
Mencintai diam-diam ternyata bisa menyenangkan sekaligus menyiksa.
---
Bara tersadar setelah hening menggantung beberapa detik. Ia mengerjap beberapa kali. "Eh, berarti untung banget, ya, aku balikin sekarang," ujarnya agak salting.
"Iya. Makasih, ya."
Bara mengangguk sembari tersenyum.
Dira memiringkan kepala untuk bicara sama Kevin. "Kevin, ayo bilang makasih sama Om."
"Makasih, Papa," kata Kevin tanpa menoleh. Ia sibuk melepas kangen dengan si Batman.
Lagi-lagi papa, membuat Bara tertawa geli.
"Duh, maaf, ya. Dia emang gitu, siapa aja dipanggil papa. Personel laki-laki di sini juga dipanggil papa semua."
"Oh gitu." Bara manggut-manggut. "Jujur, waktu di mal lumayan kaget, tapi sekarang nggak lagi. Itung-itung pembiasaan sebelum benar-benar jadi papa."
Mereka tertawa.
"Maaa, ester ...," rengek Kevin kemudian.
"Yah, dia ingat, deh. Kirain udah lupa setelah ketemu Batman." Tawa kecil Dira mengudara.
"Ester?" Bara mengernyit.
"Maksudnya es teler."
Bara ber-o tanpa suara, lalu cengengesan sambil geleng-geleng ke arah Kevin.
"Dia suka banget makan es teler di sana." Dira menunjuk sebuah kedai bercat hijau di seberang jalan.
Bara menegakkan punggung dan mengikuti arah telunjuk Dira.
"Mau cobain?"
Bara tercekat. Semangkuk es teler panas-panas begini tentu sangat nikmat. Tapi ... Bara merasa akan ada yang salah jika ia mengikuti ajakan Dira.
"Yuk!" Dira sudah bangkit dari duduknya. "Aku traktir. Itung-itung ucapan terima kasih karena kamu bela-belain ke sini cuma buat balikin si Batman."
Andai Dira tahu, bukan cuma itu.
Meski masih kesulitan berkata-kata, pada akhirnya Bara berdiri dan mulai berjalan berdampingan dengan Dira dan juga Kevin yang tampak tidak sabaran.
***
__ADS_1
Mungkin sudah ratusan kali di pukul tujuh lewat lima belas menit seperti sekarang Rana melaluinya bersama Bara. Dibonceng lelaki itu menuju tempat kerja rasanya masih semendebarkan saat pertama kali. Rana memang bertekad untuk memperbaiki akhlak, menjadi sosok muslimah seutuhnya. Namun untuk menolak bersentuhan langsung dengan lelaki yang bukan mahram, ia belum tiba di titik itu. Bahkan, ia teramat payah untuk menolak menyesapi aroma khas tubuh Bara yang menguar dari punggung, juga dari gerakan-gerakan kecil saat lelaki itu menoleh kiri-kanan memperhatikan sesuatu di tepi jalan. Mencintai diam-diam ternyata bisa menyenangkan sekaligus semenyiksa ini.
Biasanya Bara akan berceloteh apa saja. Tentang tulisan-tulisannya, tentang usahanya menembus media tertentu, tentang perasaannya saat menerima email penolakan, tentang kegiatannya di kampus, hingga karakter teman-temannya. Ya, sampai ke tahap sereceh itu. Tapi tidak dengan pagi ini. Ia tampak lesu dan mendadak jadi pendiam. Sebenarnya Rana tahu penyebabnya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Biarkan saja dulu, sampai Bara menemukan alasan kuat, kenapa harus sepatah hati ini untuk seseorang yang baru dikenalnya. Karena perempuan itu mengingatkannya pada Luna? Jika iya, apa hanya karena sebotol bensin? Lalu, tidak adakah secuil pun perhatian Rana selama ini yang juga mengingatkannya pada Luna? Ah, seperti apa sebenarnya sosok gadis kecil itu? Rana sungguh ingin jadi duplikatnya.
Bara tentu saja tidak ingin seperti ini. Ini sungguh salah. Terlebih saat teringat momen kemarin sore. Dira benar, es teler di depan kantornya memang enak banget. Namun bukan itu yang membuat Bara terus terbayang. Tapi karena ia menikmatinya bersama perempuan yang sudah berstatus ibu. Memang tidak salah, mereka cuma teman, kan? Tapi perasaan tak semestinya terlalu cepat menjangkit seluruh sel hati Bara. Sekarang ia harus berjuang keras menanggalkannya.
***
Seperti biasa, Rana tiba hampir bersamaan dengan Bian. Kali ini Bian lebih cepat sekian detik. Ia sudah turun dari mobil saat suara khas matic Bara mengisi lembaran pagi di pelataran Toko Sakura.
Rana turun dari motor sambil mengernyit, mempertajam penglihatannya. Ia mendekat beberapa langkah demi memastikan, lelaki yang kini masih berdiri di samping mobilnya benar-benar Bian.
Sementara Bara hanya tersenyum sambil mengacungkan jempol saat Bian menatap ke arahnya. Ia tidak menyangka lelaki itu secepat ini mengikuti sarannya. Satu hal yang dapat Bara baca di situasi ini, niat Bian untuk mendekati Rana tidak main-main.
"Pagi, Bro!" sapa Bara sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Bro? Rasa heran Rana yang tadinya masih setengah, sekarang benar-benar memuncak. Terlebih saat Bian membalas, juga sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Tunggu, bahkan ia juga tersenyum sedemikian lebar. Wajah kakunya ia titipkan di mana pagi ini? Atau jangan-jangan Rana salah lihat?
"Hari ini Bapak nggak mau stay di toko?" Rana kembali mengamati penampilan Bian yang sangat timpang dibanding sebelum-sebelumnya. Tshirt Polo merah yang dijodohkan dengan jins slim fit biru pudar membuat lelaki itu lebih fresh. Sepatu kets putih mempertegas perubahan penampilannya.
"Stay, kok. Malah mau terjun langsung bantuin kamu. Kan, kita belum dapat penggantinya Helen. Jadi, hari ini tidak ada atasan, kita partner. Oke?" Kedua alis Bian terangkat.
Rana mengerjap heran. Bahkan gesture Bian saat bicara juga terasa beda, membuat Rana malah semakin bingung harus merespons seperti apa. Tadinya Rana pikir, dengan berpenampilan seperti itu, Bian ada acara di luar, atau sekadar meliburkan diri dari kesibukan di toko.
"Ran, ayo buka tokonya."
Rana terkesiap dari lamunan entah. Ia segera merogoh tasnya untuk menemukan anak kunci.
"Hati-hati!"
Sejak kapan mereka seakrab itu? Rana kian melongo.
***
Suasana Toko Sakura di shift pagi hari ini benar-benar terasa berbeda. Semua itu karena Bian yang tiba-tiba berubah, seperti punya kepribadian ganda. Selama ini Bian memang bukan tipe atasan yang kalau muncul membuat bawahannya tiba-tiba diam, atau pura-pura sibuk. Dia tidak pernah marah-marah tidak jelas, selalu menegur sesuai porsi. Tapi untuk benar-benar berbaur dan tertawa bersama seperti hari ini, malah sesekali ia yang mengangkat topik, sungguh belum pernah sebelumnya. Semua perubahan itu semakin kental karena ia terpaksa turun tangan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan receh karena sedang kekurangan pegawai. Sedari pagi senyumnya terus bermekaran, mengalahkan seluruh jenis bunga yang ada di Toko Sakura.
Seolah melengkapi rasa heran bawahannya, hari ini Bian sengaja tidak makan di luar. Ia ikut memesan nasi kotak saat Rana izin pergi beli makanan. Sekarang ia sedang melahap menu makan siangnya bersama Rana. Tadinya Rana ingin membiarkan Bian makan sendiri, biar dia istirahat belakangan. Tapi Bian minta ditemani. Ini pengalaman pertama Rana istirahat dan makan bareng bos, wajar bila kaku. Makanan jadi terasa hambar semua.
"Bara nggak punya pacar, ya?"
Pertanyaan tiba-tiba Bian membuat Rana nyaris tersedak. Rana perlu minum dulu sebelum menjawab. "Setahu saya, sih, nggak punya. Emangnya kenapa, Pak?"
"Oh, nggak apa-apa." Bian lekas menimpali, takut Rana salah tanggap. "Karena selama ini semua waktunya seolah cuma buat kamu."
Rana tersenyum simpul. Entah, hanya karena ada yang menilai seperti itu membuatnya bahagia.
"Yakin, kalian cuma sahabatan?"
__ADS_1
Kali ini Rana kesulitan menjawab. Sejenak ia berhenti mengunyah.
"Bara itu ... unik, Pak. Ia memang ceroboh, tapi mampu menangani beberapa pekerjaan di satu waktu. Ia memang pelupa, tapi mampu menepati target yang telah ditetapkan. Meskipun ia cukup optimis dan meledak-ledak dengan sejuta mimpi dalam genggamannya, tapi ia masih terlalu labil untuk menjalani sebuah komitmen. Sifat kekanak-kanakannya terkadang bikin saya gemas."
Tanpa sadar Rana sungguh menghayati kata per kata yang keluar dari mulutnya, hingga tiba di telinga Bian dengan penafsiran yang berbeda. Tidak salah lagi, Rana mencintai Bara. Yakin Bian dalam hati.
"Kalau aku?" tanya Bian lagi setelah memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.
"Bapak kenapa?" Rana sungguh tidak paham.
"Katamu, kan, Bara itu unik, nah, kalau aku gimana?"
Pertanyaan itu membuat Rana terkekeh. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Bapak itu tipe lelaki idaman semua perempuan." Rana menekankan kalimatnya.
"Termasuk kamu, dong?" todong Bian.
"Apa, sih, Pak?" Rana kembali terkekeh. "Yuk, makan lagi," katanya menghindar.
Sampai makanan mereka habis, tidak ada lagi percakapan. Tapi saat Rana hendak berdiri untuk membuang kotak bekas makanannya, Bian kembali bersuara.
"Mm ... Ran, nanti malam orangtuaku ngadain acara syukuran hari ulang tahun pernikahan mereka. Kamu bisa datang, nggak?"
Rana mengernyit.
"Kalau nggak ada acara, sih." Bian sudah bersiap menerima penolakan.
"Kok, saya, Pak?"
Bian menghela napas panjang sambil meremas jemarinya. "Nanti malam pasti banyak banget teman-teman mama-papa yang datang. Biasanya mereka bawa putri mereka untuk dikenalin sama aku. Kalau ada kamu, setidaknya aku aman dari ritual itu."
"Jadi, saya mau dijadiin tameng?" Menurut Rana, ini menggelikan.
"Kalau nggak keberatan, sih." Bian menyuguhkan cengiran salting.
Rana tertawa. Bosnya ini ada-ada saja. "Boleh, deh, Pak. Nanti malam saya nggak ada acara apa-apa, kok."
"Serius?" Lingkar mata Bian membesar.
Rana mengangguk. "Itung-itung makan gratis. Atau kalau mau dimasukin jadi tambahan bonus akhir bulan, saya juga nggak nolak, Pak."
Kali ini Bian yang tergelak. Bisa ngobrol seakrab ini saja sudah cukup membuatnya bahagia.
"Kalau gitu, jam tujuh aku jemput, ya."
Rana mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
***
[Bersambung]