Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Karena Setiap Hati Punya Kiblatnya Masing-Masing


__ADS_3

Lelaki religius itu punya cara elegan dalam menjunjung ajaran agamanya.


---


Setelah terhalang lampu merah sekitar semenit di pertigaan BTP, Bian kembali tancap gas agar lekas tiba di RSUD Daya. Sejak dari rumah senyumnya tercetak dengan sempurna. Padahal, tadi ia sudah bersiap untuk tidur ketika tiba-tiba Rana meneleponnya. Pasalnya, ini kali pertama Rana minta tolong. Ini pasti terdengar berlebihan, tapi Bian belum pernah merasa seberarti ini.


"Kamu, kok, nunggu di sini?" tanya Bian setengah teriak sambil menepikan mobilnya. Tadinya ia tidak yakin, gadis yang berdiri di trotoar depan rumah sakit itu benar-benar Rana.


Rana bergegas menghampiri mobil Bara. Boro-boro menjawab pertanyaan Bian, ia malah langsung masuk sebelum benar-benar dipersilakan.


"Kamu nggak apa-apa?" Bian mengernyit. Rana kelihatan berbeda malam ini.


Rana hanya menggeleng.


"Kenapa nggak nunggu di dalam aja?" Bian mengulang maksud pertanyaannya dalam susunan kalimat yang berbeda.


"Biar cepet, Pak. Ini udah larut."


Bian yakin, Rana menyembunyikan sesuatu. Belum pernah gadis itu bicara dengannya dengan tatapan lalu-lalang tidak jelas.


"Gimana keadaan Bara?" Bian kembali membuka obrolan setelah mobil melaju perlahan.


Rana tidak menjawab. Lebih tepatnya kurang menyimak ucapan Bian. Ia sibuk mengamati apa-apa yang ada di pinggir jalan, sambil berusaha menepis perih yang membekuk tenggorokannya sedari tadi.


"Ran ...."


Rana terkesiap. "Eh, Bara, ya? B-baik, Pak." Ia menoleh sekilas, lalu kembali membuang pandangan ke luar sana. Membentur bangunan-bangunan pertokoan, papan-papan reklame, tiang-tiang lampu jalan, juga bayangan Bara sedang tertawa lepas bersama Dira tadi.


***


Setelah mendapati Bara mulai menyukai gadis lain yang nyata, tidak melulu soal Luna yang hanya hidup dalam imajinasinya, seharusnya Rana senang. Bukankah itu yang ia upayakan selama ini sebagai seorang sahabat? Nyatanya tidak. Rana bahkan tidak menyangka akan sekacau ini jadinya. Tadi, ia bahkan membiarkan Bian menyetir tanpa menyebutkan tujuan terlebih dahulu. Untung jalan ke rumah Ranti belum lewat saat Bian memutuskan untuk bertanya dengan sangat hati-hati. Selain butuh teman malam ini, Rana tidak mungkin tidur di kosnya. Pasti sedang ada pengerjaan ini-itu pasca kebakaran kemarin. Kondisinya belum kondusif.


Mereka sudah tiba di rumah Ranti yang berada di kawasan Antang. Kawasan itu terkenal rawan tindakan kriminal. Bian ikut turun, bermaksud menunggu sampai Rana benar-benar masuk. Tadi sebelum tiba, Rana sudah menelepon Ranti, tapi tidak diangkat. Ia baru akan meneleponnya lagi. Melihat lampu ruang tengah rumah itu sudah dipadamkan, Rana mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu.


"Terima kasih, Pak. Maaf sudah merepotkan selarut ini."


"Ah, nggak, kok."


"Tadinya Bapak sudah mau tidur, kan?"


Bian buru-buru menggeleng. "Aku masih kerja ...." Tersadar, lelaki berkulit putih itu menunduk menatap piama yang melekat di tubuhnya. "Kalo di rumah aku emang lebih nyaman pakai piama, sih," terangnya tanpa dipinta. Ia kembali menatap Rana dengan cengiran ala-ala abege yang salting di depan gebetan.


"Besok langsung masuk?" Bian kembali bersuara, setelah sekitar sepuluh detak jantung ia hanya terdiam memandangi ujung sandalnya. Padahal dalam kepalanya, kalimat untuk meminta jawaban Rana berputar-putar sedari tadi. Sayang, Bian masih teramat kaku untuk menyuarakannya.


"Masuk, kok, Pak."

__ADS_1


"Maksudnya, kalau kamu belum siap istirahat aja dulu."


"Saya sudah tidak apa-apa, Pak. Insya Allah, siap. Lagian kita belum nemu pengganti Helen, kan? Pasti agak keteteran."


"Nah, soal pengganti Helen, saya sudah sebar informasi ke pelanggan-pelanggan kita. Siapa tahu mereka punya keluarga atau teman yang butuh kerjaan. Semoga secepatnya ada pelamar yang datang."


"Semoga, Pak."


"Saya telepon Ranti dulu, ya, Pak."


Bian mempersilakan.


Kali ini telepon Rana langsung diangkat.


"Halo, Ran," sapa Ranti dengan suara khas orang yang belum sepenuhnya sadar.


"Aduh, maaf banget, nih, ganggu malam-malam begini. Aku ada di depan rumahmu."


"Hah?" Ranti tersentak. Ia langsung bangun dan turun dari tempat tidur. "Oke. Tunggu bentar, ya."


Rana mematikan teleponnya dan kembali menatap Bian. "Ranti baru mau buka pintu," terangnya, seolah paham betul maksud mimik Bian dengan kedua alis setengah terangkat.


Beberapa detik kemudian pintu utama rumah bercat krem itu berderit terbuka. Ranti muncul sambil merapikan kuciran rambutnya. "Astaga, Rana." Ia bergegas mendekat. "Pak." Ranti merunduk ke arah Bian setibanya di depan mereka.


"Kamu ini ada-ada aja, deh. Ya tentu bolehlah." Ranti merangkul pinggang teman kerjanya itu. Sebenarnya Ranti masih heran kenapa Rana tiba-tiba minta tumpangan selarut ini. Tapi ia memilih tidak menanyakannya di depan bos mereka. Di kamar nanti mereka bisa ngobrol dengan leluasa.


"Ya udah, sebaiknya kalian masuk sekarang. Aku pamit."


"Sekali lagi makasih, Pak."


Bian melebarkan senyum 'sama-sama'.


***


Nek Tira sudah menutup kiosnya sekitar sejam yang lalu. Ia baru selesai mendata barang-barang yang stoknya mulai berkurang, ketika suara motor Dira terdengar dari arah garasi. Perempuan bertubuh mungil dengan rambut yang sebagian besar sudah berwarna kelabu itu lekas keluar lewat pintu belakang, belok kanan langsung bertemu Dira di ruang tamu. Kios yang menyediakan barang-barang kebutuhan sehari-hari itu memang menyatu dengan rumah. Dulunya bekas kamar tamu.


"Kok, baru pulang? Ada kebakaran lagi?" Dira sudah hafal mati raut kecemasan yang memancar dari wajah neneknya setiap kali pulang selarut ini. Dira paham, neneknya tidak begitu suka dengan profesinya, yang katanya terlalu dekat dengan bahaya.


"Nggak, kok, Nek. Tadi cuma ada kegiatan di luar, terus pulangnya mampir dulu jenguk teman di rumah sakit."


"Siapa temanmu yang masuk rumah sakit?" Nek Tira memang begini, harus tahu siapa-siapa yang berteman dengan cucunya.


Dira tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. Ia tidak yakin hubungannya dengan Bara sudah bisa disebut pertemanan. "Baru kenal, sih, Nek."


"Cowok?" Ketimbang bertanya, satu kata dari Nek Tira barusan lebih bernada harapan. Semoga teman baru cucunya ini memang cowok.

__ADS_1


Dira mengangguk ringan.


"Alhamdulillah ...."


"Apa, sih, Nek?" Dira melanjutkan langkah yang tadinya terhenti sedepa dari pintu, alih-alih menghindari topik yang sudah bisa ditebak akan mengarah ke mana.


"Jangan terlalu larut dalam kerjaan. Ingat, kamu itu sudah di usia ideal untuk menikah." Nek Tira mengekori Dira.


Dira hanya terkekeh pelan.


"Nenek nggak akan tenang sebelum kamu menemukan jodohmu."


Dira berbalik menghadap neneknya sebelum masuk ke kamarnya. "Dira masih muda, Nek, belum kepikiran mau nikah. Lagian kalau soal jodoh, Insya Allah akan datang di waktu yang tepat."


Jika Dira sudah melontarkan kalimat ampuh itu, Nek Tira tidak bisa lagi berkutik.


"Ya udah, Dira masuk kamar dulu, ya." Dira mengecup kedua pipi neneknya, hal sederhana yang mampu menghangatkan dada perempuan yang telah menjanda sekitar enam tahun itu.


Di dalam kamar, Dira langsung menjatuhkan diri di tempat tidur. Bukan sekali tadi Nenek menyinggung soal pendamping hidup. Dan setelahnya Dira akan kepikiran seperti sekarang. Ia mendesah pelan, gagal mencegah ingatannya kembali ke masa itu, ketika pusat dunianya masih ada di sekitarnya, masih bisa ia pantau, meski tidak pernah benar-benar sanggup ia jangkau.


Malik ....


Bahkan sekadar melafalkan namanya dalam hati, mampu membuat kedua sudut bibir Dira bergeser perlahan membentuk lengkungan.


Dira mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya. Ia login ke Instagram dan langsung meluncur ke akun Malik. Tidak ada satu pun foto diri di akun itu. Postingannya hanya berupa potongan sudut-sudut kota tempatnya kini berada, disertai caption yang selalu berhasil menyejukkan hati. Kendati tidak akan menemui wajah lelaki pujaannya di akun itu, Dira tetap betah berlama-lama, mengklik satu per satu postingannya tanpa berani membubuhkan like. Bagi Dira, cukup merasakan bahwa lelaki itu baik-baik saja di kejauhan sana.


Merasa cukup, Dira beralih ke galeri dan langsung men-scroll cepat hingga menemukan satu-satunya foto dirinya bersama Malik. Foto itu diambil saat mereka tidak sengaja bertemu di sebuah pameran lukisan. Meski sudah ribuan kali memperhatikan foto itu, Dira selalu terkesan dengan sikap Malik yang jaga jarak dengannya tanpa terkesan sombong. Lelaki religius itu punya cara elegan dalam menjunjung ajaran agamanya.


Pertama kali Dira melihat Malik, saat lelaki itu mengadakan sosialisasi dalam rangka mempromosikan kampusnya di sekolah Dira. Padahal waktu itu Malik hanya mengucapkan salam, lalu menyodorkan selebaran sambil tersenyum ramah. Dira yang notabenenya tomboy, cuek dengan basa-basi cinta, tergolong sulit untuk takluk dengan pesona lelaki, terlebih yang baru dikenalnya. Tapi kala itu, lengkungan manis di bibir Malik, serta pancaran teduh dari sepasang iris cokelatnya membuat Dira mematung beberapa jenak. Saat itu Dira belum sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang ia tahu, ia ingin berlama-lama menikmati senyum Malik, sambil berusaha menormalkan detak jantungnya yang seolah ingin merontokkan tulang-tulang rusuknya.


Meski menolak dirinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama, dari hari ke hari Dira semakin tertarik mengumpulkan informasi seputar Malik. Dira tidak butuh waktu lama untuk menyimpulkan, Malik sosok yang religius. Pribadinya sungguh berbeda dengan kebanyakan makhluk berjakun yang ada di sekitar Dira. Kekaguman Dira kian menebal setelah tahu bahwa Malik pernah menjuarai MTQ tingkat nasional.


Semakin mengenal Malik membuat Dira tidak berani berharap banyak. Malik berbeda dengan lelaki kebanyakan, konsep pacaran tidak ada dalam kamus hidupnya. Karena itu, Dira hanya punya segelintir kenangan bersama lelaki berambut lurus itu. Sebagian besar mungkin semacam pertemuan tidak sengaja di sisi Malik, namun sebenarnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Dira. Dira berjuang mati-matian memancarkan sinyal perasaannya, meski paham betul Malik tidak mungkin merespons seperti yang diharapkannya.


Malik terbang ke Mesir untuk melanjutkan S2-nya sebelum kebakaran yang serupa kiamat kecil di hidup Dira terjadi. Dengan kata lain, Malik tidak tahu Dira sudah meninggalkan Bandung. Malik alasan utama Dira pernah menolak ajakan Nek Tira untuk tinggal di Makassar. Ia ingin menunggu kepulangan lelaki itu, lebih tepatnya menunggu kesiapannya untuk menentukan pasangan hidup. Tapi kemudian Dira sadar, bila memang jodoh, Malik pasti akan menemukannya.


Terakhir kali mereka berkomunikasi saat Malik mengabarkan ia diterima di universitas paling bergengsi di Mesir. Ya, meski sangat mendambakan Malik, Dira berpikir dua kali untuk merecokinya dengan chat-chat tidak penting. Ia takut dianggap pengganggu dan membuat lelaki itu jadi ilfeel. Saat itu mereka masih menggunakan BBM, sementara sekarang orang beramai-ramai berpaling dari aplikasi itu. Dira kehilangan kontak Malik.


Dira sudah memutuskan, ia tidak akan menikah sebelum mendapat kabar pernikahan Malik terlebih dahulu. Selama lelaki itu belum menentukan pilihan, ia masih punya alasan untuk menunggu.


Dira menghela napas panjang, mencoba meloloskan diri dari kubangan kenangan abu-abu tentang Malik. Ia mengetuk ikon back, keluar dari folder yang menampung foto Malik. Kemudian ia beralih ke foto Bara yang diambilnya secara tidak sengaja. Niat awal hanya ingin memotret Kevin yang tampak semringah disuapi es krim oleh Bara, tapi wajah si penyuap malah ikut tertangkap kamera. Dira hanya belum sadar, sekarang ada lelaki selain Malik yang mampu membuatnya senyum-senyum sendiri.


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2