?"


Kedua alis Rana bertaut. "Jalan-jalan?"


"Aku pengin makan pisang epe," ujar Bian cepat, lantas menunduk, enggan berbagi tatap dengan Rana.


Rana mengulum senyum, merasa lucu. Pasti sangat sulit bagi seorang Bian untuk mengucapkan kalimat seperti itu. Tapi tunggu! Ada hal lain yang mengusik gadis berhijab itu. Bagaimana Bian bisa tiba-tiba ada di sini? Apa pengintaiannya ketahuan?


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2