Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Terapi


__ADS_3

Terkadang tanpa sadar seseorang menciptakan sendiri ketakutannya, kemudian merawatnya dengan cara terus memikirkannya berlebihan.


---


"Aku punya sesuatu buat kamu."


Bara berkedip dua kali, seingatnya ia telah membuat kesalahan. Mengecewakan Dira dan Kevin. Bukankah lebih pantas jika dirinya menerima hukuman ketimbang hadiah? "Sesuatu apa?"


Mereka sudah berada di tempat parkir. Bara sengaja mengantar Dira dan Kevin lebih dulu. Memastikan mereka pulang, baru setelahnya ia akan menuju motornya yang berbeda tempat.


"Ngg ... hadiah spesial." Dira tersenyum misterius yang membuat Bara terkekeh.


Perempuan itu merogoh saku jaket kulit, mengeluarkan sesuatu, lantas mengangsurkannya pada Bara.


"Dira—"


"Jangan ditolak! Dan jangan protes!" Dira lebih dulu mencegat ucapan Bara.


"Tapi aku—"


"Aku tahu." Lagi, ucapan Bara dipotongnya. "Kamu nggak bisa nyalain korek itu, kan?" tebaknya telak.


Bara memandangi korek api gas di tangan. Sebenarnya tidak sulit menyalakan itu. Hanya perlu menekan agak kencang dan api keluar. Tapi tetap saja bagi Bara itu mengerikan. Membayangkan api di tangan sendiri sudah membuatnya merinding. "Terus, ngapain kamu ngasih ini?"


Bukannya menjawab Dira justru menunduk, menatap Kevin yang tampak kekenyangan. "Sayang, coba nyalain korek itu," pintanya.


Dengan patuh Kevin mengambil korek di tangan Bara, lantas menyulut api.


"See. Gak susah, kan?" Dira kembali menaruh korek itu dalam genggaman Bara.


Lelaki itu menyugar rambut. Sedikit frustrasi memikirkan cara menjelaskan kepada Dira bahwa ini tidak sesederhana itu. Bahwa Bara dengan api adalah dua hal yang selayaknya musuh.


"Gini deh, Bar," ujar Dira sebelum Bara memuntahkan protes kembali. "Kamu emang mau selamanya seperti ini? Yakin mau ngebiarin istri kamu ntar masak sendiri di dapur? Yakin bakalan tega ngeliat orang-orang yang kamu cintai mengasihani kamu selamanya? Kamu nggak malu nanti anak-anak kamu ngebully bapaknya yang takut api?" Rentetan kalimat itu Dira keluarkan nyaris tanpa jeda.


Bara mematung dengan pundak yang seolah baru saja digantungi beban berton-ton.


"Aku kayak gini karena aku peduli sama kamu," pungkas Dira sebelum pergi.

__ADS_1


***


Detak jarum jam di dinding menjadi musik latar di kamar kos yang Bara tempati. Angka sebelas yang ditunjuk jarum pendek nyatanya tidak berpengaruh bagi indra penglihatan Bara. Lelaki itu justru tengah bersaing dengan detiknya, menghitung dalam hati satu sampai enam puluh, lalu mengulangnya lagi. Posisinya berbaring, berbantal lengan kiri. Entah sudah berapa hitungan yang ia ikuti, yang jelas netra beriris cokelat gelap itu tak jua menunjukkan tanda-tanda letih. Bisa jadi pengaruh otak yang riuh di luar kendali.


Pemuda itu menoleh ke arah nakas, sebelah tangannya terulur, mengambil benda hitam dengan huruf A merah di mukanya. Bara mengamati korek itu. Sejak Dira memberinya tadi sebelum berpisah, ia belum berani menyalakan. Pupilnya awas memindai benda itu. Seolah berbagi kata yang Bara harap hanya dengan hubungan batin, korek itu akan menyala. Tapi kemudian ia bergidik, kalau ada api lantas siapa yang akan memadamkannya tengah malam begini?


Sedikit kasar, Bara menaruh kembali benda itu. Mengubah posisi tidur menjadi menyamping, memunggungi nakas. Ia mencoba menutup mata, berharap alam bawah sadar segera menariknya.


"Kamu emang mau selamanya seperti ini? Yakin mau ngebiarin istri kamu ntar masak sendiri di dapur? Yakin bakalan tega ngeliat orang-orang yang kamu cintai mengasihani kamu selamanya? Kamu nggak malu nanti anak-anak kamu ngebully bapaknya yang takut api?"


"Aarghh ...." Bara mengacak rambut frustrasi. Bagaimana ia akan tidur jika suara Dira selalu mengganggu seperti ini?


Ia bangkit, menekuk lutut, dan membenamkan kepala di sana. Apa yang diucapkan Dira benar-benar merusak konsentrasi. Bara jadi tidak enak makan, tidak nyaman tidur, apa pun aktivitasnya jadi serba salah.


Lalu entah ide dari mana, tangannya meraih ponsel. Begitu saja ia men-dial nomor Rana. Sambungan terhubung pada dering kedua.


"Assalamualaikum ...."


Seakan baru tersadar, Bara melebarkan mata ketika mendengar suara perempuan itu. Ia menelan ludah, kalau sudah begini tidak mungkin, kan, Bara mematikan telepon?


"Waalaikumsalam, Ran, kamu belum tidur?"


"Sudah makan?" Kalimat tanya itu terlontar spontan dari bibir Bara.


"Aku sudah makan tadi waktu istirahat di toko," jawab Rana setelah jeda beberapa detik.


Dahi Bara berkerut. "Biasanya kamu makan lagi kalau pulang kerja?" Ia menyuarakan keheranannya. Dulu tak jarang mereka makan bersama tengah malam di teras kosan. Tetangga unit mereka yang seorang asisten rumah tangga memang lebih sering tidur di rumah majikan. Jadi, Bara dan Rana seperti hanya tinggal berdua.


"Ngg ... aku diet sekarang," balas Rana diakhiri kekehan.


Bara mencibir. "Badan segitu apanya yang mau didietin? Mau jadi lidi?"


"Enak aja, kamu tuh tiang listrik!" sewot Rana cepat. Bara bisa membayangkan bibirnya yang manyun, membuat pemuda itu tertawa. Ia tidak pernah tahu jika berbicara lewat sambungan telepon dengan Rana seperti ini akan sangat menyenangkan. Otot lehernya yang sempat tegang beberapa saat lalu, perlahan mengendur.


"Rana," panggil Bara serius setelah cukup lama saling melempar ejekan. Ia melanjutkan ucapan setelah mendapat balasan dari perempuan di seberang sana. "Menurutmu suami yang bisa bantu istri di dapur itu keren nggak?"


***

__ADS_1


"Menurutmu suami yang bisa bantu istri di dapur itu keren nggak?"


Rana tidak langsung menjawab pertanyaan Bara di ujung sambungan selluler itu. Pertanyaan lain justru kini tengah bercokol di kepalanya, kenapa tiba-tiba Bara menanyakan itu? Apa itu artinya Bara sudah sedemikian serius dengan Dira?


Ayolah, Ran, kamu lupa sudah menerima lamaran Pak Bian? Bisikan itu membawa kesadaran Rana kembali. Ia beristighfar dalam hati, merutuki diri yang masih saja cemburu pada Dira. Bukankah ia sudah mengambil langkah tegas?


"Jadi nilai plus, sih, kalau menurutku," jawab Rana akhirnya.


"Berarti harus bisa nyalain kompor dong?"


"Ya, iyalah Bar. Namanya di dapur ya nyalain kom—" Netra Rana melebar, ia baru saja teringat bahwa Bara dan api adalah dua hal yang cukup mustahil. "Kamu udah bisa ...." Ia tidak menyebutkan kata terakhirnya, karena ia yakin Bara tahu maksudnya.


Terdengar helaan napas lumayan panjang sebelum suara berat itu kembali menyambangi telinga. "Kata Dira aku harus bisa ngalahin rasa takut aku. Katanya aku cemen kalau sampai gak bisa nyalain korek di depan istri dan anak aku kelak." Bara tertawa di akhir kalimatnya.


"Oh ...." Meski Rana sudah berulang kali mengingatkan diri sendiri tentang status dan posisi mereka, tetap saja rasa sakit itu menyentil hati, mencipta ngilu yang hanya Rana rasakan seorang diri. Sudah sedemikian jauh pembahasan mereka tentang masa depan. Tentang menjadi istri dan suami yang baik, bahkan sudah melibatkan anak. Rana tersenyum miris.


"Ibu Peri? Ibu Peri ... Rana ... kamu tidur?"


"Eh," Rana gelagapan. "Nggak Bar, aku masih melek, kok."


"Kirain aku ditinggal."


"Sori. Terus gimana, udah bisa sekarang?"


"Ya belomlah," balas Bara lirih.


Lagi, jeda meraja. Rana sedang berpikir, mencoba mencari solusi untuk persoalan Bara. Ia mungkin tidak bisa merasakan ketakutan macam apa yang Bara rasakan, tapi ia sedikit mengerti bahwa kadang sebuah peristiwa bisa mencipta trauma mendalam. "Kamu coba aja sambil ngebayangin kata-kata Dira," usul Rana.


"Maksudnya?"


"Jadikan itu semacam motivasi. Seperti kata Dira coba lakuin itu untuk orang yang kamu sayangi. Emang kamu nggak malu anak-anak kamu hilang respek karena ayahnya nggak bisa pegang korek?"


"Ibu Peri, kok, jadi ngebully aku, sih?"


Rana tergelak. Kapan lagi ia bisa memperlakukan Bara seperti ini.


***

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2