Rinai Rindu dari Langit

Rinai Rindu dari Langit
Ketemu Luna?


__ADS_3

"Ternyata setidakmenyenangkan ini bersaing dengan seseorang yang sudah tiada."


---


Selain bunga potong, Toko Sakura juga menyediakan bunga plastik atau kain yang tentu saja jauh lebih awet. Kendati demikian, bunga potong jauh lebih diminati. Kata mereka, bunga potong malambangkan kesungguhan. Memang, sih, yang asli tidak akan pernah kalah dengan yang palsu.


Selain bebungaan, di toko yang terletak di Jalan Urip Sumiharjo itu juga menyediakan aneka suvenir dan benda-benda lucu yang cocok dijadikan kado untuk orang spesial. Toko yang beroperasi dari pukul delapan pagi hingga pukul sepuluh malam itu pengunjungnya terbilang statis. Hanya sesekali agak ramai di waktu sore.


Sejak kecil Rana suka dengan bunga. Di kampung, ia punya kebun bunga di samping rumah. Sudut-sudut teras rumahnya pun dihiasi bunga-bunga dalam pot beragam ukuran. Ada juga yang digantung dengan jarak beraturan. Sayang, ditinggal Rana, mereka tak sesubur dulu. Ibunya sudah cukup kewalahan mengurusi ketiga adiknya. Beliau tidak ada waktu mengurusi bunga-bunga itu. Karena itu, bisa bekerja di Toko Sakura membuat Rana seperti memasuki surga setiap hari. Rasa bersalahnya karena terpaksa menelantarkan tanaman-tanamannya di kampung, Rana bayar tuntas di sini. Ia memperlakukan bunga-bunga di toko itu penuh kasih sayang, setulus hati. Hal itulah yang tampak di mata Bian, yang kemudian memutuskan untuk mengangkat Rana menjadi supervisor di tahun kedua masa kerjanya.


Merasa terlalu cepat, Rana sempat menolak waktu itu. Terlebih ada yang lebih senior darinya. Ia merasa belum pantas dan agak tidak enak. Ia takut tidak lagi merasakan suasana kerja senyaman dulu jika menerima tawaran itu. Tapi Bian terus meyakinkan, hanya Rana yang pantas mendapatkan jabatan itu. Meskipun sejak awal Bian menaruh rasa terhadap Rana, tapi ia cukup objektif. Pengusaha muda itu sudah cukup dewasa untuk tidak mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan urusan hati. Ia memilih Rana murni karena kinerjanya, bukan karena faktor X. Pada akhirnya Rana bersedia. Lagipula teman-temannya mendukung, sama sekali tidak ada yang iri. Dengan jabatan baru itu, uang bulanan untuk keluarganya di kampung bisa sedikit bertambah. Alhamdulillah. Rana sangat bersyukur atas kepercayaan yang didapatkannya.


Pukul tiga sore. Rana siap-siap untuk pulang. Shift dua sudah datang sejam sebelumnya. Sekarang ia sedang sibuk serah terima tugas dengan Helen, gadis nasrani yang belum cukup setahun bergabung di toko itu. Kendati terbilang baru, hasil kerjanya tidak pernah mengecewakan. Karena itu, peran supervisor diambil alih olehnya di luar shift Rana.


Helen pribadi yang menyenangkan. Selain sering bawa makanan, ia juga paling gampang diajak kompromi soal bertukar shift. Di toko, Helen paling kocak. Sehari saja tidak masuk, orang-orang akan mencarinya. Tapi di balik sikap cerianya, Rana selalu bisa menemukan kesedihan yang mengalun sama-samar di sorot mata gadis berambut ikal itu. Ia seperti menyembunyikan sesuatu, yang belum bisa ia bagi ke teman-temannya.


Pernah sekali Helen mengejutkan Rana, saat tiba-tiba ia mengajukan keinginannya untuk berhijab. Kalau saja Helen muslim, tentu saja Rana langsung mengucapkan hamdalah dan menyambut hangat keinginan temannya itu. Tapi ... keinginan itu datang dari seorang nasrani. Rana benar-benar bingung menanggapinya. Kemudian Rana anggap Helen hanya bercanda waktu itu. Lagi pula ia tidak pernah mengulanginya lagi.


"Assalamuaikum, calon penghuni-penghuni Surga," sapa Bara yang entah sejak kapan tiba di toko itu dan langsung merecoki kesibukan Rana dan Helen.


"Walaikumsalam, calon imamnya orang." Helen yang menjawab, dengan nada yang tak kalah dibuat-buat.


Rana hanya menggeleng geli. Sama-sama rada gila membuat Bara dan Helen langsung nyambung di hari pertama mereka kenalan.


"Ibu Peri, aku ketemu Luna." Sekarang Bara fokus ke Rana.


Mendengar pengakuan barusan, kesibukan Rana yang sedang menyalin ulang daftar pemesan buket bunga yang akan diantarkan nanti malam, terhenti. Tatapan Rana beralih dari buku catatan ke wajah Bara. Ia paham, sahabat yang diam-diam menghuni hatinya itu memang hobi bercanda, tapi kali ini sama sekali tidak lucu.


"Aku ketemu Luna." Bara mengulang saat mendapati Rana mengernyit.


"Bar, aku masih kerja. Kalau mau bercanda, waktunya lagi nggak cocok." Rana mengabaikan pengakuan barusan. Ia kembali ke kesibukan semula.


"Tapi udah mau pulang, kan? Kita pulang bareng, ya."


Rana hanya mengangguk, lalu menunjuk ke arah pintu. Tentu saja Bara sangat paham maksudnya.


"Iya, iya, Bu Supervisor." Bara memanyunkan bibir sebelum memutar badan ke arah pintu.


Sesaat Helen terkekeh dibuatnya, lalu kembali terdiam setelah Rana memintanya lebih serius.


Di depan pintu, Bara berpapasan dengan Bian yang sepertinya baru pulang dari suatu tempat.

__ADS_1


"Selamat sore, Om." Seperti biasa, Bara menyapa seakrab itu.


Bian hanya membalas dengan gumaman sambil lalu. Ia langsung menghampiri Rana dan Helen yang masih berkutat dengan proses serah terima tugas di samping meja kasir.


"Kok, belum pulang, Ran?" tanya Bian sambil melepas kancing atas kemejanya. Ia tampak lelah.


"Bentar lagi, Pak." Demi bersikap hormat, Rana menghentikan sejenak aktivitasnya, membalas sepenuhnya tatapan sang bos.


"Pulang bareng Bara lagi?"


"Begitulah, Pak." Rana nyaris tercekat. Entahlah, mengingat sikap selengean Bara, ia selalu tidak nyaman tiap kali Bian melibatkan tetangga unitnya itu di obrolan mereka.


Bian hanya ber-o sambil mengangguk samar. Ia lantas berlalu ke ruangannya, masuk melalui pintu khusus staf di pojok ruangan.


"Duh, enak banget, ya jadi kamu," ujar Helen setelah Bian sempurna menghilang di balik pintu.


"Kenapa?" Rana menoleh sambil mengernyit.


"Diperhatiin dua cowok yang super kece. Satunya mahasiswa kocak calon penulis terkenal, satunya lagi big boss. Kalau aku jadi kamu, pasti bingung pilih salah satunya.


"Kenapa juga harus dipilih? Aku senang bersahabat dengan Bara, dan aku menghargai Pak Bian sebagai atasan. Mereka ke aku biasa aja, kok. Kamunya aja yang lebay."


Helen malah menganggap sebutan "Ibu Peri" sebagai panggilan sayang. Rana terkekeh geli dibuatnya.


"Nah, kalau Pak Bian ...." Helen berdecak sebentar, seolah kesulitan merangkai kata selanjutnya. "Pegawainya di toko ini ada enam orang, loh, tapi perhatiannya seperti tadi ke kamu aja. Aku kalau telat pulang, nggak pernah ditegur, tuh."


"Oh, jadi ceritanya kamu iri?"


"Bukan gitu!" sanggah Helen buru-buru, disertai gerakan tangan seperti sedang melap kaca. "Masa kamu nggak ngerasa, sih? Dari dulu Pak Bian suka sama kamu. Di matanya selalu ada pelangi tiap ngobrol sama kamu. Kayak tadi."


"Emang ada?"


"Ada, Ran. Makanya, jadi cewek pekaan dikit."


"Ngaco, deh. Mana ada pelangi di mata? Korban lagu, nih."


Helen hanya mendesah pasrah, lalu mulai fokus meneliti catatan yang baru saja disodorkan Rana.


Sementara Helen memeriksa catatannya, Rana malah termenung. Bukannya ia tidak bisa memaknai setiap perhatian Bian, tapi hatinya telanjur diposisikan menunggu seseorang yang tidak pasti, seseorang yang masih berusaha bertahan dalam bayang-bayang masa kecilnya. Semoga saja sebutan "Ibu Peri" benar-benar panggilan sayang Bara, yang mengindikasikan sebuah rasa yang akan mekar pada waktunya. Tak peduli selama apa waktu yang dibutuhkan. Rana akan menunggu seperti yang telah dilakukannya tiga tahun ini.


Ternyata setidakmenyenangkan ini bersaing dengan seseorang yang sudah tiada. Rana benar-benar bingung harus berbuat apa. Kalau saja Luna masih hidup, Rana bisa saja merelakan Bara untuknya. Kemudian ia bisa mengubur perasaannya perlahan-lahan. Tapi ini kasusnya beda. Ia tidak mungkin merelakan Bara untuk tetap hidup di masa lalu. Karena itu ia berjuang keras untuk memenangkan hati Bara, memberinya masa depan yang tidak kalah indah dengan masa lalunya. Rana sadar, ia tidak mungkin menggantikan posisi Luna. Ia hanya ingin seberuntung gadis kecil itu, yang bisa sedemikian berarti dalam hidup Bara.

__ADS_1


Ngomong-ngomong soal Bara .... Tiba-tiba Rana tersentak. Dia bilang apa tadi? Ketemu Luna?


"Ada yang kurang? Ada yang mau ditanyakan?" Rana lekas memastikan tidak ada lagi sesuatu yang mengharuskannya tinggal lebih lama. Ia harus segera menemui Bara di luar sana, memastikan tadi ia hanya salah dengar. Kalau tidak, sepertinya tetangga unitnya itu harus segera dipertemukan dengan psikiater.


Helen menggeleng seraya tersenyum.


"Oke. Aku pulang," ujar Rana sambil bangkit dari duduknya. Ia bermaksud ke dalam untuk mengambil tas. Sekilas tatapannya mengarah ke luar, menembus dinding depan toko yang terdiri dari kaca-kaca besar, jatuh tepat pada sosok Bara yang tengah duduk manis—ala dia—di atas motornya.


Spontan Bara melambai girang saat menyadari tatapan gadis penuh petuah itu mengarah padanya.


Melihatnya, Rana hanya menggeleng geli. Anak itu, entah sejak kapan Rana malah suka dengan semua kekonyolannya.


***


Aku tak mudah mencintai


Tak mudah bilang cinta


Tapi mengapa kini denganmu


Aku jatuh cinta


"Berisik. Suaramu nggak banget," teriak Rana, berusaha mengalahkan lengkingan suara Bara yang berbaur dengan deru angin.


Langit sore Makassar sedang bersahabat. Memang agak mendung, tapi justru itu yang menetralisir keruwetan akibat jalanan yang semakin sesak di jam pulang kantor seperti sekarang. Mungkin hal itu pula yang membuat Bara terus bersenandung dari tadi, tak peduli suaranya malah mengganggu pengendara lain yang kebetulan bersisian dengannya.


Tuhan tolong dengarkanku


Beri aku dia


Tapi jika belum jodoh—


Bara merasakan tepukan di pundaknya, membuatnya terkekeh. Lirik yang belum usai buyar begitu saja.


"Aku lagi bahagia, Ibu Peri. Aku ketemu Luna."


Padahal Rana sudah memutuskan untuk tidak menindaklanjuti hal ini. Sejak Bara menyodorkan helm sambil tersenyum manis tadi, Rana bermaksud melupakan pengakuan absurd itu. Dibonceng Bara sepulang kerja salah satu mood booster bagi Rana. ia tidak ingin merusaknya dengan hal-hal tidak penting. Terlebih aneh bin ngawur. Tapi, Bara mengatakannya lagi.


***


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2