Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Patah Hati


__ADS_3

Sepintas rasa kagum memang mirip cinta, meski keduanya punya ruang sendiri-sendiri.


---


Melihat saldo rekening yang bertambah adalah kebahagiaan tersendiri. Apa lagi jika itu didapat oleh mahasiswa seperti Bara. Matanya berbinar ketika membaca email dari redaktur surat kabar yang memberitahukan bahwa honor sudah dikirim. Ketika ia mengecek di aplikasi M-Banking-nya, ternyata benar. Jumlah uangnya bertambah. Meski tidak bisa disebut besar, tapi tidak ada salahnya berbangga, bukan?


Bara sudah merencanakan sebuah ide. Ia akan mentraktir Dira dan Rana. Berbagi kebahagiaan dengan mereka.


Netra beriris cokelat gelap itu berbinar ketika orang yang sedang ia pikirkan justru lebih dulu mengirim pesan padanya.


Dira: Bar, aku ganggu gak? Kevin merajuk pengen ketemu kamu.


Dan senyum Bara makin lebar saat membaca isi pesan. Ia dan Kevin memang sudah sedekat itu, jadi wajar kalau bocah lelaki itu kangen padanya sekarang.


Bara: Kebetulan banget, aku juga lagi pengen ketemu dia.


Dan kamu, batin Bara dalam hati. Lantas ia menggeleng menyadari kekonyolan itu.


Dira: Kebetulan banget. Kapan bisa ketemu?


Bara: Mumpung libur, ayo ketemuan sekarang.


Bara segera mengantongi ponsel dan bersiap pergi setelah menyetujui tempat janjian dengan Dira. Rana bisa ia ajak nanti malam, pikirnya.


***


Warung coto Makassar yang memang tersohor itu penuh sesak siang ini. Kendati cuaca panas, itu tidak berpengaruh bagi lidah mereka yang mendamba makanan khas Makassar itu. Termasuk Bara dan Dira. Beruntung mereka masih kebagian tempat di area out door.


"Kok, pakai bawa hadiah segala, sih?" ujar Dira ketika Kevin menerima prototipe bumblebee dari Bara.


"Sekali-kali," balas Bara. Ia senang melihat Kevin yang khusyuk memainkan mobil kuning itu.

__ADS_1


"Horee, Kevin bisa!" seru bocah itu. Mainannya telah berubah menjadi robot. Bara dan Dira ikut tepuk tangan.


"Seneng banget, ya?" tanya Dira, mengelus lembut kepala Kevin. Dijawab anggukan mantap.


Bara memperhatikan keduanya, rasanya tidak sulit menjaga Dira dan Kevin. Apa lagi mereka sudah dekat satu sama lain.


Ia bukan jenis lelaki yang akan menawarkan sebuah hubungan coba-coba pada lawan jenisnya. Meminta pendekatan fisik dan batin, lalu ketika ditemukan keburukan maka ia akan membuangnya begitu saja. Tidak, Bara bukan lelaki seperti itu. Ia akan serius jika memang hati berkata inilah orangnya, dan akan lebih serius jika orang yang dimaksud menerima. Bukankah seperti itu yang diajarkan agama?


Lelaki itu berdeham. "Bagaimana dengan tawaranku tempo hari?"


Alis Dira berjengit. "Tawaran apa? Yang mana?" Seingatnya mereka tidak pernah melakukan tawaran apa pun.


"Tentang menjadi papa sesungguhnya bagi Kevin." Kalimat itu terlontar mantap dan tegas dari bibir Bara. Kevin sempat menoleh sesaat ketika namanya disebut, tapi setelah itu berkutat kembali dengan bumblebee-nya.


"Kamu ngomong apa sih, Bar?"


"Aku serius, Dir. Sama seriusnya dengan yang aku ucapin sewaktu di rumah sakit dulu."


"Tunggu!" Dira mengangkat tangan kanan sejajar kepala. "Kenapa aku? Memangnya apa yang membuatmu menyukaiku?"


Senyum yang semula dipertontonkan Bara perlahan pudar ketika Dira justru terkekeh geli. Seolah apa yang barusan Bara ucapkan adalah stand up comedy.


"Bar, kamu yakin beneran suka sama aku?" tanya Dira serius. "Bukan karena menyukai sosok Luna yang secara kebetulan ada di diri aku?"


Kening Bara berkerut dalam, menelaah maksud perkataan Dira. Iya, mereka memang mirip dari segi sifat. Tapi, fisiknya berbeda. Bara tidak mungkin salah akan perasaannya, kan?


"Nggak!" Bara menggeleng tegas. "Aku nggak salah. Kamu dan Luna beda."


"Aku ngerti itu, Bara." Dira jeda, sekadar menghela napas. "Sekarang gini deh, kamu penulis, kan? Pernah nggak ngebayangin aku sebagai salah satu tokoh dalam ceritamu? Ada nggak?" tanya Dira. "Atau justru yang ada hanya Luna atau malah perempuan lain?"


Bara tidak langsung menjawab. Ia justru sedang mengingat seperti apa sosok perempuan yang ia gambarkan dalam novelnya. Ia kembali beradu pandang dengan Dira. Ia penulis, ia cukup sering memberi penjelasan gamblang tentang tanda-tanda jatuh hati.

__ADS_1


Ia mencoba mencari tanda itu. Di mana detakan yang berbeda itu? Di mana getar aneh yang harusnya memenuhi dada? Dan ketika sadar bahwa semua itu tidak ada, netranya melebar.


Dira mendengkus, lantas terkekeh geli. "Bar, aku yakin seratus persen bukan aku yang kamu sukai. Kamu mungkin sebatas kagum." Bahunya terkedik. Ia lantas memilih mendekatkan mangkuk, memulai aktivitas makan siang mereka yang sempat tertunda.


"Tapi, Dir ...." Ucapan Bara untuk kembali memberi sanggahan terhenti karena isyarat tangan dari perempuan di depannya.


Kembali meletakkan sendok, Dira memandang Bara lekat. "Bar, kalau toh kamu beneran suka sama aku, aku nggak bisa." Kepalanya tergerak ke kanan dan kiri. "Ada orang lain yang udah lebih dulu menempati ruang di sini." Ia menunjuk dada. Mungkin terdengar sadis, mengatakan menyukai orang lain di saat ada yang baru saja menyatakan perasaan padanya. Tapi seperti yang dikatakan Dira barusan, Bara salah menerjemahkan bahasa hati. Ia hanya membantu Bara, menyadarkan tentang perasaannya sendiri.


***


Bara membelokkan motor ke tempat parkir Sakura. Mematikan mesin, ia tidak langsung turun. Lelaki itu menjulurkan kepala, menajamkan pandangan ke dalam, mencari sosok yang sudah ia hafal posturnya. Seperti rencana awal pagi tadi, ia akan mengajak Rana makan malam. Ia sengaja tidak memberi tahu Rana perihal kedatangannya. Kejutan, itu yang ia rencanakan.


Tapi, ketika ia tidak menemukan sosok yang dicari, Bara memilih memastikan sendiri dengan masuk ke toko bunga itu. Tidak masalah jika Rana sudah pulang, ia akan menyambangi kontrakannya. Pun ia akan suka hati menunggu jika Rana ternyata shift malam.


Kaki jenjang berbalut jeans hitam itu melangkah mantap ke dalam toko. Mendekati salah satu karyawati di salah satu sisi ruangan yang tengah menata aneka mawar.


"Permisi," ucapnya sopan. "Ranti, kan?" menunjuk gadis berkucir kuda dengan poni menyamping itu.


"Bara?" Mereka memang tidak pernah terlibat obrolan serius berdua saja, tapi secara tidak langsung mereka saling mengenal lewat Rana. "Ada apa?"


"Rana masuk apa ya, hari ini?"


"Dia, kan, cuti. Kamu nggak dikabarin?"


Detik selanjutnya netra keduanya melebar untuk sebab yang berbeda. Ranti terkejut karena Rana tidak memberitahu Bara, tapi ketika ia memikirkan kembali perasaan gadis itu, ia maklum. Sementara Bara terkejut karena tidak tahu Rana cuti. Seingatnya ketika terakhir kali mereka berbagi kabar lewat ponsel, Rana sama sekali tidak menyinggung soal rencana pulang kampung. Dan membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi membuat Bara khawatir.


"Cuti pulang? Kenapa? Adiknya sakit?" Pertanyaan beruntun itu sarat kecemasan.


Ranti menggigit bibir bawah, bingung harus menjawab bagaimana. "Itu ... Rana ...." Gadis itu berdeham, bagaimanapun ini berita baik, kan? Ia kembali berdeham, lantas menatap Bara. "Hari ini keluarga Pak Bian melamar Rana secara resmi."


Pemuda itu tertegun. Seingat Bara sudah sedari tadi pagi Dira menolak dan menyatakan mencintai orang lain, tapi kenapa baru sekarang hatinya sakit?

__ADS_1


***


[Bersambung]


__ADS_2